ALLAH MENOLAK IBADAH PELAKU BID’AH

ALLAH MENOLAK IBADAH PELAKU BID’AH

Sungguh kerugian teramat besar bagi para pelaku bid’ah dari ibadah-ibadah yang mereka lakukannya. Sebagai manusia berakal tentu kita berharap semua aktifitas ibadah yang kita persembahkan mendapatkan ridho dan limpahan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Setiap ibadah yang kita lakukan tidak terlepas dari pengorbanan, baik waktu tenaga bahkan juga biaya. Oleh karenanya sangat rugi apabila ibadah yang kita lakukan malah sia-sia terlebih lagi mendatangkan murka-Nya.

Sungguh sangat rugi bagi para pelaku bid’ah karena ibadah yang mereka persembahkan dengan segala pengorbanannya malah tertolak.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين

“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

“Allah tidak akan menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”.

• Menanggung dosa orang yang mengikutinya

Para pelaku bid’ah, selain mengalami kerugian bagi dirinya juga mereka harus pula menanggung dosa dari orang-orang yang mengikutinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

”. . Barangsiapa melakukan suatu amalan buruk lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017).

Begitulah kesudahan para pelaku bid’ah bukan saja amal ibadahnya ditolak tapi juga harus menanggung dosa akibat bid’ah yang dilakukannya, bahkan juga dosa dari orang-orang yang mengikutinya.

Lalu bagaimana kalau yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang ?

Berapa banyak dan besar dosa yang harus dia tanggung ?

Semoga kita selalu diatas petunjuk Allah ta’ala dan Rasulnya sehingga tidak sia-sia amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

– Peringatan dari Rasulullah untuk menjauhi bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-peringatan-rasulullah-terhadap-bidah/

– Memahami bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

– Adakah bid’ah hasanah ? : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-apakah-para-sahabat-tidak-tahu-ada-bidah-hasanah/

– Akibat buruk dari bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-akibat-buruk-berbuat-bidah/

=============================

SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

SEJARAH TAUHID PRA ISLAM SAMPAI DIUTUSNYA RASULULLAH

Tauhid secara etimologis berarti keesa’an. Maksudnya, ittikad atau keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Esa, Tunggal, Satu.

Semua Nabi dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya bahwa yang menciptakan dan mengatur alam semesta adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang maha esa. Dan semua Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk beribadah hanya kepada Nya.

Dari mulai Nabi Adam ‘alaihissalam sampai Nabi Nuh ‘alaihissalam umat manusia tidak ada yang melakukan kesyirikan. Akan tetapi semenjak Nabi Nuh ‘alaihissalam, manusia mulai melakukan kesyirikan yang akhirnya dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Dan Masa berikutnya Allah mengutus Nabi Ibrahim.

Sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Musa dan mengajarkan kepada umatnya untuk mentauhidkan Allah Ta’ala.

Kepada Nabi Musa ‘alaihissalam Allah Ta’ala menurunkan kitab taurat yang mengandung syari’at atau peraturan-peraturan untuk diamalkan dan berpegang teguh padanya.

Syari’at yang terdapat dalam taurat itu dijalankan oleh bani Israel semasa nabi Musa masih hidup. Akan tetapi Setelah Nabi Musa wafat umatnya berselisih dan melakukan perubahan-perubahan dan penyimpangan-peyimpangan yang dilakukan oleh sebagian mereka, sehingga ajaran yang dibawa Nabi Musa mengalami penyimpangan (distorsi).

Kemudian masa selanjutnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Isa ‘alaihissalam juga menurunkan kitab yaitu Injil untuk mengembalikan bani Israel kepada ajaran yang semula, yaitu mentauhidkan Allah.

Namun setelah ditinggalkan Nabi Isa sedikit demi sedikit ajaran yang dibawa Nabi Isa mulai berubah, sehingga umatnya menyimpang dari ajaran semula dan terlepas dari dasar-dasar ketuhidan yang murni.

• Sejarah tauhid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus, sa’at itu bangsa Arab sudah tidak lagi mentauhidkan Allah ta’ala, mereka banyak menyembah berhala yang mereka jadikan sebagai sesembahan selain juga beriman kepada Allah. Tiga berhala yang terkenal sa’at itu yaitu ; manat, al-lata dan al-uzza.

Dengan perjuangan yang gigih yang dilakukan Rasulullah dan para Sahabatnya dengan melalui banyak rintangan sangat berat akhirnya bangsa Arab dapat dikembalikan kepada ajaran yang benar yaitu mentauhidkan Allah.

Dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup, umat Islam mendapatkan bimbingan langsung dari Rasulullah. Setiap permasalahan dalam urusan agama yang muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Dari sejarah yang kita baca maka bisa kita ketahui, bahwa sebelum Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus, Allah sudah mengutus beberapa Rasul untuk mengajarkan kepada umatnya utuk beribadah hanya kepada satu Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun setelah umatnya itu ditinggal wafat oleh Rasulnya, sebagian dari mereka membuat perkara-perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulnya. Dan akibatnya syari’at yang mereka lakukan sudah tidak sesuai lagi dengan syari’at yang diajarkan oleh Rasulnya. Dan akhirnya mereka sudah tidak lagi menganut agama yang benar yaitu agama Tauhid melainkan agama batil yang menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulnya.

Kita mengetahui bahwa agamanya orang-orang yahudi asalnya agama Tauhid yang di bawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam, begitu pula agama nasrani awalnya agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihissalam, akan tetapi kita bisa mengetahui, sa’at ini orang-orang yahudi dan pengikut agama nasrani sudah bukan lagi penganut agama Tauhid melainkan penganut agama syirik yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kenapa agama orang-orang yahudi dan agama nasrani bisa jadi berubah dari agama Tauhid menjadi agama syirik ?

Penyebabnya karena mereka merubah-rubah, menambah, mengurangi bahkan menghilangkan syari’at yang ada pada mereka.

• Islam menggantikan agama-agama yang terdahulu

Setelah agama-agama yang terdahulu sebelum Islam mengalami kerusakan (distorsi) kemudian Allah Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan manusia kepada agama yang benar (Tauhid) untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun fakta bisa kita lihat, ternyata pemeluk agama Islam pun ada yang memiliki sifat seperti pemeluk agama yang terdahulu yang mengikuti hawa napsu, mereka tidak cukup dengan syari’at yang diajarkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membuat-buat ajaran yang tidak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Padahal Islam sudah sempurna. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

Allah Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Kesempurna’an Islam sebagaimana di sebutkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 3 tersebut, maka artinya ; Tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, meskipun sekecil apapun dan alasan apapun, maka hal itu sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan bala tentaranya. Dan pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, secara tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam.

Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu :

“Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam urusan agama) di dalam islam, yang dia mengangpnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman : “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham juz 1 hal.49).

Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini.

• Para Ulama Ahlu Sunnah menjaga Islam dari para penyesat umat

Terjaganya keutuhan Islam bukan berarti tidak ada rongrongan dari orang-orang yang melakukan penyimpangan dalam Islam, akan tetapi karena adanya orang-orang yang selalu berjuang keras berusaha menjaga kemurnian Islam, walaupun mereka mendapatkan perlawanan yang hebat, dari mulai cacian, permusuhan, fitnah bahkan sampai serangan fisik.

Dengan adanya orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka keutuhan Islam pun terjaga dan tidak terjadi distorsi (rusak) sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama sebelum Islam.

Sungguh tercela para pengikut hawa napsu, yang merasa baik apa yang mereka lakukan membuat perkara-perkara baru dalam agama, padahal Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam tidak mengajarkannya.

Apabila mereka para pelaku bid’ah sesuka hatinya membuat perkara-perkara baru dalam urusan agama dibiarkan tidak dicegah maka yang terjadi agama Islam pun keada’annya akan mengalami kerusakan sebagaimana yang terjadi kepada agama-agama terdahulu sebelum Islam.

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi berkata :

”Apabila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya”.

با رك الله فيكم

By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

___________

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

LEBIH BAIK BANYAK MENDENGAR DARIPADA BANYAK BICARA

Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan manusia satu mulut, sedangkan mata dan telinga masing-masing dua. Orang bijak mengatakan, supaya kita lebih banyak melihat dan mendengar dibanding banyak berbicara.

Pepatah mengatakan, ”Diam itu adalah emas”. Diam yang dimaksud disini adalah ;

– Tidak bicara yang dusta
– Tidak bicara yang tidak bermanfa’at
– Tidak bicara karena tidak diperlukan
– Tidak bicara yang mengandung fitnah
– Tidak bicara yang hanya akan merendahkan kehormatan diri
– Tidak bicara yang sekiranya akan menyakiti orang lain.

Akan tetapi apabila bicara itu diperlukan untuk kebaikan, maka itu harus dilakukan walaupun bisa dibenci orang lain.

Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda ; “Katakan yang benar walaupun pahit dan janganlah kamu gentar terhadap cerca’an orang yang mencerca”. (HR. al-Baihaqi).

Sungguh besar faedah dan akibatnya bagi orang yang bisa menahan sahwat lisannya, tidak selalu mengumbarnya. Karena setiap perkata’an yang diucapannya malaikat selalu mencatatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf -18].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. (Shahih Al-Bukhari no. 6474).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkata’an yang tidak dipikirkan dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Betapa buruk akibat dari lisan yang tidak di jaga. Bukan saja merendahkan dirinya tapi juga mengundang murka Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Namun sungguh disayangkan, banyak orang yang tidak bisa tahan menjaga napsu bicaranya, padahal dengan banyaknya dia bicara malah bisa jadi menghilangkan kehormatannya, karena dari ucapan-ucapannya orang lain jadi bisa menakar dan menilai kwalitas dirinya.

Bukankah ada yang mengatakan ;

”KATA-KATAMU ADALAH KWALITAS DIRIMU”.

Menjaga kehormatan diri menunjukkan seseorang memiliki akhlak yang baik, menunjukkan lahir dan tumbuh berkembang dilingkungan keluarga yang baik. Namun sebaliknya seorang yang memiliki akhlak yang rendah umumnya mempunyai latar belakang masa kecil yang suram, masa kecil yang tidak tumbuh emosinya secara optimal. Dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tua.

• Lebih baik banyak mendengar daripada banyak bicara

Banyak mendengar dan menyimak akan menjadikan manusia nampak lebih terhormat dan berwibawa, seorang pribadi yang bijaksana lebih suka mendengarkan daripada pada banyak bicara (yang tidak berguna). Seorang yang terhormat dan bermartabat dia tahu benar kapan dia harus bicara.

Mendengarkan dapat membantu kita menjadi tenang dan konsentrasi. Betapa pentingnya diam untuk mempelajari sesuatu. Ketika kita bicara, sulit untuk mempelajari lebih banyak hal daripada apa yang telah kita ketahui.

Tapi ketika diam mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, maka kita dapat mulai mengerti segala sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan kita dapat mempunyai akses terhadap apa yang menurut pendapatnya tidak kita ketahui.

• Mendengarkan bisa mendatangkan hidayah

Anugerah yang paling besar bagi orang yang berusaha untuk mendengarkan adalah bisa menjadikan datangnya hidayah kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرۡ عِبَادِ ۙ ﴿۱۷

الَّذِيۡنَ يَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُوۡنَ اَحۡسَنَهٗ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمۡ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۱۸

”. . Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku”,

”Yaitu bagi orang yang mendengarkan perkata’an lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar Ayat : 17 – 18).

Orang yang berusaha untuk mendengarkan dan berusaha untuk menyimak keterangan dari orang yang datang kepadanya, kemudian dia mengambilnya apabila keterangan yang disampaikannya itu berasal dari Allah dan Rasulnya, maka Allah menjaminnya memberinya hidayah. Dan Allah Ta’ala mengatakan orang demikian sebagai orang yang berakal.

Tapi kebanyakan manusia, ketika mendapatkan keterangan yang berbeda dari yang difahaminya selama ini, ada perasa’an tidak senang, kemudian mencari celah untuk bisa membantah dan mengolok-oloknya. Bukan bertanya dari mas’alah yang dia tidak fahami malah mencibir dengan kata-kata buruk hina dan kasar.

– Sahabat Mu’adz bertanya :

يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya”.

– Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (Shahih Muslim no. 74).

– Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ

“Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa dasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah)”.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____

BEDA DEBAT DENGAN MUSYAWARAH

BEDA DEBAT DENGAN MUSYAWARAH

Debat adalah adu argument antara pihak yang memiliki pendapat yang berbeda baik secara perorangan maupun kelompok, terhadap perbeda’an yang dipermasalahkan, sehingga salah satu pihak dapat mengalahkan pihak lain yang dianggap punya pendapat yang dipandang tidak benar.

Ciri-ciri debat diantaranya :

1. Ada dua pihak yang berbeda pendapat
2. Ada proses saling mempertahankan pendapat antara kedua belah pihak
3. Ada adu argumentasi yang tujuannya untuk mengalahkan pendapat yang dipandang salah.

Adapun musyawarah adalah metode untuk memecahkan permasalahan dengan proses berpikir secara berkelompok atau bersama-sama sehingga menghasilkan penyelesaian atau penjelasan secara mufakat.

Musyawarah dilakukan dengan cara para peserta mengutarakan pendapatnya tentang permasalahan yang dibahas, kemudian dilakukan proses berpikir bersama-sama, sehingga tercapailah suatu kesimpulan secara mufakat.

Ciri-ciri musyawarah diantaranya :

1. Tidak adanya pihak pro dan kontra
2. Bertujuan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama, sehingga diperoleh kesimpulan secara mufakat.

Disebutkan di Wikipedia Indonesia, Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu.

Musyawarah hanya untuk urusan DUNIAWI. Jadi musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut urusan keduniawian.

__________________