PENYESALAN SEORANG MUQOLLID

PENYESALAN SEORANG MUQOLLID

Sungguh malang orang-orang yang memuja manusia, mereka menjadikan seorang manusia seolah-olah malaikat bahkan tuhan, tidak boleh dikritisi apalagi dibantah, segala yang dikatakannya seolah-olah wahyu yang turun dari langit, selalu dibenarkan dan diikuti. Padahal tidak ada seorang manusiapun yang ma’sum, siapa dan sehebat apapun seorang manusia tetaplah manusia, bisa salah dan keliru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. (Shahih Jami’us Shaghir 4391).

Dari hadits diatas maka kita mendapatkan penjelasan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang akan luput dari salah, apakah perkata’an atau perbuatannya. Maka tidak selayaknya kita taqlid kepada siapapun.

– Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata :

“Jangan sekali-kali kalian taklid (Masalah agama) kepada seseorang. (I’lamulMuwaqi’in juz 2 halaman 194).

– Imam Syafi’i berkata ;

ولا تقلد دينك فأنه لن يسلم عن يغلط

“Jangan taqlid dalam urusan agama kalian, karena siapapun yang kalian taqlidi, belum tentu selamat dari salah dan keliru”.

• Pengertian taqlid

Taqlid adalah mengikuti perkata’an orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 314].

Seorang Muslim yang sebenarnya, bukanlah seorang yang selalu mengikuti perkata’an siapapun dan apapun yang dilakukannya tanpa peduli apakah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya.

Ketika seorang yang dipandang alim, fakih, luas ilmunya, kemudian ditokohkan dan dipuja, padahal sesungguhnya dia penyesat umat. Sungguh di akhirat dia tidak bisa menolong orang yang mengikutinya. Bahkan dia sendiri tidak akan mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah Ta’ala yang harus ditanggungnya.

Maka tinggallah seorang muqallid (tukang ikut-ikutan) meratapi dan menyesali dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا *

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). ‘Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar’.” (Al-Ahzab 66-68).

Ayat diatas bukan saja ditujukan kepada orang-orang kafir, tetapi juga kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti orang kafir yang disebutkan di ayat tersebut.

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).

Sungguh penyesalan yang tidak berguna. Tangisan dan ratapan seorang muqollid tidak akan mengurangi adzab yang harus ditanggungnya.

Wal Iyadzu billah

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=======

LARANGAN BERPECAH-BELAH

LARANGAN BERPECAH-BELAH

Sungguh memprihatinkan melihat kondisi umat Islam yang bercerai-berai akibat perselisihan yang bahkan sampai berujung saling bermusuhan. Seolah-olah mereka tidak punya pedoman yang biasa menyatukan mereka. Masing-masing pihak membanggakan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain.

Perpecahan diantara umat Islam sudah disebutkan oleh Rasulullah, sebagaimana sabdanya :

وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

”. . Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah ”. (Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain).

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلاَ ] وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ [

“Pada suatu hari Rasulullah menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”. (QS. Al ‘An’am : 6/153).

• Allah ta’ala melarang bercerai berai

Perpecahan diantara sesama umat Islam tentu saja merugikan dan melemahkan kekuatan umat Islam. Perpecahan diantara umat Islam dilarang Allah ta’ala sebagaimana firmannya :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

”BID’AH MENGAKIBATKAN PERPECAHAN”

Ummat Islam berpecah-belah dan menimbulkan perselisihan ditengah-tengah kaum muslimin karena perbuatan bid’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat di atas berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Oleh sebab itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah mengungkapkan kalimat yang indah, Beliau berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

PERPECAHAN UMAT DAN SOLUSI UNTUK MENYATUKANNYA

• Perpecahan sebagai ujian

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut.

Beliau berkata : “Perpecahan dan perselisihan merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme. (Kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal. 23-24).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Hud, 10 : 118-119).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am, 6 : 35).

MUNGKINKAH UMAT ISLAM BERSATU ?

Setiap kaum muslimin dimanapun di seluruh dunia pasti mengharapkan persatuan diantara umat Islam bukan perpecahan yang berujung permusuhan.

Tapi kenyata’an menunjukkan, sepertinya harapan persatuan diantara umat Islam adalah suatu yang tidak mungkin. Melihat fakta banyaknya faham aliran dan golongan yang berbeda faham satu sama lain. Dan diantara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling berselisih berujung permusuhan.

Padahal Allah Ta’ala melarang umat Islam bercerai-berai

Allah Ta’ala berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

Dalam ayat di atas, Allah melarang kita untuk bercerai berai. Namun dalam ayat itu sebelumnya Allah memerintah kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah terlebih dahulu.

Mengapa demikian ?

Karena hanya Allah-lah, yang mampu mempersatukan kita.

Oleh karena itu, jalan menuju persatuan bisa terwujud hanya dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah Ta’ala akan menimbulkan permusuhan sebagaimana firman-Nya :

وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة

“Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat”. (Q.S. Maidah: 64).

• Bersatu dengan tali Allah

Allah Ta’ala berfirman :

واعتصموا بحبل الله

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah . .” (Q.S. Ali Imron: 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Semua umat Islam mengimani bahwa Al-Qur’an adalah pedoman dalam segala urusan. Namun ternyata tidak semua umat Islam memaknai dan memahami Al-Qur’an dengan benar, banyak umat Islam yang memaknai dan memahami Al-Qur’an menurut hawa nafsunya sesuai dengan kepentingannya. Maka akibatnya timbul perselisihan diantara umat.

• Fahami Al-Qur’an dengan pemahaman para Sahabat

Perselisihan terjadi ketika memahami Islam bukan dengan pemahaman para Sahabat.

Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” [kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, (II/691)].

Al-Qur’an turun di masa Nabi ketika beliau hidup di tengah-tengah para shahabatnya yang mulia. Oleh karena itu, para shahabatlah yang paling mengerti makna Al-Qur’an, karena merekalah yang mendengar langsung bimbingan Nabi ­shallallahu ‘alaihi wa sallam.

• Bersatu dalam jama’ah

Apa itu jama’ah ?

Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.

Berkata Abu Syamah : “Dan apabila datang perintah untuk komitmen terhadap Al-Jama’ah, maka yang diinginkan adalah komitmen terhadap kebenaran dan pengikut kebenaran tersebut walaupun yang komitmen terhadapnya sedikit dan yang menyelisihinya banyak orang. Karena kebenaran adalah apa-apa yang jama’ah pertama dan para sahabatnya berada di atasnya dan tidaklah dilihat kepada banyaknya ahlul bathil setelah mereka”. (Al-Ba’its hal. 22).

Barokallahu fiikum

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________