BID’AH KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA INDONESIA KARENA TIDAK ADA DIZAMAN NABI

BID’AH KHUTBAH JUM’AT DENGAN BAHASA INDONESIA KARENA TIDAK ADA DIZAMAN NABI

Para pembela bid’ah hasanah sering mengatakan bahwa khutbah jum’at dengan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya selain bahasa Arab adalah bid’ah, karena tidak ada dizaman Nabi. Tidak aneh sebetulnya dengan pendapat mereka demikian. Hal itu berangkat dari pemahaman mereka yang gagal faham memahami bid’ah, bukankah mereka katakan ; pesawat terbang bid’ah, becak bid’ah, martabak bid’ah karena kata mereka tidak ada dizaman Nabi. Jadi segala perkara yang tidak ada dizaman Nabi mereka katakan bid’ah. Kegagalan faham mereka adalah tidak memahami mana urusan ibadah mana urusan duniawi. Mana bid’ah menurut bahasa mana bid’ah menurut syari’at.

Perlu di fahami bahwa tujuan (maqoosidus syari’at) dari khutbah diantaranya adalah : Memberi nasehat, peringatan, pelajaran, kabar baik dan ancaman dari Allah ta’ala. Maka apabila khutbah jum’at di sampaikan dengan bahasa yang tidak dimengerti umat, maka apa tujuan disyari’atkannya khutbah ?

Tidak ada dalil yang mewajibkan khutbah harus berbahasa arab. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khutbah dengan bahasa Arab, karena Rasulullah adalah bangsa Arab begitu pula para Sahabat.

Pendapat yang masyhur di kalangan syafiiyah berpendapat :

”Khutbah disyaratkan menggunakan bahasa arab bagi yang mampu, kecuali jika semua jama’ah tidak memahami bahasa arab, maka khatib menggunakan bahasa mereka”. (al-Majmu’, 4/522).

Abu Hanifah berpendapat :

”Khutbah dianjurkan menggunakan bahasa arab dan bukan syarat. Khatib boleh menggunakan bahasa selain arab”. (Rad al-Mukhtar, 1/543).

Khutbah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang difahami kaum setempat, sejalan dengan prinsip syariah, bahwa Allah mengutus para nabi-Nya dengan bahasa kaumnya.

Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

”Tidaklah Kami mengutus seorang Rasul-pun, kecuali dengan bahasa kaumnya. Agar rasul itu menjelaskan (kebenaran) kepada mereka”. (QS. Ibrahim: 4).

Kesimpulan menarik dari as-Syaukani,

ثم اعلم أن الخطبة المشروعة هي ما كان يعتاده صلى الله تعالى عليه وآله وسلم من ترغيب الناس وترهيبهم فهذا في الحقيقة روح الخطبة الذي لأجله شرعت, وأما اشتراط الحمد لله أو الصلاة على رسول الله أو قراءة شيء من القرآن فجميعه خارج عن معظم المقصود من شرعية الخطبة

”Ketahuilah bahwa khutbah yang disyariatkan adalah kkhutbah yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu memotivasi masyarakat dan memberi peringatan bagi mereka. Pada hakekatnya, bagian ini adalah inti khutbah, yang karenanya, disyariatkan adanya khutbah jumat. Sementara persyaratan memuji Allah, shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau membaca beberapa ayat al-Quran, semua ini bukan tujuan utama disyariatkannya khutbah”.

Kemudian beliau menegaskan,

ولا يشك منصف أن معظم المقصود هو الوعظ دون ما يقع قبله من الحمد والصلاة عليه صلى الله تعالى عليه وآله وسلم, وقد كان عرف العرب المستمر أن أحدهم إذا أراد أن يقوم مقاما ويقول مقالا شرع بالثناء على الله وعلى رسوله وما أحسن هذا وأولاه, ولكن ليس هو المقصود بل المقصود ما بعده

”Orang cerdas tidak akan ragu bahwa tujuan utama dalam khutbah nasehat (bagi jamaah), bukan pujian atau shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, kebiasaan masyarakat arab turun-temurun, ketika mereka hendak menyampaikan ceramahnya, mereka mulai dengan memuji Allah dan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini kebiasaan yang sangat bagus dan mulia. Namun, ini bukan tujuan utama khutbah. Yang menjadi inti khutbah adalah nasehat setelahnya”. (ar-Raudhah an-Nadiyah, 1/137).

• Fatwa Al-Majma’ al-Fiqhi

Al-Majma’ al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami juga menguatkan pendapat yang menyatakan, bahasa arab bukan syarat khutbah jumat.

Dalam sebuah keputusannya dinyatakan,

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

”Pendapat paling kuat, bahwa bahasa arab untuk bahasa pengantar khutbah jumat atau khutbah id, di selain negeri yang tidak berbahasa arab, bukanlah bagian dari syarat sah khutbah. Hanya saja yang terbaik, menyampaikan mukaddimah khutbah dan ayat al-Quran yang dibaca, menggunakan bahasa arab. Untuk membiasakan orang non arab agar medengarkan bahasa arab dan al-Quran. Yang ini memudahkan mereka belajar bahasa arab, serta membaca al-Quran dengan bahasa asli dia diturunkan. Selanjutnya khatib bisa menyampaikan nasehat dengan bahasa mereka, yang bisa mereka pahami”. (Keputusan al-Majma’ al-Fiqhi, volume 5, keputusan ke-5, hlm. 99).

• Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya :

Apa hukum khutbah jum’at dengan bahasa selain bahasa Arab ?

Syaikh rahimahullah menjawab : ”Yang benar dalam masalah ini adalah tidak boleh bagi khotib berbicara ketika khutbah jum’at dengan bahasa yang tidak dipahami oleh jama’ah yang hadir. Apabila jama’ah tersebut bukan orang Arab dan tidak paham bahasa Arab, maka khotib lebih tepat berkhutbah dengan bahasa mereka karena bahasa adalah pengantar agar sampai penjelasan kepada mereka. Alasan lain, maksud dari khutbah adalah untuk menjelaskan hukum Allah subhanahu wa ta’ala pada hamba-Nya, juga memberikan nasehat dan petunjuk. Namun ketika membaca ayat Al Qur’an haruslah dengan bahasa Arab, lalu setelah itu boleh ditafsirkan dengan bahasa yang jama’ah pahami.

Dalil yang menunjukkan bahwa khutbah diharuskan dengan bahasa yang jama’ah pahami adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Tidaklah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya untuk memberi penjelasan pada mereka.” (QS. Ibrahim: 4). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa agar sampainya penjelasan, hendaklah pembicara menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Demikian fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam

Kesimpulan :

Khutbah jum’at dengan bahasa Indonesia atau dengan bahasa yang dimengerti umat setempat bukanlah bid’ah, karena sudah menjadi ketetapan dan ijma’ para Ulama Shalaf maupun Khalaf. Mayoritas ulama menetapkan bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber hukum Islam dalam menetapkan sesuatu hukum.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

===================

SEDIKIT-SEDIKIT BID’AH

SEDIKIT-SEDIKIT BID’AH

Sering kita mendengar perkata’an sebagai berikut : ”Sedikit-sedikit bid’ah”.

Pekata’an nyinyir tersebut bisa dipastikan keluar dari lisan para pelaku bid’ah yang merasa gerah karena terusik keyakinan atau amalannya. Atau orang awam yang tidak mengerti permasalahan.

Perkata’an tersebut serupa dengan perkata’an para pelaku kesyirikan yang mereka berkata : ”Sedikit-sedikit musyrik”.

Atau serupa dengan para pelaku kemaksiatan yang mereka berkata : ”Sedikit-sedikit haram”.

Memperingatkan umat dari bid’ah, bukanlah sifat dari kelompok, organisasi atau pribadi tertentu.

Memperingatkan umat dari bid’ah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para Sahabat juga para Ulama.

• Peringatan bid’ah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi, 2676).

• Peringatan bid’ah dari para Sahabat

– Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :

و إن شر الأمور محدثاتها، ألا و إن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار

“Dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya dineraka). [Dikeluarkan oleh Ibnul Wudhah dalam al Bida’, hal. 31 dan al Laalikaa’iy, hadits no. 100 (1/84).

– Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

إتبعو و لا تبتدعوا فقد كفيتم و كل بدعة ضلالة

“Ber-ittiba’lah kamu kepada Rosululloh dan janganlah berbuat bid’ah (perkara baru dalam agama), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan” [Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibaanah, no. 175 (1/327-328) dan Al Laalikaa’iy, no. 104 (1/86).

– Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :

كل بدعة ضلالة و إن رأها الناس حسنة

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, sekalipun manusia menganggapnya baik (hasanah)”. [Al Ibaanah, no. 205 (1/339) Al Laalikaa’iy, no. 126 (1/92).

• Peringatan bid’ah dari para Ulama

– Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

– Imam Syafi’i berkata :

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

• Peringatan bid’ah dari wali songo

Ketika Islam dibawa oleh wali songo ke Nusantara, mereka pun sangat khawatir kemurnian Islam ternoda oleh budaya, adat istiadat dan tradisi nenek moyang mereka yang sudah mengakar di masyarakat. Hal itu bisa kita baca dari buku ”Het Book Van Bonang” yang ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam. Buku ini ada di perpustakaan Heiden Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap.

Buku tersebut telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh

Didalam buku tersebut ada peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan BID’AH.

Bunyinya sebagai berikut :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya :

“Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan BIDA’H”.

Ternyata bid’ah bukan saja diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat tapi juga oleh para Ulama sepanjang masa.

برك الله فيكم

https://agussantosa39.wordpress.com/category/06-syubuhat/17-sahabat-utsman-membuat-bidah/

========================

SESAT MENYESATKAN ADALAH HAK ALLAH DAN RASULNYA

SESAT MENYESATKAN ADALAH HAK ALLAH DAN RASULNYA

Seringkali para pembela Tauhid para pembela sunnah mendapatkan cemo’ohan sebagai kelompok yang mudah dan gemar menyesatkan orang atau kelompok lain.

Perlu diketahui bahwa Islam melarang menuduh sesat, ahli bid’ah, musyrik, kafir terhadap seseorang atau suatu kelompok, kecuali memang disesatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tanpa ada keterangan yang jelas dan shahih, maka sesungguhnya tuduhan “sesat” atau “kafir” akan kembali kepadanya.

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.

“Dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya”. (H.R Bukhari no 6105).

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang dituduh tidak demikian”. (Bukhari no 6045).

Dengan dalil-dalil tersebut maka tidak dibenarkan asal menuduh orang lain dengan tuduhan “sesat” atau “kafir” tanpa ada bukti yang dibenarkan oleh syari’at. Karena ucapan tersebut ada konsekuensinya.

Imam Al Qurthubi berkata,”Bab takfir (kafir mengkafirkan) adalah bab yang berbahaya, banyak orang berani mengkafirkan, merekapun jatuh (dalam kesalahan) dan para ulama besar bersikap tawaquf (hati-hati) merekapun selamat, dan kita tidak dapat membandingkan keselamatan dengan apapun juga”. (Fathul bari 12/314).

Menuduh atau mengatakan sesat seseorang atau suatu kelompok harus berdasarkan petunjuk dari Allah Ta’ala, karena hanya Allah Ta’ala yang mengetahui siapa yang sesungguhnya sesat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

”Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-An’am: 117).

Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menuduh sesat seseorang atau suatu kelompok, bukan berarti tidak boleh mengatakan sesat terhadap seseorang atau suatu kelompok kalau memang seseorang atau suatu kelompok tersebut benar-benar sesat.

Ketegasan mengatakan sesat seseorang atau suatu kelompok diperlukan supaya tidak merajalela kesesatan ditengah-tengah umat. Dan umat tidak terjerumus kedalam kesesatan.

Untuk mengatakan sesat seseorang atau suatu kelompok maka harus berdasarkan :

1. Keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2. Petunjuk para Ulama yang akidahnya selamat

Apabila sudah nyata sesatnya seseorang atau suatu kelompok, tapi kita tidak berani mengatakannya, kita diam. Maka laknat Allah berlaku kepada orang yang menyembunyikan kebenaran.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُون

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati”. [QS. Al-Baqarah : 159-160].

Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

أخبر الله تعالى أن الذي يكتم ما أنزل من البينات والهدى ملعون

Allah ta’ala telah mengkhabarkan orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk yang diturunkan Allah termasuk orang yang terlaknat.

وقيل: المراد كل من كتم الحق، فهي عامة في كل من كتم علما من دين الله يحتاج إلى بثه،…….

Dikatakan juga bahwa yang dimaksud orang yang terlaknat tersebut adalah orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan hal itu berlaku umum bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu agama Allah yang seharusnya disebarluaskan.

Karena dasar itulah dalam sejarah Islam di setiap kurun, waktu, senantiasa ada para pembela al-haq. Mereka adalah ibarat cahaya bulan purnama yang menerangi umat, membimbing dan membentengi umat dara para pelakon sesat.

Ketika muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala merobohkan makar mereka dengan memunculkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Sa’at Al-Qadariyah hadir, maka Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhum dari kalangan sahabat yang utama melawan faham sesat mereka.

Washil bin ‘Atha’ dengan paham Mu’tazilahnya dipatahkan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan lain-lainnya dari kalangan utama tabi’in.

Ketika merebak Syi’ah Rafidhah, maka Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam Syafi’i, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya menghadapi dan menangkal kesesatan Syi’ah Rafidhah.

Jahm bin Shafwan yang mengusung Jahmiyah juga diruntuhkan Al-Imam Malik, Abdullah bin Mubarak, dan lainnya.

Demikian pula tatkala menyebar pemahaman dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Maka, Al-Imam Ahmad bin Hanbal tampil memerangi pemahaman dan keyakinan sesat mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memunculkan para pembela risalah-Nya. Mereka terus berupaya menjaga Tauhid dan As-Sunnah, dan kemurnian Islam dari makar ahli bid’ah.

Bermunculan para imam, seperti Al-Imam Al-Barbahari, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Ibnu Baththah, Al-Imam Al-Lalika’i, Al-Imam Ibnu Mandah, dan lainnya dari kalangan imam Ahlus Sunnah.

Lantas pada kurun berikutnya, ketika muncul bid’ah sufiyah, ahlu kalam dan filsafat, hadir di tengah umat para imam, seperti Al-Imam Asy-Syathibi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Abdilhadi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan lainnya rahimahumullah.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keutama’an kepada para pembela Tauhid, para pembela Sunnah yang terdahulu maupun yang kemudian.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

======================

PERBEDA’AN ADALAH RAHMAT

PERBEDA’AN ADALAH RAHMAT

Mungkin kita pernah mendengar orang berkata : ”Perbeda’an adalah rahmat”

Perbeda’an apa yang dimaksud adalah rahmat ?

Kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi terakhir, kelompok lain mengakui ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad.

Kita memuliakan para Sahabat, kelompok lain mengkafirkan para Sahabat.

Kita mengatakan semua bid’ah sesat, kelompok lain mengatakan tidak semua bid’ah sesat.

Kalau memang perbeda’an adalah rahmat mengapa Khalifah Abu Bakar memerangi pasukan nabi palsu Musailamah al Khazab, juga pasukan nabi palsu Thulaihah al Assadi dan pasukan nabi palsu Kais bin Abdi Yaguts ? Semua nabi palsu tersebut ditumpas oleh Khalifah Abu Bakar, walaupun harus dengan peperangan yang sengit selama satu tahun.

Kalau perbeda’an adalah rahmat mengapa Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Al-Bukhari mengkafirkan syi’ah ?

Kalau perbeda’an adalah rahmat, mengapa Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

• Perbeda’an pendapat dalam Islam

Dalam khasanah Islam, perbeda’an pendapat bukanlah hal baru. Tidak terhitung jumlah kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.

Perlu diketahui bahwa perbeda’an pendapat dalam Islam ada yang dibolehkan dan ada yang terlarang.

Contoh perbeda’an yang di bolehkan misalnya : Cara turun ketika hendak sujud dalam sholat. Apakah tangan atau lutut terlebih dahulu. Kedua-duanya dibenarkan karena masing-masing berdasarkan dalil yang shohih. Maka ini termasuk perbeda’an yang dibolehkan.

Contoh lainnya adalah : Perbeda’an baca’an do’a iftitah, baca’an tasyahud, jumlah takbir shalat jenazah dan takbir sholat ‘id, jumlah shalat teraweh dan banyak lagi. Sesama Muslim tidak dibenarkan bermusuhan karena perbeda’an pada masalah-masalah seperti yang disebutkan di atas. Karena masing-masing dari pendapat diatas memiliki dalil yang sahih.

Sikap kita kepada sesama muslim yang lainnya, yang berbeda pendapat maka harus toleran tidak perlu mempermasalahkannya. Kalaupun mau mendiskusikannya, maka harus memiliki pengetahuan yang cukup, mutaba’ah dan adab yang baik. Sehingga tidak mencederai ukhuwah Islamiyah.

Akan tetapi sikap toleran itu tidak berlaku kepada ajaran, faham atau amalan-amalan baru (bid’ah). Kita tidak boleh mendiamkan bid’ah merajalela ditengah-tengah umat. Karena akan menjadikan umat tenggelam dalam kesesatan. Perbeda’an inilah yang terlarang.

Tidak ada toleransi kepada amalan-amalan bid’ah, karena bid’ah menjadikan agama ini tidak murni dan mengakibatkan perpecahan berujung kebencian dan permusuhan diantara sesama umat Islam.

Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham, I/157).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Karena bid’ah berdampak buruk kepada agama dan umat, maka memeranginya sangat besar pahala dan keutama’annya.

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ? Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.

Maka atas dasar itulah semenjak dahulu hingga hari ini, para Ulama mengahalau para pengusung kesesatan dan menyingkap penyimpangan-penyimpangannya.

برك الله فيكم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

===============