SIAPA SEBENARNYA YANG BODOH

SIAPA SEBENARNYA YANG BODOH

Ketika ada orang yang memperingatkan umat untuk tidak melakukan ibadah-ibadah yang tidak ada tuntutannya (bid’ah), sering dicemooh dikatakan bodoh, dungu, otak dangkal, kaku, pikirannya tidak maju, dll.

Sebutan orang bodoh, dungu dan istilah-istilah semacam itu yang dialamatkan kepada para pengikut kebenaran bukan hal baru, para Nabi dan para pengikutnya sering dicemooh demikian. Contohnya Nabi Nuh ‘Alaihissalam dan para pengikutnya.

Para penentang dakwah yang diserukan oleh Nabi Nuh ‘Alaihissalam menyebut Nabi Nuh dan para pengikutnya sebagai orang bodoh. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

Allah Ta’ala berfirman :

وَ إِذَا قِيْلَ لَهُمْ آمِنُوْا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوْا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَّ يَعْلَمُوْنَ

”Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Berimanlah sebagaimana telah beriman manusia (lain)”, mereka menjawab : “Apakah kami akan beriman sebagaimana berimannya or­ang-orang yang bodoh itu ?”, Ketahuilah, sesungguh­nya mereka itulah yang bodoh­, akan tetapi mereka tidak tahu.

• Bodoh adalah sumber segala penyakit dan bencana

Orang bodoh kebanyakan memang tidak sadar dengan kebodohannya, padahal kebodohan sangat berbahaya dan mengerikan akibatnya.

Bukankah para penentang Nabi dan Rasul adalah akibat kebodohannya ?

Dan bagaimana akhir kehidupannya yang mereka dapatkan ?

Ada yang Allah binasakan di dunia dan tentu saja adzab di akhirat lebih besar.

• Siapa yang sebenarnya bodoh ?

Benarkah tuduhan mereka bahwa orang yang memperingatkan umat dari bid’ah adalah orang bodoh ?

Atau sebaliknya, mereka yang bodoh ?

Untuk mengetahui hal ini, maka kita harus melihat sifat-sifat orang bodoh yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

• Sifat orang-orang bodoh dalam Al-Qur’an

– Di dalam Surat Ar-Rodu ayat 19 Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang bodoh adalah orang yang tidak punya pengetahuan.

Allah Ta’ala berfirman :

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

”Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta ? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (Ar-Rodu : 19).

– Di dalam Surat Al-Furqon, ayat 44, Allah menyifati orang-orang bodoh adalah orang yang tidak mau mendengarkan dan tidak berusaha untuk memahami.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚإِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖبَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (Al-Furqon: 44).

Dari keterangan ayat-ayat diatas, maka orang bodoh adalah orang yang tidak memiliki ilmu tidak suka mendengarkan dan tidak pernah mau memahami.

Para penentang dakwah Rasul dan orang-orang yang tidak suka ada orang yang memperingatkan umat dari penyimpangan dalam agama adalah karena tidak adanya ilmu yang mereka miliki, tidak mau mendengarkan keterangan yang disampaikan kepadanya dan tidak mau berusaha untuk memahami. Maka sebenarnya merekalah yang hakekatnya orang yang bodoh.

والله أعلمُ بالـصـواب

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

===============

MEMAHAMI ARTI JAMA’AH

MEMAHAMI ARTI JAMA’AH
.
Banyak firqoh dan aliran bermunculan dalam Islam. Masing-masing firqoh mengaku kelompok mereka yang paling benar. Selain itu masing-masing firqoh saling membagakan firqohnya. Kebangga’an setiap firqoh kepada kelompoknya masing-masing sudah di sebutkan Allah Ta’ala dalam Firmannya :
.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (53) فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ (54)
.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (QS. Al-Mu’minun: 53-54).
.
Akan terpecah belahnya umat Islam kepada banyak firqoh sudah di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
.
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al-Jama’ah”. (HR. Abu Daud 4597).
.
Dalam hadits di atas di sebutkan bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam banyak kelompok namun hanya satu golongan yang akan masuk surga, yaitu Al-Jama’ah.
.
Adapun arti Al-Jama’ah di jelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
ما أنا عليه وأصحابي
.
“Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku”.
.
Yang di maksud Al-Jama’ah menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Artinya umat Islam yang mengikuti tuntuntunan Rasulullah dan menapaki manhaj para Sahabat dalam beragama.
.
Keada’an Al-Jama’ah tidak berarti harus berupa sekumpulan orang dalam jumlah mayoritas dalam suatu wilayah. Tetap di sebut Al-Jama’ah walaupun keada’annya sedikit (minoritas) bahkan tetap di sebut Al-Jama’ah walaupun keada’annya sendirian. selama mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sahabatnya maka tetap di sebut Al-Jama’ah.
.
– Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ’anhu berkata :
.
اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
.
“Al-Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri”.
.
– Syihabuddin Abu Syamah (w 665H) berkata :
.
حيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق وإتباعه وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف كثيرا
.
“Ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al-Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al-Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
– Imam Al-Baihaqi berkata :
.
إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ
.
“Ketika Al-Jama’ah (kaum muslimin sa’at ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al-Jama’ah”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
PENGERTIAN AL-JAMA’AH SECARA LEBIH LUAS
.
• Makna Al-Jama’ah menurut bahasa
.
Menurut bahasa, makna Al Jama’ah adalah :
.
الجماعة هي الاجتماع، وضدها الفرقة، وإن كان لفظ الجماعة قد صار اسما لنفس القوم المجتمعين
.
“Al-Jama’ah artinya perkumpulan, lawan dari kekelompokan. Walau terkadang Al-Jama’ah juga artinya sebuah kaum dimana orang-orang berkumpul”. (Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah, 3/157).
.
• Makna Al-Jama’ah menurut syari’at
.
Adapun makna Al-Jama’ah yang di maksud oleh syar’iat adalah sebagaimana di terangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Sementara para Ulama menjabarkan banyak definisi dari Al-Jama’ah.
.
Berikut ini perkata’an para Ulama tentang Al-Jama’ah,
.
– Ibnu Hajar Al-Asqalani (w 852 H) menukil penjelasan Imam Ath Thabari (w 310 H) menjabarkan makna-makna dari Al-Jama’ah :
.
قَالَ الطَّبَرِيُّ اخْتُلِفَ فِي هَذَا الْأَمْرِ وَفِي الْجَمَاعَةِ فَقَالَ قَوْمٌ هُوَ لِلْوُجُوبِ وَالْجَمَاعَةُ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ ثُمَّ سَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَصَّى مَنْ سَأَلَهُ لَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَجْمَعَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلَالَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِالْجَمَاعَةِ الصَّحَابَةُ دُونَ مَنْ بَعْدَهُمْ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِهِمْ أَهْلُ الْعِلْمِ لِأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ وَالنَّاسُ تَبَعٌ لَهُمْ فِي أَمْرِ الدِّينِ قَالَ الطَّبَرِيُّ وَالصَّوَابُ أَنَّ الْمُرَادَ مِنَ الْخَبَرِ لُزُومُ الْجَمَاعَةِ الَّذِينَ فِي طَاعَةِ مَنِ اجْتَمَعُوا عَلَى تَأْمِيرِهِ فَمَنْ نَكَثَ بَيْعَتَهُ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ
.
“Ath-Thabari berkata, permasalahan ini (wajibnya berpegang pada Al-Jama’ah) dan makna Al-Jama’ah, diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib. Dan makna Al Jama’ah adalah : As-Sawadul a’zham. Kemudian Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab : “Hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan“. Sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para sahabat, tidak termasuk orang setelah mereka. Sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para ulama. Karena Allah telah menjadikan mereka hujjah bagi para hamba. Para hamba meneladani mereka dalam perkara agama. Ath-Thabari lalu berkata, yang benar, makna Al Jama’ah dalam hadits-hadits perintah berpegang pada Al-Jama’ah adalah orang-orang yang berada dalam keta’atan, mereka berkumpul dalam kepemimpinan. Barangsiapa yang mengingkari baiat terhadap pemimpinnya (merasa tidak berkewajiban untuk menta’ati pemimpin sah kaum muslimin), maka ia telah keluar dari Al Jama’ah”. (Fathul Baari, 13/37).
.
– Imam Asy Syathibi (w 790 H) merinci makna-makna dari Al-Jama’ah :
.
اختلف الناس في معنى الجماعة المرادة في هذه الأحاديث على خمسة أقوال، أحدها: أنها السواد الأعظم من أهل الإسلام … فعلى هذا القول يدخل في الجماعة مجتهدو الأمة وعلماؤها، وأهل الشريعة العاملون بها، ومن سواهم داخل في حكمهم؛ لأنهم تابعون لهم مقتدون بهم. الثاني: أنها جماعة أئمة العلماء المجتهدين، فعلى هذا القول لا مدخل لمن ليس بعالم مجتهد؛ لأنه داخل في أهل التقليد فمن عمل منهم بما يخالفهم فهو صاحب الميتة الجاهلية، ولا يدخل أيضا أحد من المبتدعين.
الثالث: أن الجماعة هي الصحابة على الخصوص. فعلى هذا القول فلفظ (الجماعة) مطابق للرواية الأخرى في قوله صلى الله عليه وسلم: “ما أنا عليه وأصحابي”.
الرابع: أن الجماعة هي أهل الإسلام إذا أجمعوا على أمر، فواجب على غيرهم من أهل الملل اتباعهم ثم تعقب الشاطبي هذا القول بقوله: ”وهذا القول يرجع إلى الثاني، وهو يقتضي أيضا ما يقتضيه، أو يرجع إلى القول الأول، وهو الأظهر، وفيه من المعنى ما في الأول من أنه لا بد من كون المجتهدين منهم، وعند ذلك لا يكون مع اجتماعهم بدعة أصلا فهم إذن الفرقة الناجية”. الخامس: ما اختاره الطبري الإمام من أن الجماعة جماعة المسلمين إذا اجتمعوا على أمير، فأمر عليه الصلاة والسلام بلزومه ونهى عن فراق الأمة فيما اجتمعوا عليه من تقديمه عليهم.
.
“Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al-Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat : As-sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena di asumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”
Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma). Para sahabat nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu :
.
ما أنا عليه وأصحابي
.
“Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku”.
.
Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”. Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.
Imam Asy Syathibi kemudian menyimpulkan :
.
قال الشاطبي: ”وحاصله أن الجماعة راجعة إلى الاجتماع على الإمام الموافق لكتاب الله والسنة، وذلك ظاهر في أن الاجتماع على غير سنة خارج عن الجماعة المذكورة في الأحاديث المذكورة؛
.
“Kesimpulannya, Al-Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al-Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits”. (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276).
.

– Al Munawi (w 1031H) menukil perkata’an Syihabuddin Abu Syaamah (w 665H) dan Al Baihaqi (w 458 H) mengenai makna Al Jama’ah :
.
قال أبو شامة: حيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق وإتباعه وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف كثيرا أي الحق هو ما كان عليه الصحابة الأول من الصحب ولا نظر لكثرة أهل الباطل بعدهم قال البيهقي: إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ
.
“Abu Syamah berkata, ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya. Maksud Abu Syaamah adalah bahwa kebenaran itu adalah mengikuti pemahaman para sahabat Nabi, bukan melihat banyak jumlah, ini pada orang-orang yang datang setelah mereka. Al Baihaqi berkata, ketika Al Jama’ah (kaum muslimin sa’at ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al-Jama’ah”. (Faidul Qadhir, 4/99).
.
Jika kita telah memahami penjelasan para ulama mengenai makna Al Jama’ah, walaupun definisi mereka berbeda, namun pokok maknanya sama. Bahwa yang dimaksud dengan Al Jama’ah adalah umat Islam yang berkumpul bersama imam mujtahid dan para ulama mereka yang senantiasa meneladani ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi dan mereka berbaiat pada penguasa muslim yang sah serta tidak memberontak kepadanya.
.
Itulah makna Al-Jama’ah secara lebih luas yang di terangkan oleh para Ulama. Luasnya pengertian Al-Jama’ah yang di terangkan para Ulama berdasarkan dengan banyaknya hadits yang memuat istilah Jama’ah tersebut.
.
Berikut beberapa hadits tentang Al-Jama’ah,
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :
.
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
.
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah”. (HR. Abu Daud 4597).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
عليكم بالجماعة، وإياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد. من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة. ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
.
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min”. (HR. Tirmidzi no. 2165).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
ستكون بعدي هنات وهنات، فمن رأيتموه فارق الجماعة، أو يريد أن يفرق أمر أمة محمد كائنا من كان فاقتلوه؛ فإن يد الله مع الجماعة، و إن الشيطان مع من فارق الجماعة يركض
.
“Sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika diantara kalian melihat orang yang memecah belah Al Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al Jama’ah”. (HR. As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir 4672).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية
.
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah”. (HR. Bukhari no.7054,7143 dan Muslim no.1848,1849).
.
– Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
والذي لا إله غيره ! لا يحل دم رجل مسلم يشهد أن لا إله إلا الله ، وأني رسول الله ، إلا ثلاثة نفر : التارك الإسلام ، المفارق للجماعة أو الجماعة ( شك فيه أحمد ) . والثيب الزاني.والنفس بالنفس

“Demi Allah, darah seorang yang bersyahadat tidak lah halal kecuali karena tiga sebab: keluar dari Islam atau keluar dari Al Jama’ah, orang tua yang berzina dan membunuh” (HR. Muslim no.1676).
.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
.
من مات مفارقا للجماعة فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه
.
“Barangsiapa yang mati dalam keada’an memisahkan diri dari Al-Jama’ah, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya”. (HR Bukhari dalam Tarikh Al Kabir 1/325).
.
.
——————-

TINGGALKAN PERKATA’AN SIAPAPUN YANG MENYELISIHI ALLAH DAN RASULULNYA

TINGGALKAN PERKATA’AN SIAPAPUN YANG MENYELISIHI ALLAH DAN RASULULNYA

Adanya perselisihan ditengah-tengah umat Islam yang seolah-olah tidak ada ujungnya, seakan umat Islam tidak punya pedoman untuk menyatukan mereka.

Diantara penyebab perselisihan tersebut adalah tidak dikembalikannya setiap perselisihan yang ada kepada Allah dan Rasulnya, sebagian dari umat Islam lebih suka mengembalikannya kepada tokoh-tokohnya, pendapat ustad atau habibnya, atau madzhabnya.

Shalafus Shalih adalah umat yang paling utama, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi.

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

خَيْرَ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku (para Sahabat). Kemudian orang-orang yang setelah mereka (tabi’in), lalu orang-orang yang setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada mereka (Shalafus shaalih).

Dalam hal ini para Shalafus Shaalih sudah memperingatkan umat supaya meninggalkan perkata’an siapapun manakala perkata’an atau pendapatnya itu bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini perkata’an para Shalafus Shaalih:

– Abdullah ibnu Abbas berkata : “Tidak ada seorang pun boleh diambil perkata’an nya atau di tolak, kecuali perkata’an Rasulullah Sallallohu ‘alaihi wasallam (Rowahu Thobroni). Dan juga berkata : “Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit , ketika aku mengatakan Rasulullah berkata . . , engkau mengatakan Abu Bakar berkata . . , atau Umar berkata . . .

– Imam Abu Hanifah berkata : “Apabila saya mengucapkan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, maka tinggalkanlah perkata’anku .

– Imam Malik bin Annas berkata : “Saya ini hanya seorang manusia, bisa salah dan bisa benar, maka telitilah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka ambillah pendapatku tersebut, dan setiap pendapatku yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka tinggalkanlah pendapatku tersebut”. Beliau juga berkata : “Tidak ada seorangpun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali pendapatnya bisa diambil atau juga bisa ditolak.

– Imam Ahmad berkata ;

لَيْسَ أَحَدَ إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ رَايَةَ وَيُتْرَكُ ؛ مَا خَلَا النَّبِيَّ

“Pendapat seseorang bisa diambil atau ditinggalkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Dan berikut ini beberapa perkata’an Imam As Syafi’i, yang melarang umat, mengikuti pendapat orang lain, padahal sudah jelas ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Imam As Syafi’i berkata ;

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ وَدَعُوا مَا قُلْتُ – وفي رواية – فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku. Dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang”. (Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab, 1: 63).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

“Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku”. (Tarikh Dimasyq, 51: 389).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ مَا قُلْتُ فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُونِي

“Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku”. (Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, 2: 9: 15).

– Imam As Syafi’i berkata ;

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

“Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku”. (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

– Imam As Syafi’i berkata ;

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok”. (Siyar A’laamin Nubala’, 3: 3284-3285).

– Imam As Syafi’i berkata ;

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun”. (I’lamul Muwaqi’in, 2: 282).

Juga ada riwayat tentang Imam Syafi’i yang sangat marah ketika ada seseorang yang mendapatkan hadits dari Rasulullah tapi masih mencari pendapat orang lain.

Berikut riwayatnya, Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu ?”, maka gemetar dan marahlah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”. (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

Setelah kita mendapatkan keterangan dari para Shalafus Shaalih supaya mengembalikan kepada Rasulnya ketika ada perselisihan. Maka ketika ada pendapat atau perkata’an yang menyelisihi Rasulnya, SIAPA YANG MAU DI IKUTI ?

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

Silahkan bagi yang hendak membagikan semua tulisan yang ada di blog ini tanpa perlu izin, dengan syarat di sertakan linknya.

====================

PENYESALAN SEORANG MUQOLLID

PENYESALAN SEORANG MUQOLLID

Sungguh malang orang-orang yang memuja manusia, mereka menjadikan seorang manusia seolah-olah malaikat bahkan tuhan, tidak boleh dikritisi apalagi dibantah, segala yang dikatakannya seolah-olah wahyu yang turun dari langit, selalu dibenarkan dan diikuti. Padahal tidak ada seorang manusiapun yang ma’sum, siapa dan sehebat apapun seorang manusia tetaplah manusia, bisa salah dan keliru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. (Shahih Jami’us Shaghir 4391).

Dari hadits diatas maka kita mendapatkan penjelasan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang akan luput dari salah, apakah perkata’an atau perbuatannya. Maka tidak selayaknya kita taqlid kepada siapapun.

– Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata :

“Jangan sekali-kali kalian taklid (Masalah agama) kepada seseorang. (I’lamulMuwaqi’in juz 2 halaman 194).

– Imam Syafi’i berkata ;

ولا تقلد دينك فأنه لن يسلم عن يغلط

“Jangan taqlid dalam urusan agama kalian, karena siapapun yang kalian taqlidi, belum tentu selamat dari salah dan keliru”.

• Pengertian taqlid

Taqlid adalah mengikuti perkata’an orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 314].

Seorang Muslim yang sebenarnya, bukanlah seorang yang selalu mengikuti perkata’an siapapun dan apapun yang dilakukannya tanpa peduli apakah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya.

Ketika seorang yang dipandang alim, fakih, luas ilmunya, kemudian ditokohkan dan dipuja, padahal sesungguhnya dia penyesat umat. Sungguh di akhirat dia tidak bisa menolong orang yang mengikutinya. Bahkan dia sendiri tidak akan mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah Ta’ala yang harus ditanggungnya.

Maka tinggallah seorang muqallid (tukang ikut-ikutan) meratapi dan menyesali dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا *

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). ‘Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar’.” (Al-Ahzab 66-68).

Ayat diatas bukan saja ditujukan kepada orang-orang kafir, tetapi juga kepada siapa saja yang memiliki sifat seperti orang kafir yang disebutkan di ayat tersebut.

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ayat ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ‘Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (yakni menyesali perbuatannya), seraya berkata : ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (QS. Al-Furqan : 27-29). Yang dimaksud dengan ‘si fulan’ dalam ayat ini adalah syaitan atau para pemimpin mereka yang telah menyesatkan mereka. Yakni mereka akan berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami lebih memilih untuk mentaati para pemimpin dan pembesar kami dalam kesesatan ketimbang memilih untuk mentaati para Rasul-Mu dalam jalan hidayah dan keselamatan’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).

Sungguh penyesalan yang tidak berguna. Tangisan dan ratapan seorang muqollid tidak akan mengurangi adzab yang harus ditanggungnya.

Wal Iyadzu billah

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=======

LARANGAN BERPECAH-BELAH

LARANGAN BERPECAH-BELAH

Sungguh memprihatinkan melihat kondisi umat Islam yang bercerai-berai akibat perselisihan yang bahkan sampai berujung saling bermusuhan. Seolah-olah mereka tidak punya pedoman yang biasa menyatukan mereka. Masing-masing pihak membanggakan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain.

Perpecahan diantara umat Islam sudah disebutkan oleh Rasulullah, sebagaimana sabdanya :

وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

”. . Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqoh semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah ”. (Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain).

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيْلُ اللهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ ثُمَّ تَلاَ ] وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ [

“Pada suatu hari Rasulullah menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”. (QS. Al ‘An’am : 6/153).

• Allah ta’ala melarang bercerai berai

Perpecahan diantara sesama umat Islam tentu saja merugikan dan melemahkan kekuatan umat Islam. Perpecahan diantara umat Islam dilarang Allah ta’ala sebagaimana firmannya :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

”BID’AH MENGAKIBATKAN PERPECAHAN”

Ummat Islam berpecah-belah dan menimbulkan perselisihan ditengah-tengah kaum muslimin karena perbuatan bid’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat di atas berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Oleh sebab itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah mengungkapkan kalimat yang indah, Beliau berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

PERPECAHAN UMAT DAN SOLUSI UNTUK MENYATUKANNYA

• Perpecahan sebagai ujian

Syaikh Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullahu menjelaskan hikmah terjadinya perpecahan dan perselisihan tersebut.

Beliau berkata : “Perpecahan dan perselisihan merupakan hikmah dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala guna menguji hamba-hambaNya hingga nampaklah siapa yang mencari kebenaran dan siapa yang lebih mementingkan hawa nafsu dan sikap fanatisme. (Kitab Lumhatun ‘Anil Firaq cet. Darus Salaf hal. 23-24).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Hud, 10 : 118-119).

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى ٱلْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. Al-‘An’ am, 6 : 35).

MUNGKINKAH UMAT ISLAM BERSATU ?

Setiap kaum muslimin dimanapun di seluruh dunia pasti mengharapkan persatuan diantara umat Islam bukan perpecahan yang berujung permusuhan.

Tapi kenyata’an menunjukkan, sepertinya harapan persatuan diantara umat Islam adalah suatu yang tidak mungkin. Melihat fakta banyaknya faham aliran dan golongan yang berbeda faham satu sama lain. Dan diantara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya saling berselisih berujung permusuhan.

Padahal Allah Ta’ala melarang umat Islam bercerai-berai

Allah Ta’ala berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Q.S. Ali Imron: 103).

Dalam ayat di atas, Allah melarang kita untuk bercerai berai. Namun dalam ayat itu sebelumnya Allah memerintah kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah terlebih dahulu.

Mengapa demikian ?

Karena hanya Allah-lah, yang mampu mempersatukan kita.

Oleh karena itu, jalan menuju persatuan bisa terwujud hanya dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Allah Ta’ala akan menimbulkan permusuhan sebagaimana firman-Nya :

وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة

“Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat”. (Q.S. Maidah: 64).

• Bersatu dengan tali Allah

Allah Ta’ala berfirman :

واعتصموا بحبل الله

“Berpeganglah kalian semua pada tali Allah . .” (Q.S. Ali Imron: 103).

Apa yang dimaksud dengan tali Allah ?

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah Al-Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi”. (Sunan Tirmidzi, 3788).

Semua umat Islam mengimani bahwa Al-Qur’an adalah pedoman dalam segala urusan. Namun ternyata tidak semua umat Islam memaknai dan memahami Al-Qur’an dengan benar, banyak umat Islam yang memaknai dan memahami Al-Qur’an menurut hawa nafsunya sesuai dengan kepentingannya. Maka akibatnya timbul perselisihan diantara umat.

• Fahami Al-Qur’an dengan pemahaman para Sahabat

Perselisihan terjadi ketika memahami Islam bukan dengan pemahaman para Sahabat.

Dalam sebuah kisah disebutkan. Pada satu hari, Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menyendiri. Dia berkata dalam hatinya, mengapakah umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu ? Lalu ia memanggil Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu. Umar bertanya kepadanya : “Mengapa umat ini saling berselisih, sementara Nabi mereka satu. Kiblat mereka juga satu dan Kitab suci mereka juga satu ?” Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur’an itu diturunkan kepada kita. Kita membacanya dan mengetahui maksudnya. Lalu datanglah sejumlah kaum yang membaca Al Qur’an, namun mereka tidak mengerti maksudnya. Maka setiap kaum punya pendapat masing-masing. Jika demikian realitanya, maka wajarlah mereka saling berselisih. Dan jika telah saling berselisih, mereka akan saling menumpahkan darah.” [kitab Al I’tisham, karya Asy Syathibi, (II/691)].

Al-Qur’an turun di masa Nabi ketika beliau hidup di tengah-tengah para shahabatnya yang mulia. Oleh karena itu, para shahabatlah yang paling mengerti makna Al-Qur’an, karena merekalah yang mendengar langsung bimbingan Nabi ­shallallahu ‘alaihi wa sallam.

• Bersatu dalam jama’ah

Apa itu jama’ah ?

Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك

“Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri”.

Berkata Abu Syamah : “Dan apabila datang perintah untuk komitmen terhadap Al-Jama’ah, maka yang diinginkan adalah komitmen terhadap kebenaran dan pengikut kebenaran tersebut walaupun yang komitmen terhadapnya sedikit dan yang menyelisihinya banyak orang. Karena kebenaran adalah apa-apa yang jama’ah pertama dan para sahabatnya berada di atasnya dan tidaklah dilihat kepada banyaknya ahlul bathil setelah mereka”. (Al-Ba’its hal. 22).

Barokallahu fiikum

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________

FENOMENA GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN) DALAM AGAMA

FENOMENA GHULUW (BERLEBIH-LEBIHAN) DALAM AGAMA

Sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan mendatang-kan kebaikan bagi pelakunya, juga tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam segala urusan, terlebih lagi dalam urusan agama.

Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’ân dan Sunnah yang memperingatkan dan mengharamkan ghuluw atau sikap melampaui batas tersebut.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77].

Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendara’an, beliau berkata kepadaku : “Ambillah beberapa buah batu untukku !” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata :

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Lemparlah dengan batu seperti ini !” kemudian beliau melanjutkan : “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama”. [1]

Ghuluw dalam agama adalah sikap dan perbuatan berlebih-lebihan melampaui apa yang dikehendaki oleh syariat, baik berupa keyakinan maupun perbuatan. [2]

• BEBERAPA ISTILAH GULUW (BERLEBIH-LEBIHAN DALAM AGAMA)

Ada beberapa ungkapan lain yang digunakan oleh syariat selain ghuluw ini, di antaranya :

1. Tanaththu’ (ekstrem)

‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda :

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ

“Celakalah orang-orang yang ekstrim!” Beliau mengucapkannya tiga kali”. [3]

2. Tasyaddud (memberatkan diri)

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ

“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka”. [4]

Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal)”. [5]

3. I’tidâ’ (melampaui syariat)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. [al-Baqarah/2:190].

Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla telah berfirman :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya”. [al-Baqarah/2:187].

4. Takalluf (memaksakan diri)

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (hai Muhammad) : “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”. [Shâd/38:86].

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami dilarang bersikap takalluf (memaksa-maksa diri)”. [6]

• SEBAB MUNCULNYA SIKAP GHULUW

Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, di antaranya :

1. Kebodohan dalam agama

Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw ini.

2. Taqlîd (ikut-ikutan)

Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan, termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berpangkal dari sebab ini.

3. Mengikuti hawa nafsu

Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasa’an. Sementara akal dan perasa’an tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.

4. Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu

Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

• BENTUK-BENTUK GHULUW

Secara garis besar, ghuluw ada tiga macam :

1. Dalam keyakinan
2. Dalam perkata’an
3. Dalam amal perbuatan

Ghuluw dalam bentuk keyakinan misalnya sikap berlebih-lebihan terhadap para malaikat, Nabi dan orang-orang shalih dengan meyakini mereka sebagai tuhan. Atau meyakini para wali dan orang-orang shalih sebagai orang-orang yang ma’shûm (bersih dari dosa). Contohnya adalah keyakinan orang-orang Syi’ah Rafidhah terhadap ahli bait dan keyakinan orang-orang sufi terhadap orang-orang yang mereka anggap wali.

Ghuluw dalam bentuk ucapan misalnya, puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap seseorang, do’a-do’a dan dzikir-dzikir bid’ah, misalnya puji-pujian kaum sufi terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan wali-wali mereka, demikian pula dzikir-dzikir mereka yang keluar dari ketentuan syariat. Contoh lainnya adalah menambah-nambahi do’a dan dzikir, misalnya menambah kata sayyidina dalam salawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ghuluw dalam bentuk amal perbuatan misalnya mengikuti was-was dalam bersuci atau ketika hendak bertakbîratulihrâm, sehingga kita dapati seseorang berulang-ulang berwudhu’ karena mengikuti waswas. Demikian seseorang yang berulang-ulang bertakbîratul ihrâm karena anggapan belum sesuai dengan niatnya.

Sebenarnya, ada satu jenis ghuluw lagi yang perlu diwaspadai yaitu ghuluw dalam semangat. Jenis ini biasanya merasuki para pemuda yang memiliki semangat keagama’an yang berlebih-lebihan akan tetapi dangkal pemahaman agamanya. Sehingga mereka jatuh dalam sikap sembrono dalam menjatuhkan vonis kafir, fasiq dan bid’ah.

• VIRUS GHULUW

Virus ghuluw ini biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ghuluw dalam agama akan berbicara tentang Allah Azza wa Jalla tanpa haq, tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Sikap ghuluw inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan.

Islam telah menentang semua perkara yang mengarah kepada sikap ghuluw.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Agama Allah Azza wa Jalla adalah agama pertengahan, antara sikap ekstrim (berlebih-lebihan) dan sikap moderat (terlalu longgar)”.

Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkata’an Ibnul Munîr sebagai berikut : “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita semua sama-sama menyaksikan bahwa setiap orang yang melewati batas dalam agama pasti akan terputus. Maksudnya bukanlah tidak boleh mengejar ibadah yang lebih sempurna, sebab hal itu termasuk perkara yang terpuji. Perkara yang dilarang di sini adalah berlebih-lebihan yang membuat jemu atau melewati batas dalam mengerjakan amalan sunah hingga berakibat terbengkalainya perkara yang lebih afdhal. Atau mengulur kewajiban hingga keluar waktu. Misalnya orang yang shalat tahajjud semalam suntuk lalu tertidur sampai akhir malam, sehingga terluput shalat Subuh berjama’ah, atau sampai keluar dari waktu yang afdhal atau sampai terbit matahari sehingga keluar dari batasan waktunya”.

Dalam hadits Mihzan bin al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan :

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ

”Kalian tidak akan dapat melaksanakan agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah”.

Pernah ada tiga orang yang ingin mengetahui aktifitas ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah. Mereka tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah beliau itu hanya sedikit. Mereka berkata : “Dimanakah kedudukan kami dibanding dengan Nabi !? Padahal telah diampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang”. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan shalat malam terus menerus tidak akan tidur”. Yang lain berkata : “Aku akan puasa terus menerus tanpa berbuka”. Dan yang lain berkata : “Aku tidak akan menikah selama-lamanya”.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya mengatakan :

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita! Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku”. [7]

Dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُوْنَ عَنْ الشَّيءِ أَصْنَعُهُ فَوَاللهِ إِنِّي لأَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

“Bagaimana halnya kaum-kaum yang menjauhkan diri dari sesuatu yang kulakukan ? Demi Allah Azza wa Jalla, aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah Azza wa Jalla dan yang paling takut kepada-Nya”. [8]

Dalam menjelaskan hadits ini ad-Dawudi berkata : “Menjauhkan diri (dengan anggapan hal itu lebih baik-pent) dari dispensasi yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dosa besar. Sebab ia memandang dirinya lebih bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla daripada rasul-Nya. Ini jelas sebuah penyimpangan.” Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan, “Tidak diragukan lagi kesesatan orang yang meyakini demikian (meyakini bahwa hal itu lebih baik)”. [9]

• MENJAUHI GHULUW BUKAN BERARTI TAQSHIR (MELONGGAR-LONGARKAN)

Akan tetapi perlu juga di waspadai, bahwa dalam menjauhi sikap ghuluw ini, kita juga jangan sampai terjebak ke dalam sikap taqshîr (melalai-lalaikan dan melonggar-longgarkan diri).

Ini merupakan tipu daya setan yang luar biasa. Setan selalu mencari titik lemah seorang insan. Apabila titik lemahnya pada sikap ghuluw maka setanpun masuk melalui pintu ghuluw dan apabila titik lemahnya pada sikap taqshîr maka setanpun masuk melalui pintu taqshîr.

Memang, mempertahankan diri di tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap taqshîr merupaka suatu perkara yang sulit. Kesuksesan, kebahagiaan dan keberhasilan dalam urusan akhirat maupun dunia tergantung dengan cara kita menempatkan segala sesuatu secara proporsional menurut pandangan syariat yang hanîf dan fitrah ini. Karena setiap ketidakseimbangan akan menyebabkan ketimpangan dan keberatan yang akan menghalangi tercapainya tujuan.

Dalam hal ini setan akan melihat dari pintu manakah ia mungkin masuk. Jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah potensi rendah diri dan gampang menyerah, maka setanpun menanamkan rasa malas dalam dirinya, mengendorkan semangatnya, menggambarkan berat amal-amal keta’atan dan mendorongnya untuk mudah mengabaikan kewajiban, sampai akhirnya ia meninggalkan kewajiban itu sama sekali.

Namun jika setan melihat bahwa yang lebih dominan pada diri seseorang adalah semangatnya yang menggebu-gebu, mulailah setan menanamkan anggapan bahwa apa yang diperintahkan itu baru sedikit dan belum cukup untuk mengimbangi semangatnya, sehingga ia serasa membutuhkan sesuatu yang baru sebagai tambahannya. [10]

• JANGAN SALAH MENILAI GHULUW

Sebagaimana halnya kita tidak boleh terjebak dalam sikap taqshîr karena menghindari ghuluw, demikian pula kita jangan salah menilai ‘ghuluw’.

Sebagian orang menilai keteguhan memegang syariat dan istiqamah di atasnya merupakan sikap ghuluw. Sebagai dampaknya, mereka menganggap pengamalan sebagian sunnah Nabi sebagai sikap ghuluw. Ini jelas salah besar.

Memang kita membenci sikap ghuluw, namun hendaknya kita jangan salah menilai.

Sebagian orang beranggapan memelihara jenggot, memakai cadar, mengenakan pakaian sampai setengah betis, memakai gamis bahkan shalat lima waktu berjama’ah di masjid pun dianggap ghuluw.

Ini tentu penilaian yang salah. Sebab, seluruh perkara-perkara tersebut adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan bahkan ada yang wajib. Penilaian yang salah ini bisa berakibat fatal, yaitu perkara-perkara sunnah dianggap sebagai perkara bid’ah, dan sebaliknya perkara bid’ah dianggap sunnah.

Hakikat ghuluw adalah sesuatu yang melangkahi ketentuan syariat. Penilaian tersebut didasari atas kebodohan dalam memahami apa itu ghuluw dan juga kejahilan terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita tidak boleh menilai sesuatu tanpa ilmu. Dan berbicara tentang agama Allah Azza wa Jalla tanpa ilmu merupakan salah satu langkah setan, bahkan tergolong dosa besar.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah : “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”[al-A’râf/7: 33].

Apalagi terkadang tuduhan ghuluw terhadap perkara-perkara sunnah ini mengandung ejekan dan olokan terhadap para pengamalnya. Ini jelas kesalahan di atas kesalahan. Takutlah kepada Allah Azza wa Jalla pada hari seluruh kesalahan akan ditampakkan.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. [al-Hujurat/49:11].

• CARA MENGHINDARI GHULUW

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menghindari sifat ghuluw dalam agama, diantaranya :

1. Menuntut ilmu syar’i

Ilmu adalah lentera yang menerangi langkah kita di dunia dan menjadi asset yang amat bernilai di akhirat. Apabila lentera ini padam, maka setan akan leluasa menyesatkan anak Adam. Maka dari itu janganlah absen dari majelis-majelis ilmu. Banyak sekali faidah yang dapat kita petik dari majelis ilmu. Di antaranya adalah kita dapat bertatap muka secara langsung dengan ahli ilmu.

2. Jangan malu dan segan bertanya kepada ahli ilmu (Ulama)

Malu bertanya sesat di jalan, begitulah kata pepatah. Terlebih lagi dalam urusan agama. Janganlah kita malu bertanya kepada ulama dalam perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, baik dalam perkara aqidah, ibadah, mu’amalah dan lainnya. Terlebih lagi perkara yang berkaitan dengan perincian dalam agama, misalnya prosedur pelaksanaan sebuah ibadah, perincian dalam hal aqidah dan lain sebagainya.

KESIMPULAN :

Kita harus menjauhi segala macam bentuk ghuluw dalam agama, baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang diatas-namakan agama. Dan hendaknya kita juga harus waspada jangan sampai tergelincir dalam sikap taqshîr. Di samping itu, janganlah sembrono dan serampangan dalam menilai ‘ghuluw’ tanpa ilmu.

Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

______________

KISAH MUBAHALAH SYAIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANI RAHIMAHULLAH

KISAH MUBAHALAH SYAIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANI RAHIMAHULLAH

Syaikh Islam Ibnu Hajar adalah pribadi yang lemah lembut dalam berdakwa, akan tetapi sering dia marah ketika melihat kesesatan nampak di depan matanya.

As-Sakhawi dalam kitab Al- Jawahir wa Ad-Durar, “Biografi Syaikh Islam Ibnu Hajar” (I/1001), juga berkata, “Berkali-kali aku pernah mendengar Ibnu Hajar terlibat perdebatan serius dengan salah seorang pengagum Ibnu Arabi (tokoh sufi) tentang diri Ibnu. Tentu saja pengagum Ibnu Arabi tadi tidak bisa terima. Ia mengancam akan melaporkan Ibnu Hajar dan kawan-kawannya kepada sang sultan. Tetapi, ancaman itu ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan tenang. Ia mengatakan, ‘Jangan bawa-bawa sang sultan ikut campur dalam masalah ini. Mari kita mengadakan mubahalah saja’.

Jarang sekali dua orang yang mengadakan mubahalah, lalu pihak yang berdusta akan selamat dari musibah. Tantangan Ibnu Hajar ini disetujui oleh pengagum Ibnu Arabi tersebut.

Lalu, Ia mengatakan, ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kesesatan, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Lalu, Ibnu Hajar mengatakan, ‘Ya Allah, jika Ibnu Arabi dalam kebenaran, laknatilah aku dengan laknat-Mu’.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 97 Hijriyah. Sedangkan peristiwa mubahalah terjadi pada bulan Ramadhan tahun yang sama. Ketika berlangsung mubahalah, Ibnu Hajar tahu bahwa siapa yang bersalah akan mendapat celaka kurang dari waktu setahun.”

Tidak sampai setahun orang yang bermubahalah tersebut buta dan paginya meninggal dunia.

Sumber: Kisah Karomah Para Wali, Abul Fida’ Abdurraqib al-Ibi, Penerbit Darul Falah

___

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH

Berdusta atau menyebarkan kedusta’an atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adalah haram dan sebesar besar dosa besar dan seburuk-buruk perbuatan. Yang ancaman dan adzabnya sangat berat dan mengerikan.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab beliau Al Kabair (mengenai dosa-dosa besar) berkata, “Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak ragu lagi bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia melakukan kekufuran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ

“Siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadits yang ia menduga bahwa itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari dua pendusta (karena meriwayatkannya).” (HR. Muslim).

Setelah membawakan hadits-hadits di atas, Imam Adz Dzahabi berkata, “Dengan ini menjadi jelas dan teranglah bahwa meriwayatkan hadits maudhu’ dari perowi pendusta (hadits palsu) tidaklah dibolehkan.” (Lihat kitab Al Kabair karya Imam Adz Dzahabi, terbitan Maktabah Darul Bayan, cetakan kelima, tahun 1418 H, hal. 28-29).

Hadist palsu menyebabkan banyak bermunculan amalan-amalan yang bukan datang dari Allah dan Rasulnya beredar ditengah-tengah umat Islam. timbulnya ajaran syirik, khurafat, bid’ah, dsb.

• Diantara golongan pemalsu hadist :

1. Kaum Zindiq Yakni mereka yang berpura-pura Islam tetapi sesungguhnya mereka adalah kafir dan munafiq. Mereka sangat hasad dan benci terhadap Islam dan bertujuan merusak Agama ini dari dalamnya

2. Kaum pengikut hawa nafsu. Mereka mengajak manusia mengikutinya ke dalam : Ta’ashub, madzhabiyah, firqahnya, qabilahnya, imamnya dll.

3. Kaum yang bertujuan baik menurut persangkaan mereka. Mereka buat hadits-hadits palsu tentang nasehat-nasehat dan lain-lain.

4. Al Qashshaas (Tukang cerita) Mereka memalsukan hadits dan memasukkannya kedalam cerita-cerita yang mereka buat.

5. Kaum penjilat penguasa yang mengharapkan kedudukan.

Wallahu a’lam

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

___

ULAMA SU’

ULAMA SU’

Ulama su’ (jahat/buruk) sebagaimana layaknya Ulama nampak alim tutur katanya memikat.

Ulama su’ (jahat/buruk) bisa dikatakan sebagai manusia berbulu domba namun berhati srigala.

Diantara sifat ulama su’ (jahat/buruk) adalah menjadikan agama sebagai sarana untuk mencari keuntungan dunia.

Harta, popularitas, kedudukan, kehormatan sebagai tujuannya.

Ulama su’ (jahat/buruk) tampil sebagaimana layaknya seorang ulama, fasih dan pandai berdalil yang mampu menyihir orang awam.

Dengan kemahirannya berbicara masalah agama, orang awam kagum terpesona, pujian dari manusia mengalir, menjadikan jadwal undangan ceramahnya padat, dan pundi-pundinya pun semakin melimpah.

Nasihat Al Imam Ibnul Mubarok rohimahulloh kepada Ibnu Ulayyah rohimahulloh :

يا جاعل العلم له بازيا

يصطاد أموال المساكين احتلت للدنيا ولذاتها

بحيلة تذهب بالدين فصرت مجنونا بها بعدما

كنت دواء للمجانين أين رواياتك فيما مضى

عن ابن عون وابن سيرين ودرسك العلم بآثاره

في ترك أبواب السلاطين تقول: أكرهت، فماذا كذا

زل حمار العلم في الطين لا تبع الدين بالدنيا كما

يفعل ضلال الرهابين

“Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai barang dagangan

Untuk menjaring harta orang-orang miskin, diambil demi dunia dan kesenangannya.

Dengan tipu daya engkau menghilangkan agama,

Lalu engkau menjadi orang yang gila setelah dulunya engkau adalah obat bagi orang-orang gila.

Dimanakah riwayat-riwayatmu yang lampau dari Ibnu ‘Aun dan Ibnu Sirin.

Dan manakah ilmu yang kamu pelajari dengan atsar-atsarnya yang berisi anjuran untuk meninggalkan pintu-pintu penguasa ? Kamu berkata: “Aku terpaksa.” Lalu apa ?

Demikianlah keledai ilmu tergelincir di tanah liat yang basah.

Janganlah kamu jual agama dengan dunia sebagaimana perbuatan para rahib yang sesat.”

(“Siyar A’lamin Nubala”/9/110).

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_________________

ALLAH MENOLAK IBADAH PELAKU BID’AH

ALLAH MENOLAK IBADAH PELAKU BID’AH

Sungguh kerugian teramat besar bagi para pelaku bid’ah dari ibadah-ibadah yang mereka lakukannya. Sebagai manusia berakal tentu kita berharap semua aktifitas ibadah yang kita persembahkan mendapatkan ridho dan limpahan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Setiap ibadah yang kita lakukan tidak terlepas dari pengorbanan, baik waktu tenaga bahkan juga biaya. Oleh karenanya sangat rugi apabila ibadah yang kita lakukan malah sia-sia terlebih lagi mendatangkan murka-Nya.

Sungguh sangat rugi bagi para pelaku bid’ah karena ibadah yang mereka persembahkan dengan segala pengorbanannya malah tertolak.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين

“Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

“Allah tidak akan menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”.

• Menanggung dosa orang yang mengikutinya

Para pelaku bid’ah, selain mengalami kerugian bagi dirinya juga mereka harus pula menanggung dosa dari orang-orang yang mengikutinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

”. . Barangsiapa melakukan suatu amalan buruk lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017).

Begitulah kesudahan para pelaku bid’ah bukan saja amal ibadahnya ditolak tapi juga harus menanggung dosa akibat bid’ah yang dilakukannya, bahkan juga dosa dari orang-orang yang mengikutinya.

Lalu bagaimana kalau yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang ?

Berapa banyak dan besar dosa yang harus dia tanggung ?

Semoga kita selalu diatas petunjuk Allah ta’ala dan Rasulnya sehingga tidak sia-sia amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

– Peringatan dari Rasulullah untuk menjauhi bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-peringatan-rasulullah-terhadap-bidah/

– Memahami bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

– Adakah bid’ah hasanah ? : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-apakah-para-sahabat-tidak-tahu-ada-bidah-hasanah/

– Akibat buruk dari bid’ah : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-akibat-buruk-berbuat-bidah/

=============================