MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

Akan muncul dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahannam.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan :

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

”Akan muncul para dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Adapun ciri mereka sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut :

قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

“Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.

Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.

Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata :

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ

Aku bertanya : Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keada’an jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?

قَالَ نَعَمْ

Beliau berkata : Ya

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْر

Aku bertanya : Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan ?

قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ

Beliau menjawab : Ya, tetapi didalamnya ada asap

قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ

Aku bertanya : Apa asapnya itu ?

قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

Beliau menjawab : “SUATU KAUM YANG MEMBUAT AJARAN YANG BUKAN DARI AJARANKU DAN MEMBERIKAN PETUNJUK YANG BUKAN DARI PETUNJUKKU. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ

Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?

قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

Beliau menjawab : Ya, akan muncul para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا

Aku bertanya : Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami

قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

Beliau menjawab : Mereka dari golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita

قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ

Aku bertanya : Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keada’an seperti ini ?

قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ

Beliau menjawab : Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka

فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ

Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin ?”

قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Beliau menjawab : Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu.

(HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979) – (HR Ahmad dalam musnad 5/399).

Asap yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu : Merupakan kiasan dari penyimpangan yang akan membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallaam) yang terang benderang malamnya bagaikan siang.

Bukankah asap dapat mengaburkan pandangan ?, yang jelas jadi nampak samar.

Ketika pandangan samar, maka yang baik bisa jadi dipandang buruk. Yang benar bisa jadi dipandang salah. Dan sebaliknya yang salah jadi dipandang benar, yang buruk dan membinasakan malah bisa jadi dipandang indah.

Para da’ yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan diatas, menyeret umat kedalam kebinasa’an. Menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya.

Para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahanam modelnya sebagaimana layaknya Ulama Rabbani nampak alim, santun, lembut, tutur katanya memikat. Fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam. Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala, jauh sejauh-jauhnya.

Dalam hadits diatas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. menggigit akar pohon dalam hadits diatas maknanya adalah berusaha istiqomah dan sabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=================

MANUSIA SUKA MEMBANTAH

MANUSIA SUKA MEMBANTAH
.
Diantara sifat buruk yang dimiliki manusia adalah suka membantah. Membantah perintah, membantah larangan atau membantah kebenaran.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلً
.
”Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. (Q.S Al-Kahfi: 54).
.
Terkait dengan ayat di atas, di riwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam membangunkan Ali bin Abu Thalib dan Fatimah binti Rasulullah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka,
.
أَلَا تُصَلُّونَ
.
“Tidakkah sebaiknya kalian mendirikan shalat ?”
.
Ali bin Abu Thalib menjawab,
.
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا
.
“Wahai Rasulullah, jiwa kita ada di tangan Arrahman, kalaulah Dia berkenan membangunkan kita niscaya Dia membangunkan”.
.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ketika Ali menjawab demikian. Dan sa’at Rasulullah kembali, beliau menepuk paha Ali bin Abu Thalib serta membacakan ayat,
.
وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
.
“Sungguh manusia itu makhluk yang suka membantah”. (QS. Al Kahfi; 54). (Hadits Bukhari, 6801).
.
Membantah perintah, membantah larangan atau membantah kebenaran sudah di lakukan manusia semenjak dahulu.
.
Begitu pula sa’at ini, ketika perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di serukan, ketika larangan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di sampaikan, ketika kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya di tunjukkan, maka kebanyakan dari manusia bernafsu untuk membantah.
.
Di cari-carinya dalih untuk membenarkan apa yang dilakukan dan di yakininya walaupun menyimpang dari kebenaran. Di cari-carinya dalil untuk menolak kebenaran. Seterang apapun kebenaran di tunjukkan, dicarinya celah untuk bisa membantah.
.
Merebaknya ke maksiatan di muka bumi, takhayul menjamur, bid’ah merajalela dan ke syirikan sulit di basmi, adalah karena banyaknya manusia yang suka membantah.
.
Tidak ada seorang Rasul pun yang membawa risalah Allah Ta’ala kecuali mendapatkan bantahan dari para penentangnya. Begitu pula para Ulama pewaris dan penerus dakwah Nabi banyak di bantah manusia yang memusuhi dan menentangnya.
.
Bisa membantah tidak berarti bantahannya dibangun diatas ilmu. Banyak manusia membantah kebenaran padahal bantahannya di bangun di atas syubhat-syubhat menyesatkan.
.
Membantah adalah perkara mudah. Orang-orang bodoh yang jauh dari ilmu begitu pula orang pandir dan anak kecil sekalipun bisa membantah apa yang ingin di bantahnya.
.
Makhluk yang pertama kali membantah adalah Iblis laknatullah ‘alaihi, biangnya kesesatan.
.
Ketika Allah Ta’ala menyuruh iblis untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam Iblis membantahnya, dan Iblis pun berdalih.
.
Iblis berkata :
.
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
.
“Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf, 12).
.
Itulah argumen Iblis ketika membantah perintah Allah Ta’ala untuk sujud kepada Adam. Menurut iblis api lebih mulia daripada tanah. Maka iblis yang asalnya makhluk ta’at berubah jadi makhluk paling sesat karena membantah.
.
Namun ternyata sikap Iblis yang menjadikannya terkutuk banyak di ikuti manusia.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_____________________