MEMAHAMI SUNNAH TAQRIRIYAH

MEMAHAMI SUNNAH TAQRIRIYAH

Sunnah taqririyah yaitu ; Diamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mengingkari atau melarang terhadap suatu perkara yang dilakukan oleh sahabat apakah perkata’an atau perbuatan sahabat, baik dilakukan di hadapan Rasulullah atau tidak, namun beritanya sampai kepada beliau.

Perbuatan yang dilakukan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan didiamkan tidak dilarang atau diingkari oleh Rasulullah, maka perbuatan para Sahabat Rasulullah tersebut menjadi SUNNAH.

Al-Qostholaani rahimahullah berkata :

وَإِنَّمَا صَارَ ذَلِكَ سُنَّةً لِأَنَّهُ فُعِلَ فِي حَيَاتِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَاسْتَحْسَنَهُ وَأَقَرَّهٌ

“Hanyalah hal itu menjadi SUNNAH karena dikerjakan di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap baik oleh beliau dan ditaqrir / diakui / disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam”(Irsyaad As-Saari 5/261).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan, tidak mengingkari tidak melarang, artinya ; Apa yang dikatakan atau di lakukan oleh Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut disetujui oleh Rasulullah. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kesalahan yang dilakukan umatnya.

Dan Sunnah taqririyah adalah sumber hukum dalam Islam, sebagaimana sunnah fi’liyah dan sunnah qauliyah.

Mungkin disini perlu disebutkan sedikit tentang sunnah.

Sunnah adalah ; ”Maa udhifa ilaan nabiy min qowlun aw fi’lin aw taqriirin”.

Artinya ; “Segala yang disandarkan kepada Nabi baik itu perkata’an atau perbuatan, persetujuan”. (ushul fikih).

Sunah terbagi tiga ;

1- Perkata’an Nabi (sunnah qauliyah)
2- Perbuatan Nabi (sunnah fi’liyah)
3- Diamnya Nabi (sunnah taqririyah)

Diamnya Nabi, artinya Rasulullah menyetujuinya.

Banyak perbuatan atau perkata’an para Sahabat yang didiamkan Rasulullah, yang artinya disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan berikut perbuatan-perbuatan para Sahabat yang dibiarkan, artinya disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ;

1- Bilal selalu bersuci tiap waktu (yakni selalu dalam keada’an berwudhu) siang-malam sebagaimana akan menunaikan shalat “. (HR Bukhori, Muslim dan Ahmad bin Hanbal). Dan Bilal selalu melakukan shalat dua raka’at setelah bersuci. (HR Bukhori, Muslim).

* Rasulullah meridhoi apa yang dilakukan, di prakarsai Bilal dan Bilal diberi kabar gembira sebagai orang-­orang yang lebih dahulu masuk surga.

2- Khubaib yang melakukan shalat dua raka’at sebelum beliau dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. (H.R Bukhari).

* Yang dilakukan Khubaib disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

3- Seorang sahabat mengucapkan : “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhanku, untuk-Mu segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku’ dan berkata “Sami’allahu liman hamidah” (Semoga Allah mendengar siapapun yang memuji­Nya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : ‘Siapa tadi yang berdo’a ?’. Orang yang bersangkutan menjawab : Aku, ya Rasul- Allah. Rasulullah saw. berkata : ‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat berebut ingin mencatat do’a itu lebih dulu’ “. (H.R Bukhari dalam shohihnya II :284, hadits berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi).

* Sahabat tersebut diberi kabar gembira oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena amalannya.

4- Ibnu Umar berkata, “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi, ada seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan ‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa Ashiila’. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulullah bertanya ; ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi ? Jawab seseorang dari kaum; Wahai Rasulullah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Sabda beliau ; ’Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya’. . .” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

* Rasulullah kagum dengan apa yang dilakukan seorang Sahabatnya.

5- Khabbab shalat dua raka’at sebagai pernyata’an sabar (bela sungkawa) disa’at menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. (Shahih Bukhori). (Fathul Bari jilid 8/313).

* Rasulullah membenarkan apa yang dilakukan sahabatnya tersebut.

6- ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan : “Pada suatu sa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab : ‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’. Atas pertanyaan temannya itu orang yang bersangkutan menjawab : ‘Karena Surat Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali membacanya’. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berpesan : ‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukainya’ “. (Kitabut-Tauhid Al-Bukhori).

* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan Allah menyukainya.

7- Beberapa orang menunaikan shalat dimasjid Quba. Orang yang mengimami shalat itu setelah membaca surah Al-Fatihah dan satu surah yang lain selalu menambah lagi dengan surah Al-Ikhlas, dan ini dilakukannya setiap raka’at. Setelah shalat para ma’mum menegurnya, Kenapa anda setelah baca Fatihah dan surah lainnya selalu menambah dengan surah Al-Ikhlas ? Anda kan bisa memilih surah yang lain dan meninggalkan surah Al-Ikhlas atau membaca surah Al-Ikhlas tanpa membaca surah yang lain ! Imam tersebut menjawab : Tidak !, aku tidak mau meninggalkan surah Al-Ikhlas kalau kalian setuju, aku mau mengimami kalian untuk seterusnya tapi kalau kalian tidak suka aku tidak mau mengimami kalian. Karena para ma’mum tidak melihat orang lain yang lebih baik dan utama dari imam tadi mereka tidak mau diimami oleh orang lain. Setiba di Madinah mereka menemui Rasulullah saw. dan menceriterakan hal tersebut pada beliau. Kepada imam tersebut Rasulullah saw. bertanya : ‘Hai, fulan, apa sesungguhnya yang membuatmu tidak mau menuruti permintaan teman-temanmu dan terus menerus membaca surat Al-Ikhlas pada setiap rakaat’ ? Imam tersebut menjawab : ‘Ya Rasulullah, aku sangat mencintai Surah itu’. Beliau saw. berkata : ‘Kecinta’anmu kepada Surah itu akan memasukkan dirimu ke dalam surga’ “..

* Rasulullah mengatakan Orang yang jadi imam tersebut akan dimasukkan ke Surga karena perbuatannya itu.

8- Sa’id Al-Khudriy ra mengatakan, ia mendengar seorang mengulang-ulang baca’an Qul huwallahu ahad…. Keesokan harinya ia ( Sa’id Al-Khudriy) memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw., dalam keada’an orang yang dilaporkan itu masih terus mengulang-ulang bacaannya. Menanggapi laporan Sa’id itu Rasulullah saw berkata : ‘Demi Allah yang nyawaku berada ditanganNya, itu sama dengan membaca sepertiga Qur’an’. (H.R Al-Bukhori).

9- Bapaknya Abu Buraidah menceriterakan, ‘Pada suatu hari aku bersama Rasulullah saw. masuk kedalam masjid Nabawi. Didalamnya terdapat seorang sedang menunaikan sholat sambil berdo’a ; Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Al-Ahad, As-Shamad, Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwan ahad’. Mendengar do’a itu Rasulullah saw. bersabda ; ‘Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, dia mohon kepada Allah dengan Asma-Nya Yang Maha Besar, yang bila dimintai akan memberi dan bila orang berdo’a kepada-Nya Dia akan menjawab’.

* Rasulullah menyukai yang dilakukan orang tersebut.

10- Sekelompok sahabat yang sempat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu mereka dalam perjalanan. Karena sangat lapar mereka minta pada orang-orang suku tersebut agar bersedia untuk menjamu mereka. Tapi permintaan ini ditolak. Pada saat itu kepala suku arab badui itu disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Karena tidak ada orang dari suku tersebut yang bisa mengobatinya, akhirnya mereka mendekati sahabat Nabi seraya berkata : Siapa diantara kalian yang bisa mengobati kepala suku kami yang disengat binatang berbisa ? Salah seorang sahabat sanggup menyembuhkannya tapi dengan syarat suku badui mau memberikan makanan pada mereka. Hal ini disetujui oleh suku badui tersebut. Maka sahabat Nabi itu segera mendatangi kepala suku lalu membacakannya surah al-Fatihah, seketika itu juga dia sembuh dan langsung bisa berjalan. Maka segeralah diberikan pada para sahabat beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Para sahabat belum berani membagi kambing itu sebelum menghadap Rasulullah saw. Setiba dihadapan Rasulullah saw., mereka menceriterakan apa yang telah mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulullah saw. bertanya ; ‘Bagaimana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah itu dapat menyembuhkan’? Rasulullah saw. membenarkan mereka dan ikut memakan sebagian dari daging kambing tersebut “. (HR.Bukhori)

* Rasulullah membenarkan apa yang dilakukan para Sahabatnya tersebut.

11- Paman Kharijah bin Shilt yang mengatakan ; “Pada suatu hari ia melihat banyak orang bergerombol dan ditengah-tengah mereka terdapat seorang gila dalam keadaan terikat dengan rantai besi. Kepada paman Kharijah itu mereka berkata : ‘Anda tampaknya datang membawa kebajikan dari orang itu (Rasulullah), tolonglah sembuhkan orang gila ini’. Paman Kharijah kemudian dengan suara lirih membaca surat Al-Fatihah, dan ternyata orang gila itu menjadi sembuh”. (H.R Abu Daud, At-Tirmudzi dan An-Nasa’i, Hadits ini juga diketengahkan oleh Al-Hafidh didalam Al-Fath).

12- Rifa’ah ibn Rafi’ bersin saat shalat, kemudian berkata: “Alhamdulillahi katsiran thayyiban mubarakan ‘alayhi kama yuhibbu rabbuna wa yardha” (Segala puji bagi Allah, sebagaimana yang disenangi dan diridai-Nya). Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: “Ada lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang beruntung ditu­gaskan untuk mengangkat perkataannya itu ke langit.” (At- Tirmidzi).

* Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukainya dan memberinya kabar baik.

13- Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma menambah do’a talbiyah dengan kalimat :

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ.

14- Beberapa sahabat yang duduk berzikir kepada Allah. Mereka mengungkapkan puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena diberi hidayah masuk Islam, sebagaimana mereka dianugerahi nikmat yang sangat besar berupa kebersama’an dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat tindakan mereka, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Jibril telah memberitahuku bahwa Allah sekarang sedang berbangga-bangga dengan mereka di hadapan para malaikat.” (H.R mam Muslim dan Imam An-Nasa’i).

* Rasulullah menyukainya dan memberi kadar gembira.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Riwayat-riwayat yang dikatakan dan dilakukan para sahabat diatas, sering di jadikan hujjah oleh para pembela bid’ah hasanah untuk membenarkan amalan-amalan baru dalam urusan ibadah yang mereka lakukan.

Para pembela bid’ah hasanah berkata : Apa yang dilakukan oleh para Sahabat tersebut, tidak pernah dilakukan dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbuatan para Sahabat tersebut merupakan prakarsa atas inisiatif mereka sendiri.

Sekalipun begitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mempersalahkan dan tidak pula mencelanya, bahkan memuji dan meridhoinya, tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kalau yang dilakukan para Sahabatnya itu salah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANGGAPAN :

Riwayat-riwayat yang di sebutkan diatas, yang dilakukan oleh para Sahabat tersebut, adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

Untuk memahami perkara ini, kita harus memahami arti bid’ah secara benar.

Berikut ini definisi bid’ah menurut para Ulama. Definisi bid’ah yang dimaksud disini adalah arti bid’ah menurut SYARI’AT, bukan arti bid’ah menurut BAHASA.

Berikut ini penjelasan bid’ah menurut para Ulama ;

1- Imam Al-’Iz bin ‘Abdissalam berkata :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

“Bid’ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).

2- Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

3- Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

Sampai disini, bisakah para pembela bid’ah hasanah faham ?

Dari keterangan para Ulama tersebut dapat kita fahami, bahwa bid’ah adalah ;

“PERKARA BARU (dalam urusan agama), YANG TIDAK ADA DI MASA RASULULLAH MASIH HIDUP”.

“Bid’ah adalah segala perkara yang terjadi (dalam urusan agama) SETELAH NABI TIADA”.

Adapun perbuatan-perbuatan yang dilakukan para Sahabat tadi, adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

Perkara yang dikatakan atau dilakukan oleh para Sahabat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya tidak mengingkarinya, maka itu adalah yang disebut SUNNAH TAQRIRIYAH

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan disukai oleh Rasulullah, maka Perbuatan-perbuatan para Sahabat Rasulullah tersebut menjadi sunnah.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qostholaani rahimahullah :

وَإِنَّمَا صَارَ ذَلِكَ سُنَّةً لِأَنَّهُ فُعِلَ فِي حَيَاتِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَاسْتَحْسَنَهُ وَأَقَرَّهٌ

“Hanyalah hal itu menjadi sunnah karena dikerjakan di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap baik oleh beliau dan ditaqrir / diakui / disetujui oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam”(Irsyaad As-Saari 5/261).

Jadi kesimpulannya, Perkata’an atau perbuatan para Sahabat dalam riwayat diatas adalah SUNNAH bukan BID’AH HASANAH sebagaimana yang fahami para pembela bid’ah hasanah.

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

=================

AKAN SELALU ADA SOSOK PENENTANG KELOMPOK BATIL

AKAN SELALU ADA SOSOK PENENTANG KELOMPOK BATIL

Di setiap kurun, waktu, senantiasa didapati para pembela al-haq. Mereka adalah bintang gemilang yang memberi petunjuk arah dalam kehidupan umat. Mereka memancarkan berkas cahaya yang memandu umat di tengah gelap gulita.

Kala muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala merobohkan makar mereka dengan memunculkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Begitupun saat Al-Qadariyah hadir, maka Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhum dari kalangan sahabat yang utama melawan pemahaman sesat tersebut.

Washil bin ‘Atha’ dengan paham Mu’tazilahnya dipatahkan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan lain-lainnya dari kalangan utama tabi’in.

Merebak Syi’ah Rafidhah, maka Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam Syafi’i, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya menghadapi dan menangkal kesesatan Syi’ah Rafidhah.

Jahm bin Shafwan yang mengusung Jahmiyah juga diruntuhkan Al-Imam Malik, Abdullah bin Mubarak, dan lainnya.

Demikian pula tatkala menyebar pemahaman dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Maka, Al-Imam Ahmad bin Hanbal tampil memerangi pemahaman dan keyakinan sesat tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memunculkan para pembela risalah-Nya. Mereka terus berupaya menjaga as-sunnah, agar tidak redup diempas para ahli bid’ah.

Bermunculan para imam, seperti Al-Imam Al-Barbahari, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Ibnu Baththah, Al-Imam Al-Lalika’i, Al-Imam Ibnu Mandah, dan lainnya dari kalangan imam Ahlus Sunnah.

Lantas pada kurun berikutnya, ketika muncul bid’ah sufiyah, ahlu kalam dan filsafat, hadir di tengah umat para imam, seperti Al-Imam Asy-Syathibi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Abdilhadi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan lainnya rahimahumullah.

http://www.Asysyariah.com,

==========================

LAKNAT ALLAH KEPADA ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN

LAKNAT ALLAH KEPADA ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN

Menyingkap kebenaran yang tertutupi kabut kebatilan dan menyampaikannya kepada manusia bukanlah perkara mudah. Cibiran, sumpah serapah, hujatan sampai sikap permusuhan akan ditemui di setiap derap langkah dalam dakwah.

Tapi sungguh berat apabila sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh para pengikut hawa napsu menjadikan lemah tidak tahan menghadapi kecaman orang-orang yang memusuhinya. Ragu-ragu lalu berpikir untuk mundur bahkan lari dan bersembunyi serta menyembunyikan keterangan-keterangan yang seharusnya ditampakkan.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah : 159-160).

Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

أَخْبَرَ اللهُ تَعَالَى أَنْ الَّذِي يَكْتُمَ مَا أَنْزَلَ مِنْ البَيِّنَاتِ وَالهُدَى مَلْعُونٌ

Allah ta’ala telah mengkhabarkan orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk yang diturunkan Allah termasuk orang yang terlaknat.

وَقِيلَ: المُرَّادُ كُلٌّ مِنْ كَتْمِ الحَقِّ، فَهِيَ عَامَّةً فِي كُلٍّ مِنْ كَتْمٍ عَلِمَا مِنْ دِينِ
اللّهِ يَحْتَاجُ إِلَى بَثِّهِ

Dikatakan juga bahwa yang dimaksud orang yang terlaknat tersebut adalah orang yang menyembunyikan kebenaran. Dan hal itu berlaku umum bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu agama Allah yang seharusnya disebarluaskan.

قَوْلُهُ تَعَالَى: {أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ} أَيْ يَتَبَرَّأُ مِنْهُمْ وَيُبْعِدُهُمْ مِنْ ثوابه وَيَقُولُ لَهُمْ: عَلَيْكُمْ لَعْنَتِي، كَمَا قَالَ للّعين: {وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي} [ صِ: ٧٨ ]. وَاصَلَ اللعن فِي اللُّغَةِ الإِبْعَادَ وَالطَرْدَ

Firman-Nya : {mereka itu dilaknati Allah}, maksudnya, ”Allah berlepas diri dari mereka dan menjauh dari mereka dari pahala”, lalu Allah pun berfirman : ”Wajib atas kalian akan laknat-Ku” sebagaimana firman Allah : ”sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu”. (QS. Shaad : 78). Dan asal kata dari laknat adalah menjauhi dan mengusir.

قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ} قَالَ قَتَادَةُ وَالرَّبِيعُ: المُرَّادُ “باللاعنون” المَلَائِكَةُ وَالمُؤَمِّنُونَ. قَالَ اِبْنَ عَطِيَّةُ: وَهَذَا وَاضِحٌ جَارَ عَلَى مُقْتَضَى الكَلَامِ..

Firman-Nya : ‘mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati’. Tentang ayat ini, Qataadah dan Ar-Rabii’ berkata : ‘Maksud dari kata al-laa’inuun adalah para malaikat dan orang-orang beriman. Ibnu ‘Athiyyah berkata : ‘Maknanya ini adalah jelas sesuai dengan maksud kalimat”.

[Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan, 2/479-483 tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy; Muassasah Ar-Risalah, Cet. 1/1427 – dengan peringkasan].

Asy-Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah berkata :

وَجَاءَ فِي هَذِهِ الآيَةِ أَنَّ كَاتِمَ العِلْمَ يَلْعَنُهُ اللهُ وَالمَلَائِكَةُ وَالنَّاسُ أَجْمَعُونَ.

Dan dalam ayat ini (QS. Al-Baqarah: 159-160), juga diterangkan bahwasannya orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.

ثُمَّ استثى اللهُ تَعَالَى مِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ

Kemudian Allah ta’ala mengecualikan dari mereka siapa saja yang bertaubat kepada-Nya.

فَقَالَ: “إِلَّا الَّذَيْنِ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا” أَيٌّ: رَجَّعُوا عَمًّا كَانُوا فِيهِ وَأَصْلَحُوا أَعْمَالَهُمْ وَبَيَّنُوا النَّاسَ مَا كَانُوا كَتَمُوهُ

Allah berfirman : “Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran)”, yaitu mereka kembali pada kebenaran, memperbaiki amal-amal mereka, serta menerangkan kepada manusia tentang apa yang telah mereka sembunyikan sebelumnya.

فَأُولَئِكَ أتوب عَلَيْهُمْ وَأَنَ التَّوَّابُ الرَّحِيمَ.

Maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

وَفِي هَذَا دَلَالَةً عَلَى أَنَّ الدَّاعِيَةُ إِلَى كُفْرٍ أَوْ بِدْعَةِ اذاٍ تَابَ إِلَى اللهِ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.

Dan dalam ayat ini terdapat pentunjuk bahwa orang yang mengajak pada kekufuran dan kebid’ahan apabila bertaubat kepada Allah, maka Dia akan menerima taubatnya.

[‘Umdatut-Tafsiir, 1/279-280].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مِثْلَ الَّذِي يَتَعَلَّمُ العِلْمَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ بِهِ كَمُثُلٍ الَّذِي يَكْنِزُ الكَنْزَ فَلَا يُنْفِقُ مِنْهُ.

“Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menyampaikannya adalah seperti orang yang menyimpan harta namun tidak menafkahkannya darinya”. [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 689; shahih – lihat Ash-Shahiihah no. 3479].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

مِنْ كَتْمٍ عَلِمَا أَلْجُمُهُ اللهُ يَوْمُ القِيَامَةِ بِلجَامِ مِنْ نَارٍ.

“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 96, Al-Haakim 1/102, dan Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 5/38-39; hasan].

Sikap permusuhan yang ditunjukkan para pengusung kebatilan, sungguh sudah berlangsung sejak lama. Para Rasul dan wali-wali Allah tidak pernah sepi dari hina’an dan caci maki.

• JADILAH PENOLONG AGAMA ALLAH

Allah memerintahkan kita supaya menolong agama-Nya. ’Menolong Allah’ bukan berarti Allah lemah dan butuh pertolongan manusia.

Al Qurthubi mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang menolong agama dan nabi-Nya. (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz XII hal 386)

Allah ta’ala berfirman :

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

”Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid : 25)

Tatkala berbicara tentang “Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” Kemudian Allah melanjutkannya dengan menjelaskan makna pertolongan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menolong manhaj dan da’wah-Nya, adapun Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah membutuhkan pertolongan dari mereka. “Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (Fii Zhilalil Qur’an juz VI hal 4395).

Allah ta’ala berfirman :

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)

Sesungguhnya Allah tidaklah membutuhkan pertolongan sedikit pun dari hambanya. Karena Dia maha kuat. Akan tetapi Allah hendak menguji dari hambanya mana yang layak untuk mendapatkan pertolongannya.

Menolong agama Allah diantara maksudnya adalah, memurnikan risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari para pelaku penyimpangan dan penyesat umat. Membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhkan umat dari kesyirikan, bid’ah, khurafat dan tradisi-tradisi nenek moyang (jahiliyah) yang tidak sesuai dengan syari’at Islam.

Memang sulit dan besar aral rintangan yang akan dihadapi para pengemban dakwah dalam menyampaikan kebenaran karena besarnya permusuhan, perlawanan dan kecaman dari mereka yang merasa terusik amalan-amalan dan kepercaya’an batilnya. Tapi sebagaimana Allah sebutkan bahwa Allah ta’ala akan memberikan pertolongan dan meneguhkan kedudukan orang-orang yang istiqomah dalam membela agama Allah.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

”Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini silahkan tanpa perlu meminta izin, mohon di sertakan linknya. Trimakasih.

==================