WAJIB MENCEGAH KEMUNGKARAN

WAJIB MENCEGAH KEMUNGKARAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum muslim sebagai penyeru kepada kebaikan dan penolak kemungkaran.

Allah ta’ala berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Ali Imran: 104].

Firman Allah ta’ala di atas merupakan dalil yang sharih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Muslim. Bahkan, Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah, atau berdiam diri terhadap kemungkaran dengan “tidak terkabulnya doa”.

Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat munkar maupun tidak.

Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum menolak kemungkaran adalah wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَأَى مُنْكِرًا فَلِيُغِيرَهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفَ الإِيمَانَ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan”. (H.R Muslim).

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata :

السَّاكِتُ عَن الحَقِّ شَيْطَانٌ أُخْرِسُ، وَالمُتَكَلِّمُ بِالبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ

“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, sedang yang berucap dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”.

(Ar-Raddu ‘alal Mukhaalif min Ushulil Islam, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah, (hal. 75-76).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

PEMBUNUHAN KARAKTER

PEMBUNUHAN KARAKTER

Diantara cara yang digunakan para penentang kebenaran yang memusuhi para Nabi dan utusan Allah semenjak dahulu hingga dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan cara ”Pembunuhan karakter”.

Pembunuhan karakter atau perusakan reputasi adalah suatu cara untuk mencoreng kehormatan seseorang.

Tindakan ini dapat meliputi pernyata’an yang menjelek-jelekan, memfitnah, menuduh atau menggelari orang yang dibenci atau dianggap musuh dengan sebutan-sebutan rendah dan hina dan sebutan tendensius lainnya. Dengan maksud untuk melemahkan yang dianggapnya sebagai lawan. Pembunuhan karakter biasa dilakukan orang culas ketika perlawanannya menemui jalan buntu.

Pembunuhan karakter pernah dilakukan orang-orang musyrik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebut Rasulullah sebagai tukang sihir, pendusta, penyair, dukun dll.

Para penentang Rasulullah sa’at itu mereka merasa sebagai orang-orang yang lebih pandai, lebih unggul sehingga mereka merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya.

Sebagaimana difirmankan Allah ta’ala :

وَ مَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

”Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. [QS. Hud: 27].

Merasa diri lebih pintar, lebih unggul sehingga mereka selalu mengingkari apa saja yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan TUKANG DUSTA / PEMBUAL adalah cara mereka melemahkan dakwah Rasulullah. Begitulah reaksi dan perlawanan mereka kepada para penyeru kebenaran, ketika segala usahanya sia-sia.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Orang-orang zhalim dan musyrik telah menjuluki Nabi dan para sahabatnya dengan julukan yang jelek dan mengejeknya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam telah dituduh penyihir, gila, dukun, pendusta dan lain-lain”. (Fathu Rabbi al-Bariyyah bi Talkhisi al-Hamawiyyah).

Sebesar apapun permusuhan mereka. Orang-orang yang menyeru kepada kebenaran pasti akan tetap selalu ada. Mereka akan selalu teguh di atas prinsipnya dalam berdakwah. Permusuhan mereka tidak akan melemahkan dan membahayakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al-haq (kebenaran). Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan dapat membahayakan mereka sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian”. (HR Muslim: 1920, at-Turmudziy: 2229).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

===========================

SOMBONG SIFAT YANG MEMBINASAKAN

SOMBONG SIFAT YANG MEMBINASAKAN

Menolak kebenaran karena diri atau kelompok merasa paling benar, paling pinter paling unggul adalah sifat yang sudah lama menjangkiti manusia. Sebagaimana sifatnya kaum-kaum terdahulu yang menolak risalah para Rasul. Sebagaimana difirmankan Allah ta’ala :

وَ مَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

”Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. [QS. Hud: 27].

Sifat merasa paling baik, paling terhormat, paling pintar yang menjadikan orang-orang terdahulu yang Allah binasakan mereka menolak, mengingkari dan mendustakan para Nabi dan Rasul. Bukan saja menolak para Rasul tapi mereka juga memperolok-oloknya.

Menyombongkan diri merasa diatas yang lain adalah sifat warisan iblis. Bagaimana iblis yang asalnya sebagai makhluk Allah paling salih berubah jadi makhluk paling terkutuk.

Semestinya setiap jiwa sadar bahwa diatas langit ada langit. Dengan menyadari hal ini maka tidak sepantasnya merasa paling tinggi kemudian merendahkan orang lain.

Ketika diri merasa banyak tahu, ingatlah, ada yang lebih maha mengetahui.

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf: 76).

Menyadari ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih maha mengetahui dari kita. Maka tidak sepantasnya menolak dan menutup telinga rapat-rapat ketika ada keterangan yang datang dari pihak lain. seolah-olah kelompok yang diikuti atau diri kita sudah mendapatkan jaminan surga yang akan memasukinya tanpa hisab.

Tidak berusaha untuk menyimak bahkan sekedar untuk mendengarkan bisa mendatangkan sebab jauhnya dari hidayah Allah. Karena diantara sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah dengan berusaha untuk mendengarkan dan menyimaknya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ ﴿۱۷

الَّذِيۡنَ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُوۡنَ اَحۡسَنَهٗ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمۡ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۸

”. . Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku”,

”Yaitu bagi orang yang mendengarkan perkata’an lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar Ayat : 17 – 18).

Merasa diri atau kelompok lebih benar, paling baik, lebih pintar bisa menumbuhkan sifat sombong yang akhirnya mengingkari, menolak seruan atau keterangan yang datang menghampirinya. Karena memandang orang yang menyampaikannya lebih rendah dari diri atau kelompoknya. Hal ini sangat berbahaya karena ada ancaman dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).

Seorang yang berharap bisa memasuki surga, maka perhatikan yang ada di dalam hatinya. Jangan sampai ada setitik pun sifat sombong bercokol di dalam hati. Dan mulai melakukan perubahan yang biasanya banyak mengeluarkan kata-kata menjadi banyak menyimak. Dan bertanya dengan tulus hendak mengetahui dari perkara yang tidak di fahami.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================