ISLAM SUDAH SEMPURNA

.
ISLAM SUDAH SEMPURNA
.
Sungguh telah sempurna syari’at Islam sehingga tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan baik yang menyangkut halal atau haram, segalanya sudah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya
.
Kesempurna’an syari’at Islam Allah Ta’ala sebutkan dalam Firman-Nya,
.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu”. (Al-Maidah: 3).
.
Imam Asbath mengatakan, “Ayat ini turun pada hari arafah, dan setelah itu tidak ada lagi ayat yang turun, yang menyangkut halal dan haram. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dan setelah itu beliau wafat”.
.
Kesempurna’an Islam disebutkan juga oleh Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam dalam sabdanya,
.
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنْ الْجَنَّة وَيُبَاعِدُ مِنْ النَّار إِلَّا وَقْدٌ بَيْنَ لَكُمْ
.
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah dijelaskan semuanya kepada kalian”. (Hr. Thobroni dalam Al Mu’jamul Kabir, 1647).
.
Yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya di atas adalah, sesungguhnya syari’at Islam sudah mencukupi. Sehingga tidak dibenarkan apabila ada umatnya yang ingin mendapatkan jalan menuju surga-Nya Allah Ta’ala membuat-buat lagi cara-cara baru dalam agama. Karena syari’at Islam sudah sempurna.
.
Oleh karena itu barang siapa mencari jalan ke surga dengan menempuh cara-cara yang tidak di ajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia menempuh jalan yang menyimpang dan sesat.
.
Hadits lain yang menerangkan tentang telah sempurnanya Islam dijelaskan juga oleh Rasulullah dalam sabdanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab sunannya, dari Muththalib bin Hanthab, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak aku tinggalkan sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah perintahkan kepada kamu, melainkan sesungguhnya aku perintahkan kepada kamu. Dan tidak aku tinggalkan kepada kamu sesuatu/sedikitpun juga apa-apa yang Allah telah larang/cegah kamu (mengerjakannya), melainkan sesungguhnya telah aku larang kamu dari mengerjakannya”.
.
Perhatikan baik-baik sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, tidak ada satu pun perintah dan larangan Allah Ta’ala kecuali semuanya telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Sehingga tidak di benarkan mengada-adakan kembali cara-cara baru dalam ibadah walaupun tujuannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan meraih ridho dan pahala sebanyak-banyaknya.
.
Kesempurna’an Islam selain dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, juga diterangkan oleh para Sahabat.
.
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا
.
”Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada burung yang terbang kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan tentang ilmunya”. (Musnad Ahmad, 20467).
.
Maksud perkata’an Abu Dzar radlyallahu ’anhu ialah, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatunya yang berhubungan dengan Islam, baik dalam bab keimanan, ibadah, muamalat, adab dan akhlak, kabar-kabar, perintah-perintah dan larangan dan segalanya. Hal yang paling kecilpun telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya, sebagaimana hadits dibawah ini,
.
Dari Salman al-Farisi dia berkata,
.
قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ
.
”Kaum musyrikin berkata kepada kami, ‘Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kepada kalian hingga masalah adab beristinja’, maka dia berkata, ‘Ya. Beliau melarang kami dari beristinja’ dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang dari beristinja’ dengan kotoran hewan dan tulang.’ Beliau bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja’ kurang dari tiga batu”. (Shahih Muslim, 386).
.
Hadits diatas sebagai jawaban para sahabat kepada kaum musyrikin, juga menegaskan kepada kita, Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatunya tentang Islam, baik menyangkut aqidah, ibadah, muamalah, adab-adab dan akhlak dan seterusnya bahkan adab buang air sekalipun.
.
✺ Syari’at Islam tidak memerlukan lagi tambahan
.
Kesempurna Islam sebagaimana disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an juga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga oleh para Sahabat Nabi. Maka dengan kesempurna’annya tersebut tidaklah diperlukan lagi adanya penambahan-penambahan atau mengada-adakan hal-hal yang baru berdasarkan hawa nafsu dan pemikiran yang menganggap apa saja yang baik itu boleh saja dilakukan dalam agama meskipun tidak pernah diperintahkan dilakukan atau pernah disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Maka pabila ada orang-orang yang memandang perlu memberikan penambahan atau mengada-adakan lagi hal-hal yang baru diluar syari’at yang telah ada, maka berarti mereka menganggap Islam tersebut belum sempurna.
.
Dan lebih buruk lagi mereka yang menambahkan atau mengada-adakan hal-hal baru yang sudah disyari’atkan Allah dan Rasulul-Nya, maka secara tidak sadar dia telah menjadikan dirinya sebagai pihak yang berhak membuat syari’at. Padahal yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah subhananu wa Ta’ala penguasa alam semesta dan Rasulullah shalallahu’ alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.
.
LALU MEREKA YANG TELAH LANCANG MEMBUAT-BUAT KEBID’AHAN, YAITU MEREKA YANG TELAH BERANI MEMBUAT-BUAT ATAU MENGADA-ADAKAN CARA-CARA BARU DALAM SYARI’AT ISLAM, MAKA PERLU DIPERTANYAKAN, SIAPA DIRINYA ?
.
Islam telah sempurna tidak memerlukan tambahan-tambahan dan cara-cara baru menyangkut urusan agama meskipun sekecil apapun dan alasan apapun dari tambahan-tambahan tersebut meskipun dianggap baik adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sebaliknya sangat dicintai oleh iblis dan para pengekornya.
.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
.
إِنَّ أَبْغَضَ الْأُمُورِ إِلَى اللَّهِ الْبِدَعُ
.
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah”.
.
Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata,
.
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنْ الْمَعْصِيَةِ، الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَ الْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا
.
“Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis daripada kemaksiatan, sebab kemaksiatan itu (pelakunya) akan (mudah) bertaubat daripadanya sedangkan pelaku bid’ah itu sulit sekali untuk bertaubat dari bid’ahnya”.
.
Mereka yang telah menambah-nambah atau membuat-buat perkara baru dalam urusan agama, pelakunya secara sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung telah menuduh Rasulullah shalallahu ’alahi wa sallam telah berhianat dan menyembunyikan risalah Islam. Inilah yang pernah diperingatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah ta’ala di dalam salah satu perkata’annya yang sangat terkenal sekali yaitu, “Barang siapa yang membuat bid’ah di dalam islam, yang dia mengangapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), maka sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Muhammad shallahu ’alahi wa sallam telah berhianat di dalam (menyampaikan) risalah. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu”. Maka apa-apa yang tidak menjadi (bagian dari) agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi (bagian dari) agama pada hari ini”. (Al-I’tisham, juz 1 hal.49).
.
Alangkah bagus dan indahnya perkata’an Imam Malik diatas dan ini merupakan kaidah besar yang sangat agung sekali di dalam agama Allah, bahwa “Apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, yakni ketika turunnya ayat diatas, maka tidak akan menjadi agama pada hari ini, Yakni, apa-apa yang bukan ajaran islam pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi ajaran islam pada hari ini”.
.
با رك الله فيكم
.
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
____________

HAKEKAT ORANG BERILMU BUKAN YANG BANYAK KITABNYA

HAKEKAT ORANG BERILMU BUKAN YANG BANYAK KITABNYA

Seringkali para pembela bid’ah membanggakan diri, merasa paling berilmu, banyak kitabnya dan merendahkan pihak yang tidak disukainya sebagai pihak yang tidak punya ilmu, tidak bisa baca kitab dan lainnya. Sungguh bentuk kesombongan yang tidak sepantasnya menghinggapi setiap pribadi Muslim.

Apakah dengan banyaknya kitab yang di miliki dan dibaca menjadi jaminan manusia berdiri diatas al-haq.

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata : “Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu sesungguhnya ilmu bukanlah diraih semata-mata dengan memperbanyak riwayat dan kitab. Sesungguhnya orang yang berilmu (yang hakiki) adalah yang mengikuti Ilmu dan Sunnah, meskipun ilmu dan kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, maka dia adalah penganut bid’ah, meskipun ilmu dan kitabnya banyak.” (Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 163).

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat walaupun sedikit ilmu yang kita miliki, dan Allah menjauhkan kita dari sifat sombong sehingga merendahkan orang lain karena banyaknya ilmu yang kita miliki.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________

SIFAT ASLI YAHUDI

SIFAT ASLI YAHUDI

WATAK YAHUDI : Banyak Tanya, Banyak Membantah, Banyak Menyelisihi

Jangan Ditiru !!

– Jika ada yang banyak tanya hanya untuk membingungkan dan menyudutkan orang yang ditanya.

– Jika ada yang banyak tanya hanyak untuk membantah dan menolak kebenaran (Al Qur’an dan Sunnah).

– Jika ada yang banyak tanya hanya untuk memancing terjadinya saling berbantah-bantahan.

Maka sifat seperti ini mirip Yahudi.

Lihat Yahudi.. Mereka bertanya bukan untuk keinginan “mengamalkan pertanya’an yang mereka tanyakan”.. Tapi hanya untuk “sekedar bertanya”.. Bahkan pertanyaan yang mereka ajukan hanyalah untuk membingungkan orang yang ditanya..

Mereka hanya disuruh menyembelih sapi betina saja… tapi mereka banyak bertanya, dan mempersulit diri… hingga akhirnya Allah mempersulit mereka… Seandainya mreka MENCUKUPKAN DIRI dengan perintah tersebut, niscaya Allah tidak akan menambahkan penjelasan terhadap perintahNya tersebut…

Bahkan mereka hampir saja tidak mengamalkan apa yang mereka tanyakan tersebut… Sesungguhnya penyembelihan itu bukanlah hal yang mereka inginkan, karena mereka memang tidak ingin menyembelihnya..

Meskipun telah datang berbagai penjelasan, tanya jawab.. Maka mereka tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah.. Ini merupakan cela’an atas mereka..

Tujuan mereka bertanya itu hanyalah untuk membingungkan Nabi Musa semata.. Oleh karena itu mereka hampir saja tidak menyembelihnya..

(Gambaran sifat Yahudi ini ada dalam Al Baqarah 67-74).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menirukan kelakuan seperti itu :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu.

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

”Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering menyelisihi para Nabi mereka”. (HR. Muslim).

_______________

KEWAJIBAN MENGINGATKAN UMAT DARI KESESATAN

.

KEWAJIBAN MENGINGATKAN UMAT DARI KESESATAN
.
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya, apa yang dia cintai untuk dirinya”. (Hr. Bukhari, dan Muslim).
.
Karena dasar inilah para imam kaum muslimin sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari ini berdiri di hadapan umat, menghalau setiap bahaya kesesatan yang akan menimpa mereka.
.
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Seseorang berpuasa, shalat dan i’tikaf, itu lebih anda sukai atau orang yang berbicara menjelaskan kesesatan ahli bid’ah ?, Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Jika dia menegakkan shalat, i’tikaf dan ibadah lainnya, maka itu (pahala, dan kemaslahatannya) hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kalau dia berbicara (menjelaskan kesesatan ahli bid’ah) maka itu adalah untuk kepentingan kaum muslimin, maka ini lebih utama”. (I’lamul Muwaqqi’in).
.
Allah subhanahu wata’la berfirman,
.
وَلتَكُن مِنكُم أُمَّةٌ يَدعونَ إِلَى الخَيرِ وَيَأمُرونَ بِالمَعروفِ وَيَنهَونَ عَنِ المُنكَرِ ۚ وَأُولٰئِكَ هُمُ المُفلِحونَ
.
”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Qs. Ali-‘Imran: 104).
.
Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Bukan dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak menghargai orang tua kami, serta tidak menyerukan kema’rufan dan tidak pula mencegah kemunkaran”. (Sunan Al-Im, 9).
.
Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah)nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.
.
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (al- Aqrimany: 315, al-Mawa’idz).
.
Kunjungi blog pribadi di : https://agussantosa39.wordpress.com/category/i-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah
.
.
_________________