PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

Segala sesuatu di balik pencipta’an Allah Ta’ala pasti ada hikmahnya. Apa yang Allah Ta’ala cintai dan benci pasti mengandung hikmah yang kadang tidak dapat manusia selami.

Begitu pula dibalik perselisihan diantara umat Islam ada hikmah yang terkandung didalamnya.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” (Ali Imran: 191).

Hikmah terjadinya perselisihan yang sampai menimbulkan perpecahan diantara umat Islam dan berujung permusuhan adalah sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala, siapa diantara hambanya yang mencari kebenaran dan siapa diantara hambanya yang mengikuti hawa napsu. Hal ini sebagaimana dikatakan Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu,

Beliau berkata : “Perpecahan dan perselisihan merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme. (Kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal. 23-24).

Seandainya Allah Ta’ala menghendaki umat Islam ini sebagai umat yang utuh tidak ada perselisihan dan permusuhan tentu saja Allah Ta’ala kuasa untuk menyatukannya. Sebagaimana dalam sebuah firmannya,

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Hud: 118-119).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am, 6 : 35).

Firman Allah Ta’ala pada surat Hud: 118 maksudnya perselisihan akan tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.

Dan firman Allah Ta’ala :

إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

”Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (Hud: 119).

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama’ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka sama.

والله أعلمُ بالصواب

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

===================

ALLAH MELARANG PERPECAHAN

ALLAH TA’ALA MELARANG PERPECAHAN

Perpecahan ditengah-tengah umat Islam sungguh sangat disesalkan, dan kenyata’an ini (perpecahan) menyelisihi prinsip Islam yaitu pentingnya persatuan.

Perpecahan diantara umat Islam yang menjadikan umat saling bermusuhan, sungguh meruntuhkan persatuan dan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan juga menodai kehormatan agama Islam sebagai agama yang mulia, agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan persaudara’an.

Perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin sudah bukan menjadi rahasia lagi. Perpecahan bukan saja dikalangan awam tapi juga dikalangan orang-orang alimnya.

Perpecahan nampak nyata baik dalam bentuk bentrokan fisik maupun dalam bentuk perang adu argumentasi di kalangan para tokohnya.

Dampak buruk dari perpecahan adalah sikap apatis umat untuk mendalami agama islam, atau mereka tidak tertarik untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah berbasis agama, karena mereka melihat perselisihan yang sengit diantara para tokoh agama yang seharusnya bisa dijadikan panutan. Dan mereka tidak ingin anak-anaknya terlibat dalam perselisihan.

Dampak buruk lainnya adalah, umat Islam menjadi lemah karena hilangnya rasa persaudara’an diantara kaum muslimin. Padahal umat Islam menghadapi berbagai macam problamatika sosial.

Dampak buruk lainya lagi adalah, lemahnya kaum muslim dalam menghadapi makar musuh-musuh Islam yang selalu membuat makar untuk menghancurkan Islam dan umatnya.

Kalau sudah seperti itu, siapa yang dirugikan ?

Tentu saja agama Islam itu sendiri dan umatnya.

Karena perpecahan diantara umat Islam itu merugikan, maka umat Islam semestinya segera sadar akan ruginya akibat dari perpecahan. Bukankah perpecahan itu dilarang oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firmannya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, . .” (QS Ali Imran: 103).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan“. (Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran: 103).

Imam Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini : “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasa’an dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan”. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159).

Beliau juga mengatakan : “Boleh juga maknanya, janganlah kamu berpecah-belah karena mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan yang bermacam-macam. Jadilah kamu saudara-saudara di dalam agama Allah, sehingga hal itu menghalangi dari (sikap) saling memutuskan dan membelakangi”. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159).

Imam Asy-Syaukani berkata tentang tafsir ayat ini : “Allah memerintahkan mereka bersatu di atas landasan agama Islam, atau kepada Al Qur’an. Dan melarang mereka dari perpecahan yang muncul akibat perselisihan di dalam agama”. (Fahul Qadir 1/367).

Tidaklah Allah Ta’ala melarang umat-Nya berpecah belah, kalau tidak perpecahan itu berdampak buruk terhadap Islam sebagai agama yang sempurna dan umat Islam sebagai penganutnya.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

Silahkan di share semua tulisan yang ada blog ini dengan syarat selalu mencantumkan linknya.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

SOLUSI UNTUK MENYATUKAN PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

SOLUSI UNTUK MENYATUKAN PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM
.
Setiap kaum muslimin pasti mengharapkan persatuan diantara umat Islam bukan perpecahan. Karena perpecahan itu merugikan dan menghilangkan kekuatan kaum muslimin.
.
Walaupun persatuan umat Islam seolah-olah sulit di bangun, mengingat fakta banyaknya faham dan golongan yang berbeda satu sama lain, dan masing-masing golongan membanggakan kelompoknya juga diantara masing-masing kelompok saling berselisih bahkan bermusuhan. Namun bukan suatu yang mustahil persatuan diantara umat Islam bisa di bangun, karena Islam sudah memberikan petunjuk supaya kaum muslimin bersatu tidak berpecah belah.
.
Berikut beberapa hal yang bisa menyatukan kaum muslimin :
.
1. Berpegang Dengan Tali Allah (Al-Qur’an)
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا
.
“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).
.
Dalam ayat di atas, Allah melarang kita untuk bercerai-berai. Namun dalam ayat itu sebelumnya Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah terlebih dahulu.
.
Tali Allah yang di maksud dalam ayat di atas adalah Al-Qur’an. Sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض
.
“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).
.
Semua umat Islam mengimani bahwa Al-Qur’an adalah pedoman dalam segala urusan. Termasuk pedoman untuk menyatukan umat Islam ketika berselisih. Maka apabila umat Islam berselisih hendaknya kembali kepada petunjuk Al-Qur’an (Kitab Allah).
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
.
“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah”. (QS. Asy Syura: 10).
.
Maksudnya, manakala kalian berselisih dalam urusan apa pun. Hal ini mengandung pengertian yang menyeluruh mencakup segala sesuatu. (Tafsi Ibnu Katsir QS. Asy Syura: 10).
.
Jalan menuju persatuan bisa terwujud hanya dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah Ta’ala akan menimbulkan permusuhan.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة
.
“Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat”. (Q.S. Maidah: 64).
.
Ayat di atas di tujukan kepada orang-orang Yahudi, namun hakekatnya di tujukan kepada siapapun yang tidak mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala.
.
2. Berpegang Teguh Kepada Al-Jama’ah
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
عليكم بالجماعة وإياكم والفرقة
.
“(Berpegang teguhlah) kalian dengan Al-Jama’ah dan menjauhlah dari perpecahan”. (H.R Imam At-Tirmidzi dalam sunannya pada kitabul fitan).
.
Apa yang dimaksud Al-Jama’ah ?
.
Al-Jama’ah secara bahasa berasal dari kata Al-Jama’ yang mengandung makna : “Menyatukan sesuatu yang terpecah”. Maka kata jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan.
.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 2/157 : “Dan mereka di namakan Ahlul Jama’ah karena Al-Jama’ah adalah persatuan dan lawannya adalah perpecahan”.
.
Adapun makna Al-Jama’ah menurut syar’iat adalah, “Yang mencocoki kebenaran walaupun sendirian”.
.
Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :
.
الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك
.
“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.
.
3. Fahami Al-Qur’an Dengan Pemahaman Para Sahabat
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu di turunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah”. (kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, [II/691]).
.
Al-Qur’an turun di masa Nabi ketika beliau hidup di tengah-tengah para Sahabatnya yang mulia. Oleh karena itu, para Sahabatlah yang paling mengerti makna Al-Qur’an, karena merekalah yang mendengar langsung bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka apabila memaknai Al-Qur’an tidak sesuai dengan pemahaman para Sahabat timbullah perselisihan dan perpecahan bahkan sampai berujung permusuhan.
.
Itulah tiga perkara yang dapat menyatukan umat Islam. Apabila umat Islam tidak berpegang teguh kepada tiga perkara yang sudah di sebutkan di atas, yaitu Tali Allah (Al-Qur’an) dan tidak berpegang kepada Jama’ah juga tidak memahami Al-Qur’an sebagaimana para Sahabat, maka perpecahan yang akan timbul diantara umat Islam sepanjang masa.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
————————

AMALAN YANG TIDAK ADA PERINTAH ATAU CONTOHNYA MAKA DI TOLAK

AMALAN YANG TIDAK ADA PERINTAH ATAU CONTOHNYA MAKA DI TOLAK

Setiap muslim ketika beribadah tentu berharap mendapatkan ridha dan pahala dari Allah Ta’ala. Seorang muslim yang berakal pasti tidak menghendaki amal ibadahnya sia-sia. Ibadah yang kita lakukan tentu saja akan mendapatkan balasan berupa pahala apabila dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dan sebaliknya ibadah tanpa tuntunan, contoh dan perintahnya dari Allah dan Rasul-Nya, maka ibadah yang dilakukannya akan ditolak. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak“. (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Dan didalam riwayat Muslim :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak”.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin.

Jika suatu amalan tidak di lakukan atau di perintahkan atau di setujui oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Meski pelakunya mengamalkan dengan ikhlas hanya karena Allah.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

BID’AH MENGAKIBATKAN PERPECAHAN

BID’AH MENGAKIBATKAN PERPECAHAN

Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak akan bisa dipersatukan. Padahal Islam memiliki pedoman yang akan bisa menyatukan mereka.

Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih ?

Terjadinya perselisihan yang kemudian menjadikan umat Islam berpecah-belah adalah karena munculnya perbuatan bid’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat di atas berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Oleh sebab itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah mengungkapkan kalimat yang indah, beliau berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Perpecahan diantara sesama umat Islam tentu saja merugikan dan melemahkan kekuatan umat Islam. Maka sudah selayaknya umat Islam sadar akan hal ini. Bukankah perpecahan diantara umat Islam dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala ?

Allah Ta’ala berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

KALAU BAIK TENTU PARA SAHABAT SUDAH MELAKUKANNYA

Para pembela bid’ah hasanah sering beralasan bahwa amalan-amalan atau acara-acara bid’ah yang mereka ikuti atau lakukannya adalah baik.

Apakah benar anggapan baik mereka ?

Kalau memang baik, tentu para Sahabat sudah melakukannya !

Seandainya amalan-amalan atau acara-acara baru dalam urusan ibadah yang ahli bid’ah sa’at ini lakukan namun para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan dan mencontohkannya, maka sudah pasti amalan tersebut tidak baik.

Mengapa demikian ?

Karena para Sahabat adalah orang-orang yang lebih semangat dalam kebaikan daripada kita.

Atau para pembela bid’ah hasanah merasa lebih baik dari para Sahabat ?

Inilah yang dikatakan para Ulama Ahlu Sunnah :

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Imam Ibnu Katsir berkata :

وأما أهل السُّنّة والجماعة فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه؛ لأنهم لم يتركوا خصلة مِن خصال الخير إلا وقد بادروا إليها”.

“Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka berkata pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Perhatikan perkata’an Imam Ibnu Katsir berikut ini :

“ADAPUN PARA ULAMA AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH, MEREKA BERKATA PADA SETIAP AMALAN ATAU PERBUATAN YANG TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT, MEREKA MENGGOLONGKAN-NYA SEBAGAI BID’AH“.

Perkata’an Imam Ibnu Katsir diatas ketika Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah surat Al-Ahqaf ayat 11,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

”Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Sekiranya (Al Quran) itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama“. (Al Ahqaf: 11).

Cukup mudah sebetulnya untuk mengetahui perkara baru dalam urusan ibadah itu baik atau tidak, bid’ah atau bukan. Cukup kita mengetahui apakah perkara tersebut di lakukan para Sahabat atau tidak.

Kalau tidak dilakukan para Sahabat maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah tidak baik atau tercela. Maka perkara baru dalam urusan ibadah itu adalah bid’ah.

Sebagaimana yang dikatakan Imam ibnu Katsir :

فيقولون في كلِّ فِعلٍ وقولٍ لم يَثبت عن الصحابة: هو بدعة؛ لأنه لو كان خيرًا؛ لَسَبقونا إليه

”Mereka (Ulama Ahlu Sunnah) berkata, pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, mereka menggolongkannya sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya”. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir).

Tapi mengapa para pembela bid’ah hasanah begitu teguh membela amalan-amalan bid’ahnya, dan mereka memandangnya sebagai sesuatu yang baik ?

Inilah jawabannya ! !

Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah : “Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”. (Kitab Sallus Suyuf: 24).

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Prinsip para Ulama Ahlu Sunnah diatas bisa kita terapkan untuk menilai apakah amalan baru dalam urusan ibadah tersebut baik atau tidak.

وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

PENGIKUT HAWA NAFSU

PENGIKUT HAWA NAFSU

Pengikut hawa nafsu atau ahli hawa atau disebut juga ahli bid’ah.

Telah berkata Abdullah bin Aun Al-Bashri Rahimahullah : “Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang buruk”. (Kitab Sallus Suyuf: 24).

Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sudah sampai kepadanya keterangan yang jelas dan terang namun tidak peduli tidak mau memikirkannya tidak mau mengkajinya terlebih lagi menerima kemudian mengamalkannya. Disebut sebagai ahli bid’ah karena tidak mau keluar dari kebid’ahannya, masih terus mengamalkan bid’ah-bid’ahnya, bahkan masih terus mengajak orang lain untuk berbuat bid’ah.

Ahli hawa menjadikan hawa nafsu sebagai ilahnya, mereka ikuti hawa nafsunya dan mereka berpaling dari keterangan yang datang kepadanya walaupun terang dan jelas. Itulah sifat mereka yang paling nyata.

Allah Ta’ala berfirman tentang sifat mereka :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya“. (Al-Jaathiya: 23).

Ibnu Katsir berkata : ”Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan”.

Itulah jalannya para pengikut hawa nafsu, mereka melihat kebaikan dan keburukan dengan logikanya bukan dengan petunjuk Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Keberada’an para pengikut hawa napsu sudah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali dia masukinya”.

• Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang disesatkan Allah

Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang menutup rapat telinga dan matanya kemudian memalingkan mukanya dari al-haq, dan kesesatan yang jadi pilihannya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“… Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang rnengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Qashash 28:50).

• Pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sombong

Para pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sombong, karena sifatnya yang tidak mau mendengarkan, menyimak, mempelajari terlebih lagi mau menerima keterangan yang sampai kepadanya, karena para pengikut hawa nafsu merasa dirinya lebih pintar, lebih tinggi kedudukannya. Atau mereka memandang rendah orang yang membawa keterangan tersebut dibandingkan tokohnya, guru-gurunya, atau syaikhnya. Itulah hakekat sombong sebenarnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).

• Pengikut hawa nafsu Allah Ta’ala mengibaratkannya dengan seekor anjing

Sungguh hina orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, sampai-sampai Allah Ta’ala mengumpamakannya dengan seekor anjing.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا

”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami“. (QS. al-A’raf: 176).

Sungguh rugi dan hina para pengikut hawa nafsu, sesat, di ibaratkan seekor anjing dan mendapatkan ancaman tidak akan mendapatkan hidayah dan penolong.

Allah Ta’ala berfirman :

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

”Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan, maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah ? Dan tidaklah bagi mereka seorang penolongpun”. (QS. ar-Rum: 29).

Allah Ta’ala berfirman :

وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

”Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. Shad: 26).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================