PENGINGKARAN RASULULLAH, PARA SAHABAT DAN PARA ULAMA TERHADAP BID’AH

PENGINGKARAN RASULULLAH, PARA SAHABAT DAN PARA ULAMA TERHADAP BID’AH

1. Pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Berikut ini, pengingkaran Rasulullah terhadap perbuatan yang dilakukan para Sahabatnya.

(1). Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyata’an tiga orang, yang pertama berkata : “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).

(2). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui Al-Baroo’ bin ‘Aazib radhiallahu ‘ahu dalam mengucapkan lafal doa yang diajarkan Nabi kepadanya.

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ

“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada Nabimu yang Engkau utus”

Nabi berkata :

فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ

“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”

Nabi berkata, “Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau utus” (HR Al-Bukhari no 6311).

(3). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari Utsman bin Madz’uun yang ingin beribadah dan tidak menikah.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :

يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ , وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ

“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah disyariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?, Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasanNya” (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).

Dari riwayat-riwayat tersebut bisa kita ketahui, bahwa tidak semua niat atau perbuatan baik yang dikatakan atau dilakukan para Sahabatnya selalu disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lalu bagaimana dengan mereka yang membuat cara-cara baru dalam agama, apakah mereka yakin dan bisa memastikan kalau amalan-amalan baru yang di buatnya, di sukai Allah dan Rosulnya ?

2. Pengingkaran para Sahabat

(1). Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

Shalat adalah amalan yang utama, tetapi ternyata apabila dilakukan tidak ada tuntutannya maka itulah yang diingkari dan ditegur oleh Sa’id bin Musayyib.

(2). Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

Seorang laki-laki bersin kemudian dia mengucapkan, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah”. Seorang lelaki tersebut menambahkan lafadz
”shalawat” setelah mengucapkan
”Alhamdulillah”. Tapi ternyata mendapatkan teguran Ibnu Umar.

Kenapa Ibnu Umar menegur, bukankah tambahan shalawat yang diucapkan seorang lelaki tersebut baik ?

Ibnu Umar kemudian mengajarkan kepada lelaki tersebut ucapan ketika bersin yang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu ucapan ; “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal”.

Begitulah para Sahabat selalu berhati-hati terhadap perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(3). Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu, Diriwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka, “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahmidlah seratus kali” Dan demikianlah seterusnya . . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud , “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan”. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?” Abu Musa pun menjawab, “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka. Lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”, Mereka pun menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Coba kita perhatikan riwayat-riwayat tersebut. Bukankah apa yang mereka (yang di tegur) lakukan baik ?

– Mengapa Sa’id bin Musayyib melarang orang menunaikan shalat, Bukankah shalat baik ?

– Mengapa Ibnu ‘Umar melarang menambah lafadz sholawat setelah mengucapkan “Alhamdulillah” ketika bersin, Bukankah shalawat baik ?

– Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir baik ?

Perbuatan yang di tegur oleh para Sahabat tadi adalah disebabkan karena perbuatan mereka tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Pengingkaran para Ulama

(1). Imam As Syafi’i tidak suka kuburan dibangun dan dikapur

Imam As-Syafi’i berkata : “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan di atas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan… Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat pera fuqohaa mencela penghancuran tersebut ” (Al-Umm 1/277).

(2). Menurut Imam Syafi’i membaca niat adalah kebodohan ?

Imam Syafi’i Rohimahulloh mengatakan :
“Was-was (mengucapkan) Niat dalam sholat dan bersuci termasuk kebodohan terhadap syari’at atau sedang gila”.
(Kitab al-Amru bil ‘Ittiba’ wan Nahyu anil Ibtida’ [dinukil dari al- Qoulul Mubin fi Akhtho’ al-Mushollin hlm.93]).

(3). Menurut Imam An Nawawi mengirim pahala baca’an Al Qur’an kepada mayat tidak sampai

Imam An Nawawi berkata : “Adapun qiroah (membaca) Al-Qur’an maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al- Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90) .

(4). Menurut Syekh Al ‘Izz Bin Abdussalam, berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk BID’AH

Syekh Al ‘Izz Bin Abdussalam, pembesar Ulama bermadzhab Imam Syafi’i sulthonul ulama, baa’i’ul muluuk, Syaikhul Islam, Ahadul Aimmatil A’laam, Al Qodhi (beliau pernah menjabat qodhy di damascus, syria dan cairo Mesir), Ahli Fiqih madzhab Syafi’i yang sampai tingkat mujtahid.

Beliau ditanya :

Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar hukumnya mustahab atau tidak ?

Beliau menjawab :

Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk BID’AH kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang. (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di (http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664).

(5). Al-Izz bin Abdis Salam membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua.

Al-Izz bin Abdis Salam adalah pembesar ulama bermadzhab Imam Syafi’i beliau di pandang sebagai “Sulthoon Al Ulama” atau pemimpin para ulama. Hal itu di sebabkan karena beliau adalah seorang ulama yang multi ilmu.

Berkata Abu Syamah (salah seorang murid Al-’Iz bin Abdissalam), “Beliau (Al-’Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak bid’ah yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut ” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-’Iz bin Abdissalam) .

(6). Menurut Syekh Al ‘Izz Bin Abdus salam mengusap wajah setelah do’a adalah perbuatan orang jahil

Syekh Al ‘Izz Bin Abdus salam pembesar Ulama bermadzhab Imam Syafi’i, mengatakan : “Dan tidaklah mengusap wajah setelah do’a kecuai orang jahil. (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-’Izz bin Abdis Salaam hal 46-47 ). Kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/ showthread.php?t=39664 ).

(7). Imam Nawawi melarang baca’an dzikir dan selainnya ketika mengiringi jenazah.

Di dalam kitab al-Azkar Imam Nawawi berkata : “Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu ‘anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Maka janganlah diangkat suara dengan baca’an, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, yaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. …… Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damaskus, yaitu melanjutkan bacaan al-Quran dengan di panjang-pangjangkan dan baca’an yang lain ke atas jenazah, serta pembicara’an yang tiada kaitan, maka hukumnya adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam Kitab Adab al-Qurroo’ tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannya bagi siapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya “ (Al- Adzkaar hal 160).

(8). Menurut Imam Malik, membaca Al-Qur’an secara bersama’an adalah Bid’ah.

Imam Asy-syathibi dari Imam Malik berkata : “Membaca al-quran secara bersama’an itu adalah Bid’ah yang diada-adakan. (membaca al qur’an yang benar adalah salah seorang membaca, yang lain menyimak) para sahabat salafus shoolih adalah orang-orang yang sangat bersemangat melakukan kebajikan. Seandainya perbuatan itu baik, tentu mereka sudah lebih dulu mengerjakannya dari pada kita “ (Fatwa Asy-Syathibi, hal 206-208).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s