IMAM BUKHARI BERBUAT BID’AH

IMAM BUKHARI BERBUAT BID’AH

Imam Bukhari rahimahullah berkata :

ما كتبت في كتاب الصحيح حديثاً إلا اغتسلت قبل ذلك وصليت ركعتين

“Tidaklah kutulis dalam kitab sahih satu hadits pun melainkan aku mandi dahulu sebelumnya dan melakukan sholat dua roka’at”. (hadyus sariy muqaddimah fathul bari)

Mandi dan sholat shunat sebelum menulis hadits ini tidak pernah diajarkan ataupun diperintahkan Nabi Muhammad SAW, Jika menurut yang selalu mengatakan semua bid’ah itu sesat dan tempatnya di neraka berarti Imam bukhari mereka tuduh sesat dan sudah pasti masuk neraka, Tapi mengapa mereka bersandar pada sunah dari Hadist sahih yang di susun dan di tulis oleh imam bukhari ???

Mengkhususkan Sholat dua rokaat sebelum menulis hadits ? Sholat apa ini?

Ternyata Imam Bukhari juga melakukan Bid’ah yang selalu mereka bilang tidak ada bid’ah hasanah karena menurut mereka semua bid’ah itu sesat dan sesuatu yg tidak ada tuntunannya tidak ada ada dasarnya, tidak ada dalil pokoknya kata mereka semua bid,ah sesat ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tanggapan :

Imam Bukhari mandi sebelum menulis hadits tentu saja bukan bid’ah, karena mandi ada syari’atnya dalam Islam. Imam Bukhari mandi tujuannya jelas untuk membersihkan diri (badan).

Apakah dikatakan bid’ah apabila orang yang selalu mandi tiap mau berangkat kerja misalnya ?

Mandi tujuannya untuk membersihkan badan, bukankah Islam menyukai kebersihan ?

– Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah; 222).

– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الطَّهُوْرُ شَطْرُالْاِيْمَانِ

”Kebersihan itu sebagian daripada iman”. (HR. Muslim).

– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اَﻻِسْلَامُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَاِنَّهُ ﻻَيَدْحُلُ الْجَنَّةَ اﻻَّ نَظِيْفٌ

“Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (HR. Baihaqi).

– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِنَّ ﷲَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةُ

“Sesungguhnya Allah itu baik, mencintai kebaikan, bahwasanya Allah itu bersih, menyukai kebersihan . .”. (HR. Turmudzi).

Imam Bukhari mandi setiap mau menulis hadits tentu saja bukan bid’ah, karena Imam Bukhari tidak mewajibkannya, walaupun Imam Bukhari selalu melakukanya dan Imam Bukhari tidak mencela apabila ada orang yang menulis hadits tidak didahului dengan mandi ?

Hal itu berbeda dengan pelaku bid’ah, disamping dia melakukannya juga mencela orang yang tidak melakukannya. Karena dia menganggap bid’ah yang dilakukannya sebagai ibadah (syari’at Islam). Contohnya orang yang merayakan maulid Nabi atau tahlilan, disamping dia melakukannya dia juga mencela orang yang tidak melakukannya. Kenapa dia mencela orang yang tidak merayakan maulid Nabi dan tahlilan ?, Karena dia menganggap maulid Nabi dan tahlilan sebagai syari’at Islam yang tidak boleh ditinggalkan.

Shalat yang dilakukan Imam Bukhari sebelum menulis hadits juga bukan bid’ah.

Shalat apa yang dilakukan Imam Bukhari ?

Shalat yang dilakukan Imam Bukhari adalah shalat sunah istikharah. Sebagaimana yang diceritakan oleh Al-Firbari, salah seorang muridnya.

Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua raka’at memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”.

Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah.

• Dalil disyariatkannya shalat istikharah :

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian Beliau bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, . .”. (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Setiap muslim disunahkan untuk melaksanakan shalat sunah istikhoroh setiap hendak melakukan urusan. Dan tentu saja shalat ini bukan bid’ah.

Tuduhan para pembela bid’ah yang menyebutkan Imam Bukhari berbuat bid’ah karena setiap akan menulis hadits selalu mandi dan shalat istikhoroh dua raka’at adalah sangat keliru, karena mandi dan shalat istikhoroh ada tuntutannya.

Wallahu a’lamu bisshowab

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________

CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA

CERDIK DAN LICIKNYA SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA

Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Sebagai musuh abadi bagi manusia, Allah Ta’ala menjelaskannya dalam firmannya :

Allah Ta’ala berfirman :

وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”. . Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS Az-Zukhruf: 62).

Dalam menjalankan programmya menyesatkan anak cucu adam, setan tidak mengenal putus asa. Dengan berbagai trik, intrik licik, cara halus dan kasar semua upaya dikerahkan untuk meraih tujuannya. Selama 24 jam siang dan malam setan tidak pernah berhenti menjalankan tipu dayanya.

Cerdik dan liciknya setan laknatullah ‘alaihi menjadikan manusia sungguh tidak berdaya menghadapi aksinya. Ketika manusia tidak bisa diperdaya dengan sesuatu, maka setan mencari cara lainnya. Sehingga yang terjerat tipu daya setan bukan saja orang awam tapi juga orang-orang alim. Bukankah banyak riwayat, orang saleh yang terjerat tipu daya setan yang akhirnya tersesat dan bahkan kemudian menyesatkan banyak umat.

Banyak manusia yang bisa menjauhi perbuatan-perbuatan yang tercela menurut syari’at, seperti berjudi, menipu, merampas, peraktek riba, dan lainnya.

Tapi setan tidak menyerah, dicarinya cara lain yang halus, nampak indah dimata manusia, padahal kemungkaran yang amat besar.

Setan mendorong dan menyemangati manusia untuk melakukan amalan-amalan yang tidak ada tuntutannya, sehingga manusia pun antusias mengamalkannya.

Iblis laknatullah ‘alaihi yang menyandang titel sebagai pakar penyesat manusia, mahir benar memainkan perannya, dengan kepiawaiannya iblis mampu menyihir manusia, menjadikan manusia memandang kemaksiatan sebagai keta’atan, bid’ah jadi dipandang sebagai ibadah.

Makar iblis mendorong manusia untuk melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntutannya (bid’ah) adalah tipu daya iblis paling jitu. Bukan saja orang awam yang terkecoh tetapi mampu juga memperdaya orang alim.

Orang alim yang berhasil diperdaya setan, buat setan adalah keberhasilan yang sangat menguntungkan. Orang alim yang sudah terpedaya kemudian dijadikan setan sebagai bagian dari pasukannya. Dengan kemahirannya seorang alim memainkan dalil, menjadikan kesesatan merajalela sulit dibendung.

Manusia antusias menyimak ketika orang alim memberikan pelajaran agama, ketika orang alim berfatwa. Padahal yang keluar dari lisan orang alim yang sudah disesatkan setan ibarat bisa ular yang mematikan.

Sungguh pandai setan menghiasi keburukan. Menjadikan manusia semangat menjalankan kesesatan. Waktu, harta bahkan nyawa sekalipun dikorbankan untuk kesesatan yang dilakoninya. Orang yang sudah disesatkan setan selain dirinya sesat juga sangat semangat menyesatkan orang banyak.

Abu Mas’ud berkata : “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya”. (Riwayat Darimi).

Perkata’an Ibnu Mas’ud tersebut, sehubungan dengan halaqoh dzikir yang dilakukan sekelompok orang, namun cara dzikir mereka tidak sesuai tuntunan dari Allah dan Rasulnya.

Ketika mereka mandapatkan teguran dari Ibnu Mas’ud, mereka menjawab :

“Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”.

Begitulah para pelakon bid’ah (amalan baru dalam agama). Mereka berharap dengan amalannya mendapatkan limpahan pahala yang banyak. Mereka menganggap perbuatannya sebagai bentuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah Ta’ala.

Semenjak dahulu hingga sa’at ini, para pelaku bid’ah punya banyak hujjah yang dijadikan andalan untuk membela amalan-amalan bid’ahnya. Dan hujjah mereka yang paling terkenal adalah anggapan baik (ihtisan).

Bid’ah yang dalam Islam di cela sebagai perbuatan sesat sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tegaskan :

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

”. . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Mereka para pembela bid’ah menentang sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut. Mereka para pembela bid’ah katakan tidak semua bid’ah sesat, menurut mereka, bahwa bid’ah ada yang terpuji (bid’ah hasanah).

Mereka para pembela bid’ah entah sadar atau tidak, bahwa dengan keyakina tentang adanya BID’AH HASANAH, adalah musibah terbesar dari berbagai macam musibah yang menimpa ummat ini.

Keyakinan adanya bid’ah hasanah pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah yang pada gilirannya akan memunculkan syariat-syariat baru dalam agama.

Memang sungguh licik dan cerdik iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia, sehingga sebagian besar manusia terpedaya oleh tipu muslihatnya.

Tipu daya iblis tersebut padahal sudah disebutkan dalam Al-Qur’an,

Allah Ta’ala berfirman :

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

”Iblis bekata : Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, . .” (QS. Al Hijr : 39).

Begitulah kenyata’an yang terjadi semenjak dahulu hingga sa’at ini, manusia lebih banyak yang terpedaya oleh makar iblis dibanding yang selamat.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

===============

TANDA ORANG YANG DISESATKAN ALLAH

Alhamdulilllah washalaatu wasalaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
.
Semoga kita tetap istiqomah di atas sunnah.
.
TANDA ORANG YANG DISESATKAN ALLAH
.
Oleh : Ikhwan pecinta meong
.
Sebagaimana halnya orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah Ta’ala, maka orang-orang yang disesatkan Allah pun mereka memiliki tandanya. Kalau orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah Ta’ala dadanya lapang ketika mendapatkan ayat-ayat Allah, sehingga mau mengambil pelajaran. Maka orang-orang yang disesatkan Allah Ta’ala dadanya terasa sempit.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
.
”. . Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk disesatkan, maka Dia akan menjadikan hatinya itu sesak dan sempit seolah-olah dia sedang mendaki ke langit . .” (QS. Al-An’aam: 125).
.
Bagi orang-orang yang disesatkan Allah Ta’ala, peringatan, teguran dan ancaman dari Allah dan Rasul-Nya tidak berguna baginya. Dan nasehat para Ulama menjadikan dadanya sesak penuh amarah, hatinya sempit ibarat sedang mendaki ke langit.
.
Orang-orang yang disesatkan Allah melihat keburukan jadi nampak baik di matanya.
.
Kesyirikan yang dalam Islam sebagai dosa terbesar dibelanya, peringatan untuk tidak berbuat bid’ah ditentangnya, segala macam amalan menyimpang dan sesat dicari-cari dalil pembenarannya.
.
Para Ulama dan orang-orang yang memperingatkan penyimpangan mereka dimusuhi, dihinakan dan digelari istilah-istilah buruk dengan tujuan melecehkannya. Sumpah serapah dan fitnah tidak henti-hentinya di alamatkan kepada orang-orang yang memperingatkan kesesatannya.
.
Maka pantaslah kalau Allah Ta’ala mengatakan bahwa orang-orang sesat (pengikut hawa napsu) keada’annya lebih buruk daripada binatang ternak.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
.
”. . Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya”. (QS. Al-Furqaan : 43-44).
.
Kalau ayat-ayat Allah Ta’ala dan peringatan Rasulullah sudah tidak mereka pedulikan, nasehat para Ulama mereka lecehkan, lalu dengan sebab apa lagi mereka akan mendapatkan hidayah ?
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”. (QS. Al-Jaathiya : 23).
.
با رك الله فيكم
.
Penulis : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏Mąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________

PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU

PERPECAHAN TIMBUL AKIBAT MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HAWA NAFSU
.
Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat Islam, oleh karena itu tidak seharusnya umat Islam terpecah belah karena memiliki pedoman yang akan menyatukan mereka. Namun sangat disayangkan banyak kelompok dari umat Islam yang membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat mereka masing-masing.
.
Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pendapat sendiri (hawa nafsu) adalah tindakan yang berbahaya.
.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
.
مَنْ فَسَّرَ اْلقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
.
“Siapa saja yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka”. (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Abi Syaibah).
.
Konon, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika mengutus Ibnu Abbas untuk melakukan dialogh dengan kelompok sesat Khawarij, berpesan agar Ibnu Abbas tidak mendebat mereka dengan ayat-ayat Al-Qur`an, sebab Al-Qur`an itu hammâlun dzû wujûh, mengandung berbagai kemungkinan penafsiran, yang boleh jadi dimanfa’atkan oleh mereka untuk mencari pembenaran terhadap kesesatannya. Dan memang bisa dikatakan seluruh kelompok Islam termasuk yang sesat bersandar pada Al-Qur`an.
.
Banyak kalangan awam tertipu oleh kelompok menyimpang dan sesat. Mereka mengaku, faham atau ajarannya berdasarkan Al-Qur’an. Padahal walaupun mereka mengklaim ajaran mereka berdasarkan al-Qur’an, namun mereka memiliki penafsiran-penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan logika-logika (hawa nafsu) mereka. Sehingga kemudian muncul berbagai penafsiran dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda. Lalu timbul perselisihan diantara umat Islam yang berujung perpecahan dan permusuhan.
.
Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ?. Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?”. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu lalu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah”. [kitab Al I’tisham, karya Asy-Syathibi, (II/691)].
.
Itulah jawaban Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu ketika di tanya oleh Umar bin Khatab, mengapa umat Islam berselisih. Penyebabnya adalah karena setiap kelompok membuat penafsiran sendiri-sendiri terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
.
Berikut ini beberapa contoh model penafsiran Al-Qur’an menurut hawa napsu.
.
• Tafsir model syi’ah
.
1. Surat Al Lahab ayat 1
.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”
.
Tafsir versi Syiah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah dua pembantu Abu Lahab, yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Yang dimaksud dengan “dua tangan” Abu Lahab di sini adalah tangan Abu Lahab yang sesungguhnya. Maknanya adalah Abu Lahab mendapatkan kebinasaan dan kerugian akibat permusuhannya terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
.
2. Surat Az Zumar ayat 65
.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
.
“Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”
.
Tafsir versi Syiah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakr di dalam perkara khilafah maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Makna ayat ini adalah jika kamu mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya di dalam masalah peribadatan maka seluruh amalanmu akan terhapus dan akan menjadi orang yang merugi, yaitu murtad.
.
3. Surat Al-Baqarah ayat 67
.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً
.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina”
.
Tafsir versi Syiah : Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih Aisyah istri Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam
.
Tafsir Ahlus Sunnah : Nabi Musa ‘alaihssalam berkata kepada kaumnya bahwasanya Allah menyuruh mereka untuk menyembelih seekor sapi betina.
.
• Tafsir model Ahmadiyah
.
Di dalam tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yaitu Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, editor Malik Ghulam Farid, di alih bahasakan oleh Panitia Penterjemah Tafsir Al-Qur`an Jema’at Ahmadiyah Indonesia jilid III Edisi Pertama Penerbit Yayasan Wisma Damai Jakarta 1983, bahwa makna kata Ahmad di dalam surah Ash-Shaff ayat 6 yang berbunyi,
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
.
“Dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. (QS Ash-Shaff; 06).
.
Menurut jema’at Ahmadiyah ayat itu ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
.
Penjelasan ayat ini oleh Ahmadiyah ditafsirkan di dalam footnote 3037 sebagai berikut : “… Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW, tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud AS, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah SAW…”. (Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, footnote no. 3037, hal. 522).
.
• Tafsir model Al-Qiyadah
.
فَأَوْحَيْنا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
.
”Lalu Kami wahyukan kepadanya, Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang-pasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksa’an) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Al-Muminun: 27).
.
Al-Qiyadah menafsirkan ayat tersebut menurut pemahaman mereka sendiri bahwa kapal Nabi Nuh adalah permisalan dari al-Qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpama’an dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu.
.
• Tafsir model NII
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu daripada al-Kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).
.
Mereka orang NII menafsirkan Al-Qur’an tidak disandarkan pada dalil-dalil melainkan menggunakan logika. Ayat diatas mereka tafsirkan dengan mempertanyakan apakah shalat yang telah kalian lakukan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar ? Hanya perbuatan langsunglah yang dapat mencegahnya. Maka muncullah aturan shalat universal yaitu mengajak orang-orang untuk masuk NII.
.
• Tafsir model sufi
.
Sebagimana kelompok batil lainnya, orang-orang sufi pun dalam menafsirkan Al-Qur’an menggunakan ra’yunya.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
اَذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
.
“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya ia melampui batas”. (Q.S. Thaha: 24).
.
Orang Sufi menafsirkan yang dimaksud dengan Fir’aun adalah hati dan apa saja yang melampui batas pada setiap manusia.
.
– Allah Ta’ala berfirman :
.
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
.
“Dan Kami wahyukan kepada Musa : ‘Lemparkanlah tongkatmu !’. Maka tiba-tiba tongkat itu menelan, apa yang mereka sulapkan”. (Q.S Al-A’raaf: 117).
.
Menurut penafsiran orang-orang sufi yang dimaksud tongkat ialah apapun yang dijadikan sandaran atau andalan selain Allah, harus dilemparkan.
.
Itulah diantara tafsir-tafsir mereka yang sangat berbeda dengan penafsiran para Ulama ahlu sunnah.
.
• Metode Ahlus Sunnah dalam menfsirkan Al-Qur’an
.
Para Ulama Ahlu Sunnah sangat ketat dalam memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk memahami kandungan dan maksud-maksud ayat al-Quran, diperlukan penafsiran oleh orang yang memenuhi kualifikasi. Meski kualifikasi itu tidak mutlak, namun para Ulama tafsir menetapkan syarat-syarat yang sangat ketat sehingga tidak semua orang dapat menafsirkan al-Quran.
.
Ibnu Katsir menyebutkan bagaimana cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut :
.
1- Menafsirkan Al Qur’an dengan Al-Qur’an.
.
Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.
.
2- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.
.
3- Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkata’an para Sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti Khulafaur Rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.
.
4- Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan Tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Masruq bin Al Ajda’, Sa’id bin Al Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, Qotadah, dan Adh Dhohak bin Muzahim.
.
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al‘Azhim karya Ibnu Katsir,1: 5-16).
.
Itulah metode yang di gunakan oleh para Ulama Ahlus Sunnah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Bukan dengan logika (hawa nafsu) sendiri secara serampangan sebagaimana yang di lakukan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dan sesat.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

SUKSESNYA SEBUAH DAKWAH BUKAN DI UKUR DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT

Apabila suksesnya sebuah dakwah dinilai dengan banyaknya jumlah manusia yang bisa menerimanya. Maka bisa diartikan para Nabi gagal dalam menyampaikan risalahnya. Bukankah yang mengikuti seruan para Rasul lebih sedikit dibanding yang menolaknya ?. Bahkan ada Nabi yang sama sekali tidak memiliki pengikut.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis. “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi yang bersama mereka pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikut pun”. (Imam Tirmidzi ).

Nilai pahala dari sebuah usaha dakwah, dilihat bukan dari jumlah manusia yang bisa dijaring untuk mendengarkan seruannya. Akan tetapi dari kesungguhan dan kesabaran menghadapi berbagai ujian yang dihadapinya.

الأَجْرُ يَقَعُ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَةِ وَلَا يُتَوَقَّفُ عَلَى الاِسْتِجَابَةِ

“Pahala didapat karena melaksanakan dakwah, bukan tergantung kepada penerima’annya”

Nabi Nuh ‘alaihissalam yang mendakwahi kaumnya siang dan malam hingga memakan waktu beratus-ratus tahun lamanya, akan tetapi yang mengikuti seruannya hanyalah sedikit sekali. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

– Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun . .” (QS. Al Ankabut: 14).

– Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلا قَلِيلٌ

”. . Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (QS. Huud: 40).

Kalaulah kesuksesan dakwah diukur dari jumlah orang yang mengikuti seruannya, maka bisa dikatakan Nabi Nuh telah gagal mengemban misinya, namun pada hakekatnya tidaklah demikian, karena para Nabi dan Rasul merupakan hamba pilihan yang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itulah Allah Ta’ala memotivasi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdakwah secara optimal, tidak menakar kesuksesannya melalui jumlah yang didapat. Allah tegaskan bahwa kewajiban utusan Allah hanyalah menyampaikan risalah, tidak lebih dari itu.

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ

”Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl : 35).

• Hidayah milik Allah Ta’ala

Perkara hidayah, sesungguhnya itu semua adalah urusan Allah Ta’ala untuk memberikannya.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56).

Maka barangsiapa yang memahami kaidah ini, seorang da’i akan berdakwah tanpa beban, tidak kecewa karena sedikitnya orang yang bisa menerimanya, walaupun siang malam dia menyeru manusia.

Allah tidak mewajibkan untuk menjadikan manusia mendapatkan petunjuk, karena hidayah milik Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendakinya.

Allah Ta’ala berfirman :

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَآءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya”. (Al-Baqarah: 272).

Oleh karena itulah tidak sepantasnya seorang da’i mengeluh, gundah gulana karena kenyata’an melihat manusia hanya sedikit yang bisa menerima seruannya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Faathir: 8).

Tidak layak seorang da’i menimbang-nimbang dakwahnya antara terus berdakwah atau menghentikannya, karena melihat sedikitnya respon dari manusia.

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________________

ULAMA SU’

ULAMA SU’ (JAHAT)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi”. (H.R At-Tirmidzi).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dirham dan dinar kepada umatnya. Tapi yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan adalah ilmu.

Ilmu yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wariskan kemudian para Ulama mencatatnya. Dalam sejarah islam banyak sekali ulama yang menulis kitab dan kitab-kitab mereka masih bisa kita baca sampai sa’at ini. Kitab-kitab yang ditulis para Ulama menjadi penerang umat sepanjang masa.

Apakah semua Ulama sebagai pewaris Nabi ?

Ternyata tidak semua ulama baik. Dalam dunia islam dikenal ada istilah ulama su’ yaitu ulama jelek / buruk.

Kalau Ulama Rabbani yaitu Ulama yang menjaga umat dari penyimpangan dan kesesatan, mengeluarkan umat dari kegelapan menuju kepada cahaya yang terang. Mengingatkan umat untuk menjaga tauhid dan menjauhi kesyirikan, mengajak umat untuk menghidupkan sunnah menjauhi bid’ah. Ulama Rabbani menjadikan umat menjadi takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin :

“Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah” (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

Adapun ulama su’ menjadikan umat menyimpang dan bergelimang kesesatan, menyeret umat kepada kesyirikan, bid’ah dan kebatilan lainnya. Menjadikan umat semakin jauh dari Allah Ta’ala.

Ulama su’ lainnya menyeret umat kedalam dunia khurafat, umatnya disesatkan dengan ajaran mistik dan kebatinan, ilmu kebal, bisa menghilang, penglaris, pengasihan dan ajaran setan lainnya yang jadi buruan orang-orang awam.

Disamping ulama su’ yang memiliki sifat diatas, juga ada ulama su’ yang menjadikan agama sebagai barang dagangan. Agama dijadikan sarana untuk mencari keuntungan dunia, popularitas, kekaya’an dan kedudukan.

Ulama su’ model ini sebagaimana layaknya Ulama nampak alim, santun tutur katanya lembut memikat, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.

Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, membuat orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan)”. (HR. Tirmidzi).

Itulah ulama-ulama su’ yang hadir di tengah-tengah umat. Keberada’annya bukan menerangi umat, mengeluarkan umat dari kejahilan, tapi menjadikan umat semakin jahil dan jauh Allah Ta’ala. Ulama su’ bukanlah ulama pewaris Nabi, tapi sebaliknya menodai risalah Nabil. Ulama su’ hakekatnya adalah musuh umat Islam.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari tipu daya mereka, Aamiin.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=============================