MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

MEWASPADAI PARA DA’I PENYERU KE NERAKA JAHANAM

Akan muncul dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahannam.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan :

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

”Akan muncul para dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Adapun ciri mereka sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut :

قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

“Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.

Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.

Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata :

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ

Aku bertanya : Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keada’an jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?

قَالَ نَعَمْ

Beliau berkata : Ya

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْر

Aku bertanya : Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan ?

قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ

Beliau menjawab : Ya, tetapi didalamnya ada asap

قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ

Aku bertanya : Apa asapnya itu ?

قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ

Beliau menjawab : “SUATU KAUM YANG MEMBUAT AJARAN YANG BUKAN DARI AJARANKU DAN MEMBERIKAN PETUNJUK YANG BUKAN DARI PETUNJUKKU. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ

Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?

قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

Beliau menjawab : Ya, akan muncul para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka

فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا

Aku bertanya : Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami

قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

Beliau menjawab : Mereka dari golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita

قثلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ

Aku bertanya : Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keada’an seperti ini ?

قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ

Beliau menjawab : Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka

فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ

Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin ?”

قَالَ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Beliau menjawab : Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu.

Asap yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu : Merupakan kiasan dari penyimpangan yang akan membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallaam) yang terang benderang malamnya bagaikan siang.

Bukankah asap dapat mengaburkan pandangan ?, yang jelas jadi nampak samar.

Ketika pandangan samar, maka yang baik bisa jadi dipandang buruk. Yang benar bisa jadi dipandang salah. Dan sebaliknya yang salah jadi dipandang benar, yang buruk dan membinasakan malah bisa jadi dipandang indah.

Para da’ yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan diatas, menyeret umat kedalam kebinasa’an. Menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya.

Para da’i yang menyeru umat kedalam neraka jahanam modelnya sebagaimana layaknya Ulama Rabbani nampak alim, santun, lembut, tutur katanya memikat. Fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam. Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala, jauh sejauh-jauhnya.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=================

MENUHANKAN MANUSIA

MENUHANKAN MANUSIA

Allah Ta’ala berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah, dan juga (mereka mempertuhankan) al-Masih Ibni Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maha suci Allah dari apa Yang mereka sekutukan”. (At-Taubah: 31).

Mendengar ayat itu, Adiy bin Hatim radliyallahu ‘anhu yang sa’at itu masih beragama nasrani, dengan kalung salib di lehernya, ia berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :

أَلَيْسُوا يَحُلُّونَ مَا حَرَمُ اللهِ فَتُحِلُّونَهُ وَيُحْرَمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتَحْرِمُونَهُ ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَتْلُكَ عَبَّآ دتهم

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya ?!” Ia menjawab, “Ya benar.” Maka beliau bersabda lagi, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (H.R Tirmidzi).

Syeikh Abdurahman bin Hasan Rahimahulah berkata : “Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala”.

Begitulah hakekatnya orang-orang nasrani menuhankan rahib-rahibnya. Mereka selalu mengikuti apapun yang di katakan rahib-rahibnya.

Sesungguhnya yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Allah lah yang menentukan halal dan haram. Tidak seorangpun berwenang menghalalkan kecuali yang sudah dihalalkan Allah, juga tidak berwenang mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan Allah Ta’ala.

Sungguh ironis sa’at ini sebagian kaum muslimin bertaklid kepada ulama yang mereka puja dan idolakan. Mereka tidak memperdulikan dalil, meskipun ulama yang diikutinya menyalahi dalil.

Mereka yang menuhankan manusia berkata : Pokoknya kita ikuti saja guru-guru kita, guru kita bukan orang-orang bodoh, kiai kita tidak mungkin salah, ustadz kita tentu faham permasalahan agama. Begitulah perkata’an mereka.

Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan yang pasti benar tidak mungkin salah, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakan guru-gurunya.

Maka keada’an mereka persis seperti orang-orang nasrani yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menuhankan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah Ta’ala.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

PERMUSUHAN ABADI ANTARA PENGIKUT AL-HAQ DENGAN PENGIKUT KEBATILAN

PERMUSUHAN ABADI ANTARA PENGIKUT AL-HAQ DENGAN PENGIKUT KEBATILAN

Perseteruan antara pengikut Al-Haq dengan pengikut kebatilan sejatinya sudah menjadi sunnatullah yang bersifat qadari.

Syariat Allah Ta’ala yang terang benderang ibarat sinar matahari disiang bolong seolah-olah tidak mampu menghilangkan kecenderungan manusia untuk sesat dan menyimpang.

Sangat banyak kisah disebutkan dalam kitab-kitab suci tentang permusuhan orang-orang sesat kepada para Nabi dan Rasul.

Allah Ta’ala sebutkan di dalam firman-Nya :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

“Dan demikianlah, kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lainnya perkata’an yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112).

Begitu pula permusuhan orang-orang sesat yang mereka arahkan kepada para Ulama pewaris Nabi yang menyeru manusia untuk memurnikan Tauhid serta menegakkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak lengah sesa’at pun mereka membuat makar untuk memadamkan cahaya Tauhid di muka bumi ini. Seolah-olah mereka diciptakan untuk menjadi musuh Al-haq. Mereka tidak rela kehilangan pengikut dan kedudukan. Orang awam pun jadi korban fitnah dan provokasi mereka.

Kaum kafir juga munafik yang terusik kepentinganya dan para pengusung kesesatan yang gerah karena eksistensi kesesatannya terancam, tidak bosan-bosannya menebar syubhat batilnya.

Demikian pula hari ini, orang-orang yang menyeru manusia untuk memurnikan Tauhid dan mencintai, membela dan mengamalkan Sunnah Nabi, menyeru manusia untuk menjauhi kesyirikan dan bid’ah menjadi bulan-bulanan dan olok-olokan para penentangnya. Cibiran, makian, hujatan dan sumpah serapah tidak henti-hentinya mereka arahkan siang malam tanpa mengenal lelah.

Sangat gusar para pelaku kesesatan melihat dakwah Tauhid semakin eksis di tengah-tengah umat. Mereka tidak mampu menyembunyikan kedengkian hati mereka. Sungguh pun mereka sadar bahwa dengki adalah sifat yang keji. Begitulah Allah Ta’ala menampakkan keburukan hati orang-orang sesat.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

”Atau apakah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?”. (Q.S Muhammad: 29).

• Tidak perlu takut dengan permusuhan para pelaku kesesatan

Tidak henti-hentinya para penentang dakwah Tauhid melancarkan perlawanan. Tujuan mereka adalah lemahnya para da’i yang menyeru umat untuk memurnikan Tauhid dari penyimpangan yang di usung para pelaku sesat ahli bid’ah dan dari para penjaga warisan nenek moyang yang bertentangan dengan syari’at Islam yang penuh dengan tahayul, khurafat dan kesyirikan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

”Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi”. (Q.S Ali Imran 118).

Sungguh pun besarnya permusuhan dan penentangan yang mereka lakukan, Allah menjamin bahwa makar mereka tidak akan menjadikan surut dan redupnyanya para pembela Tauhid menyeru umat. Mereka tidak akan menimbulkan kesukaran dan kesulitan yang berarti. Dakwah Tauhid akan tetap memancarkan sinarnya di bumi ini.

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

”Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan mennyusahkan kamu sedikit pun”. (Q.S Ali Imran 120).

• Kesudahan para pengikut kebatilan

Al-Qur’an banyak menceritakan kisah orang-orang terdahulu yang dibinasakan oleh Allah Ta’ala karena pengingkaran mereka kepada dakwah Tauhid yang diserukan oleh para Nabi dan Rasul-Nya yang diutus kepada mereka. Kehancuran akibat adzab pedih yang menghinakan, mereka peroleh akibat ulah mereka sendiri.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَـكِن ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Q.S Hud: 100-101).

Sesungguhnya kebinasa’an mereka yang Allah Ta’ala abadikan baik di kitab-kitab suci ataupun masih utuhnya reruntuhan sisa-sisa peradaban mereka yang hancur berkeping-keping supaya jadi pelajaran bagi orang-orang yang memiliki akal.

Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ

”Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu, terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal”. (Q.S Yusuf: 111).

Allah Ta’ala berfirman :

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ

”Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai akal”. (Al-Hasyr: 2).

• Al-Haq pasti menang

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

”Sesungguhnya kebatilan itu (pasti) akan lenyap”. (Al Isra’: 81).

Sejarah telah membuktikan, bahwa setiap kebatilan pada akhirnya pasti mengalami kekalahan. Dan Al-Haq pasti mendapatkan kemenangan baik di dunia ataupun kemenangan yang tertunda yaitu surga-Nya Allah Ta’ala di akhirat kelak.

Walaupun di dunia para pembela Al-Haq mendapatkan berbagai rintangan dan gangguan, namun semua itu Allah Ta’ala akan membalasnya dengan limpahan pahala dan keutama’an. Inilah hakekatnya kemenangan.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata : “Sesungguhnya kebatilan meskipun terkadang menang terhadap kebenaran dan lebih tinggi darinya, namun Allah pasti akan menghancurkan dan menghapus kebatilan tersebut. Dan menjadikan kemenangan untuk al-Haq dan ahlul Haq”. (Fath al-Qadir, hal. 3/75).

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

==================

KESAMA’AN DALIH PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

KESAMA’AN DALIH (ARGUMEN) PARA PENENTANG DAKWAH TAUHID

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para Rasul dengan tujuan yang sama, yaitu membumikan Tauhid. Menjadikan Allah Ta’ala satu-satunya yang berhak di ibadahi.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut”. (An-Nahl: 36).

Para Rasul yang diutus Allah Ta’ala untuk menegakkan Tauhid, mendapatkan penolakan dan pengingkaran dari orang-orang sesat yang buta mata hatinya.

Penolakan mereka kepada dakwah Tauhid dari semenjak dahulu hingga hari ini ternyata dalih (argumen) mereka sama. Yakni tidak relanya mereka meninggalkan adat istiadat, tradisi yang sudah turun temurun mereka dapatkan dari nenek moyang mereka yang dengan setianya sudah mereka amalkan. Dan mereka enggan untuk meninggalkannya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan risalah kepada kaumnya, orang-orang Quraisy. Mereka yang menolak seruan Rasulullah berkata sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Ikutilah apa yang diturunkan Allah” Mereka menjawab : “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. (Q.S Luqman: 21).

Perkata’an orang-orang kafir Quraisy yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama persis dengan perkata’an kaum-kaum terdahulu yang menolak dakwah Tauhid yang diserukan para Rasul yang di utus kepada mereka. Mereka berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an,

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

”Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu tradisi, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka (nenek moyang)”. (Az-Zukhruf: 22).

Perkata’an mereka juga sama dengan perkata’an kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Ibrahim, kaum Nabi Syu’aib juga kaum Nabi Musa ‘alaihi salam ketika mereka menolak dakwah Tauhid yang diserukan kepada mereka.

Berikut perkata’an mereka ;

• Perkata’an kaum Nabi Nuh ‘alaihi salam

Nabi Nuh ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Al Mukminun: 23).

Mereka berkata :

مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

”Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”. (Q.S Al Mukminun: 24).

• Perkata’an kaum Nabi Hud ‘alaihi salam

Nabi Hud ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya”. (Q.S Al-A’raf: 65).

Mereka berkata :

أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah Azza wa Jalla saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Al-A’râf: 70).

• Perkata’an kaum Nabi Shalih ‘alaihi salam

Nabi Shalih ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla , sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia”. (Hud: 61).

Mereka berkata :

أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 62).

• Perkata’an kaum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam berkata :

مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

”Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya ?”. (Q.S Al Anbiya’: 52).

Mereka berkata :

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

”Sungguh kami mendapati bapak-bapak kami (nenek moyang) menyembahnya”. (Q.S Al Anbiya’: 53).

• Perkata’an kaum Nabi Syu’aib ‘alaihi salam

Nabi Syu’aib ‘alaihi salam berkata :

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

”Hai kaumku, sembahlah Allah Azza wa Jalla, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia”. (Q.S Hud: 84).

Mereka berkata :

يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا

”Hai Syu’aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?”. (Q.S Hud: 87).

• Perkata’an fir’aun

Fir’aun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihi salam ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala

أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

”Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya ?”. (Q.S Yunus: 78).

Nenek moyang kami biasa melakukannya, ini adalah tradisi nenek moyang.

Itulah alasan klasik para penentang dakwah Tauhid ketika diseru untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Ketika mereka diajak untuk mengamalkan apa-apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka enggan, tidak berani meninggalkan kebiasa’an, adat istiadat, tradisi yang sudah mereka dapatkan dari nenek moyang (leluhur) mereka.

Begitu pula hari ini, mereka yang menentang dakwah Tauhid beralasan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah mengamalkan adat-istiadat nenek moyang dalam rangka melestarikan budaya daerah, menjaga ke’arifan lokal sebagai pusaka warisan nenek moyang (leluhur) yang harus dijaga, di pertahankan dan dilestarikan.

Banyak kaum muslimin sa’at ini yang masih setia dengan adat istiadat nenek moyang. Dan dijadikannya sebagai pedoman hidup.

Mereka percaya hari baik hari buruk, mereka menghitung-hitung hari, kapan hari baik untuk melakukan urusan mereka, dan mereka tidak melakukan urusannya pada hari yang mereka anggap tidak baik. Mereka khawatir tidak mendapatkan keberuntungan apabila melanggar adat istiadat tersebut.

Banyak ritual-ritual peninggalan nenek moyang yang masih dilakukan sa’at ini. Seperti : Mitoni / telonan dan tingkepan (tujuh bulanan) yaitu upacara memohon keselamatan anak yang ada dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut garba wedana. Garba artinya perut, Wedana artinya yang lagi mengandung. Mereka khawatir apabila tidak melakukan ritual tersebut terjadi sesuatu yang buruk menimpa kepada janin yang dikandungnya.

Ritual lainnya seperti : Sedekah bumi, sedekah laut dan banyak lagi. Mereka takut apabila ritual-ritual tersebut tidak di lakukan akan mendapatkan bencana akibat kutukan dari penguasa tempat-tempat tersebut.

Kepercaya’an lainnya seperti mengkeramatkan pohon, kuburan, sumber mata air dan lain-lain. Di tempat tersebut mereka memberikan sesajian dan melakukan ritual penyembahan.

Juga kepercaya’an kepada mitos-mitos yang mereka yakini melebihi keyakinan mereka kepada tuntunan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Sa’at ini adat-istiadat warisan nenek moyang tersebut dimasukkan kedalamnya nilai-nilai Islam seperti do’a-doa yang berasal dari Islam sehingga tanpa disadari oleh masyarakat awam bahwa tradisi yang mereka lakoni sebagai tradisi warisan jahiliyah yang tidak sesuai dan bertentangan dengan syari’at islam.

Adat, tradisi dan kebiasa’an warisan nenek moyang, mereka lakukan tidak saja dalam acara seremonial berbentuk ritual-ritual tetapi juga dalam sikap hidup mereka sehari-hari.

Tradisi leluhur yang mereka laksanakan sebagai perwujudan pemberian penghormatan kepada tradisi dan budaya nenek moyang yang diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi.

Bahkan sa’at ini semakin digalakkan dengan dukungan dan peran aktif pemerintah daerah dengan dalih melestarikan budaya bangsa serta motif ekonomi sebagai obyek tujuan wisata.

Islam tidak mempermasalahkan umatnya melestarikan tradisi-tradisi, adat-istiadat yang berasal dari nenek moyang, selama tidak melanggar syari’at yaitu tidak mengandung kesyirikan dan bebagai macam bid’ah didalamnya.

الله المستعان

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

=======================