PERBEDA’AN PENDAPAT DALAM ISLAM

PERBEDA’AN PENDAPAT DALAM ISLAM

Dalam tradisi ulama Islam, perbeda’an pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.

• BEDA ANTARA PERBEDA’AN DENGAN PERPECAHAN

Perbeda’an pendapat (ikhtilaf) adalah berbeda dengan perpecahan (iftiraq). Perbeda’an pendapat tidak selalu berujung jadi perpecahan, namun memang setiap perpecahan adalah akibat dari adanya perbeda’an.

Perbeda’an pendapat (ikhtilaf) tidak dilarang dan bukan sesuatu yang tercela dalam Islam, karena fakta menunjukkan perbeda’an pendapat banyak terjadi di kalangan para Sahabat juga terjadi diantara para Imam Salaf. Namun perbeda’an diantara mereka tidak menjadikan runtuhnya ukhuwah Islamiyah.

Yang dilarang dan tercela dalam Islam adalah perpecahan (iftiraq).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat di atas berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Oleh sebab itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah mengungkapkan kalimat yang indah, beliau berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Berikut ini faktor yang mengakibatkan perbeda’an pendapat yang berujung jadi perpecahan bahkan jadi permusuhan, diantaranya :

1. Kurang wawasan dan pemahaman dalam agama

Rendahnya kualitas pemahaman agama akibat tidak sungguh-sungguh dalam mencari ilmu sehingga kurang wawasan, akhirnya yang diandalkan adalah sekadar pemikiran tanpa landasan keterangan yang jelas.

2. Kebencian dan permusuhan

Tidak senang, rasa permusuhan kepada pihak lain kerap melahirkan sikap yang berlebihan. Pada gilirannya, sikap ini akan berujung pada sikap ujub dan akhirnya penolakan terhadap kebenaran yang datang dari kelompok yang tidak disukainya.

3. Fanatik golongan atau ashobiyah

Terlalu berlebihan dalam memuja golongannya, hanya mau menerima pendapat dari kalangannya, dan tidak mau menerima masukan dari pihak yang bukan golongannya. Alih-alih mengamalkan saran, bahkan untuk sekedar menerima dengan rasa ikhlas saja terkadang sulit. Karena sudah tertanam dalam pikirannya bahwa golongannya adalah yang paling benar.

• PERBEDA’AN PENDAPAT DIANTARA PARA SAHABAT

Jauh sebelum masa kita, perselisihan diantara para Sahabat sudah terjadi. Para sahabat, meski Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, mereka kerap ada perselisihan paham.

– Dua sahabat Nabi, dengan karakter yang berbeda, Abu Bakar dan ‘Umar, pernah berselisih perihal tawanan Perang Badar.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya : “Bagaimana pendapat kalian tentang para tawanan itu ?”. Dengan perasa’an iba Abu Bakar menjawab : “Wahai Rasulullah, mereka adalah kaum dan keluargamu. Biarkanlah mereka hidup dan berilah kesempatan untuk bertobat. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka.”

Akan tetapi lain halnya dengan ‘Umar, Dia tidak sependapat. Dengan lantang ia berkata : “Wahai Rasulullah, mereka telah mendustakan dan mengusirmu. Karenanya, seretlah ke depan dan pancunglah leher-leher mereka.”

Perhatikanlah, betapa keduanya sangat berbeda, padahal mendapatkan didikan dan bimbingan yang sama, tapi mereka bisa berbeda paham dalam persoalan yang sama. Penyebabnya tabi’at mereka tidak sama. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam faham karakter keduanya.

Kepada Abu Bakar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Engkau wahai Abu bakar, tak ubahnya seperti Ibrahim yang berkata, ‘Barangsiapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'”.

Dan kepada Umar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Sesungguhnya engkau wahai Umar, tidak ubahnya seperti Musa ‘alaihi wa sallam yang berkata, Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka karena mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksa’an yang pedih”.

– Ibnu Abbas berbeda pendapat dengan Aisyah tentang Rasulullah ketika Isra’ Mi’raj, apakah Nabi melihat Allah dengan mata kepala atau mata hati atau melihat cahaya.

– Ibnu Mas’ud berbeda pendapat dengan Utsman bin Affan tentang shalat di Mina pada musim haji, di-qashar atau disempurnakan.

– Ibnu Mas’ud berbeda pendapat dengan Ibnu Abbas tentang penafsiran salah satu tanda besar kiamat, yaitu Ad-Dukhan, asap atau kabut.

• PERBEDA’AN PENDAPAT DIANTARA IMAM MADZHAB

Perbedaan furu’ diantara Imam madzhab sangatlah banyak, berikut ini hanya sebagian contohnya.

1. Fardhu wudhu’

– Imam Syafi’i : Fardhu wudhu’ ada 7 yaitu membasuh 5 anggota wudhu’, niat dan tartib (memulai dengan urutan sebagaimana dalam QS 5/6) .

– Imam Ahmad : Niat, tartib dan muwalah (bersambung, tidak ada jeda waktu).

– Imam Malik : Menambahkan niat, muwalah dan tadlik (menggosok).

2. Shalat Qashar

– Imam Abu Hanifah : Shalat Qashar hukumnya fardhu ’ain. (diwajibkan kepada individu)

– Imam Malik : Shalat Qashar hukumnya sunnah mu’akkadah (Sunnah yang sangat dianjurkan)

– Imam Ahmad : Shalat Qashar hukumnya sunnah.

– Imam Syafi’i : Shalat Qashar hukumnya sunnah jika lebih dari 3 hari.

3. Shalat Jama’

– Abu Hanifah : Shalat Jama’ hukumnya hanya boleh di Arafah dan Muzdalifah.

– Imam Malik : Shalat Jama’ hukumnya ketika bepergian walaupun dekat dan dalam kondisi kuatir.

– Imam Syafi’i : Shalat Jama’ hukumnya ketika bepergian dan hujan.

– Imam Ahmad : Shalat Jama’ hukumnya ketika bepergian, sakit, menyusui, tua dan takut melarat.

4. Membaca al-Fatihah dibelakang Imam

– Imam Abu Hanifah berpendapat makruh.

– Imam Syafi’i berpendapat wajib,

– Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat makruh dalam shalat jahriyyah (shalat Shubuh, Maghrib dan ‘Isya) dan sunnah dalam shalat sirriyyah (shalat Dzuhur dan Ashar).

• PERBEDA’AN PENDAPAT DIANTARA MALAIKAT

Perbeda’an pendapat bukan saja terjadi di kalangan manusia akan tetapi terjadi juga diantara malaikat.

Dalam sebuah riwayat ada seseorang yang telah membunuh seratus orang, beberapa riwayat menyebut 99 orang, kemudian ia bertaubat dan pergi berhijrah lalu meninggal dunia dalam perjalanan. Terjadi perbeda’an pendapat antara malaikat rahmat dengan malaikat adzab dalam menyikapinya. Malaikat rahmat (Ridwan) berpendapat bahwa orang ini adalah ahli surga karena telah bertaubat, sedang malaikat adzab (Malik) berpendapat bahwa orang ini adalah ahli neraka karena telah membunuh seratus orang dan belum berbuat kebaikan. Akhirnya Allah mengirimkan malaikat ketiga yang memutuskan perkara bahwa orang tersebut adalah ahli surga. Kisah ini terdapat dalam riwayat-riwayat sahih, seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

• MENTELADANI PARA SAHABAT DALAM MENYIKAPI PERBEDA’AN PENDAPAT

Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit pernah berselisih paham. Hampir-hampir keduanya bermubahalah.

“Aku akan bermubahalah dengannya”, kata Ibnu Abbas ketika itu.

Keduanya berbeda pendapat tentang harta waris. Ibnu Abbas berpendapat bahwa kakek menjadi penghalang waris bagi saudara si mayit, sebab kakek senilai dengan bapak. Sedangkan Zaid berpendapat sebaliknya.

Jika Ibnu Abbas sampai ingin bermubahalah, tentu ini perkara serius. Tetapi di sa’at yang lain, di Madinah, kita mendapatkan kenyata’an yang berbeda.

Zaid tampak duduk di atas bighalnya, dan Ibnu Abbas terlihat menuntun tali kekangnya. Zaid merasa tidak enak hati. “Tidak usah demikian, wahai sepupu Rasulullah,” ujar Zaid. “Beginilah kami diperintahkan memuliakan ulama-ulama kami”, jawab Ibnu Abbas sambil tersenyum. “Boleh aku lihat tanganmu ?”, pinta Zaid kepada Ibnu Abbas. Ia pun memegang tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya. “Apa yang engkau lakukan wahai sahabat Rasulullah ?”, kata Ibnu Abbas heran. “Demikianlah kami diperintahkan kepada ahli bait Nabi kami”, ujar Zaid sambil tersenyum.

Begitulah sahabat Rasulullah. Ukhuwah mereka terasa lebih hangat ketimbang tajamnya perselisihan.

• MENTELADANI ULAMA SALAF DALAM MENYIKAPI PERBEDA’AN PENDAPAT

1. Al-Imam Yahya bin Sa’id Al Anshari rahimahullah berkata : ”Para ulama adalah orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan keleluasa’an sikap, dimana para mufti selalu saja berbeda pendapat, sehingga (dalam masalah tertentu) ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Namun toh mereka tidak saling mencela satu sama lain”. (Tadzkiratul Huffadz, 1/139 dan Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih, 393).

2. Al-Imam Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi rahimahullah (salah seorang murid/sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata : ”Aku tidak mendapati orang yang lebih berakal (lebih cerdas) daripada Asy Syafi’i. Suatu hari pernah aku berdiskusi (berdebat) dengan beliau, lalu kami berpisah. Setelah itu beliau menemuiku dan menggandeng tanganku seraya berkata : ”Hai Abu Musa ! Tidakkah sepatutnya kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak sependapat dalam satu masalah pun ? (tentu diantara masalah-masalah ijtihadiyah) (Siyaru A’lam An-Nubala’ : 10/16-17).

3. Ulama salaf (salah satunya adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata,
”Pendapatku, menurutku, adalah benar, tetapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain, menurutku, adalah salah, namun ada kemungkinan benar”.

4. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Seandainya setiap kali dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah itu saling menjauhi dan memusuhi, niscaya tidak akan tersisa sedikitpun ikatan ukhuwah diantara kaum muslimin” (Majmu’ Al-Fatawa : 24/173).

5. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ; ”Dalam masalah-masalah yang diperselisihkan diantara para ulama fiqih, aku tidak pernah melarang seorang pun diantara saudara-saudaraku untuk mengambil salah satu pendapat yang ada”. (Al-Faqih wal Mutafaqqih : 2/69).

6. Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur rahimahullah (Harun Ar-Rasyid) pernah berazam untuk menetapkan kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik sebagai kitab wajib yang harus diikuti oleh seluruh ummat Islam. Namun Imam Malik sendiri justru menolak hal itu dan meminta agar umat di setiap wilayah dibiarkan tetap mengikuti madzhab yang telah lebih dahulu mereka anut” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih : 209-210, Al-Intiqa’ : 45).

7. Khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah berbekam lalu langsung mengimami shalat tanpa berwudhu lagi (mengikuti fatwa Imam Malik). Dan Imam Abu Yusuf rahimahullah (murid dan sahabat Abu Hanifah rahimahullah) pun ikut shalat bermakmum di belakang beliau, padahal berdasarkan madzhab Hanafi, berbekam itu membatalkan wudhu (Majmu Al-Fatawa : 20/364-366).

8. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa berbekam dan mimisan itu membatalkan wudhu. Namun ketika beliau ditanya oleh seseorang, ”Bagaimana jika seorang imam tidak berwudhu lagi (setelah berbekam atau mimisan), apakah aku boleh shalat di belakangnya ?” Imam Ahmad pun menjawab, ”Subhanallah ! Apakah kamu tidak mau shalat di belakang Imam Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah dan Imam Malik bin Anas rahimahullah ?” (karena beliau berdualah yang berpendapat bahwa orang yang berbekam dan mimisan tidak perlu berwudhu lagi) (Majmu’ Al-Fatawa : 20/364-366).

9. Imam Abu Hanifah rahimahullah, sahabat-sahabat beliau, Imam Syafi’i, dan imam-imam yang lain, yang berpendapat wajib membaca basmalah sebagai ayat pertama dari surah Al-Fatihah, biasa shalat bermakmum di belakang imam-imam shalat di Kota Madinah yang bermadzhab Maliki, padahal imam-imam shalat itu tidak membaca basmalah sama sekali ketika membaca Al-Fatihah, baik pelan maupun keras … (lihat: Al-Inshaf lid-Dahlawi : 109).

10. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah shalat shubuh di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah rahimahullah dan tidak melakukan qunut (sebagaimana madzhab beliau), dan itu beliau lakukan ”hanya” karena ingin menghormati Imam Abu Hanifah. Padahal Imam Abu Hanifah rahimahullah telah wafat tepat pada tahun Imam Asy-Syafi’i rahimahullah lahir (lihat: Al-Inshaf : 110).

11. Diceritakan dari Imam Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali rahimahullah bahwa, pernah ada seorang ulama fiqih yang datang kepada beliau untuk belajar dan membaca kitab fiqih berdasarkan madzhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau (Imam Abu Ya’la rahimahullah) bertanya tentang negeri asalnya, dan iapun memberi tahukannya kepada beliau. Maka beliau berkata kepadanya: Sesungguhnya penduduk negerimu seluruhnya mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, lalu mengapakah engkau meninggalkannya dan ingin beralih ke madzhab kami? Ia menjawab: Saya meninggalkan madzhab itu karena saya senang dan tertarik denganmu. Selanjutnya Imam Abu Ya’la rahimahullah berkata: Ini tidak dibenarkan. Karena jika engkau di negerimu bermadzhab dengan madzhab Imam Ahmad rahimahullah, sedangkan seluruh masyarakat di sana mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, maka engkau tidak akan mendapatkan seorangpun yang beribadah (dalam madzhab Ahmad rahimahullah) bersamamu, dan tidak pula yang belajar denganmu. Bahkan sangat boleh jadi justru engkau akan membangkitkan permusuhan dan menimbulkan pertentangan. Maka statusmu tetap berada dalam madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah seperti penduduk negerimu adalah lebih utama dan lebih baik (lihat: Al-Muswaddah Fi Ushulil Fiqhi Li Aali Taimiyah hal. 483).

• SIKAP PARA ULAMA TERHADAP PENDAPAT PIHAK LAIN

Dalam mengemukakan berbagai pendapatnya, ulama-ulama Islam, terutama yang diakui secara luas keilmuannya, mampu menunjukkan kedewasa’an sikap dan toleransi yang tinggi. Mereka tetap mendudukkan pendapat mereka di bawah Al Quran dan Hadits, tidak memaksakan pendapat, dan selalu siap menerima kebenaran dari siapa pun datangnya. Para ulama terdahulu dalam mensikapi masalah perbeda’an ini adalah tidak mempertentangkan dan memaklumi serta menerimanya, tanpa saling menghujat atau melecehkan dan menjatuhkan.

Mereka tidak pernah memposisikan pendapat mereka sebagai yang paling absah sehingga wajib untuk diikuti, dan menolak pendapat lain sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama.

“Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.” Demikian ungkapan yang sangat populer dari Imam Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hambal pernah berfatwa agar imam hendaknya membaca basmalah dengan suara dikeraskan bila memimpin shalat di Madinah. Fatwa ini bertentangan dengan mazhab Ahmad bin Hambal sendiri yang menyatakan bahwa yang dianjurkan bagi orang yang shalat adalah mengecilkan baca’an basmalahnya. Tapi fatwa tersebut dikeluarkan Ahmad bin Hambal demi menghormati paham ulama-ulama di Madinah waktu itu, yang memandang sebaliknya. Sebab, menurut ulama-ulama Madinah itu, orang yang shalat, lebih utama bila ia mengeraskan baca’an basmalahnya. Di sini kita bisa mengetahui betapa Imam Ahmad lebih mengutamakan sebuah esensi dari nilai Ukhuwah.

• BIJAK MENGHARGAI PERBEDA’AN PENDAPAT

Perhatikan perkataan ulama yang arif dalam menyikapi perbeda’an. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

“Adapun jika dalam suatu permasalahan tidak ditunjukkan dalil yang tegas, juga tidak ada ijma’, maka berijtihad ketika itu dibolehkan dan tidak perlu orang yang berijtihad dan yang mengikuti diingkari dengan keras. … Dalam masalah ijtihad ini selama tidak ada dalil yang tegas tidak perlu sampai mencela para mujtahid yang menyelisihinya seperti dalam permasalahan yang masih diselisihi para salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 9: 112-113).

Dalam menyikapi perbedaan pendapat, seharusnya diperhatikan sikap toleran atau menghargai pendapat orang lain, lapang dada (tasamuh), serta tidak merasa paling benar, apalagi sampai retaknya hubungan silaturahmi.

Perbedaan pendapat adalah realitas tak terelakkan dan bukan untuk menyebabkan perpecahan. Dan kita pun tak mungkin dapat menghapuskan perbedaan pendapat itu.

Beragamnya faham dan pendapat yang berbeda, seharusnya kita menyikapi perbeda’an pendapat tersebut secara wajar, dan tetap mepertahankan ukhuwah Islamiyah. Kita maklumi bahwa semua kelompok yang berbeda mempunyai argumen, terlepas benar atau tidaknya argumen masing-masing. Ada ungkapan yang cukup indah dari Muhammad Rasyid Ridha, “Marilah kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan.”

Berbeda pendapat di butuhkan kelapangan dada dan ketinggian adab untuk menghormati setiap pandangan dengan pihak yang berbeda. Dalam perbeda’an furu’iyah, ketika hujjah bertemu dengan hujjah, maka tidak boleh ada saling hujat dan saling cela. Yang ada adalah ukhuwah yang menghangatkan.

Ketika perbeda’an kecil akan menyeret kepada perpecahan, maka lunakkanlah hati. Adab dan penghormatan kepada mereka yang berbeda pendapat maka akan menjaga ukhuwah dan lebih mengakrabkan jiwa. Orang-orang ‘alim, mereka tahu benar bagaimana menghargai ilmu yang dimiliki orang lain meski berbeda pandangan dengannya.

Tajamnya perselisihan bukan lantaran karena kita berilmu, tapi justru karena sebaliknya. Tidak pantas bagi kita yang jahil mencela hasil ijtihad ulama, lantaran berbeda dengan pendapat dengan Ulama yang kita ikuti. Tidak pantas membanding-bandingkan antara ulama satu dengan yang lainnya, kemudian merendahkan salah satunya. Pendapat mana pun dari ulama itu, tetap wajib kita hormati. Sebab menghormati pendapat ulama, meski tidak sesuai dengan selera kita, adalah bagian dari akhlaq dan adab seorang muslim.

Pendapat mana pun dari ulama, boleh kita ikuti dan boleh pula kita tinggalkan. Tidak ada satu pun orang yang dijamin mutlak kebenaran pendapatnya, kecuali alma’shum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selama seseorang bukan nabi, maka pendapatnya bisa diterima dan bisa tidak.

Sesuatu yang tidak ijma, adalah kebenaran yang sifatnya relatif. Kita akan memandangnya tergantung dari sudut mana kita memandang. Sesuatu yang di perdebatkan bukan kebenaran secara mutlak, ada ruang yang di perselisihkan, bukan Kebenaran yang mempunyai sifat universal, integral/ tidak ada yang di perselisihkan di dalamnya.

Sesuatu yang di perselisihkan, apapun yang kita yakini hanyalah kebenaran relatif, kebenaran dari sudut pandangnya sendiri. Banyak orang yang cenderung melupakan hal ini, dan memutlakkan yang relatif. Orang yang memutlakan yang relatif umumnya merasa paling benar dan menafikan pihak yang berbeda dengan dirinya. Sikap memutlakkan perkara yng relatif tidak jarang menumbuhkan perasa’an tidak lapang dada (tasamuh) dalam menyikapi perbeda’an. Kita sering tidak sadar bahwa sehebat apapun penalaran kita dan seluas apapun pengetahuan kita, masih banyak hal-hal yang tidak bisa kita fahami dari pihak yang berbeda.

Barokallahu fiikum

Sumber tulisan :

http://konsultasisyariah.net/content/view/95/126/

http://andhika-alhazen.blogspot.com/2012/12/itilaf-di-bawah-naungan-allah.html?m=1

______________

TA’ASHUB SUMBER KEHANCURAN

TA’ASHUB SUMBER KEHANCURAN

‘Amr bin Dinar rahimahullah berkata :

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ الأَنْصَارِىُّ يَا لَلأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِىُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ. فَقَالَ « دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ »

”Dahulu kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Gaza, Lalu ada seorang laki-laki dari kaum Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari kaum Anshar. Maka orang Anshar tadi pun berteriak :‘Wahai orang Anshar (tolong aku).’ Orang Muhajirin tersebut pun berteriak :‘Wahai orang muhajirin (tolong aku).’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Seruan Jahiliyyah macam apa ini ?!.’ Mereka berkata : ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah memukul pantat seorang dari kaum Anshar.’ Beliau bersabda : ‘Tinggalkan hal itu, karena hal itu adalah buruk.’” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya).

Hadits di atas adalah salah satu dalil tentang terlarangnya Ta’ashub terhadap kelompok, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkategorikannya sebagai seruan Jahiliyah.

Lalu apa makna Ta’ashub, macam-macamnya, bahaya dan sikap Islam terhadapnya ?

• Definisi Ta’asub (Fanatisme)

Secara Bahasa kata Ta’ashub memiliki banyak makna, di antaranya, keras, mengikat, berkumpul mengelilingi sesuatu dan menolongnya. Dari makna inilah kita mengenal kata ‘Ashobah.

Ta’ashub berasal dari ‘Ashobiyyah, dan ‘Ashobiyyah adalah seseorang membela/menolong kerabatnya dan bergabung bersama mereka menghadapi orang yang memusuhi mereka, baik kerabat tersebut zhalim ataupun terzhalimi. Dan ‘Ashobiy adalah orang marah karena ‘Ashobahnya (kerabat) dan membela mereka.

Secara Istilah Kata Ta’ashub tidak keluar dari makna secara bahasa.

Maka Ta’ashub adalah sikap keras dan mengambil sesuatu dengan keras, dan kasar dan tidak mau menerima pendapat orang yang berbeda pendapat dengannya dan menolaknya serta enggan mengikutinya sekalipun benar. Demikian juga Ta’ashub berarti membela kaumnya, kelompoknya atau orang yang satu keyakinan dengannya, tidak peduli apakah orang yang dibela tersebut benar atau salah, dan apakah yang dibela itu zhalim atau terzhalimi.

• Bentuk-Bentuk Ta’ashub :

– Ta’ashub Hizbi (Fanatik Golongan)

Yaitu sikap fanatik terhadap kelompok, atau golongan, atau perkumpulan yang seseorang berafiliasi (menisbatkan diri) kepadanya, dan membelanya baik kelompok tersebut benar atau salah. Demikian juga dengan menyifati kelompok atau golongannya tersebut dengan kesempurna’an dan terjaga dari kesalahan, serta menyebutkan kelebihan-kelebihannya dan menyerang selain golongannya dengan menyebutkan cacat dan keburukan mereka. Dan juga dengan mengagungkan kelompoknya dan merendahkan selainnya.

• Ta’ashub Qaumi (Fanatik Suku)

Yaitu membela suku yang ia menisbatkan diri kepadanya dan ia berasal darinya, hanya karena kesukuan semata, sebagaimana yang terjad pada bangsa Turki di akhir-akhir Khalifah Utsmaniyah, dan seperti yang terjadi di sebagian kabilah-kabilah Arab. Dan terkadang hal tersebut menyebabkan peperangan antar suku atau antar negara, dan bahkan kerap terjadi peperangan (tawuran) antar suku di dalam satu negara.

• Ta’ashub Madzhabi (Fanatik Madzhab)

Fanatisme ini yang telah memecah belah kaum Muslimin, dan menjadikan mereka memiliki empat mimbar di Mekah (Masjidil Haram), di sekitar Kab’bah di masa lalu (di zaman keterpurukan fikih). Saat itu seorang yang bermadzhab Syafi’i melarang seseorang shalat di belakang imam yang bermadzhab Hanbali, orang yang bermadzhab Hanbali melarang seseorang shalat di belakang imam yang bermadzhab Maliki dan seterusnya. Dan fanatisme tersebut telah menjadikan pintu ijtihad tertutup. Dan tidak jarang terjadi permusuhan dan perkelahian yang disebabkan oleh perbedaan madzhab antara dua orang teman, anak dan orang tua dan bahkan antara suami dan isteri.

• Tamyiz ‘Unshuri (Membeda-bedakan Keturunan/Asal-usul)

Hal itu bisa disebabkan karena jenis kelamin, seperti mengistimewakan golongan laki-laki di atas perempuan dalam hal-hal yang tidak ada dalilnya dalam syari’at, atau karena warna kulit, seperti mengistimewakan wara kulit putih di atas kulit hitam, atau karena negeri tertentu atau penduduk tetentu seperti membeda-bedakan antara imigran dengan penduduk asli, antara penduduk asli dan pendatang dan seterusnya, atau mengistimewakan kabilah tertentu dan merendahkan yang lain.

• Ta’ashub Fikri (Fanatik Pemikiran)

Yaitu menolak pemikiran lain, tidak menerima dan mendengarkannya, serta enggan bersikap netral dan pertengahan dalam menghukumi pemikiran tersebut. Demikian juga bersikap keras dalam berinteraksi dengannya, mengkritiknya dengan sangat pedas. Dan membuatkan rupa dan bentuk tertentu untuk pemikiran yang berseberangan dengan gambaran yang telah bercampur dengan banyak kesalahan dan kekeliruan, karena hal itu dibangun di atas pondasi fanatisme.

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk Ta’ashub yang ada di masyarakat, ada yang fanatik terhadap kyainya, ustadnya, pondoknya dan lain-lain.

• Sebab-sebab Ta’ashub (Fanatik)

1. Percaya diri yang berlebihan

Sebagaimana Fir’aun yang berkata :

…. مَآأُرِيكُمْ إِلاَّ مَآأَرَى وَمَآأَهْدِيكُمْ إِلاَّ سَبِيلَ الرَّشَادِ {29}

”….Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukan kepadamu selain jalan yang benar”. (QS. Ghafir/al-Mu’min: 29).

Perasa’an seperti ini terkadang dimiliki oleh pribadi, kelompok atau bangsa.

2. Kebodohan dan kurang wawasan

Ketidaktahuan (bodoh) terhadap sesuatu yang ada pada orang lain dan sempitnya wawasan untuk mengetahui dan mengenalinya secara mendalam menjadikan seseorang bersikap fanatik dalam melawan dan menolaknya. Dan cukuplah kita mengatakan :
”Sesungguhnya permusuhan terhadap Islam pada hari ini, dan serangan terhadapnya yang dilakukan oleh sebagian bangsa Barat, adalah disebabkan karena bodohnya mereka dengan dasar-dasar (prinsip-prinsip) Islam, dan ketidaktahuan mereka tentang hakekat Islam yang sebenarnya. Dan ini ditambah dengan perusakan citra Islam, dan pelemparan syubhat-syubhat yang dilakukan oleh sebagian media komunikasi, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.”

3. Pengkultusan individu dan sikap ghuluw (Ekstrim)

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ … {31}.

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, …. (QS. At-Taubah: 31).

Sikap pengkultusan dan ghuluw ini terkadang sampai kepada batas memberikan sifat ma’shum (terjaga dari dosa) dan kesucian kepada seseorang. Suatu hak yang menyebabkan sikap ta’ashub (fanatik) terhadap syaikh anu, ustadz anu, kyai fulan, Jama’ah anu dan lain-lain.

4. Tertutup dan wawasan yang sempit

Kita dapati kebanyakan kelompok dan perkumpulan bersifat tertutup, tidak meyebarkan sesuatu kecuali untuk anggotanya saja dan melarang pengikutnya untuk mendengar dari kelompok lain. Dan kebanyakan pemikiran yang menyimpang dan fanatik tumbuh dalam pemikiran-pemikiran yang bersifat rahasia (sir), bawah tanah, dan lingkungan yang tertutup serta menganggap salah kelompok selain mereka. Dan tidak jarang mereka mengkafirkan kelompok lain, ini jika fanatik tersebut kepada kelompok keagama’an.

5. Pendidikan keluarga yang salah

Tumbuh di keluarga yang membeda-bedakan warna kulit, atau bangsa, atau suku, atau kelompok, atau pemikiran dan pemberian semangat fanatisme dan sikap ekstrim akan menghasilkan manusia-manusia yang fanatik, tertutup, dan ekstrim. Keluarga adalah benih masyarakat, dan dampak pendidikan keluarga pasti nampak terlihat di masyarakat tersebut, dan terkadang dampak pendidikan yang salah tersebut mendominasi perilaku masyarakat, yang akhirnya muncullah masyarakat yang fanatik dengan kelompoknya dan tertutup dari masyarakat lain.

6. Pemahaman agama yang salah

Tidak diragukan lagi bahwa penyimpangan / kesalahan dalam memahami agama merupakan salah satu sebab yang inti. Maka dari itu, fanatisme nashrani dalam memusuhi Islam juga disebabkan karena pemahaman yang salah terhadap dasar-dasar agama nashrani itu sendiri. Demikian juga fanatik madzhab yang berakibat pada penolakan terhadap madzhab lain di dalam Islam merupakan hasil dari pemahaman yang salah di dalam mengikuti / meneladani para Ulama.

7. Hilangnya akhlak dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat

Seperti sikap adil, pertengahan, netral, dan hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pendapat, serta memujinya jika “lawan” kita benar, membelanya jika orang menzhaliminya, atau menganiayanya tanpa hak dan sikap-sikap lain yang termasuk akhlak dalam berbeda pendapat.

• Dampak Ta’asub (Fanatik)

Diantara dampak ta’ashub adalah perpecahan umat, bercerai berainya mereka, dan tidak bersatunya mereka. Dan Ta’ashub juga termasuk sumbu fitnah dan permusuhan di antara kelompok, golongan atau suku dalam satu negara dan satu ummat, yaitu umat Islam. Demikian juga Ta’ashub adalah sebab penolakan terhadap orang atau kelompok lain, penolakan untuk hidup rukun dan berdampingan dengan mereka.

• Sikap Islam terhadap ta’ashub

Islam datang untuk memerangi semua bentuk Ta’ashub. Hal itu nampak dari hal-hal berikut :

1. Dalam Islam manusia adalah makhluk yang dimuliakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى ءَادَمَ …{70}

”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, ..” (QS. Al-Isro’: 70).

Dan juga Allah berfirman :

يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لتعارفوا … {13}

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…” (QS. Al-Hujuraat: 13).

Maka tak ada kelebihan / keunggulan orang Arab di atas orang ‘Ajam (non Arab), tidak pula orang berkulit merah di atas kulit hitam, kecuali dengan ketakwa’an sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita.

2. Islam memerintahkan berlaku adil dan bersikap pertengahan.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ {90}

”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl : 90).

3. Haram tolong-menolong dalam dosa.

Dia berfirman :

… وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ … {2}

”…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. …” (QS. Al-Maa’idah: 2)

4. Islam memerintahkan saling membela diantara orang yang beriman di dalam kebenaran dan dalam menolak kezhaliman.

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ … {71}

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, …” (QS. At-Taubah: 71).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إذا كان مَظْلُومًا فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ إن كان ظَالِمًا؟ فقال تحجره أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره

”Tolonglah saudaramu baik dia dalam keada’an berbuat zhalim (aniaya) atau dizhalimi.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dalam keadaan dizhalimi, lalu jika ia berbuat zhalim bagaimana aku harus menolongnya?Beliau bersabda:”Halangilah dia atau cegahlah dari berbuat zhalim, itulah bentuk pertolongannya.” (HR. Muslim)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

“من نصر قومه على غير الحق فهو كالبعير الذي ردى فهو ينزع بذنبه “.

”Barang siapa yang menolong/membela kaumnya tidak di atas kebenaran, maka ia seperti onta yang terjatuh ke sumur dan diangkat dengan menarik ekornya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

5. Dalam Islam keistimewa’an seseorang adalah karena ketakwa’annya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

َ… إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ {13}

”…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu…” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ وَفِي

”Hendaklah kaum-kaum yang membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati berhenti dari perbuatannya. Sesungguhnya mereka (nenek moyang tersebut) hanya arang neraka Jahannam. Atau (kalau mereka (kaum-kaum itu) tidak berhenti) mereka akan menjadi lebih hina di sisi Allah dari seekor kelabang hitam mengendus kotoran manusia dengan hidungnya, Sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang. (yang ada) Hanyalah orang mukmin yang bertakwa dan orang fajir (pendosa) yang celaka. Manusia semuanya adalah anak Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.” (HR. Imam at-Tirmidzi)

6. Islam melarang dzalim dan melampui batas sekalipun terhadap yang berbeda pendapat

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Takutlah terhadap perbuatan zholim, sebab kezholiman adalah kegelapan di atas kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

… وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى …

”…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. …(QS. Al-Maidah: 8)

7. Islam melarang mengkultuskan manusia dan memujanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولُُ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئًا … {144}

”Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; …”(QS. Ali Imraan: 144)

8. Islam menyuruh berkasih sayang terhadap siapapun

Allah ta’ala berfirman :

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ {107}

”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’: 107)

• Yang Perlu Diketahui

Ikhtilaf (perbedaan) pasti terjadi di antara kita dan tidak mungkin dihindari, karena kita manusia, yang bisa salah dan benar, kita bukan Malaikat. Maka kita tidak bisa menghilangkan perbedaan pendapat itu dan menghapuskannya. Akan tetapi yang kita mampu adalah mempersempit dan memperkecil perbedaan, bersikap dan berinteraksi yang baik dengan perbedaan tersebut. Dan yang terpenting dan wajib adalah beradab dengan adab-adab Islami dalam bergaul dan bermuamalah dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Bukan termasuk Ta’ashub (fanatik) bangga dengan tokoh-tokoh tertentu, dan menjelaskan kebesaran agama ini, dan bahwasanya agama ini datang untuk mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Pencipta hamba tersebut (yaitu Allah). Dan bahwasanya Islam adalah agama penutup yang telah diridhai oleh Allah untuk seluruh manusia. Dan pribadi muslim yang seperti ini menolak untuk mengekor dan tunduk di hadapan musuh-musuhnya yang menyebabkan ia dituduh dan digelari sebagai orang yang fanatik, sebagaimana yang terjadi sekarang ini, di mana orang-orang yang berusaha mengamalkan agamanya dan berpegang teguh dengannya dianggap sebagai orang yang fanatik dan tidak toleran.

Demikian juga tidak termasuk Ta’ashub (fanatik) berdiskusi, berdialog, dan berdebat ilmiah dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Demikian juga membantah orang tersebut dengan bantahan ilmiah, menyingkap kekeliruannya, dan menjelaskan jenis kesalahannya jika itu sebuah kekafiran/kekufuran, atau kebid’ahan, atau kemaksiatan dengan tetap menjaga adab dalam melakukan kritik ilmiah, adab berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat dan tidak mejulukinya dengan julukan fanatik hanya karena penyelisihannya terhadap anda tersebut.

(Sumber : Diterjemahkan dengan sedikit gubahan dari التعصب “مظاهره – أسبابه – نتائجه -البعد الشرعي” karya Dr. ‘Adil ad-Dakhmi. Diterjemahkan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

http://www.alsofwah.or.id/cetakhadits.php?id=323

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____

BIANG KEROK TUKANG NGAJAK RIBUT DAN PERUSAK PERSATUAN ?

BIANG KEROK TUKANG NGAJAK RIBUT DAN PERUSAK PERSATUAN ?

Seringkali pari da’i yang memperingatkan umat untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang di ada-adakan dalam urusan agama (bid’ah), karena bid’ah itu akan mengakibatkan perpecahan diantara umat Islam kerap dituduh sebagai pemecah belah umat, biang kerok, tukang ngajak ribut dan lain-lain.

Tidak aneh dengan tuduhan seperti itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dahulu dikatakan pemecah belah oleh orang-orang yang menentangnya ?

Tuduhan tendensius lainnya katanya anti persatuan.

Apakah dengan alasan persatuan, kemudian kita diamkan tahayul, bid’ah, churofat dan kemungkaran lainnya yang dilakukan orang atau kelompok tertentu ?

Siapakah sebenarnya biang kerok dan pemecah belah umat yang sesungguhnya ?

• BID’AH MENGAKIBATKAN PERPECAHAN

Ummat Islam berpecah-belah dan menimbulkan perselisihan ditengah-tengah kaum muslimin karena perbuatan bid’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَتَّبِعُوۡا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ وَصّٰٮكُمۡ بِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain karena itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS.Al-An’am, 153).

Mujahid rahimahullaahu ta’ala ketika menafsirkan ayat di atas berkata ; “Jalan-jalan dengan aneka macam bid’ah dan syubhat”. (Jami’ul Bayan V/88).

Setelah menyebutkan beberapa dalil-dalil bahwa bid’ah adalah pemecah belah ummat, Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham,I/157).

Oleh sebab itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala pernah mengungkapkan kalimat yang indah, beliau berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).

Dari keterangan para Ulama diatas, maka jelaslah bahwa biang kerok dan pemecah belah umat Islam yang sesungguhnya adalah para pelaku bid’ah yang menyerukan dan melestarikan bid’ah ditengah-tengah umat.

• PENTINGNYA MEMBANTAH AHLI BID’AH

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ? Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfa’atnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfa’atnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”.

Beliau menjelaskan bahwa manfa’atnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.

Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/ membantah bahaya (bid’ah) nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.

Ibn Abbas r.a berkata : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”.(al- Aqrimany:315, al-Mawa’idz).

Wassalam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____________

SIAPA YANG SEBENARNYA TUKANG DEBAT ?

SIAPA YANG SEBENARNYA TUKANG DEBAT ?

Ketika mengingatkan umat untuk meninggalkan tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) mereka yang merasa terusik sering mencemo’oh, mencibir dan menyebut sebagai tukang debat.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Nuh mengingatkan kaumnya untuk meninggalkan kesyirikan, akan tetapi kaumnya mendebatnya. (QS. Hud : 32).

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Ibrahim mengingatkan kaumnya untuk tidak menyembah berhala, akan tetapi kaumnya mendebatnya. (QS. al- Baqarah:258).

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Nabi Musa menyeru fir’aun untuk menyembah Allah ta’ala, akan tetapi fir’aun mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Rasulul Sallallaahu ‘alaihi wa sallam menyeru kaum Musyrik Makkah, Nasrani Najran, dan Yahudi Madinah untuk masuk Islam, akan tetapi mereka mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak kelompok Khawarij untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar, akan tetapi mereka mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

– Al-Auza’i meluruskan seorang pengikut aliran Qadariyyah supaya kembali kepada faham yang benar, akan tetapi dia mendebatnya.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

Begitu pula sa’at ini ketika ada orang yang mengingatkan saudaranya sesama muslim untuk meninggalkan praktek-praktek yang berasal dari nenek moyang, tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) tidak pernah sepi dari cibiran, cemo’ohan, hina’an dan makian dan tentu saja dibantah di debat.

Siapa sesungguhnya yang tukang debat ?

Apakah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad, Ibnu ‘Abbas, Al-Auza’i, dan orang yang memperingatkan umat dari tahayul bid’ah dan churafat (TBC) yang tukang debat ?

Atau sebaliknya mereka para penentangnya, yang tidak pernah kehabisan kata untuk membantah, mencemo’oh, sinis dan mencibir mengeluarkan ucapan buruk hina dan kasar, yang seolah-olah jadi ciri khas mereka ?

Mendebat atau membantah itu memang mudah.

Ya . . memang mendebat itu mudah, sangat mudah.

Siapapun bisa mendebat tak terkecuali orang bodoh bahkan anak kecil sekalipun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin di debat.

Bisa mendebat tidak berarti keyakinanya di bangun diatas ilmu, karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu itu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, begitu pula bodoh bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu-satunya ilmu.

Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

_