TAHDZIR DAN NORMA-NORMANYA

TAHDZIR DAN NORMA-NORMANYA

Upaya Menjaga Kemurnian Islam, Menyoal Tahdzir dan Norma-Normanya

Pendahuluan

Empat belas abad sudah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kita umat Islam. Semakin hari kemurnian ‘ajaran Islam’ semakin keruh akibat tercemar ‘benda-benda asing” (baca: bid’ah dkk.). Ibarat suatu aliran sungai yang telah ribuan kilometer meninggalkan mata airnya; berubah menjadi amat keruh karena telah bercampur dengan sampah-sampah yang dicampakkan ke dalamnya oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab.

Jauh-jauh hari, fenomena ini telah disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« فإنه لا يأتي عليكم يوم أو زمان إلا والذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم »

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952 -al-Ihsan). Muhaqqiq Shahih Ibn Hibban menshahihkan hadits ini.)

Maka, sudah merupakan suatu hal yang lazim, jika kita kaum muslimin dituntut untuk berusaha memurnikan kembali ‘ajaran agama kita’, dan membersihkannya dari noda-noda yang telah melekat lama di tubuhnya. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan upaya tashfiyah (memurnikan).

Sebelum menyibukkan diri dengan mentarbiyah (mendidik) umat, kita dituntut untuk terlebih dahulu mentashfiyah ajaran yang di atasnya kita akan mendidik umat ini. Jadi, metode yang tepat adalah tashfiyah dulu baru tarbiyah. (Untuk pembahasan lebih luas rujuk: At-Tashfiyah wa at-Tarbiyah wa Atsaruhuma fi Isti’nafi al-Hayah al-Islamiyyah, karya Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi.)

Di antara upaya yang dilakukan oleh para ulama untuk meraih kembali beningnya ajaran Islam; mempraktekkan metode tahdzir.

Definisi Tahdzir

Tahdzir adalah: memperingatkan umat dari kesalahan individu atau kelompok dan membantah kesalahan tersebut; dalam rangka menasehati mereka dan mencegah agar umat tidak terjerumus ke dalam kesalahan serupa.

Dalil Disyari’atkannya Tahdzir

Banyak sekali dalil-dalil -baik dari al-Qur’an maupun sunnah- yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir, jika dilakukan sesuai dengan norma-norma yang digariskan syari’at.

Di antaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali-Imran: 104)

Ayat di atas menjelaskan akan disyariatkannya amar ma’ruf nahi munkar, dan para ulama telah menjelaskan bahwa tahdzir adalah merupakan salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, “Kalaupun dia (ahlul bid’ah tersebut) tidak berhak atau tidak memungkinkan untuk dihukum, maka kita harus menjelaskan bid’ahnya tersebut dan mentahdzir (umat) darinya, sesungguhnya hal ini termasuk bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ al-Fatawa (XXXV/414). Lihat pula: Sittu Durar min Ushul Ahl al-Atsar, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani: hal. 109-112)

Senada dengan keterangan Ibnu Taimiyah di atas; penjelasan yang dibawakan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini rahimahullah.( Lihat: al-Kafiah fi al-Jadal, hal. 20-21)

Di antara dalil disyari’atkannya tahdzir adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله؛ ينفون عنه تحريف الغالين, وانتحال المبطلين, وتأويل الجاهلين »

“Agama ini diemban di setiap zaman oleh para ulama; yang menyisihkan penyimpangan golongan yang ekstrim, jalan orang-orang batil dan ta’wilnya orang-orang yang jahil.” (HR. Al-Khathib al-Baghdady rahimahullah dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65 no. 51) dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65). Al-‘Ala’i rahimahullah dalam Bughyah al-Multamis, hal. 34 berkata, “Hasan shahih gharib”. Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Thariq al-Hijratain, hal. 578 berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan”. Senada dengan perkataan Ibnu al-Qayyim: penjelasan al-Qashthallani dalam Irsyad as-Sari, (I/7). Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah telah mentakhrij hadits ini secara riwayah dan dirayah dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul ila Tahrir an-Nuqul fi Tashih Hadits al-‘Udul, dan beliau menyimpulkan bahwa derajat hadits ini adalah hasan.)

Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir (Lihat dalil-dalil tersebut dalam kitab: Mauqif Ahl as-Sunnah, karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaily hafizhahullah (II/482-488), al-Mahajjah al-Baidha’ karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah (hal. 55-74), ar-Radd ‘ala al-Mukhalif, karya Syaikh Bakr Abu Zaid syafahullah (hal. 22-29), dan Munazharat A’immah as-Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah (hal.14-19)) Bahkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempraktekkan metode tahdzir dalam kehidupannya; entah itu tahdzir terhadap individu maupun tahdzir dari suatu kelompok tertentu.

Di antara contoh praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir suatu individu; tatkala beliau mentahdzir dari ‘nenek moyang’ Khawarij: Abdullah bin Dzi al-Khuwaishirah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إنه سيخرج من ضئضئي هذا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية »

“Akan muncul dari keturunan orang ini; generasi yang rajin membaca al-Qur’an, namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongan (tidak memahami apa yang mereka baca). Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang menancap di tubuh buruan lalu melesat keluar dari tubuhnya.” (HR. Ahmad (III/4-5). Para muhaqqiq Musnad (XVII/47) menshahihkan isnadnya. Hadits ini aslinya dalam Bukhari (no. 6933) dan Muslim (II/744 no. 1064))

Adapun praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir dari suatu kelompok yang menyimpang, antara lain tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir umat dari sekte Khawarij dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء وخير قتيل من قتلوا كلاب أهل النار »

“Mereka adalah seburuk-buruk orang yang dibunuh di muka bumi. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang terbunuh ketika memerangi anjing-anjing penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah (I/62 no. 176). Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah (I/76) berkata, “Hasan shahih”)

Praktek Para Ulama dalam Menerapkan Metode Tahdzir

Para ulama Ahlus Sunnah telah menjelaskan bahwa mentahdzir dari ahlul bid’ah dan membantah mereka merupakan amalan yang disyari’atkan di dalam agama Islam dalam rangka menjaga kemurnian agama Islam dan menasihati umat agar tidak terjerumus ke dalam kubang bid’ah tersebut.

Di antara keterangan tersebut, perkataan Imam al-Qarafi rahimahullah, “Hendaknya kerusakan dan aib ahlul bid’ah serta pengarang buku-buku yang menyesatkan dibeberkan kepada umat, dan dijelaskan bahwa mereka tidak berada di atas kebenaran; agar orang-orang yang lemah berhati-hati darinya sehingga tidak terjerumus ke dalamnya. Dan semampu mungkin umat dijauhkan dari kerusakan-kerusakan tersebut.” (Al-Furuq, IV/207)

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, “Mana yang lebih engkau sukai; seseorang berpuasa, shalat dan i’tikaf atau mengkritik ahlul bid’ah? Beliau menjawab, “Kalau dia shalat, puasa dan i’tikaf maka manfaatnya hanya untuk dia sendiri, namun jika dia mengkritik ahlul bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin, dan ini lebih afdhal!.” (Majmu’ Fatawa Syaikhil Islam: XXVIII/231)

Dan masih banyak perkataan-perkataan ulama Ahlus Sunnah yang senada. (Lihat: Mathla’ al-Fajr fi Fiqh az-Zajr bi al-Hajr karya Syaikh Salim al-Hilali (hal. 62-77) dan Ijma’ al-‘Ulama’ ‘ala al-Hajr wa at-Tahdzir min Ahl al-Ahwa’, karya Syaikh Khalid azh-Zhufairi, hal. 89-153)

Berikut ini akan kami bawakan beberapa contoh praktek nyata para ulama kita dari dulu sampai sekarang dalam menerapkan metode tahdzir -baik tahdzir terhadap individu maupun terhadap kelompok tertentu-; supaya kita paham betul bahwa metode tahdzir adalah metode yang ashli (orisinil) dan bukan metode bid’ah yang diada-adakan di zaman ini. (Tidak semua tokoh yang kami sebutkan di sini berakidah Ahlus Sunnah dalam setiap permasalahan, namun ada sebagian kecil dari mereka yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah dalam berbagai permasalahan. Sengaja mereka kami sebutkan pula, agar umat tahu bahwa metode tahdzir ini juga diterapkan oleh para ahli ilmu di luar lingkaran Ahlus Sunnah, maka amat keliru jikalau Ahlus Sunnah selalu dipojokkan akibat mereka menerapkan metode ini, wallahu a’lam) :
◦Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma (wafat thn 73 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte Qadariyah dengan perkataannya, “Beritahukanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku.” (HR. Muslim, no. 1)
◦Imam al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte Jahmiyyah dalam kitabnya: “Khalq Af’al al-‘Ibad wa ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah wa Ashab at-Ta’thil.”( Dicetak di Riyadh: Dar Athlas al-Khadhra’, dengan tahqiq Dr. Fahd al-Fuhaid)
◦Imam ad-Darimi rahimahullah (w. 280 H) ketika beliau mentahdzir dari Bisyr al-Mirrisi dalam kitabnya: “Naqdh Utsman ad-Darimi ‘ala al-Mirrisi al-Jahmi al-‘Anid fima Iftara ‘ala Allah fi at-Tauhid.”( Dicetak di Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, dengan tahqiq Dr. Rasyid al-Alma’i)
◦Imam ad-Daruquthni rahimahullah (w. 385 H) ketika beliau mentahdzir dari ‘Amr bin ‘Ubaid -gembong sekte Mu’tazilah di zamannya- dalam kitabnya “Akhbar ‘Amr bin ‘Ubaid bin Bab al-Mu’tazili.” (Dicetak di Riyadh; Dar at-Tauhid, dengan tahqiq Muhammad Alu ‘Amir)
◦Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani rahimahullah (w. 430 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte Rafidhah dalam kitabnya “Al-Imamah wa ar-Radd ‘ala ar-Rafidhah.” (Dicetak di Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam, dengan tahqiq Prof. Dr. Ali al-Faqihi)
◦Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah (w. 505 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte al-Bathiniyyah dalam kitabnya “Fadha’ih al-Bathiniyyah.” (Dicetak di Kuwait: Dar al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, dengan tahqiq Abdurrahman Badawi)
◦Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah (w. 620 H) ketika beliau mentahdzir dari Abu al-Wafa’ Ibnu ‘Aqil -salah seorang tokoh sekte Mu’tazilah- dalam kitabnya “Tahrim an-Nadzar fi Kutub al-Kalam.” (Dicetak di Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, dengan tahqiq Abdurrahman Dimasyqiyyah)
◦Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) ketika beliau mentahdzir dari al-Bakri -salah seorang tokoh sufi di zaman itu- dalam kitabnya “Al-Istighatsah fi ar-Radd ‘ala al-Bakri.” ( Dicetak di Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj, dengan tahqiq Dr. Abdullah as-Sahli)
◦Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte Jahmiyyah dan golongan Mu’athilah dalam kitabnya “Ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Mu’athilah.” (Dicetak di Riyadh: Adhwa’ as-Salaf, dengan tahqiq Dr. Ali ad-Dakhilullah)
◦Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah (w. 974 H) ketika beliau mentahdzir dari sekte Rafidhah dan orang-orang Zindiq dalam kitabnya “Ash-Shawa’iq al-Muhriqah ‘ala Ahl ar-Rafdh wa adh-Dhalal wa az-Zandaqah.” (Dicetak di Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, dengan tahqiq Abdurrahman at-Turki dan Kamil al-Kharrath)
◦Imam Abdul Lathif bin Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullah (w. 1292 H) ketika beliau mentahdzir dari Dawud bin Jarjis -salah satu pembesar sufi di zaman itu- dalam kitabnya “Minhaj at-Ta’sis wa at-Taqdis fi Kasyf Syubuhat Dawud bin Jarjis.” (Dicetak di Riyadh: Dar al-Hidayah)
◦Imam Abu al-Ma’ali al-Alusi rahimahullah (w. 1342 H) ketika beliau mentahdzir dari an-Nabhani -salah satu tokoh sufi di zaman itu- dalam kitabnya “Ghayah al-Amani fi ar-Radd ‘ala an-Nabhani.” (Dicetak di Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, dengan ‘inayah ad-Dani Zahwi)
◦Al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah (w. 1376 H) ketika beliau mentahdzir dari Abdullah al-Qashimi -salah satu tokoh yang terpengaruh pemikiran sekuler di zaman itu- dalam kitabnya “Tanzih ad-Din wa Hamalatih wa Rijalih mimma Iftarah al-Qashimi fi Aghlalih.” (Dicetak di Damam: Dar Ibn al-Jauzi, dengan tahqiq Abdurrahman ar-Rahmah)
◦Al-‘Allamah al-Albani rahimahullah (w. 1420 H) ketika beliau mentahdzir dari Hasan Abdul Mannan dalam kitabnya “An-Nashihah bi at-Tahdzir min Takhrib Ibn Abdil Mannan li Kutub al-A’immah ar-Rajiihah wa Tadh’ifih li Mi’aat al-Ahadits ash-Shahihah.” ( Dicetak di Damam: Dar Ibn al-Qayyim)
◦Al-‘Allamah Abdul Muhsin al-‘Abbad hafidzahullah ketika beliau mentahdzir dari ar-Rifa’i dan al-Buthi -tokoh-tokoh yang membenci dakwah salafiyah- dalam kitabnya “Ar-Radd ‘ala ar-Rifa’i wa al-Buthi fi Kadzibihima ‘ala Ahl as-Sunnah wa Da’watihima Ila al-Bida’ wa adh-Dhalal.” (Dicetak di Kairo: Dar al-Imam Ahmad)
◦Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid hafidzahullah ketika beliau mentahdzir dari Muhammad bin Ali ash-Shabuni -salah satu tokoh sekte Asy’ariyyah abad ini- dalam kitabnya “At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad bi Ali ash-Shabuni fi at-Tafsir.” (Dicetak di Damam: Dar Ibn al-Jauzi)
◦Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafidzahullah ketika beliau mentahdzir dari Sayyid Quthb -salah satu tokoh pergerakan Islam yang mengusung pemikiran takfiri- dalam kitabnya “Matha’in Sayyid Quthb fi Ashab Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam”( Dicetak di Emirat: Maktabah al-Furqan) dan kitab-kitab beliau lainnya.
◦Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullah ketika beliau mentahdzir dari Hasan as-Segaf -salah satu tokoh sekte Jahmiyah abad ini- dalam kitabnya “Al-Qaul as-Sadid fi ar-Radd ‘ala Man Ankara Taqsim at-Tauhid.” (Dicetak di Damam: Dar Ibn al-Qayyim)
◦Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafidzahullah ketika beliau mentahdzir dari kelompok-kelompok pergerakan abad ini yang memiliki penyimpangan-penyimpangan, dalam kitabnya “Al-Jama’at al-Islamiyyah fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah bi Fahm Salaf al-Ummah.” (Dicetak di Kairo; Dar al-Imam Ahmad)

Dan masih ada puluhan bahkan mungkin ratusan contoh praktek nyata para ulama kita -tempo dulu maupun di zaman ini- dalam menerapkan metode tahdzir ini.

Tujuan Tahdzir

Sebagian orang mengira bahwa mentahdzir dari ahlul bid’ah tidak sejalan dengan sifat waro’. Mereka tidak sadar bahwa para ulama Ahlus Sunnah sekaliber Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ibn al-Mubarak, Imam Sufyan ats-Tsauri dan yang lain, mereka juga tidak jemu-jemu untuk senantiasa mentahdzir umat dari ahlul bid’ah. Padahal siapa di antara kita yang tidak mengenal tingginya tingkat ketaqwaan dan derajat kewaro’an mereka?

Barangkali orang-orang tersebut belum mengetahui rahasia besar yang mendorong para ulama kita untuk menerapkan metode ini. Di antara hal-hal yang mendorong penerapan metode ini:
◦‘Panah beracun’ yang melesat dari bid’ah mengenai secara langsung ke dalam hati dan merusaknya. Jika hati seorang muslim telah rusak maka dampaknya akan sangat besar terhadap lahiriyahnya.
◦Banyak di antara kaum muslimin yang tidak mengetahui akan keburukan ahlul bid’ah karena mereka menampakkan keshalihan di hadapan umat. Dan ini amat berbahaya bagi kaum muslimin, karena kenyataannya betapa banyak di antara mereka yang terjerumus ke dalam bid’ah gara-gara tertipu dengan ‘penampilan’ pengusungnya.
◦Sedikitnya para ulama yang mengetahui bahaya bid’ah dan perinciannya serta berani dan mampu untuk mengupas penyimpangan ahlul bid’ah dengan terperinci, membongkar syubhat-syubhat mereka dan memberantasnya. Maka budaya tahdzir ini perlu untuk dihidupkan dengan norma-norma yang digariskan oleh agama kita. (Lihat kitab: Mauqif Ahl as-Sunnah: II/493-494 dan Sittu Durar min Ushul Ahl al-Atsar: hal. 113-121)

Tahdzir adalah merupakan salah satu bentuk kasih sayang kepada orang yang keliru dan umat. Memang pahit rasanya bagaikan obat, namun jika kita bersabar untuk ‘menelannya’ niscaya, cepat ataupun lambat, kita akan merasakan manisnya ‘kesehatan’ yang kita dambakan.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa tatkala agama Islam mensyariatkan tahdzir, agama Islam juga telah menggariskan norma-norma tahdzir, agar tidak timbul penerapan tahdzir yang membabi buta yang tidak selaras dengan ajarannya.

Norma-Norma Tahdzir

Tatkala agama Islam telah menjelaskan disyari’atkannya tahdzir, agama kita pun juga telah menjelaskan norma-normanya. Di antara norma-norma tersebut, apa yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaily hafizhahullah

1. Pengingkaran itu harus dilakukan dengan penuh rasa ikhlas dan niat yang tulus semata-mata dalam rangka membela kebenaran. Di antara konsekwensi ikhlas dalam masalah ini, adalah berharap agar orang yang terjatuh ke dalam kesalahan mendapatkan hidayah dan kembali kepada al-haq. Dan hendaknya pengingkaran tersebut juga diiringi dengan doa kepada Allah agar dia mendapat petunjuk-Nya. Apalagi jika ia termasuk golongan Ahlus Sunnah, ataupun kaum muslimin lainnya. Dahulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendoakan sebagian orang kafir agar mendapatkan petunjuk, bagaimana halnya jika orang yang bersalah berasal dari kaum muslimin yang bertauhid?! (Tentunya dia lebih berhak untuk didoakan).

2. Hendaknya bantahan tersebut dilakukan oleh seorang alim yang telah mumpuni ilmunya; mengetahui secara detail segala sudut pandang dalam materi bantahan, entah yang berkaitan dengan dalil-dalil syari’at yang menjelaskannya serta keterangan para ulama, maupun tingkat kesalahan lawan, serta sumber munculnya syubhat dalam dirinya, plus mengetahui keterangan-keterangan para ulama yang membantah syubhat tersebut.

Hendaklah orang yang membantah juga memiliki kriteria: kemampuan untuk mengemukakan dalil-dalil yang kuat tatkala menerangkan kebenaran dan mematahkan syubhat. Memiliki ungkapan-ungkapan yang cermat, agar tidak dipahami dari perkataannya kesimpulan yang tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Atau bisa juga tahdzir itu dilakukan oleh thalibul ‘ilm yang menukil perkataan para ulama, dan dia cermat dalam menukil serta memahami apa yang ia nukil.

Jika tidak memenuhi kriteria-kriteria di atas niscaya yang akan timbul adalah kerusakan yang besar.

3. Hendaklah tatkala membantah, ia memperhatikan: perbedaan tingkat kesalahan, perbedaan kedudukan orang yang bersalah baik dalam bidang keagamaan maupun sosial, juga memperhatikan perbedaan motivasi pelanggaran; apakah karena tidak tahu, atau hawa nafsu dan keinginan untuk berbuat bid’ah, atau mungkin cara penyampaiannya yang keliru dan salah ucap, atau karena terpengaruh dengan seorang guru dan lingkungan masyarakatnya, atau karena ta’wil, atau karena tujuan-tujuan lain di saat ia melakukan pelanggaran syari’at. Barang siapa yang tidak mencermati atau memperhatikan perbedaan-perbedaan ini, niscaya ia akan terjerumus ke dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau sebaliknya (kelalaian/penyepelean), yang mana ini semua akan berakibat tidak bergunanya perkataan dia atau paling tidak manfaatnya akan menjadi kecil.

4. Hendaklah ia senantiasa berusaha mewujudkan maslahat yang disyariatkan dari bantahan tersebut. Jika bantahan tersebut justru mengakibatkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan kesalahan yang hendak dibantah, maka tidak disyariatkan untuk membantah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan (suatu kaedah penting), “Tidak dibenarkan menghindari kerusakan kecil dengan melakukan kerusakan yang lebih besar, juga tidak dibenarkan mencegah kerugian yang ringan dengan melakukan kerugian yang lebih berat. Karena syariat Islam datang dengan tujuan merealisasikan maslahat dan menyempurnakannya, juga melenyapkan kerusakan dan menguranginya sedapat mungkin. Pendek kata, jika tidak mungkin untuk memadukan antara dua kebaikan, maka syariat Islam (mengajarkan untuk) memilih yang terbaik. Begitu pula halnya dengan dua kerusakan, jika tidak dapat dihindari kedua-duanya, maka kerusakan terbesarlah yang harus dihindari”. (Al-Masa’il al-Mardiniyah, hal. 63-64).

5. Hendaknya bantahan disesuaikan dengan tingkat tersebarnya kesalahan tersebut. Sehingga jika suatu kesalahan hanya muncul di suatu daerah atau sekelompok masyarakat, maka tidak layak bantahannya disebarluaskan ke daerah lain atau kelompok masyarakat lain yang belum mendengar kesalahan tersebut, baik penyebarluasan bantahan itu dengan menerbitkan buku, kaset maupun dengan menggunakan media-media lain. Karena menyebarluaskan suatu bantahan atas kesalahan, berarti secara tidak langsung juga menyebarluaskan pula kesalahan tersebut.

Bisa jadi ada orang yang membaca atau mendengar suatu bantahan, akan tetapi syubhat-syubhat (kesalahan itu) masih membayangi hati dan pikirannya, juga tidak merasa puas dengan bantahannya. Jadi, menghindarkan masyarakat dari mendengarkan kebatilan, adalah lebih baik daripada memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendengarkan kebatilan lalu memperdengarkan kepada mereka bantahannya. Para salaf senantiasa mempertimbangkan norma ini dalam bantahan-bantahan mereka. Banyak sekali kita dapatkan kitab-kitab mereka yang bertemakan bantahan, tapi di dalamnya mereka hanya menyebutkan dalil-dalil yang menjelaskan al-haq, yang merupakan kebalikan dari kesalahan tersebut, tanpa meyebutkan kesalahan itu. Tentu ini membuktikan akan tingkat pemahaman mereka yang belum dicapai oleh sebagian orang yang hidup di zaman ini.

Pembahasan yang baru saja diutarakan -yang berkaitan dengan menyebarkan bantahan di daerah yang belum terjangkiti kesalahan-, sama halnya dengan pembahasan tentang menyebarkan bantahan di tengah-tengah sekelompok orang yang tidak mengetahui kesalahan itu, walaupun ia tinggal di daerah yang sama. Maka tidak seyogyanya menyebarkan bantahan -baik melalui buku maupun kaset- di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengetahui atau mendengar adanya kesalahan tersebut.

Betapa banyak orang awam yang terfitnah dan terjatuh ke kubang keraguan terhadap dasar-dasar agama, akibat membaca buku-buku bantahan yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran mereka.

6. Hukum membantah pelaku suatu kesalahan adalah fardhu kifayah, sehingga bila telah ada seorang ulama yang melaksanakannya, tujuan syariat telah terealisasi dengan bantahan dan peringatan darinya. Maka tanggung jawab (kewajiban) para ulama yang lain telah gugur. Hal ini telah dijelaskan oleh para ulama dalam pembahasan hukum fardhu kifayah. (Lihat: Nashihah li asy-Syabab (hal. 6-8). Ada beberapa tambahan dari kami atas poin kedua, dan hal tersebut telah disetujui oleh Syaikh Ibrahim. Silahkan merujuk pula: Mauqif Ahl as-Sunnah: II/507-509 dan ar-Radd ‘ala al-Mukhalif, karya Syaikh Bakr Abu Zaid, hal 53-68 dan 85)

Penutup

Di akhir tulisan ini kami ingin meluruskan beberapa pemahaman keliru yang kerap menjadikan sebagian orang merasa enggan untuk menerapkan metode tahdzir.

Di antara pemahaman yang keliru tersebut:

Pertama: Tahdzir adalah menyebutkan keburukan orang lain, dan ini adalah ghibah. Padahal ghibah jelas keharamannya berdalilkan al-Qur’an, hadits dan ijma’. (Di antara para ulama yang menukil ijma’ akan haramnya ghibah: Imam Ibn Hazm dalam Maratib al-Ijma’ (hal. 156), Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar (hal. 542) dan Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (VII/380). Sedangkan Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ fi Ahkam al-Qur’an, beliau mengatakan bahwa para ulama tidak berbeda pendapat bahwa ghibah adalah termasuk kategori dosa besar)

Jawabnya: Penerapan metode tahdzir dari individu atau kelompok yang memiliki penyimpangan, merupakan salah satu bentuk nasehat yang wajib dilakukan. Dan ini tidak termasuk ghibah yang diharamkan dalam agama Islam.

Imam Ibn Hazm rahimahullah berkata, “Para ulama telah berijma’ akan diharamkannya ghibah, kecuali dalam nasehat yang wajib.” (Lihat: Maratib al-Ijma’, hal. 156)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ghibah diperbolehkan dalam enam kondisi, di antaranya, “Kondisi keempat: (ghibah diperbolehkan) di saat mentahdzir kaum muslimin dari suatu keburukan, serta ketika menasihati mereka. Dan hal ini ada beberapa macam bentuknya … antara lain: jika seseorang melihat seorang santri berangkat belajar pada ahlul bid’ah atau orang yang fasik dan dia khawatir santri tersebut akan terpengaruh dengan keburukannya, maka hendaknya ia menasihati santri tersebut dengan menjelaskan kepadanya hakikat keadaan ahlul bid’ah atau orang fasik tersebut, (hal ini dibolehkan) dengan syarat tujuannya adalah untuk nasihat.” (Riyadh ash-Shalihin, hal. 561-562)

Oleh karena itu -sebagaimana telah kita jelaskan di atas- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama sesudah beliau pun menerapkan metode ini. Bukankah mereka juga pasti mengetahui bahwa ghibah haram hukumnya? (Untuk pembahasan lebih luas tentang masalah ini, silahkan merujuk kitab Mauqif Ahl as-Sunnah min Ahl al-Bida’, (II/481-510))

Kedua: Penerapan metode tahdzir akan menimbulkan perpecahan di tubuh umat Islam. Padahal saat ini kita amat butuh untuk bersatu guna melawan musuh-musuh kita.

Jawabnya: Dari beberapa sisi:

1. Selama umat Islam tidak kembali kepada agamanya yang benar, niscaya mereka akan terus menjadi bulan-bulanan musuh mereka. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلاً لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم »

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah (salah satu sistem riba), kalian mengekor hewan ternak kalian, dan terbuai dengan cocok tanam, kemudian kalian meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud, III/477 no. 3462, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, II/365)

Jadi, sekedar menggembar-gemborkan persatuan antar umat, tanpa meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang murni, tidak akan bermanfaat untuk mengalahkan musuh.

Kalaupun bersatu dalam jumlah yang banyak, namun persatuan itu hanya ibarat banyaknya buih di lautan. Sebagaimana yang disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

« يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل »

“Akan tiba saatnya bangsa-bangsa mencaplok kalian, sebagaimana orang-orang yang berebut makanan di dalam nampan. Seseorang bertanya, “Apakah karena saat itu jumlah kita sedikit?”. Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahkan saat itu jumlah kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan.” (HR. Abu Dawud (IV/315 no. 4297), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (III/25))

2. Yang kerap menimbulkan perpecahan adalah penerapan metode tahdzir tanpa mengindahkan norma-normanya. Jika ada orang yang menerapkan metode tahdzir tanpa memperhatikan norma-normanya, maka janganlah kita mengingkari metode tahdzirnya; karena metode ini telah disyariatkan berdasarkan dalil-dalil yang kuat -sebagaimana telah dijelaskan di atas-. Sikap yang benar adalah: kita tetap menerapkan metode ini, namun dengan memperhatikan norma-normanya, sambil berusaha meluruskan pihak yang keliru dalam penerapannya. Jika metode tahdzir telah dilakukan sesuai dengan norma-normanya insyaAllah tidak akan menimbulkan perpecahan, kecuali dalam satu kondisi yaitu:

3. Orang yang diperingatkan tetap bersikeras dengan kesalahannya. Inilah yang justru menimbulkan perpecahan di dalam tubuh umat. Sudah dijelaskan padanya dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits, serta perkataan-perkataan para ulama yang menerangkan kesalahan dia, namun masih saja ngotot dengan pendapatnya yang keliru; orang-orang model seperti inilah yang seharusnya dikatakan merusak rapatnya barisan kaum muslimin, bukan orang-orang yang berusaha menerapkan metode tahdzir dengan norma-normanya yang benar.

Wallahu taa’la a’lam. Wa shallalllahu’ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alii wa shahbihi ajma’in…

Daftar Pustaka:
◦Al-Qur’an dan terjemahannya.
◦Akhbar ‘Amr bin ‘Ubaid, ad-Daruquthni.
◦Al-Adzkar, an-Nawawi.
◦Al-Furuq, al-Qarafi.
◦Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibn Hibban, Ibn Balban.
◦Al-Imamah, al-Ashbahani.
◦Al-Istighatsah, Ibn Taimiyah.
◦Al-Jama’at al-Islamiyyah, Salim al-Hilali.
◦Al-Jami’ fi Ahkam al-Qur’an, al-Qurthubi.
◦Al-Kafiyah fi al-Jadal, al-Juwaini.
◦Al-Mahajjah al-Baidha’, Rabi’ al-Madkhali.
◦Al-Qaul as-Sadid, Abdurrazaq al-Badr.
◦An-Nashihah, al-Albani.
◦Ar-Radd ‘ala al-Mukhalif, Bakr Abu Zaid.
◦Ar-Radd ‘ala ar-Rifa’i, Abdul Muhsin al-‘Abbad.
◦Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibn Hajar al-Haitami.
◦Ash-Shawa’iq al-Mursalah, Ibn al-Qayyim.
◦At-Tahdzir min Mukhtasharat ash-Shabuni, Bakr Abu Zaid.
◦At-Tashfiyah wa at-Tarbiyah, Ali bin Hasan al-Halabi.
◦Bughyah al-Multamis, al-‘Ala’i.
◦Fadha’ih al-Bathiniyyah, al-Ghazali.
◦Ghayah al-Amani, al-Alusi.
◦Ijma’ al-‘Ulama, Khalid azh-Zhufairi.
◦Irsyad al-Fuhul ila Tahrir an-Nuqul, Salim al-Hilali.
◦Irsyad as-Sari, al-Qasthallani.
◦Khalq Af’al al-‘Ibad, al-Bukhari.
◦Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah.
◦Maratib al-Ijma’, Ibn Hazm.
◦Matha’in Sayyid Quthb, Rabi’ al-Madkhali.
◦Mathla’ al-Fajr, Salim al-Hilali.
◦Mauqif Ahl as-Sunah min Ahl al-Bida’, Ibrahim ar-Ruhaili.
◦Minhaj at-Ta’sis, Abdul Lathif Alu Syaikh.
◦Munazharat A’immah Salaf, Salim al-Hilali.
◦Musnad Ahmad.
◦Naqdh Utsman bin Sa’id, ad-Darimi.
◦Nashihah li asy-Syabab, Ibrahim ar-Ruhaili.
◦Riyadh ash-Shalihin.
◦Shahih al-Bukhari.
◦Shahih Muslim.
◦Shahih Sunan Abi Dawud, al-Albani.
◦Shahih Sunan Ibn Majah, al-Albani.
◦Sittu Durar, Abdul Malik al-Jazairi.
◦Sunan Abi Dawud.
◦Sunan Ibn Majah.
◦Syaraf Ashab al-Hadits, al-Khathib al-Baghdadi.
◦Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibn Katsir.
◦Tahrim an-Nazhar, Ibn Qudamah.
◦Tanzih ad-Din, as-Sa’di.
◦Thariq al-Hijratain, Ibn al-Qayyim.

***

Penulis: Abu Abdirrahman Abdullah Zaen

Artikel http://www.muslim.or.id

_____

HAKEKAT HIZBI YANG SEBENARNYA

SALAH FAHAM TENTANG HIZBIYAH

Sebagian orang tidak sadar jika mereka jatuh dalam jerat hizbiyah yang mereka tahdzir siang-malam. Kita harus pahami dengan baik pemahaman istilah “hizbi” agar kita jauh darinya dan tidak jatuh ke dalamnya tanpa sadar.

Pepatah Arab brkata :

عرفت الشر لا للشر ولكن لتوقيه

“Aku mengenal keburukan, bukan tuk keburukn, tp tuk menghindarinya”.

Sebagian ikhwan menyangka bahwa hizbiyah itu orang yang gabung dengan yayasan atau organisasi tertentu, seperti Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir.

Ini adalah pemahaman yang sempit. Hizbiyah lebih luas daripada itu semua. Hizbiyah trdapat pada diri orang tertentu, entah ia bergabung dengan organisasi fulan atau tidak.

• MAKNA HIZBIYAH YANG SEBENARNYA

Definisi hizbiyyah menurut Syaikh DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, dari rekaman ceramah “Kasyfu as sitaar” :

“Hal ini menunjukkan kepada fanatisme terhadap gagasan tertentu yang menentang Al-Quran dan Sunnah, menampakkan kesetiaan dan permusuhan di atas gagasan itu, hal ini adalah hizbiyyah, walaupun dia tidak termasuk kedalam suatu organisasi. Tapi dia memiliki pemahaman menyimpang di dalam dirinya, dan mengumpulkan
orang-orang dengan gagasan itu maka ini adalah termasuk berhizbi. (Definisi ini) tidak ada bedanya baik ia masuk di dalam sebuah organisasi ataupun tidak … ”

Menurut Syaikh Muqbil bin Hadi al-wadi’i, dalam kitabnya Tuhfatul Mujeeb :

“Hal ini dikenal dengan loyalitas sempit. Siapapun yang bersama mereka akan dihormati, dan mengajak orang-orang untuk mengikuti dan untuk mengelilingi orang yang bersama mereka tersebut, sedangkan siapa saja yang tidak bersama mereka maka dianggap sebagai musuh. ”

Menurut Muhammad Hizaam :

“Makna hizbiyyah adalah sebuah kelompok dari orang-orang yang berkumpul di atas ide yang bertentangan dengan bimbingan Nabi. Mereka bergaul dan menjauh dengan itu sehingga persahabatan dan permusuhan mereka menjadi terbatas, hanya sepanjang ide-ide dan sasaran yang sedang mereka tuju tersebut. Ini adalah kefanatikan yang sangat tercela”.

Sumber Artikel : https://www.facebook.com/thalibul.ilmi.31

• APAKAH ORGANISASI ISLAM ADALAH HIZBI ?

Membuat organisasi adalah perkara muamalah, dan muamalah itu hukum asalnya mubah. Dan tentu saja membuat organisasi untuk dakwah dan menolong Islam adalah bentuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dlm dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah: 2).

Para ulama mengatakan bahwa membuat organisasi atau yayasan atau perkumpulan dalam rangka kebaikan adalah hal yang dibolehkan, selama tidak dijadikan sarana tahazzub (fanatik kelompok), dan tidak dijadikan patokan al wala wal bara’ sehingga sesama anggota organisasi dianggap teman dan di luar organisasi dianggap lawan.

Syaikh Abul Hasan Al Ma’ribi mengatakan : “Disyariatkannya organisasi, yayasan, atau perkumpulan sosial adalah perkara yang tidak diingkari oleh siapapun. Selama aktifitas organisasi tersebut dalam rangka menolong, membela dan mendukung al haq. Dengan syarat, anggotanya bebas dari sifat tahazzub (fanatik kelompok) yang tercela, dan dari finah harta, dan hal-hal yang memperburuk dakwah di setiap tempat. Adapun jika aktifitas organisasi ini hanya untuk pencitra’an, padahal di balik itu ada perkata’an-perkata’an menyimpang seperti mencela para ulama bahwa mereka murji’ah atau jahmiyah atau mengatakan bahwa mereka itu bodoh terhadap realita umat, atau organisasi tersebut menggiring umat kepada fitnah terhadap penguasa, lalu mulailah fitnah takfir dan berakhir dengan pembunuhan, penghalalan darah dan pengeboman, atau organisasi yang memerintahkan anggotanya untuk berbaiat sehingga memecah belah kaum muslimin, maka organisasi yang demikian ini semua bukanlah aktifitas dari organisasi yang baik. Dan tidak selayaknya para donatur menyalurkan dana-dana mereka pada organisasi-organisasi yang demikian” (Siraajul Wahhaj Bi Shahihil Minhaj, 99).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan : “organisasi jika memang sudah banyak tersebar di berbagai negeri Islam dan dibangun dalam rangka memberi bantuan dan dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa antar sesama muslim, tanpa diselipi dengan hawa nafsu, maka ini sebuah kebaikan dan keberkahan. Dan manfa’atnya sangat besar. Adapun jika antar organisasi menyesatkan organisasi yang lain dan saling mencela aktifitas organisasi lain, maka ini bahayanya besar dan fatal akibatnya” (Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah 5/202-204, bisa dilihat di http://www.binbaz.org.sa/mat/46).

Dan tidak benar sebagian orang yang menuduh orang yang ikut dalam organisasi Islami telah terjerumus dalam hizbiyah dan bid’ah yang tercela.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : “Organisasi apapun yang dibangun dengan asas Islam yang shahih, yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah sesuai dengan apa yang dipahami salafus shalih, maka organisasi apapun yang dibangun dengan asas ini tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Dan tidak ada alasan untuk menuduhnya dengan hizbiyyah. Karena ini semua termasuk dalam firman Allah Ta’ala : “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa“. Dan saling tolong-menolong itu adalah tujuan yang syar’i. Dan organisasi ini telah berbeda-beda sarananya dari zaman ke zaman dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu menuduh organisasi yang memiliki asas demikian dengan tuduhan hizbiyyah atau bid’ah adalah hal yang tidak ada alasan untuk mengatakannya. Karena ini menyelisihi apa yang dinyatakan oleh para ulama dalam membedakan antara bid’ah yang disifati sesat dengan sunnah hasanah” (Silsilah Huda Wan Nuur, no.590, transkrip dari http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=8964).

Oleh karena itu, kita pun melihat para ulama dari zaman ke zaman mereka juga membuat organisasi diantaranya Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Wal Ifta, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Fiqhil Islami, dll.

• FATWA SYAIKH BIN BAZ

Pendapat Syaikh bin Baz Ketika ditanya tentang jama’ah-jama’ah Islam yang berada di dalam ummat Islam, Syaikh bin Baz menjelaskan :

“Adapun jama’ah-jama’ah jika terdapat banyak jenisnya di negara-negara kaum muslimin yang kesemuanya bertujuan kebaikan dan membantu serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwa’an diantara kaum muslimin serta tidak mengikuti hawa nafsu, MAKA ITU SEMUA ADALAH BAIK DAN BAROKAH SERTA MANFA’ATNYA SANGAT BESAR, … “

Syaikh bin Baz berpendapat bahwa Hizbiyyah tidak sama dengan kelompok. Sebab kalau “Hizbiyyah sama dengan kelompok”, tidak mungkin beliau mengatakan bahwa itu semua adalah baik, barokah, dan bermanfa’at.

Selanjutnya, beliau menjelaskan :

“… Adapun jika JAMA’AH TERSEBUT SALING MENFATWAKAN SESAT TERHADAP JAMA’AH YANG LAINNYA DAN MENJELEK-JELEKKAN PERBUATAN JAMA’AH LAINNYA MAKA JAMA’AH TERSEBUT ADALAH JAMA’AH YANG MEMILIKI KEBURUKAN SERTA BAHAYA YANG SANGAT BESAR.”

Inilah penjelasan dari Syaikh tentang ”Jama’ah yang hizbiyyah”.

Makna Hizbiyyah yang sebenarnya adalah “kelompok yang fanatik pada kelompoknya sendiri, dan dengan keyakinan itu mereka aktif membid’ah-bid’ahkan kelompok lain dan menjelek-jelekkan kelompok lain”. Inilah kelompok yang “hizbiyyah” dalam makna sebenarnya.

Inilah kelompok yang mendapat gelar “dharaarun ‘azhim” (memiliki keburukan yang luar biasa besar) oleh Syaikh bin Baz sendiri pada penjelasan beliau di atas. Dan kelompok ini pula-lah yang telah menyalah artikan makna hizbiyyah, dari makna sebenarnya menjadi makna “hizbiyyah = kelompok”.

Penjelasan Syaikh bin Baz di atas bisa dilihat di : http://www.binbaz.org.sa/mat/46

• FATWA AL-LAJNAH AD-DAIMAH

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 6270 Mengenai Jama’ah-jama’ah Islam

Pertanya’an :

Ada sekian jama’ah pada sa’at ini, seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Jama’ah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyyah, Al-Jum’iyyah Asy-Syar’iyyah, Salafi, dan mereka yang disebut At-Takfir wal Hijrah. Semua jama’ah ini dan jama’ah lainnya terdapat di Mesir.

Yang saya tanyakan, “Bagaimana sikap seorang muslim terhadap jama’ah-jama’ah tersebut ? Pantaskah jika kita terapkan kepada mereka hadits Hudzaifah radhiallahu’anhu, ‘Jauhilah semua kelompok itu meskipun engkau harus menggigit akar pepohonan hingga meninggal dunia sedangkan dirimu tetap dalam keada’an seperti itu’. (HR. Imam Muslim dlm Shahihnya) ?”

Jawaban :

Semua kelompok tersebut memiliki kebenaran dan kebatilan serta salah dan benar. Sebagian mereka lebih dekat kepada kebenaran, lebih banyak kebaikannya, dan lebih banyak memberikan manfa’at kepada umat daripada kelompok lainnya. Hendaknya engkau saling membantu bersama setiap kelompok dalam kebenaran yang ada pada mereka. Nasihatilah mereka dalam perkara yang engkau lihat salah. Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju sesuatu yang tidak meragukanmu. Billahit taufiq. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasalam, keluarganya, dan para sahabatnya.

http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=77

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah tentang Semua Jama’ah Islam termasuk dalam Firqah Najiyyah

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah :

Semua Jama’ah Islam Termasuk Dalam Al-Firqah An-Najiyyah, Kecuali Jika Ada di Antara Mereka Melakukan Kekufuran yang Mengeluarkannya dari Dasar Keimanan Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 7122.

Pertanyaan :

Pada zaman ini terdapat banyak jama’ah. Semua mengklaim berafiliasi di bawah al-firqahan-najiyyah. Kami tidak mengetahui manakah jama’ah yang berada di atas al-haq. manakah jama’ah yang paling utama dan paling baik ?

Jawaban :

Semua jama:ah Islam termasuk dalam al-firqatun najiyah, kecuali jika ada di antara mereka melakukan kekufuran yang mengeluarkannya dari dasar keimanan. Akan tetapi, perbeda’an kekuatan dan kelemahan derajat mereka tergantung pada kedekatan mereka dengan kebenaran dan penerapannya serta pada kesalahan mereka dalam memahami dalil dan penerapannya. Jama’ah yang paling banyak mendapat hidayah adalah jama’ah yang paling bisa memahami dalil dan mengamalkannya. Oleh karena itu, kenalilah arah pandangan mereka. Bergabunglah bersama mereka yang paling banyak mengikuti kebenaran. Tetapi, janganlah berbuat semena-mena terhadap saudara sesama muslim yang karenanya Anda menolak kebenaran yang mereka lakukan. Ikutilah kebenaran di mana pun ia berada, sekalipun berasal dari orang yang bertentangan denganmu dalam satu dua masalah. Kebenaran adalah penuntun orang mukmin. Kekuatan dalil dari Kitabullah dan Sunnah merupakan pemisah antar kebenaran dan kebatilan.

Billahit taufiq. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta’

Dari berbagai sumber :

http://muslim.or.id/manhaj/hukum-organisasi-dan-taat-pada-pimpinan-organisasi.html

http://dpdhasmibogor-depok.blogspot.com/2011/05/harakah-bidah.html?m=1

http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=78
http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/10/08/fatwa-al-lajnah-ad-daimah-tentang-semua-jamaah-islam-termasuk-dalam-firqah-najiyyah/
http://anshoruttauhid.blogspot.com/2009/02/apakah-bertandzim-berharakah-bukan.html?m=1

======================

PEMBUNUHAN IHSAN ILAHI ZHAHIR

PEMBUNUHAN IHSAN ILAHI ZHAHIR

Pernahkah mendengar sosok ulama salafi mujahid bernama Ihsan Ilahi Zhahir ?

Dialah seorang ulama yang tegar membela Islam dan sunnah serta menjadi senjata tajam bagi para pengusung kesesatan ahli bid’ah dan para penyesat umat lainnya.

Betapa banyak sekte-sekte sesat padam karena keberkahan lisan dan tulisannya sehingga beliau seringkali dipenjarakan, namun beliau tetap berjuang membela Islam dan membongkar kedok aliran-aliran sesat.

Kedengkian musuh-musuh Ahlu Sunnah memuncak ketika beliau menyampaikan muhadharah pada 23 Rajab 1407 H di Jam’iyyah Ahli Hadits di Lahore Pakistan yang dihadiri oleh dua puluh ribu orang, di mana di sekitar meja pidatonya ternyata telah di taruh bom yang kemudian diledakkan, sehingga sepuluh ulama dan beberapa tamu undangan meninggal dunia.

Beliau kemudian dilarikan ke Riyadh (Saudi Arabia) untuk berobat, tetapi kematian menjemputnya beberapa hari setelah itu. Beliau dishalati oleh Imam al-Mujaddid Abdul Aziz bin Baz dan dikubur di kuburan Baqi’ bersama para wali-wali Allah setelah para nabi, karena beliau selalu membela kehormatan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm dan para istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallm. Semoga Allah merahmati beliau dan memasukkannya ke surga-Nya. (Ihsan Ilahi Zhahir, al-Jihad wal Ilmu minal Hayati ilal Mamat hlm. 1360–1407 oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani)

Kisah ini menunjukkan betapa dengkinya para ahli bid’ah dalam memusuhi ulama dan kegigihan mereka untuk merenggut nyawa para Ulama Sunnah. (Lihat al-Hiqdu Dafiin ’ala Ulama wa Shalihin oleh Ubaid asy-Sya’bi, dinukil dari Basha‘ir fil Fitan hlm. 30–31 oleh Isma’il al-Muqaddam.)

http://abiubaidah.com/aneh-dan-lucu-bag-4.html/

____

BAHAYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

BAHAYA BICARA AGAMA TANPA ILMU

Agama adalah apa yang telah dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya, dan sabda Rasulullah dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Allah dan Rasul-Nya termasuk kebodohan yang sangat berbahaya.

Alangkah banyaknya orang-orang yang berbicara hanya berdasarkan akal, perasa’an, duga’an, dan perkira’an, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Umumnya manusia segan berbicara masalah-masalah dunia ketika di hadapannya ada orang-orang yang memiliki specialisasi dalam bidangnya. Sebagaimana orang-orang segan berbicara masalah kedokteran, ketika ada dokter di hadapannya. Mereka segan berbicara masalah arsitek, ketika ada arsitektur di hadapannya.

Tetapi sangat disayangkan banyak orang tidak segan berbicara masalah agama, padahal dia bukanlah ahlinya.

Padahal ketika dia berbicara, dia selalu diawasi oleh Pencipta agama yang haq ini, karena Allah selalu mendengar, melihat, dan menyaksikan segala yang dibicarakan manusia.

• Berbicara tanpa ilmu merupakan sikap mengikuti hawa-nafsu

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi Rahimahullahu berkata :

“Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya”.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ ٱللَّهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. (Al-Qashshash: 50).

• Orang yang bicara perkara agama tanpa ilmu, maka akan menanggung dosa dari orang-orang yang di sesatkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً

”Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (Shohih Muslim Hadits No : 6750).

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu berkata : “Sesungguhnya banyak orang awam, yang sebagian mereka memberi fatwa kepada sebagian yang lain dengan apa yang mereka tidak mengetahuinya. Engkau dapati mereka mengatakan, “Ini halal, atau haram, atau wajib, atau tidak wajib”, sedangkan mereka tidak mengetahui sedikitpun tentang hal itu! Tidakkah mereka tahu, bahwa pada hari kiamat Allah akan menanyai mereka tentang apa yang telah mereka katakan. Tidakkah mereka tahu, bahwa jika mereka menyesatkan seseorang, dengan menghalalkan untuknya apa yang Allah haramkan, atau mengharamkan untuknya apa yang Allah halalkan, maka mereka kembali (kepada Allah) dengan dosa-dosa orang-orang yang mereka sesatkan, yang hal itu disebabkan oleh fatwa mereka itu”. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 76).

• Berbicara tentang agama tanpa ilmu akan diminta tanggung jawab

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata : “Seorang hamba akan ditanya tentang mendengar, melihat, dan berfikir pada hari kiamat, dan semuanya itu akan ditanya tentang apa yg telah diamalkan”. (Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’: 36)

Maka termasuk makna ayat ini adalah :
”Janganlah kita mengikuti apa-apa yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Janganlah kita mengikuti perkataan, perbuatan, atau hati terhadap apa yang kita tidak tahu. Sehingga Allah melarang kita untuk meyakini kecuali dengan ilmu, atau kita berbuat kecuali dengan ilmu, atau kita berkata kecuali dengan ilmu. Maka tidaklah kita (langsung) meyakini apa saja yg kita dengar, dan apa saja yg kita lihat, tetapi kita wajib memperhati-kannya dan memikirkannya. Jika kita telah mengetahuinya dengan bukti yg nyata, maka kita meyakininya. Namun jika tidak, maka kita tinggalkan hal tersebut di daerah keraguan, perkira’an, dan persangka’an yang tidak dianggap.” (Ushulul Hidayah, hal. 97, karya Syeikh Ibnu Badis).

Setelah mengetahui peringatan dan ancaman dari Allah dan Rasulnya, maka apakah orang-orang yang berbicara tentang agama semata-mata dengan akalnya, perasa’annya, perkira’annya, persangka’annya, dan duga’annya, akan tetap nekad mengedepankan kebodohannya ?

PERKATA’AN TIDAK DI ANGGAP APABILA TIDAK DI BANGUN DI ATAS ILMU

Imam Bukhari berkata dalam kitab shahihnya :

باب : العلم قبل و العمل

“Bab: Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Perkata’an beliau ini beliau sandarkan kepada firman Allah ta’ala :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah, bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”. (QS. Muhammad [47]: 19).

Ibnul Munir rahimahullah berkata,

“Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat diterima benarnya suatu perkata’an dan perbuatan. Suatu perkata’an dan perbuatan itu TIDAK TERANGGAP kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan”. (Fathul Bari, 1/108).

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

http://abuzuhriy.com/janganlah-engkau-berkata-tanpa-ilmu/

________

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH YANG DI MAKSUD AL ‘IZ BIN ABDUS SALAM

MEMAHAMI PEMBAGIAN BID’AH YANG DI MAKSUD AL ‘IZ BIN ABDUS SALAM

Al ‘Iz-bin Abdus Salam rahimahullah berkata : “Bid’ah itu terbagi kepada bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang sunnah bid’ah yang makruh dan bid’ah yang mubah. Dan cara untuk mengetahui hal tersebut, maka bid’ah tersebut harus dikembalikan kepada kaidah-kaidah syari’at. Maka jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah yang wajib, maka itulah yang dinamakan dengan bid’ah wajibah, apabila ia masuk pada kaidah yang haram, maka itulah bid’ah muharramah. Jika ia masuk dalam kaidah sunnah, maka itulah bid’ah mandubah (sunnah) dan jika ia masuk dalam kaidah mubah, maka itulah bidah yang mubah”. [Qawaa’idul Ahkaam, 2/173].

BANTAHAN :

1. Sesungguhnya kita tidak diperbolehkan untuk mempertentangkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perkata’an siapapun.

2. Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah : “Sesungguhnya pembagian tersebut adalah pembagian yang di ada-adakan, tidak ada satupun dalil syar’i yang mendukungnya, bahkan pembagian itu sendiri saling bertolak belakang, sebab hakikat bid’ah adalah jika sesuatu itu tidak memiliki dalil yang syar’i, tidak berupa dalil dari nas-nas syar’i, dan juga tidak terdapat dalam kaidah-kaidahnya. Sebab seandainya disana terdapat dalil syar’i tentang wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, niscaya tidak mungkin bid’ah itu ada, dan niscaya amalan tersebut masuk dalam amalan-amalan secara umum yang diperintahkan, atau yang diberikan pilihan. Karena itu maka mengumpulkan beberapa hal tersebut sebagai suatu bid’ah, dan antara keberadaan dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya, atau sunnahnya, atau bolehnya, maka semua itu merupakan pengumpulan antara dua hal yang saling menafikan”.[Al I’tisham, 1/246].

3. Bahwasanya bid’ah yang dimaksudkan oleh Al-’lzz bin Abdus Salam rahimahullah adalah bid’ah menurut pengertian bahasa, bukan menurut pengertian syara’. Dan yang menunjukan hal tersebut (bid’ah menurut bahasa) adalah contoh-contoh yang dipaparkan Al-’lzz bin Abdus Salam terhadap pembagian-pembagian tersebut.

Berikut ini pembagian bid’ah menurut Al-’lzz bin Abdus Salam dan contoh-contohnya :

• Bid’ah Wajib

Beliau contohkan dengan menekuni ilmu nahwu.

Tanggapan :

Apakah menekuni ilmu nahwu itu merupakan bid’ah menurut syari’at ?

Ataukah ia termasuk kepada kaidah yang mengatakan :

ما لا يتمّ الواجب إلا به فهو واجب

“Sesuatu yang tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu tersebut, maka sesuatu itu hukumnya wajib”

Ketahuilah bahwasanya mungkin dapat kita katakan mengenai ilmu nahwu, bahwa ia merupakan bid’ah menurut tinjauan bahasa, akan tetapi hukum-hukum syar’i itu ditetapkan dengan pengertian-pengertian menurut syari’at, bukan dengan menggunakan pengertian-pengertian menurut bahasa.

• Bid’ah Mandub (sunnah)

Beliau mencontohkannya dengan shalat tarawih, pembangunan sekolah-sekolah, dan pembicara’an mengenai tasawuf yang terpuji.

Tanggapan :

Semua itu bukanlah merupakan bid’ah di dalam agama. Shalat tarawih telah ada contohnya dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan pembangunan sekolah-sekolah adalah wasilah (sarana) untuk menuntut ilmu dan keutamaan ilmu serta mengajarkannya tidak dapat kita pungkiri, serta pembicara’an tentang tasawwuf terpuji telah diketahui sebagai bagian dari nasihat.

• Bid’ah Mubah

Beliau memberikan contoh yang banyak terhadap kelezatan-kelezatan.

Tanggapan :

Hal ini bukanlah merupakan bid’ah menurut agama, bahkan jika ia sampai kepada derajat israf (berlebih-lebihan), maka ia termasuk kepada hal yang diharamkan, yang masuk dalam suatu bentuk kemaksiatan, bukan termasuk bid’ah. Dan ada perbedaan antara kemaksiatan dan bid’ah. Imam Asy-Syathibiy telah membahas contoh-contoh tersebut dalam pembahasan yang panjang. [Al I’tisham, 1/246].

AL-‘IZ BIN ABDUS SALAM DIKENAL ANTI BID’AH

Bahwasanya telah ada riwayat mengenai Al-’Izz bin Salam Rahinahullah bahwa beliau adalah orang yang dikenal sebagai pemberantas bid’ah dan orang yang sangat melarang hal tersebut serta mentahdzir (memperingati) dan bahaya bid’ah. Sungguh beliau pernah melarang beberapa hal yang dinamakan oleh ahli bid’ah dengan bid’ah hasanah.

Berikut ini sebagian bid’ah yang diingkari oleh Al-’lzz bin Abdus Salam.

Syihabuddin Abu Syaamah, salah seorang murid dari Al-’lzz- berkata : “Beliau adalah orang yang paling berhak menjadi khathib dan imam, beliau telah menyingkirkan banyak bid’ah yang pernah dilakukan oleh para khatib dengan pukulan pedang di atas mimbar, dan lain-lain, beliau pernah mengungkapkan kebathilan dua shalat pada pertengahan bulan sya’ban (nishfu sya’ban), dan beliau melarang keduanya”. [Thabaqaat Asy Syafi’iyyah oleh Imam As Subki, 8/210)].

Dan berikut ini perkata’an Al-’lzz bin Abdus Salam yang menujukkan bahwa beliau adalah orang yang memerangi dan melarang bid’ah, yang di antaranya adalah apa yang dinamakan orang dengan “bid’ah hasanah”, namun demikian Al-’lzz bin Salam tetap mengingkarinya.

Di antaranya adalah :

Bahwasanya beliau pernah ditanya tentang bersalam-salaman setelah selesai shalat shubuh dan ashar, maka beliaupun berkata :

“Bersalam-salaman setelah shalat subuh dan ashar adalah merupakan salah satu dari bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang yang belum sempat bertemu dan berjabatan tangan dengannya sebelum shalat, sebab bersalam-salaman disyari’atkan oleh agama ketika baru bertemu. Dan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya setelah shalat berdzikir dengan dzikir-dzikir yang syar’i dan beristighfar 3 x kemudian bubar dari shalatnya. Dan diriwayatkan bahwa beliau membaca, (yang artinya) “Wahai Tuhanku jauhkanlah dari adzab-Mu di hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Dan segala kebaikan hanyalah dengan mengikuti Rasulullah. [Fataawaa Al ‘Izz Ibnu Abdissalaam, hal. 46, no. 15, Cet. Daarulbaaz].

Dan Al-’lzz bin Abdus Salam juga pernah berkata :

و لا يستحبّ رفع اليدين فى الدعاء إلا فى المواطن الّتى رفع فيها رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يديه و لا يمسح وحهه بيديه عقب الدعاء إلاّ جاهل

“Dan tidaklah disukai (disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdo’a, kecuali pada tempat-tempat yang padanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, dan tidak ada orang yang mengusapkan kedua tangannya kewajahnya setelah berdo’a melainkan orang yang jahil”. [Ibid, hal. 47].

Dan Al-’lzz bin Abdus Salam juga berkata : “Dan tidak disyari’atkan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam do’a Qunut, dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh ditambah atau dikurangi sedikitpun”. [1]

Ketika mengornentari perkata’an beliau ini, Syaikh Al-Albany berkata : “Di dalam perkatan beliau ini terdapat isyarat bahwasanya kita tidak memperluas istilah bid’ah hasanah, sebagaimana yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang disaat ini.

Saya katakan : “Dari apa yang telah dibahas, maka menjadi jelaslah bahawasanya yang dimaksudkan oleh Ai-’lzz bin Abdus Salam dalam pembagian beliau terhadap bid’ah adalah bid’ah secara bahasa, bukan merupakan pengertian bid’ah menurut agama.”

Disana masih ada lagi nash yang shahih dari beliau mengenai apa yang beliau maksudkan dengan bid’ah hasanah, dimana beliau berkata ketika membantah Ibnu Shalah mengenai shalat ragha’ib: “Kemudian beliau, ibnu Shalah mengaku bahwasanya shalat ragha’ib itu merupakan bid’ah yang dibuat-buat, maka kami berhujjah kepada beliau kalau begitu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.”

Dan telah dikecualikan dalam hadits tersebut bid’ah hasanah dari bid’ah dhalalah, yakni semua bid’ah yang tidak menyelisihi As-Sunnah, bahkan ia sesuai dengan sunnah maka jenis bid’ah yang lain masuk pada keumuman Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

و شر الأمور محدثاتها و كلّ بدعة ضلالة

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat.”

[Musaajalatu “Amaliyyah Bainal Imaamain Al Jaliilain Al ‘Izz bin Abdissalaam dan Ibnu Shalah, hal. 31].

Di sini kami katakan : Perkara yang ada kesesuaian dengan As-Sunnah, apakah boleh kita katakan sebagai bid’ah menurut agama ?

Maka perhatikanlah perkataan Al-’Izz mengenai pengertian bid’ah hasanah, yakni : “Tidak menyelisihi Sunnah, bahkan sejalan dengan As-Sunnah itu sendiri.” !!, maka apa saja yang sesuai dengan As-Sunnah sudah pasti tidak ternasuk dalam kategori bid’ah menurut syari’at, namun terkadang merupakan bid’ah menurut pengertian secara bahasa. Maka sudah sangat jelas apa yang dimaksudkan oleh Al-’Izz dengan bid’ah hasanah, bid’ah wajibah, bid’ah mustahabbah (sunnah) dan bid’ah mubahah (boleh) adalah bid’ah secara makna bahasa.

Adapun secara syari’at, maka semua bid’ah itu sesat.

Dari sini jelaslah bahwa perkataan bid’ah hasanah dalam agama merupakan salah satu di antara sebab-sebab utama terjadinya pembauran antara makna secara bahasa dan istilah agama terhadap makna bid’ah yang terdapat di dalam atsar-atsar, serta perkataan sebagian ahli ilmu.

Maka barangsiapa yang diberi taufiq untuk dapat membedakan antara ini dan itu, maka syubbhat-syubhat tersebut akan hilang dari dirinya dan menjadi jelaslah baginya permasalahan tersebut.

Footnote :

[1] Mungkin yang beliau maksudkan adalah qunut di shalat subuh, sebab beliau bermadzhab Syafi’i, sedangkan mereka mengatakan bahwa hal tersebut disyari’atkan. Kalau tidak, maka sesungguhnya shalawat dalam do’a qunut pada shalat witir merupakan perbuatan Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه . (Ditakhrij oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya, hal. 1100. Lihat pula Shifat Shalat Nabi صلى الله عليه و سلم oleh Al Albani, hal. 160 pada catatan kaki.

_____

MEWASPADAI BAHAYANYA KEBODOHAN

MEWASPADAI BAHAYANYA KEBODOHAN

Pepatah Arab mengatakan :

العلم نور والجهل ظلام

”Ilmu itu cahaya dan bodoh itu kegelapan”.

Ilmu adalah perkara yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia akan bisa membedakan mana yang benar mana yang salah.

Orang yang bodoh akan ilmu agama disebutkan oleh Allah ta’ala sebagai seorang yang buta yang tidak bisa melihat kebenaran dan kebaikan.

Allah ta’ala berfirman :

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

”Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta ? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. (QS: Ar-Ra’d: 19).

Hal ini menunjukkan bahwa yang sebenarnya memiliki penglihatan dan pandangan yang hakiki hanyalah orang-orang yang berilmu. Adapun orang yang bodoh akan ilmu agama hakikatnya adalah orang yang buta yang berjalan di muka bumi tanpa dapat melihat.

Banyak manusia berbondong-bondong terjerumus kedalam ajaran dan faham sesat akibat dari jauhnya mereka dari lmu agama. Dan akibatnya ketika ajaran dan faham sesat itu sudah dilakukan mayoritas manusia, jadilah kesesatan itu dipandang sebagai ajaran yang benar, dan orang-orang bodoh pun semakin sulit keluar dari kesesatannya, karena mereka menyangka bahwa apa yang dilakukannya sebagai perkara yang benar.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ , أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِماَّ يُصْلِحُ

”Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan”. (Majmu’ Fatawa 25/281).

Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata : “Tidaklah diragukan bahwa kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan”. (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87).

• ORANG BODOH IBARAT LALAT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala berkata : “Orang bodoh itu bagaikan lalat yang tidak hinggap kecuali pada kulit yang terluka, dan dia tidak mau hinggap pada kulit yang normal. Adapun orang yang berakal, ia akan memilah-milah, ini yang baik, dan ini yang tidak baik”.

Sungguh indah untaian kalimat ini, ringkas tetapi penuh arti.

Demikianlah memang keada’an orang-orang bodoh, bagaikan seekor lalat yang tidak pernah berfikir apakah ini baik atau buruk, wangi atau bau busuk.

Seorang yang berakal, sebelum melaksanakan sesuatu, ia akan berfikir dengan matang, apa akibat yang ditimbulkannya, benar atau salah, berpahala atau tidak, menuai keridhaan ataukah justru kemurka’an, menguntungkan atau justru merugikan.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

————————

TA’ASHUB / CINTA GOLONGAN

TA’ASHUB / CINTA GOLONGAN

Diantara penyebab berbagai permasaalahan ummat hari ini di berbagai belahan dunia adalah fitnah ta’ashub, kegemaran mengkotak-kotakkan diri dan orang lain. Masing-masing mengklaim kelompoknya paling benar.

Ada lagi yang bermudah-mudah dalam membid’ahkan orang, memfasikkan orang, bahkan mengkafirkan kaum muslimin tanpa dalil dan burhan (keterangan yang jelas).

Syaikh Anis Thohir Al Andunisy berkata : Saya menasehatkan kepada ikhwah sekalian untuk menghindari fitnah tahazzub (bangga/cinta golongan) dan perilaku-perilaku diatas.

Islam itu satu dan tak berbagi, aqidah itu satu dan tak berbilang, tidak ada istilah aqidah ahlussunnah, akhlak fulaniy, thoriqoh fulaniyah, hizb fulanilany.. Tidak, tidak ….

Syaikh mengatakan, Ta’ashub itu dua macam :

Pertama : Ta’ashub dalam bentuk kelompok yang dipimpin oleh seorang amir

Kedua : Ta’ashub secara makna, dimana mereka mencela kelompok pertama namun tanpa sadar mereka juga masuk dalam problem yang sama, seperti orang yang mengajak ta’ashub pada syaikh fulan dan fulan.

Keduanya sama-sama tercela…

Wallahulmusta’an.

Jadilah muslim aswiyaa, yang lurus, yang berpegang teguh dengan Kitabulah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mengikuti dalil kemanapun dalil membawa kita.

Syaikh melanjutkan, Ada sebuah qaidah yang bila anda terapkan dalam memecahkan berbagai masaalah dalam semua bidang ilmu baik ilmu hadits, fiqh, ushul fiqh dan lain-lain, niscaya anda akan menemukan ketenangan dalam beragama, terbebas dari taqlid buta dan ashobiyyah.

Qaidah itu adalah :

1. Mencari dalil (طلب الدليل)

2. Memastikan keabsahan dalil (صحة الدليل)

3. Cara pendalilan yang benar (الاستدلال)

Ingat dengan baik ketiga hal ini, dengan menerapkan kaidah ini, Insya Allah anda akan merasakan kebahagiaan dalam beragama.

Madinah 12 Dzulqa’dah 1435 H.

* Catatan kecil di majelis Syaikh Anis Thohir Al Andunisy hafidzahullah.

• FANATIK DAN CINTA GOLONGAN

Kebanyakan manusia, condong untuk saling berbangga diri dan menonjolkan kelompok dan golongannya masing-masing.

Padahal Allah Taála menegur mereka dengan firman-Nya.

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

Di antara sebab menonjol terjadinya perpecahan dan saling berbangga diri dalam kehidupan bermasyarakat adalah fanatisme golongan. Yaitu sikap fanatik terhadap suatu golongan dengan mengajak orang lain agar membela golongannya dan bergabung bersamanya dalam rangka memusuhi lawannya baik dalam kondisi terzalimi atau menzalimi. (Lihat Lisanul ‘Arab).

Dalam bahasa Arab, fanatisme golongan disebut dengan العَصَبِيَّةُ (‘ashabiyah) dan التَّعَصُّبُ (ta’ashshub).

Dari sini kita fahami bahwa fanatisme adalah sikap memposisikan diri pada sebuah golongan, membelanya secara membabi-buta tanpa memperhatikan nilai-nilai kebenaran yang ada, dan mengajak orang lain agar bergabung bersamanya.

• BAGAIMANA FANATISME DALAM PANDANGAN ISLAM

Sikap fanatik terhadap golongan, mazhab, tokoh, kabilah/suku, ataupun yang lainnya, merupakan penyakit yang berbahaya. Sungguh penyakit ini telah menimpa umat terdahulu, bahkan umat Islam yang kita berada padanya hingga memecah belah persatuan mereka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Umat Yahudi terpecah belah menjadi 71 golongan, umat Nashrani terpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah ?’. Beliau menjawab : (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada”. (HR. at-Tirmidzi).

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullaah berkata, “Sesungguhnya sikap fanatik adalah penyakit kronis yang telah membinasakan umat terdahulu dan sekarang. Penyakit inilah yang pertama kali terjadi dalam sejarah makhluk-makhluk yang Allah ciptakan, yaitu sa’at menimpa iblis terlaknat. Dengan sebab itulah ia menjadi makhluk pertama yang bermaksiat kepada Allah. Kefanatikannya terhadap bahan asal pencipta’annya (yakni, api) menyebabkannya kufur dan menolak perintah untuk sujud penghormatan kepada Nabi Adam ‘alaihis salaam.

Sebagaimana Allah ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an :

خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Engkau (Allah) menciptakan aku dari api sementara Engkau menciptakan dia (Adam) dari tanah liat.” (Al-A’raf: 12)

(Lihat at-Ta’ashshub adz-Dzamim wa Atsaruhu hlm. 20).

• MENGAPA FANATISME TERJADI ?

Muncul satu pertanya’an, bukankah fanatisme itu merupakan penyakit yang berbahaya bagi suatu umat, lalu mengapa sampai menimpa mereka ?

Ketahuilah bahwa terserangnya suatu umat oleh penyakit ini karena tingginya rasa ego pada diri mereka dengan merasa lebih dari selain mereka. Baik yang sifatnya sangat pribadi, seperti yang terjadi pada iblis, atau pun yang berkaitan dengan pihak lain seperti nenek moyang, mazhab, tokoh dll. Sehingga menjadilah ia sebagai penghalang bagi mereka untuk menerima kebenaran dari pihak lain.

Kasus-kasus fanatisme di tengah masyarakat tentunya beragam. Akan tetapi yang paling banyak terjadi di setiap umat dari masa ke masa adalah fanatik terhadap nenek moyang/pendahulu dan ajaran mereka. Tanpa peduli apakah pendahulu mereka di atas Al-Haq (kebenaran) atau tidak. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an sa’at mereka menolak dakwah para rasul.

Allah ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿٢٣﴾ فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَـٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Dan sungguh telah Kami utus Nuh kepada kaumnya dan ia berkata, ‘Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah tidak ada bagi kalian sesembahan selain Dia, tidakkah kalian bertakwa? Maka sebagian orang-orang kafir dari kaumnya menjawab, ‘Tidaklah ia (Nuh) kecuali manusia biasa seperti kalian, seandainya Allah kehendaki pasti Dia akan mengutus malaikat, kami belum pernah mendengar ajakan (dakwah) seperti ini pada nenek moyang kami dahulu.” (Al-Mu’minuun : 23-24).

Demikian pula yang terjadi pada dua tokoh kafir Quraisy Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah, dengan alasan yang sama mereka menolak dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak Abu Thalib paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir kehidupannya kepada ajaran nenek moyang tersebut.

Tatkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Thalib di akhir-akhir kehidupannya itu, “Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah sebuah kalimat yang aku akan membela engkau dengannya di hadapan Allah!” Maka Abu Jahl segera menimpali, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama ‘Abdul Muththalib (ayah Abu Thalib)?” Setiap kali Rasulullah mengulangi ucapannya maka ditimpali oleh Abu Jahl dengan perkataan yang sama, “Apakah engkau membenci agama ‘Abdul Muththalib?” Akhirnya Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan kafir karena terpedaya ucapan Abu Jahl untuk tetap berpegang dengan agama kekafiran yang dianut oleh nenek moyangnya. (Lihat kisah ini dalam Shahih Muslim, Kitabul Iman)

• APAKAH BOLEH FANATIK TERHADAP SALAH SATU DARI EMPAT MAZHAB ?

Merupakan sesuatu yang maklum dalam kehidupan beragama, bolehnya mengikuti mazhab imam yang empat yang tersebar di kalangan umat Islam; hanafi, maliki, syafi’i dan hanbali, dengan memahami dalil-dalilnya dan tidak mempertahankan pendapat mazhabnya sa’at bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun sikap fanatik terhadap salah satu dari empat mazhab tersebut, dan meyakini salahnya mazhab selainnya, serta tidak mengindahkan kebenaran yang ada, merupakan sebab rusaknya persatuan umat. Terlebih jika fanatik dan taklid tersebut dilandasi ketidakpahaman terhadap mazhab yang dianut.

• PARA IMAM MADZHAB MELARANG FANATIK DAN TAKLID KEPADA MEREKA

Berikut pernyata’an mereka :

1. Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Haram bagi siapa saja yang tidak mengetahui dalil mazhabku/pendapatku untuk berfatwa dengan ucapanku. Karena kami manusia biasa, berpendapat dengan sebuah pendapat di hari ini, dan terkadang berpendapat yang lain darinya esok hari.”

2. Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya hanyalah manusia biasa, bisa salah dan bisa benar. Maka lihatlah pendapatku jika sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah maka ambillah (pendapatku tersebut). Namun jika menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah maka tinggalkanlah pendapatku.”

3. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah maka berpeganglah dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah ucapanku.”

4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Janganlah kalian taklid kepadaku, kepada Malik, kepada asy-Syafi’i, atau al-Auza’i. Ambillah (pendapat) dari mana mereka mengambil”.

• AKIBAT BURUK FANATIK KEPADA IMAM MADZHAB

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, Akibat buruk fanatik kepada salah satu mazhab adalah :

1. Fanatik terhadap mazhab menjadi sebab ditolaknya nash-nash dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih ketika tidak sesuai dengan mazhab yang ia pegangi.

2. Memperbanyak munculnya hadits-hadits lemah bahkan palsu dalam rangka membela mazhab.

3. Membatasi diri dengan salah satu mazhab tanpa melihat mazhab yang lain apalagi mengambil pelajaran ilmiah darinya.

4. Tersebarnya sikap taklid dan jumud serta menutup rapat-rapat pintu ijtihad.

Oleh karena itu, wajib bagi kita semua umat Islam untuk meninggalkan sikap fanatik dan taklid buta. Kemudian berupaya berpegang-teguh dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta bimbingan para sahabatnya yang mulia.

Wallahu a’lamu bish shawab.

Dari berbagai sumber.

_____________

FENOMENA FANATIK BUTA

FENOMENA FANATIK BUTA

Fanatik dalam bahasa Arab disebut ta’ashub. Yaitu sikap mengikuti seseorang tanpa mengetahui dalilnya, selalu menganggapnya benar, dan membelanya secara membabi buta.

Fanatik terhadap kyai, ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi sejak dahulu seperti yang terjadi di kalangan para pengikut madzhab (ada 4 madzhab yang terkenal yaitu Hanafi, Hanbali, Maliki, dan Syafi’i).

Di mana para pengikut madzhab tersebut mengklaim bahwa kebenaran hanya pada pihak mereka sendiri, sedangkan kebathilan adalah pada pihak (madzhab) yang lain. Banyak contoh yang dapat diambil dari para pengikut madzhab tersebut.

Di antara contoh perkata’an bathil di antara mereka adalah ucapan Abul Hasan Al Karkhiy Al Hanafi (seorang tokoh fanatik di kalangan Hanafiyyah). Beliau mengatakan, “Setiap ayat dan hadits yang menyelisihi penganut madzhab kami (Hanafiyyah), maka harus diselewengkan maknanya atau dihapus hukumnya.”

Syaikh Al Albani rahimahullah juga mengisahkan, bahwa ada seorang bermadzhab Hanafiyah mengharamkan pria dari kalangan mereka menikah dengan wanita bermadzhab Syafi’iyah, kecuali wanita tadi diposisikan sebagai wanita ahli kitab dianalogikan dengan wanita Yahudi dan Nasrani !!

Hal ini masih terjadi hingga sekarang. Seperti ada seorang bermadzhab Hanafi dan dia begitu takjub dengan seorang khotib masjid Bani Umayyah di Damaskus, dia mengatakan, “Andaikan khotib tadi bukan bermadzhab Syafi’i, niscaya aku akan nikahkan dia dengan anak perempuanku !”

Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’ juga menceritakan, bahwa Abu Abdillah Muhammad bin Fadhl Al Farra’ pernah menjadi imam sholat di masjid Abdullah selama 60 puluh tahun lamanya. Beliau bermadzhab Syafi’i dan melakukan qunut shubuh.

Setelah itu imam sholat diambil alih oleh seseorang yang bermadzhab Maliki dan tidak melakukan qunut shubuh. Karena hal ini menyelisihi tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka bubar meninggalkan imam yang tidak melakukan qunut shubuh ini, seraya berkomentar, “Sholat imam tersebut tidak becus !!!”.

Inilah contoh yang terjadi di kalangan pengikut madzhab. Begitu juga yang terjadi pada umat Islam sekarang ini, banyak sekali di antara mereka membela secara mati-matian pendapat dari ulama atau guru-guru mereka (seperti membela kesyirikan, kebid’ahan, atau perbuatan haram yang dilakukan guru-guru tersebut), padahal jelas-jelas bertentangan dengan ayat dan hadits yang shohih.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

http://aminbenahmed.blogspot.com/2014/11/fanatik-buta-kepada-sang-kyai.html#sthash.XAU1PT2W.dpuf

_____________

MEMPERINGATKAN UMAT DARI PENYIMPANGAN SEBAGAI BUKTI CINTA KEPADANYA

MEMPERINGATKAN UMAT DARI PENYIMPANGAN ADALAH SEBAGAI BUKTI CINTA KEPADA SAUDARANYA

Munculnya berbagai macam kelompok aliran, dan merebaknya amalan-amalan bid’ah di tengah-tengah umat adalah sebuah keniscaya’an.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam mengabarkan,

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة , وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة , كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة , قَالُوا : مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan, dan ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2641).

Banyaknya faham menyimpang dari tuntunan Allah dan Rasulnya, merebaknya amalan-amalan baru (bid’ah), perkara muhdats (yang dibuat-buat) dalam Islam ditengah-tengah umat, Lalu apakah kita diam saja membiarkan saudara-saudara kita berpecah belah, terjerumus kedalam penyimpangan ?

Atau membiarkan saudara-saudara kita kaum muslimin disesatkan oleh kelompok-kelompok yang menyimpang ?

Tentunya, adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk menjaga agama ini dari berbagai penyimpangan sesuai kemampuannya.

Merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk menyelamatkan saudara-saudaranya kaum muslimin dari kelompok-kelompok yang menyimpang dan faham-faham sesat menyesatkan.

Jika demikian, maka sesungguhnya memperingatkan saudara sesama muslim dari bahaya kelompok menyimpang dan faham-faham sesat, adalah bukti sejati kecintaan seorang muslim kepada saudara-saudaranya kaum muslimin.

Inilah yang dipahami para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dalam atsar berikut :

Abu Shalih Al-Farra’ rahimahullah berkata, “Aku menceritakan kepada Yusuf bin Asbath tentang Waki’ bahwasanya beliau terpengaruh sedikit dengan perkara fitnah (Khawarij) ini”. Maka dia (Yusuf bin Asbath) berkata, “Dia serupa dengan gurunya, yaitu Al-Hasan bin Shalih bin Hay”. Aku pun berkata kepada Yusuf, “Apakah kamu tidak takut perkataanmu ini merupakan ghibah ?” Beliau menjawab, “Kenapa begitu wahai orang dungu, justru saya lebih baik bagi mereka dibanding ibu dan bapak mereka sendiri, saya melarang manusia dari mengamalkan kebid’ahan mereka, karena bisa mengakibatkan semakin banyaknya dosa-dosa para pengajak kepada bid’ah tersebut. Adapun yang memuji mereka, justru lebih membahayakan mereka.” [Lihat At-Tahdzib (2/249 no. 516), sebagaimana dalam Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsiy. Muraja’ah: As-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, (hal. 27)].

Maka sangat mengherankan jika ada seorang muslim, apalagi mengaku Ahlus Sunnah, kemudian marah jika ada saudaranya yang mengingatkan akan bahayanya berbagai kelompok yang menyimpang, faham-faham sesat menyesatkan yang muncul di tengah-tengah umat.

Tidak jarang yang meluruskan saudaranya sesama muslim dituduh sebagai pemecah belah umat, tukang usil, senang ngajak ribut, biang kerok, suka mencari-cari kesalahan orang, suka membid’ahkan, dan tuduhan-tuduhan buruk lainnya.

Atau keluar dari lisan mereka yang merasa terusik, ucapan : ”sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit sesat, sedikit-sedikit syirik, jangan merasa benar sendiri”, dan ucapan-ucapan sejenisnya.

Para penyeru umat untuk kembali kepada ajaran yang sesuai tuntunan Allah dan Rasulnya sering mereka katakan sebagai kelompok ekstrem, kaku, tidak tahu fiqhud dakwah dan tidak toleran kepada faham dan kelompok lain.

• ORANG BERILMU AKAN MENJAGA ISLAM DARI BERAGAM PENYIMPANGAN

Menjaga Islam dari berbagai penyimpangan dan kesesatan adalah sifat orang-orang yang Allah Ta’ala anugerahkan ilmu kepada mereka.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

يَحْمِلُ هَذَا العِلْمُ مَنْ كُلُّ خَلْفَ عدوله يَنْفُونَ عَنْهِ تَحْرِيفَ الغالين وَاِنْتِحَالٌ المبطلين وَتَأْوِيلُ الجَاهِلِينَ

“Yang membawa ilmu agama ini pada setiap jaman adalah orang-orang terbaiknya, mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, (membantah) para penghapus (agama) dan (meluruskan) tafsiran orang-orang jahil”. [H.R. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin Abdir Rahman Al-‘Adzri radhiyallahu’anhu, Al-Misykah, (no. 248)].

• WAJIB MENCEGAH KEMUNGKARAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum muslim sebagai penyeru kepada kebaikan dan penolak kemungkaran.

Allah ta’ala berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. [QS. Ali Imran: 104].

Firman Allah ta’ala di atas merupakan dalil yang sharih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Muslim. Bahkan, Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah, atau berdiam diri terhadap kemungkaran dengan “tidak terkabulnya doa”.

Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat munkar maupun tidak.

Hal ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum menolak kemungkaran adalah wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَأَى مُنْكِرًا فَلِيُغِيرَهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفَ الإِيمَانَ

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a).

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata :

السَّاكِتُ عَنْ الحَقِّ شَيْطَانٌ أُخْرِسُ، وَالمُتَكَلِّمُ بِالبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ

“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, sedang yang berucap dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”. [Lihat Ar-Raddu ‘alal Mukhaalif min Ushulil Islam, karya Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah, (hal. 75-76), sebagaimana dalam Madarikun Nazhor, (hal. 67)].

با رك الله فيكم

Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί

https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/

_____________

BID’AH AKAN MERAJALELA SEHINGGA SUNNAH TIDAK AKAN NAMPAK

BID’AH AKAN MERAJALELA SEHINGGA SUNNAH TIDAK AKAN NAMPAK

Suatu ketika Hudzifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu mengambil dua batu dan meletakkan salah satunya di atas yg lain. Lalu beliau berkata kepada para Shahabat-nya :

”Apakah kalian melihat ada cahaya di antara sela-sela dua batu itu . . ? ? ”

Mereka berkata : ”Wahai Abu Abdirrahman, Kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja . . ”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata :
”Demi Dzat yang diriku berada ditangan-Nya, BID’AH benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya diantara dua batu tersebut . .

Demi Allah, BID’AH AKAN benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah yg ditinggalkan mereka akan berkata : ”SUNNAH TELAH DI TINGGALKAN”.

(Al-Bida’ wan Nahyu’ Anha, hlm. 58).

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

____________