JANGAN MEMECAH BELAH PERSATUAN UMAT ?

JANGAN MEMECAH BELAH PERSATUAN UMAT ?

Ketika memperingatkan orang untuk menjauhi amalan-amalan baru dalam urusan agama (bid’ah), kadang mendapatkan ucapan misalnya ;

“JAGA PERSATUAN SESAMA MUSLIM, JANGAN MENGUSIK AMALAN ORANG LAIN“

Ucapan seperti itu sepertinya baik padahal batil. Apakah dengan alasan persatuan kita biarkan bid’ah merajalela, penyimpangan mewabah dimana-mana ?

Sebagian orang memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus diutamakan dari mengingkari bid’ah yang mereka anggap akan memecah belah persatuan umat.

Perlu difahami !

Persatuan dalam pandangan islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih mengutamakan persatuan tapi tidak memperhatikan keyakinan, demokrasi memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Pemahaman ini banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah merusak persatuan.

Bagi kaum muslimin untuk bersatu, maka ada beberapa hal yang harus dipertanyakan.

– Diatas apa kita bersatu ?
– Untuk apa kita bersatu ?

Masalah pertama, Cobalah kita renungkan ayat berikut ini :

وَ أَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ

“Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya, niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya…”. (Al An’am : 153).

Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam membuat garis lurus dan bersabda : ”ini adalah jalan yang lurus“. Kemudian Beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda : ”ini adalah jalan-jalan lainnya, disetiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya“. Kemudian Beliau membaca ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud).

Imam Mujahid seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan Syubhat (tafsir Ibnu Katsir).

Maka ayat diatas sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rosulullah dan para sahabatnya.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, ketika Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka, beliau menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu : “Apa-apa yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini“.

Jadi persatuan dalam islam maknanya bersatu diatas jalan Rosulullah dan para sahabatnya. Maka siapa saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rosulullah dan para sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit, dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS Ali Imran : 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Maka ayat diatas memerintahkan untuk bersatu berdasarkan Al-Qur’an.

Masalah kedua, Untuk apa kita bersatu ?

Kita diperintahkan bersatu adalah untuk meninggikan Islam, bukan selainnya.

Bukan meninggikan jama’ah tertentu, partai, kiyai atau ustadz atau madzhab tertentu dan lainnya.

Karena hal itu hanya akan mencerai beraikan kaum muslimin dan menjadi terkotak-kotak, dan inilah yang dimaksud ayat :

وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka “. (Ar-Rum : 31-32).

Di dalam At Tafsiirul muyassar (hal 407) diterangkan makna ayat tersebut :
”(maksudnya) janganlah kalian seperti kaum musyrikin, ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu yang merubah-rubah agama, mereka mengambil sebagian agama dan meninggalkan sebagian lainnya karena mengikuti hawa nafsu, sehingga merekapun berkelompok-kelompok (hizbiy) karena mengikuti dan membela tokoh dan pendapat kelompok mereka, sebagian mereka membantu sebagian lainnya didalam kebatilan…”.

Kesimpulan :

Islam memerintahkan untuk bersatu dan melarang bercerai-berai. Tapi persatuan yang dikehendaki Islam adalah :

“Persatuan yang dibangun diatas petunjuk Allah dan Rasulul-Nya. Dan persatuan untuk meninggikan kalimatullah“.

Bukan persatuan yang jadi harus mendiamkan kemungkaran dan kemaksiatan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

APAKAH PARA SAHABAT TIDAK TAHU BID’AH HASANAH ?

APAKAH PARA SAHABAT TIDAK TAHU BID’AH HASANAH ?

Ada beberapa riwayat masyhur yang meriwayatkan para Sahabat menegur orang-orang yang mengamalkan perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari riwayat-riwayat tersebut sebetulnya kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa tidak ada amalan baru dalam urusan ibadah yang dibenarkan dan dipandang baik oleh Islam.

Jika amalan baru dalam urusan ibadah (bid’ah) dibenarkan dalam Islam, tentu para Sahabat tidak akan menegur orang-orang yang melakukan perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut beberapa riwayat para Sahabat yang menegur orang yang melakukan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ;

1- Sa’id bin Musayyib (tabi’in), Ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata : “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466).

Shalat adalah amalan yang utama, tetapi ternyata apabila dilakukan tidak ada tuntutannya dari Allah dan Rasulnya, maka itulah yang diingkari dan ditegur oleh Sa’id bin Musayyib.

Apakah Sa’id bin Musayyib tidak tahu ada bid’ah hasanah ?

2- Shahabat yang mulia Ibnu ‘Umar
radhiyallaahu ‘anhuma, menceritakan, Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin kemudian dia berkata, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah” (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah). Maka Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata : Aku juga mengatakan, “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah” (maksudnya juga bershalawat). Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.” (Diriwayatkan olehAt-Tirmidzi, no. 2738).

Seorang laki-laki bersin kemudian dia mengucapkan, “Alhamdulillah wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah”. Seorang lelaki tersebut menambahkan lafadz
”shalawat” setelah mengucapkan
”Alhamdulillah”. Tapi ternyata mendapatkan teguran dari Ibnu Umar.

Kenapa Ibnu Umar menegur, bukankah tambahan shalawat yang diucapkan seorang lelaki tersebut baik ?

Ibnu Umar menegur lelaki tersebut karena yang dilakukannya adalah membuat-buat perkara baru dalam urusan agama.

Apakah Ibnu Umar tidak tahu bid’ah hasanah ?

3- Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu, Diriwayatkan memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu syaikh tersebut menyuruh mereka, “Bertasbihlah seratus kali !” Lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu syaikh itu berkata lagi, “Bertahmidlah seratus kali” Dan demikianlah seterusnya . . Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya, tapi ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud , “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan”. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka ? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun ?” Abu Musa pun menjawab, “Aku tidak memerintahkan apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud, Mari kita pergi menuju mereka. Lalu Ibnu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad ?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan ?”, Mereka pun menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”. Berkata Amru bin Salamah, “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang An-Nahrawan bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih).

Mengapa Ibnu Mas’ud menegur orang-orang yang sedang berdzikir, Bukankah dzikir baik ?

Ibnu Mas’ud menegur mereka, karena dzikir yang mereka lakukan tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apakah Ibnu Mas’ud tidak tahu ada bid’ah hasanah ?

Beberapa riwayat tadi menyebutkan para Sahabat menegur orang-orang yang melakukan perkara-perkara baru dalam urusan agama. Mengapa para Sahabat tidak mendiamkannya ?

Apakah para Sahabat tidak tahu bid’ah hasanah ?

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================