BID’AH HASANAH YANG DI MAKSUD IMAM SYAFI’I

BID’AH HASANAH YANG DI MAKSUD IMAM SYAFI’I

Mereka yang mengatakan ada bid’ah hasanah, membawakan perkata’an Imam As-Syafi’i, sebagai berikut,

Imam As Syafi’i rahimahullah berkata :

البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”. (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113).

Perkata’an Imam Syafi’i diatas dijadikan hujjah oleh para pelaku bid’ah untuk membenarkan semua amalan-amalan bid’ahnya. Dan pada akhirnya tidak ada satupun bid’ah yang tercela, semua jadi dipandang baik (hasanah).

Supaya kita memahami masalah ini dengan benar maka kita harus memahami perkata’an Imam Syafi’i diatas menurut yang difahami oleh para Ulama Mu’tabar yang dikenal luas keilmuannya bukan sebagaimana yang difahami oleh para pengikut hawa nafsu.

• Penjelasan Ibnu Rajab Al-Hanbali

Ibnu Rajab Al-Hanbali (Lahir 736 H wafat 795 H).

Berikut penjelasan Ibnu Rajab tentang bid’ah hasanah yang dikatakan Imam Syafi’i

Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

ومراد الشافعي رضي الله عنه ما ذكرناه من قبل أن أصل البدعة المذمومة ما ليس لها أصل في الشريعة ترجع إليه وهي البدعة في إطلاق الشرع

“Yang dimaksud oleh Imam As-Syafi’i radhiyallaahu ‘anhu, yang telah disebutkan sebelumnya, adalah bahwasanya pada dasarnya bid’ah yang tercela (Bid’ah Madzmumah) adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam syariat, yang dia akan kembali padanya, inilah bid’ah menurut (definisi) syar’iat.

وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة يعني ما كان لها أصل من السنة ترجع إليه وإنما هي بدعة لغة لا شرعا لموافقتها السنة .

ADAPUN BID’AH MAHMUDAH (terpuji) adalah segala yang sesuai dengan sunnah, yakni sesuatu yang ada dasarnya dari sunnah yang kembali padanya, HANYA SAJA PEMAHAMAN INI BID’AH SECARA LUGHOH (BAHASA) BUKAN SECARA SYARI’AT, karena sesuai dengan sunnah. (Jaami’ul‘Ulum wal Hikam hadits no. 28).

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa ”Bid’ah Mahmudah” yang dimaksud Imam Syafi’i adalah bid’ah menurut pengertian secara bahasa. Bukan pengertian bid’ah menurut syari’at. Karena bid’ah menurut syari’at semuanya tercela. Tidak ada yang baik (hasanah).

Bid’ah menurut syari’at semuanya tercela. Sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah.

Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela, . .”. [Lihat Fathul Bari,13:253].

Semua bid’ah menurut syari’at adalah tercela atau sesat sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676).

Bid’ah mahmudah yang dimaksud Imam syafi’i adalah bid’ah menurut bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at. Karena bid’ah menurut syariat semuanya tercela. Artinya tidak ada yang bid’ah yang terpuji (hasanah).

Tidak ada bid’ah menurut syari’at yang terpuji (hasanah). Hal ini bisa kita perhatikan pula dari sikap Imam Syafi’i yang banyak mengingkari bid’ah-bid’ah yang dilakukan umat Islam dizamannya .

Berikut diantaranya :

• Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah

Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

“Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya”. (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280).

• Membangun kuburan

Imam As-Syafi’i berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك

“Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan… Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat pera fuqohaa mencela penghancuran tersebut”. (Al-Umm: 1/277).

• Mengirim pahala baca’an Al-Qur’an kepada mayat.

Masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur’an bagi mayat.

Imam An-Nawawi berkata : “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’an maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90).

• Puasa sunnah sebulan penuh

قال الأمام الشافعي: أكره الشخص شهر الصيام كشهر كامل من الصيام في رمضان

Imam As-Syafi’i berkata : ”Aku benci seseorang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan Ramadhan”. (Al-Baa’its ‘alaa inkaar Al-Bida’ wa Al-Hawaadits hal 48).

• Khatib mendo’akan seseorang ketika berkhutbah

وقال الأمام الشافعي: إذا كان الأمام يصلي لشخص معين أو لشخص (أي شخص) ثم كرهت ذلك، ولكن ليست إلزامية لآلية القيام بتكرار

Imam As-Syafii berkata : “Jika sang imam berdo’a untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya”. (Al-Umm: 2/416-417).

Perhatikan keterangan-keterangan diatas !

Apakah mungkin bid’ah ada yang baik, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i bahwa bid’ah ada yang mahmudah (terpuji) ?

Sementara Imam Syafi’i sendiri banyak membenci bid’ah-bid’ah yang dilakukan sebagian umat Islam.

Kesimpulannya :

Mereka yang mengambil perkata’an Imam Syafi’i yang menyebutkan bahwa bid’ah ada yang terpuji (hasanah) sudah salah faham. Karena yang dimaksudkan Imam Syafi’i bahwa bid’ah ada yang terpuji (hasanah) adalah bid’ah menurut bahasa. Bukan bid’ah menurut syari’at. Sebagaimana yang di jelaskan Ibnu Rajab rahimahullah.

Akibat kesalah fahaman mereka, memahami perkata’an Imam Syafi’i, maka kemudian mereka dengan sangat mudah banyak membuat bid’ah-bid’ah yang sesungguhnya di cela dalam Islam.

Wassalam, semoga kita tidak jadi umat Islam yang gagal faham.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-syubuhat/17-sahabat-utsman-membuat-bidah/

========================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s