BELAJAR MEMBUAT KOMENTAR YANG CERDAS

BELAJAR MEMBUAT KOMENTAR YANG CERDAS

Manusia cerdas adalah manusia yang tidak bodoh, apakah bodoh sikap atau ucapannya. Orang cerdas diantaranya adalah orang yang mengetahui kapasitas diri dan bisa mengkondisikan dirinya. Ketika membuat tanggapan atau komentar orang cerdas tidak akan keluar dari tema yang sedang dibicarakan. Tidak OOT (out of tema).

Memberi komentar, membuat tanggapan boleh saja tapi jangan lupakan kehormatan diri (muru’ah) tidak malah justru menelanjangi diri dengan komentar bodoh tidak mengenal adab, berfikir primitif dan tidak mengumbar gejala kelainan jiwa.

Bila memang perlu bertanya jangan seperti orang yahudi. Orang yahudi kalau bertanya, ada niat busuk dibalik pertanya’annya.

SIFAT ASLI YAHUDI

Banyak Tanya, Banyak Membantah, Banyak Menyelisihi.

Jangan Ditiru !!

– Orang yahudi mencari-cari pertanya’an dengan tujuan untuk membingungkan dan menyudutkan orang yang ditanya.

– Orang yahudi apabila bertanya punya tujuan untuk membantah dan menolak kebenaran.

– Orang yahudi membuat pertanya’an hanya untuk memancing terjadinya saling berbantah-bantahan.

Gambaran sifat yahudi bisa dibaca dalam surat Al-Baqarah ayat 67-74.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu.

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

”Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering menyelisihi para Nabi mereka”. (HR. Muslim).

wasallam

Agus Santosa Somantri

===============

ADA JIN DAN SETAN, INI MENUNJUKKAN KATA KULLU TIDAK BERARTI SEMUA

ADA JIN DAN SETAN, INI MENUNJUKKAN KATA KULLU TIDAK BERARTI SEMUA

Para pengikut hawa nafsu dalam memaknai Al-Qur’an ataupun hadits, mereka maknai sesuka hati, dengan tujuan untuk membela dan membenarkan amalan-amalan batilnya.

Berikut ini dari sekian banyak tafsiran mereka yang menyimpang,

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. (Q.S Al-Anbiya: 30).

Para pembela bid’ah hasanah mengatakan lafadz ”KULLU” pada ayat tersebut tidak menunjukkan arti SEMUA tapi SEBAGIAN, buktinya ada jin dan setan yang diciptakan bukan dari air tapi dari api.

Penjelasan :

Ayat tersebut menerangkan tentang air sebagai sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup DI BUMI.

Untuk mengetahui bahwa ayat diatas sedang menerangkan kehidupan DI BUMI, perhatikan ayat selanjutnya !

وَجَعَلْنَا فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS al Anbiyya : 31).

Perhatikan Tafsir Jalalen berikut ini,

”Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan”. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127].

Qatadah mengatakan: “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung, binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka mempunyai banyak bukti.

Makna “KULLA” pada ayat 30 surat Al-Anbiya tersebut artinya adalah : “SEGALA / SETIAP / SEMUA” bukan ”SEBAGIAN”. Sebagaimana para pembela bid’ah maknai. Dan memang faktanya semua yang hidup dimuka bumi bergantung kepada air.

Fahami !

Ayat tersebut sedang membicarakan kehidupan makhluk nyata yang hidup dibumi, dan tentu saja setan dan jin tidak termasuk kedalam ayat tersebut, walaupun mereka ada di bumi. Dan mereka makhluk ghaib bukan makhluk nyata yang hidup di bumi. Jin dan setan bukan penghuni bumi tapi penghuni alam gaib.

Jadi lafadz ”KULLA” pada ayat tersebut mengandung makna SEMUA / SEGALA, dan tidak ada Ulama ahli tafsir yang menafsirkan lafadz kullu tersebut berarti sebagian. Kalau ada silahkan tunjukkan nama Ulama dan Kitabnya !

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

============

MEMBANGUN MADRASAH BERARTI BID’AH ? ?

MEMBANGUN MADRASAH BERARTI BID’AH ? ?

Diantara sekian banyak kekonyolan para pembela bid’ah hasanah ialah pertanya’an berikut :

”Membangun madrasah berarti bid’ah, karena madrasah tidak ada di zaman Nabi ?”

Tanggapan :

Didalam Ilmu Ushul Fiqih ada yang di kenal dengan istilah MASLAHAH MURSALAH.

Maslahah Mursalah adalah sebuah metode yang digunakan dalam berijtihad. Banyak metode (cara) yang digunakan untuk berijtihad, diantaranya : Ijma’, Qiyas, Istihsân, Maslahah murshalah, Sududz, Dzariah, Istishab, Urf.

Maslahah Mursalah berbeda dengan bid’ah, Dan berikut perbeda’an diantara keduanya :

1. Maslahah Mursalah dilakukan, bukan diniatkan untuk menambah atau mendapatkan nilai pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari ibadah yang dilakukan. Adapun bid’ah, tujuannya sangat jelas, ingin mendapatkan pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

2. Maslahah Mursalah bisa ditinggalkan apabila sudah tidak dibutuhkan. Adapun bid’ah, para pelakunya tidak bisa meninggalkannya, karena mereka menganggap bid’ah yang dilakukannya sebagai ibadah.

3. Maslahah Mursalah, mendatangkan kemaslahatan buat umat dalam beribadah. Adapun bid’ah, memberatkan dan menambah kesulitan pelakunya dalam beribadah.

Madrasah hanya sebagai sarana untuk terciptanya proses belajar mengajar yang kondusif. Madrasah yang dibangun bukan sebuah ibadah yang berdiri sendiri, dengan berbagai ketentuan dari Allah dan Rasulnya yang harus diikuti dan tidak boleh ditambah atau dikurangi.

Kalaupun belajar tidak di dalam madrasah, di bawah pohon waru doyong atau di bawah pohon jengkol misalnya atau di kandang beruk sekalipun, tidak menjadi dosa. Karena tidak ada perintahnya kalau menurut ilmu harus selalu di madrasah.

Begitu pula waktu belajarnya, mau masuk pagi, masuk sore, masuk malem, begitu pula liburnya, mau hari jum’at atau minggu bukanlah sebuah syari’at yang ada ketentuannya dalam Islam. Sehingga meninggalkannya tidak menjadi dosa.

Berbeda sekali dengan bid’ah-bid’ah yang sebagian orang ciptakan. Mereka tidak akan meninggalkannya karena menganggap bid’ah-bid’ah yang mereka amalkan sebagai ibadah. Dan mereka akan mencela bahkan memusuhi kepada orang-orang yang tidak mengikuti amalan-amalan bid’ah mereka.

Apakah kita mencela dan memusuhi orang yang belajar tidak di dalam madrasah ?

Tentu tidak !, karena madrasah hanya sebagai sarana.

Apakah ahli bid’ah mencela dan memusuhi orang yang tidak mengikuti amalan bid’ahnya ?

Ya, mereka mencela dan memusuhi orang yang tidak mengikuti amalan-amalan bid’ah mereka.

Mengapa demikian ?

Karena mereka menganggap amalan-amalan bid’ahnya sebagai ibadah yang tidak boleh ditinggalkan.

Kesimpulannya : Madrasah hanyalah sarana untuk mencapai tujuan dari ibadah yang disyari’atkan. Yaitu menuntut ilmu.

وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ

Agus Santosa Somantri

===================

KALENDER HIJRIYAH BERARTI BID’AH ?

KALENDER HIJRIYAH BERARTI BID’AH ?

Apakah kalender hijriah bisa dikatakan bid’ah karena tidak ada dizaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ?

Kalender hijriyah memang tidak ada dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalender hijriah mulai ada pada masa pemerintahan Umar bin Khatab.

Kalender hijriyah secara syari’at tidaklah termasuk bid’ah, karena sistem kalender masuk dalam urusan duniawi, bukan urusan ibadah.

Kalender hijriyah hanyalah sebagai sarana untuk menentukan waktu-waktu, apakah waktu ibadah atau waktu-waktu urusan duniawi. Sama halnya dengan pesawat sebagai sarana untuk pergi menunaikan ibadah haji, atau sama halnya dengan speker untuk mengeraskan panggilan adzan. Kalaupun kalender harus ditinggalkan tidak menjadi berdosa apabila ada sarana lain yang lebih baik yang bisa digunakan. Beda halnya dengan urusan ibadah meninggalkannya adalah berdosa. Misalnya meninggalkan rukun-rukun dalam ibadah.

• BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN AGAMA

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Rosululloh sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “. . Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Maksud bid’ah yng Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA bukan bid’ah dalam urusan DUNIA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA ?

Jawabannya :

Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yng lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yng lainnya saling menjelaskan.

Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

Artinya :

– “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari, no. 20).

– Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)” (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلاتحدث في دين الله برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri”.

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh sallalloohu ‘alaihi wasallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Perlu di ketahui, bahwa Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, bukan untuk mengurus perkara-perkara dunia, seperti bagaimana cara bertani, membuat senjata perang cara membangun rumah dll. Tapi Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, untuk mengurus perkara-perkara agama (urusan ibadah) seperti, cara shalat, berdo’a, zakat, shalawat, mengurus jenzah dll.

Urusan dunia Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan kepada Umatnya untuk mengaturnya, selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara dunia, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama, maka kembalikanlah ke padaku.” (HR.Ahmad).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

==============

BID’AH HASANAH MENURUT SALAFUS SHALIH

BID’AH HASANAH MENURUT SALAFUS SHALIH

Keyakinan tentang adanya bid’ah hasanah adalah musibah terbesar dari berbagai macam musibah yang menimpa ummat ini. Keyakinan ini pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah yang pada gilirannya akan memunculkan syariat-syariat baru dalam agama.

Shalafus Shalih adalah generasi terbaik umat. Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi. Bagaimana tentang bid’ah hasanah menurut mereka ?

Berikut ini perkata’an mereka tentang bid’ah hasanah,

1. Ibnu Umar berkata :

كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة

“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).

2. Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ)

”Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at (baru)”. [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50].

3. Imam Malik berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا ﷺ خان الرسالة

“Siapa yang membuat bid’ah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah”. (Al I’tishom 1/64-65).

4. Imam Syafi’i berkata :

من استحسن فقد شرع

“Barang siapa yang menganggap baik (bid’ah), maka ia telah membuat syariat”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

5. Imam Syafi’i berkata :

ولو جاز لأحد الاستحسان في الدين : لجاز ذلك لأهل العقول من غير أهل العلم, ولجاز أن يشرع في الدين في كل باب, وأن يخرج كل أحد لنفسه شرعا !

”Andai seseorang boleh melakukan istihsan dalam agama, niscaya hal tersebut menjadi boleh bagi setiap siapa saja yang cerdas sekalipun bukan dari ahli ilmu, dan boleh baginya membuat syariat pada setiap bab dalam agama, juga boleh bagi setiap orang membuat syariat untuk dirinya sendiri”. (Syarh Tanqih Al Fushul: 452).

6. Imam Syafi’i berkata :

إنما الاستحسان تلذذ

“Sesungguhnya istihsan (menganggap baik) itu hanyalah menuruti hawa nafsu”. (Ar-Risalah: 507).

7. Imam Asy Syathibi ketika memaknai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam,

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”, Imam Asy Syathibi berkata : “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah hasanah”
(Disebutkan oleh Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91).

بَارَكَ اللهُ فِيْكُم

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/10-memahami-bidah/

================

PENYEBAB PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

PENYEBAB PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM

Sangat memprihatinkan perselisihan terjadi diantara umat Islam, yang seolah-olah mereka tidak bisa dipersatukan. Padahal perpecahan diantara umat menghilangkan kekuatan dan mencerai-beraikan persatuan.

Apa yang menjadikan umat Islam terus berselisih dan berpecah-belah ?

Diantara penyebab terjadinya perpecahan diantara umat Islam adalah :

1. Memaknai Al-Qur’an tidak sesuai dengan pemahaman para Sahabat
2. Tidak meneladani para Sahabat dalam beragama
3. Bid’ah (perkara baru dalam urusan agama)

(1). MEMAKNAI AL-QUR’AN TIDAK SESUAI DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT

Penyebab pertama terjadinya perpecahan diantara umat Islam adalah karena tidak memaknai Al-Qur’an sebagaimana para sahabat fahami, mereka membuat penafsiran-penafsiran sesuai hawa nafsunya, mereka menafsirkan Al-Qur’an untuk membenarkan kesesatannya.

Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al-Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” [kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, (II/691)].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup ditengah-tengah para Sahabatnya. Ketika Al-Qur’an diturunkan, kemudian disampaikan kepada para Sahabat, lalu para Sahabat mencatat dan menghafalnya, para Sahabatlah yang paling memahami makna dari Al-Qur’an yang di wahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka apabila kita menghendaki beragama dengan benar hendaknya kita maknai Al-Qur’an sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

2. TIDAK MENELADANI PARA SAHABAT DALAM BERAGAMA

Penyebab terjadinya perpecahan yang kedua yaitu, tidak menjadikan para Sahabat sebagai teladan dalam beragama. Padahal para Sahabat adalah generasi terbaik umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat)”. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi. Maka apabila ingin selamat dalam beragama hendaknya meneladani para Sahabat bukan malah menyelisihinya.

Karenanya, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan (manhaj) yang ditempuh para Sahabat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas menyebutkan, bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka wajib mengikuti jalannya, perkata’an-perkata’annya dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka.

Oleh karena itu, merupakan keharusan bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada para Sahabat. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat. Berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras apa yang telah mereka perbuat. Menapaki manhaj (cara pandang hidup) sesuai manhaj mereka.

Sesungguhnya kesesatan dan penyimpangan dalam agama yang tumbuh subur ibarat cendawan dimusim hujan ditengah-tengah umat Islam semenjak dahulu hingga kini adalah akibat dari tidak dijadikannya para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam beragama.

Padahal Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat supaya mengikuti sunnahnya para Sahabat yang mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْن

”Berpegang teguhlah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk”. (al-Arba’in an-Nawawiyyah (no. 28).

Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam beragama adalah diantara cara supaya selamat dan bisa menjauhi perpecahan diantara umat Islam.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan”. (QS al-Baqarah: 137).

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala menyebutkan apabila berpaling dari mereka (para Sahabat) tidak meneladani dan mengikutinya maka akan timbul perpecahan diantara kaum muslimin akibat timbulnya banyak kelompok dan tiap-tiap kelompok memiliki paham yang berbeda. Akibat perbeda’an faham kemudian muncul perselisihan yang berujung permusuhan diantara umat Islam.

3. PERKARA YANG DIBUAT-BUAT DALAM URUSAN AGAMA (BID’AH)

Penyebab perpecahan diantara umat Islam yang ketiga yaitu, perkara baru yang dibua-buat dalam urusan agama (bid’ah).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ‏

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat diatas (Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain) berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Itulah tiga penyebab perpecahan diantara umat Islam. Perpecahan diantara umat tentu saja merugikan dan melemahkan kekuatan umat Islam. Maka sudah selayaknya umat Islam sadar akan hal ini. Bukankah perpecahan diantara umat Islam dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala ?

Allah Ta’ala berfirman :

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقوُا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

___________________

HUKUM MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH

HUKUM MEMAKAN MAKANAN DARI ACARA BID’AH

Islam adalah agama sempurna, Islam mengatur semua aspek kehidupan termasuk soal makanan.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Q.S Al-Baqarah: 168).

Makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia bisa membentuk sifat dan karakter juga mempengaruhi moral dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasa’an mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram akan menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala, seperti malas beribadah dan tidak takut bermaksiat.

Maka pantaslah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan kembali makanan yang sudah dimakannya setelah mengetahui makanan tersebut diperoleh dari perbuatan munkar. Berikut riwayatnya,

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ

“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari, budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya, ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya, ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab, ‘Dahulu, Saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi Saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi perutnya“. (Riwayat Al-Bukhâry no. 3842).

Begitulah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sangat takut terhadap makanan yang dimakannya diperoleh dari perkara yang diharamkan dalam Islam, padahal makanan yang dimakan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu tersebut asalnya halal.

Memakan makanan dari acara yang diharamkan dalam Islam, seperti acara-acara bid’ah para Ulama mengharamkan untuk memakannya. Walaupun hukumnya asalnya makanan tersebut halal. Hal itu diharamkan karena mengambil makanan tersebut adalah bentuk pertolongan terhadap kegiatan itu. Dan dikhawatirkan bisa menjadikan orang yang memakannya menjadi lemah hatinya untuk mengingkari kemungkaran tersebut dan bisa menjadi syubhat bagi orang awam yang melihat atau mengetahuinya. Juga menjadi bahan olok-olokan ahli bid’ah.

Fatwa haram ini diantaranya difatwakan oleh Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi, Asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh dan Asy-Syaikh Abdurrahim Al-Bukhari sebagaimana pernah dikutip di majalah An-Nashihah.

Namun apabila seorang yang mengambil makanan atau harta dari acara bid’ah bahkan syirik bisa menjelaskan bahwa acara atau kegiatan itu diharamkan, sedang makanan atau harta tersebut bisa dimanfa’atkan maka tidak apa-apa mengambilnya.

Sebagaimana yang dijelaskan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah, berdasarkan satu riwayat bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengambil harta yang dipersembahkan untuk al-laata (perbuatan syirik) untuk membayar hutang Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofy dan juga karena hukum asalnya makanan tersebut halal [lihat ta’liq Syaikh Bin Baz rahimahullah pada Fathul Majid, hal. 152, bab 9 (Maa Jaa fi Dzabhi li ghairillah)].

Namun ada pengecualian sebagai berikut :

1. Makanan yang terbuat atau tercampur dengan sembelihan untuk selain Allah Ta’ala, haram untuk dimakan,

2. Upah pekerja’an haram seperti perdukunan dan lain-lain, juga haram dimakan.

Kedua jenis makanan ini haram secara mutlak.

Berikut ini beberapa fatwa Ulama tentang memakan makanan dari acara -acara bid’ah.

1. Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd Al-Badr berkata : “Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137].

2. Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Âlu Asy-Syaikh berkata : “Wallahu a’lam, tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, tidaklah boleh memakan (makanan) pada (acara) tersebut karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan“. (Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

BALASAN BAGI PELAKU BID’AH

BALASAN BAGI PELAKU BID’AH

Sungguh rugi di dunia dan di akhirat bagi para pelaku bid’ah. Di dunia rugi, karena mereka melakukan amalan bid’ahnya kadang dilakukan dengan kepayahan, kadang untuk melakukan amalan bid’ahnya mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Padahal kalau uangnya digunakan untuk sesuatu yang bermanfa’at dan tidak melanggar syari’at tentu saja akan lebih berguna. Rugi di akhirat karena bukannya mendapatkan ridha dan balasan pahala dari Allah tapi malah kemurka’an, laknat dan adzab Allah Ta’ala yang berat dan menghinakan.

Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)

“Barangsiapa berbuat bid’ah didalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya”. (Muttafaq ‘Alaih). (H.R. Bukhari no 1870, 7306 dan Muslim no 1366).

Disamping mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala, pelaku bid’ah juga akan semakin jauh dari Allah. Sebagaimana yang di riwayatkan dari Ayyub As-Sikhtiyani, salah seorang tokoh tabi’in, bahwa beliau mengatakan :

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}

“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah”. (Hilyatul Auliya’, 1/392).

Dan berikut balasan yang akan akan mereka dapatkan akibat dari perbuatan bid’ahnya.

1. Bid’ah menghalangi pelakunya mendapat syafa’at.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang berbunyi :

أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ (متفق عليه)

“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihis salam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri, maka kutanyakan : Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku ? Akan tetapi jawabannya ialah : Kamu tidak tahu yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. (Muttafaq ‘Alaih).

2. Pelaku bid’ah menanggung dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman :

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka seluruhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An Nahl: 25).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa mengajarkan ajaran jelek, maka ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang mengamalkan ajarannya…” (H.R. Muslim no 1017).

3. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ (رواه أبو الشيخ والطبراني والبيهقي وغيرهم)

“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat”. (H.R. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, Al Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan lainnya).

Demikian pula yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umat beliau, yang diantaranya beliau mengatakan :

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).

“Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah; dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah-maksudnya ajaran yang mengikuti bid’ah dan hawa nafsu,- mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Hai sekalian bangsa Arab, demi Allah… kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi”. (H.R. Abu Dawud no 4597, Ahmad dalam Musnadnya (4/102) no 17061 dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan).

4. Pelaku bid’ah dijauhkan dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)

“Aku akan mendahului kalian menuju telaga… sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!” namun dikatakan kepadaku: “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu…” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)”. (H.R. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306, dan Ahmad dalam Musnadnya (2/300, 408) hadits no 7980, 8865 dan 9281).

5. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah.

Pelaku bid’ah adalah orang yang bermaksiat kepada Allah, dan siapa pun yang bersikukuh dengan maksiatnya perlu dicemaskan apabila ia mati dalam keada’an suu’ul khatimah. Pelaku bid’ah seakan ingin mengoreksi syari’at dengan pendapatnya pribadi. Ia tak puas menerima syari’at begitu saja demi meraih yang dia inginkan. Ia justeru meyakini bahwa maksiat yang dilakukan adalah keta’atan, mengapa ? Karena ia menganggap baik apa yang dianggap jelek oleh syari’at, yaitu bid’ah. Tentunya orang yang seperti ini keada’annya, sangat dikhawatirkan akan mati dalam keada’an suu’ul khatimah.

6. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat

Allah Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram…” (Ali ‘Imran: 106).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَةِ {تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 92)}

“Yaitu hari kiamat… ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”. (Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah).

7. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran

Para ulama dari dahulu sampai sekarang berbeda pendapat tentang kafir tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi :

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka (QS. Al An’am: 159).

Diantara mereka ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak? Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat?” Atau yang mengatakan: “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!” tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu. (Mukhtasar Al I’tisham, hal 38).

Alangkah berat dan menghinakan balasan yang akan diperoleh oleh para pelaku bid’ah, sungguh sudah selayaknya mereka renungkan amalan dan acara-acara bid’ahnya dan kemudian menjauhinya.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

UMAR BIN KHATAB MENGATAKAN ADA BID’AH HASANAH

UMAR BIN KHATAB MENGATAKAN ADA BID’AH HASANAH

Perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan : (الْبِدْعَةُ هَذِهِ), “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, seringkali dijadikan senjata andalan oleh para pembela bid’ah hasanah untuk membela keyakinannya bahwa bid’ah ada yang baik (terpuji).

Untuk memahami perkata’an Umar bin Khatab dengan benar, maka kita harus memahami perkata’an Umar bin Khatab tersebut sebagaimana yang difahami oleh para Ulama Mu’tabar para Ulama yang sudah diakui keilmuannya oleh seluruh umat Islam. Bukan mengikuti pemahaman para pengikut hawa nafsu yang kebiasa’annya mencari-cari dalil untuk membela amalan-amalan bid’ahnya.

Berikut ini penjelasan Imam Ibnu Katsir seorang ulama ahli tafsir dan Ibnu Rajab, semoga Allah merahmati mereka berdua. Mereka adalah sosok Ulama Ahlu Sunnah yang keilmuannya tidak diragukan lagi dan diakui oleh seluruh umat Islam di dunia. Mereka menjelaskan tentang perkata’an Umar bin Khatab.

– Ibnu Katsir Rahimahullah berkata :
”Bid’ah ada dua macam, bid’ah menurut syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkata’an Umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : “Inilah sebaik-baiknya bid’ah”.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj].

– Ibnu Rajab Rahimahullah berkata : ”Jadi ucapan Umar, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara lughowi (bid’ah secara bahasa)”. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab tersebut maka bisa diketahui bahwa perkata’an Umar bin Khatab yang mengatakan ; ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Adalah bid’ah secara bahasa. Bukan bid’ah secara syari’at.

Shalat teraweh dipimpin oleh satu imam yang diprakarsai oleh Umar bin Khatab benar bahwa hal itu adalah bid’ah secara bahasa, tapi bukan bid’ah secara syari’at, karena bid’ah secara syari’at semuanya tercela. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullaah. Beliau berkata : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela, . .”. [Lihat Fathul Bari, 13: 253].

Tidak mungkin Umar bin Khatab melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan perkara yang tercela dalam Islam. Disamping itu shalat teraweh dipimpin satu imam pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para Sahabatnya. Sebagaimana riwayat berikut ini,

Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah Rodiyallohu Anha. “Bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam sendirian. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau. Ketika Shubuh tiba, orang orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut. Pada malam selanjutnya, jumlah jama’ah semakin bertambah dari pada sebelumnya, Demikianlah seterus nya pada malam-malam berikutnya. Hal itu berlanjut hingga tiga malam. Pada malam ke empat, masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jama’ah. Namun Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga fajar menyingsing, Rasulullah Sollallohu ‘Alaihi Wasallam baru keluar untuk menunaikan shalat Shubuh. Selepas itu beliau berkhutbah, Amma Ba’du. Saya telah mengetahui kejadian semalam, Akan tetapi saya khawatir shalat itu (taraweh) akan diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu melakukannya. Untuk selanjutnya shalat tarawih tidak dikerjakan secara berjama’ah”.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat tarawih bersama para sahabatnya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Adapun alasan shalat taraweh berjama’ah akhirnya di tinggalkan, karena Rasululloh khawatir kalau shalat taraweh akan di wajibkan kepada umatnya.

Jadi kalau ada orang yang berdalil untuk membenarkan membuat-buat perkara baru dalam agama (ibadah) dengan berdalil perkata’an Umar bin Khatab adalah sangat keliru. Karena shalat teraweh dipimpin satu imam pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para Sahabatnya. Adapun bid’ah adalah perkara baru yang tidak dilakukan, diperintahkan dan disetujui oleh Rasulullah atau tidak ada dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dikatakan Imam Al-’Iz bin ‘Abdissalam :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

“Bid’ah (dalam urusan ibadah) adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).

Tambahan :

Berikut riwayat shalat teraweh dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai zaman Umar bin Khatab.

Dalam Shahih Al Bukhari pada Bab “Keutamaan Qiyam Ramadhan” disebutkan beberapa riwayat sebagai berikut.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ » . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ، ثُمَّ كَانَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِى خِلاَفَةِ أَبِى بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ – رضى الله عنهما –

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu“. Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan ‘Umar bin Al Khaththob radhiyallahu ‘anhu. (HR. Bukhari no. 2009)

وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata, “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata, “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik“. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam.” Yang beliau maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Bukhari no. 2010).

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

================

PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

PERPECAHAN DIANTARA UMAT ISLAM SEBAGAI UJIAN

Segala sesuatu di balik pencipta’an Allah Ta’ala pasti ada hikmahnya. Apa yang Allah Ta’ala cintai dan benci pasti mengandung hikmah yang kadang tidak dapat manusia selami.

Begitu pula dibalik perselisihan diantara umat Islam ada hikmah yang terkandung didalamnya.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” (Ali Imran: 191).

Hikmah terjadinya perselisihan yang sampai menimbulkan perpecahan diantara umat Islam dan berujung permusuhan adalah sebagai bentuk ujian dari Allah Ta’ala, siapa diantara hambanya yang mencari kebenaran dan siapa diantara hambanya yang mengikuti hawa napsu. Hal ini sebagaimana dikatakan Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu,

Beliau berkata : “Perpecahan dan perselisihan merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme. (Kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal. 23-24).

Seandainya Allah Ta’ala menghendaki umat Islam ini sebagai umat yang utuh tidak ada perselisihan dan permusuhan tentu saja Allah Ta’ala kuasa untuk menyatukannya. Sebagaimana dalam sebuah firmannya,

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Hud: 118-119).

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am, 6 : 35).

Firman Allah Ta’ala pada surat Hud: 118 maksudnya perselisihan akan tetap ada di kalangan manusia dalam masalah agama, dan akidah mereka menjadi terbagi ke dalam berbagai mazhab dan pendapat.

Dan firman Allah Ta’ala :

إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

”Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (Hud: 119).

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang yang dirahmati oleh Allah adalah ahlul jama’ah, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka berbeda-beda. Dan orang-orang yang ahli maksiat adalah ahli dalam perpecahan, sekalipun tempat tinggal dan kebangsa’an mereka sama.

والله أعلمُ بالصواب

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

===================