KEUTAMA’AN PARA PEMBELA SUNNAH DAN TIDAK AKAN MEMBAHAYAKAN ORANG-ORANG YANG MEMUSUHINYA

KEUTAMA’AN PARA PEMBELA SUNNAH DAN TIDAK AKAN MEMBAHAYAKAN ORANG-ORANG YANG MEMUSUHINYA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَاماً الصَّبْرِ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلًا يَعْمَلُوْنَ مِثْلُ عَمَلِكُمْ. قِيْلَ: يَارَسُولَ اللهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ.

“Sesungguhnya di belakang kamu ada hari-hari dimana orang yang sabar (yang mengikuti sunnah Nabi), ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan lima puluh kali dari kamu yang mengamalkan amalan (sunnah) tersebut. Para sahabat bertanya : Mendapatkan lima puluh kali dari kita atau dari mereka ? Rasulullah menjawab : Bahkan lima puluh kali pahala kamu”. (Hadis riwayat al-Hakim dan lainnya. Beliau menganggap hadis ini sebagai sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ، وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Ada satu golongan dari umatku yang akan selalu berada di atas kebenaran. (yang mengikuti sunnahku), Tidak akan membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah sedangkan mereka tetap dalam keada’an seperti itu”. (H.R Muslim, no. 1920).

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”. (al-Aqrimany:315, al-Mawa’idz).

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________

AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

AHLUL BID’AH MEMAKNAI AL-QUR’AN SESUKA HATI

Para pengikut hawa nafsu dalam memaknai al qur’an ataupun hadits, mereka maknai sesuka hati, dengan tujuan untuk membela dan membenarkan amalan-amalan batilnya.

Berikut ini dari sekian banyak tafsiran mereka yang menyimpang,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” ? ? ? ?

Sampai sebegitu jauhnya mereka artikan lafazh Ayat, padahal itu adalah Firman Allah ta’ala yang tidak seharusnya di pelitir semena-mena.

Apakah ada Ulama salaf yang memiliki penafsiran seperti itu ? ? ?

Pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan menyebutkan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan dari air itu segala sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai pencipta’an manusia.

Sebagai bukti bahwa ayat 30 dari surat al Anbiyya ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat selanjutnya :

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”. (QS al Anbiyya : 31).

Sungguh fatal penafsiran mereka. Apakah belum sampai ancaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka ?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2874].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengatakan tentang al-Qur’an dgn akalnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur`an dgn pendapatnya, maka dia tetap salah walaupun pendapatnya benar”. [HR. Tirmidzi No.2875].

Kesalahan fatal penafsiran mereka adalah :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖوَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖأَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”.

Perhatikan keterangan Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist yang menerangkan bahwa segala sesuatu tercipta dari air.

Dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه وَقَالَ
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu. Beliau menjawab : “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.”

Ayat ini menerangkan bahwa segala yang hidup membutuhkan air atau pemelihara’an kehidupan segala sesuatu adalah dengan air.

Sitologi (Ilmu tentang susunan dan fungsi sel) misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dlam pembentukan sel yang merupakan satuan banggunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Sedang biokimia menyatakan bahwa air adalah unsure yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air berfungsi sebagai media, factor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.

Tafsir Jalalain

Menurut Tafsir Jalalain, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu. Kemudian Allah telah menjadikan langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis pula. Kemudian langit itu dibuka sehingga dapat menurunkan hujan yang sebelumnya tidak dapat menurunkan hujan. Kami buka pula bumi itu sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkannya.

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap keesaan Allah. [Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul Jilid 2, (Bandung: Sinar Baru Algensindo), 2008, hlm. 126-127]

Qatadah mengatakan: “Kami menciptakan setiap yang tumbuh dari air”. Maka setiap yang tumbuh itu ialah hewan dan tumbuhan. Sebagian kaum cendekia dewasa kini berpendapat bahwa setiap hewan pada mulanya diciptakan di laut. Maka seluruh jenis burung, binatang melata dan binatang darat itu berasal dari laut. Kemudian setelah melalui masa yang sangat panjang, hewan-hewan itu mempunyai karakter sebagai hewan darat, dan menjadi berjenis-jenis. Untuk membuktikan hal itu, mereka mempunyai banyak bukti.

Apakah mereka tidak beriman dengan jalan memikirkan dalil-dalil ini, sehingga mereka mengetahui Pencipta yang tidak ada sesuatu pun menyerupai-Nya, dan mereka meninggalkan jalan kemusyrikan.[5]

Jadi penafsiran mereka yang mengatakan :

“Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup”.

Sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah sperma, atau pencipta’an manusia dari sperma.

Maka Makna “Kulla” pada ayat 30 surat al anbiya tersebut artinya adalah : “Segala/ Setiap/ Semua” bukan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

Dari berbagai sumber :

http://www.mutiarahadits.com/61/49/75/yang-menafsirkan-alquran-dengan-logikanya.htm

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

___________________

“Setiap bid’ah adalah sesat . .”

Hadits inilah yang secara matia-matian ditolak oleh pembel bid’ah.. Sampai2 mereka membuat permisalan2 dari ayat maupun hadits lainnya. Misal.. Lafazh “Kulla” pada Surah Al Anbiyya ayat 30 :

“وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

Yang diplintir “artinya” oleh sebagian pembela bid’ah menjadi : “Kami Ciptakan dari air Sperma, Sebagian Makluk Hidup”

SubhanAllah…, sampai sebegitu jauhnya mengartika lafazh Ayat, padahal hal itu adalah Firman Allah yang tidak seharusnya di pelitir artinya.

Berikut adalah detail ayatnya :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?”

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Kesalahan fatal para ahli bid’ah ADALAH :

Ayat ini berbicara tentang masalah kebesaran ayat-ayat Allah dan menjabarkan bagaimana dahulunya langit dan Bumi itu bersatu kemudian di pisahkan keduanya dan air itu merupakan sumber kehidupan bagi SEGALA SESUATU yang hidup.

Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.
Ibnu Katsir, menjelaskan sebuah Hadist dari Imam Ahmad, sebagai berikut :

وَقَالَ
الْإِمَام أَحْمَد عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ قُلْت يَا رَسُول اللَّه
إِنِّي إِذَا رَأَيْتُك طَابَتْ نَفْسِي وَقَرَّتْ عَيْنِي فَأَنْبِئْنِي
عَنْ كُلّ شَيْء قَالَ ” كُلّ شَيْء خُلِقَ مِنْ مَاء
” قَالَ قُلْت أَنْبِئْنِي عَنْ أَمْر إِذَا عَمِلْت بِهِ دَخَلْت
الْجَنَّة قَالَ ” أَفْشِ السَّلَام وَأَطْعِمْ الطَّعَام وَصِلْ
الْأَرْحَام وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاس نِيَام ثُمَّ اُدْخُلْ الْجَنَّة
بِسَلَامٍ”

Berkata Imam Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah : “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya jika aku melihatmu maka tenanglah jiwaku dan segarlah pandanganku. Beritahukalah kami tentang segala sesuatu .”Beliau menjawab, “Segala sesuatu telah diciptakan dari air.” Aku bertanya, “Beritahu kami tentang sesuatu, jika aku mengerjakannya maka aku akan masuk surga”. Beliau bersabda. “Sampaikan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi (persaudaraan), dan bangunlah di tengah malam tatkala manusia sedang tidur, kemudian masuklah ke surga dengan damai.”

Jadi, pemahaman para ahli bid’ah sudah jauh dari kebenaran sama sekali, ayat itu TIDAK BERBICARA masalah Sperma, atapun air..

Sebagai bukti bahwa ayat al Anbiyya ayat 30 ini bukan berbicara masalah sperma, maka bisa dilihat juga pada ayat berikutnya :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (QS al An Biyya : 31)

Jadi Jika ayat

” وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ”

diartikan “Kami ciptakan dari air sperma, SEBAGIAN makhluq hidup” maka pengertian ini adalah batil dan menyimpang dari maksud Firman Allah yang sebenarnya, karena :

1. Ayat itu berbicara mengenai kebesaran ayat-ayat Allah dan Air merupakan sumber kehidupan dan Allah menjadikan air itu segal sesuatu yang hidup.

2. Ayat itu tidak sedang berbicara mengenai penciptaan manusia dari sperma.

Dan Makna “Kulla” masih tetap diartikan “Segala/Setiap/Semua” dan tidak bisa diartikan SEBAGIAN..

Wallahu A’lam.

http://khansa.heck.in/kulla-syaiin-hayi.xhtml

_______________________

SEMAKIN MENYEBARNYA BID’AH DAN SEMAKIN TERASINGNYA SUNNAH NABI

SEMAKIN MENYEBARNYA BID’AH DAN SEMAKIN TERASINGNYA SUNNAH NABI

Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bid’ah yang tersebar di tengah kaum muslimin, sehingga indahnya sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka.

Bahkan lebih dari pada itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bid’ah yang telah tersebar sebagai kebenaran menjadi suatu yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihidupkan dan diamalkan, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan yang asing, aneh dan mereka mencelanya.

Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman rahdiyallahu ‘anhu berkata : “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan bermunculan (di akhir zaman) sehingga kebenaran (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan tersebar (di tengah kaum muslimin), sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bid’ah tersebut ditinggalkan, orang-orang akan mengatakan : sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah ditinggalkan !”.

Dinukil oleh imam asy-Syaathibi dalam kitab “al-I’tishaam” (1/106 – Tahqiiq syaikh Salim al-Hilali).

https://m.facebook.com/groups/830079140349922?view=permalink&id=936924639665371

=============

BARANGSIAPA MENGHIDUPKAN SUNNAHKU

BARANGSIAPA MENGHIDUPKAN SUNNAHKU

Diantara hujah lainnya yang sering dibawa para pembela bid’ah, adalah hadits berikut ini.

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِيْ قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِيْ فَإِنَّ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أََنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya barang siapa yang menghidupkan suatu sunnah dari sunnahku yang telah dimatikan (ditinggalkan) setelah aku (wafat), maka sesungguhnya bagi dia daripada pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun . . dst.

Tanggapan :

Hadits itu menyebutkan : “Sesungguhnya barang siapa yang MENGHIDUPKAN suatu sunnah . . dst.

Hadits itu TIDAK menyebutkan : “Sesungguhnya barangsiapa MEMBUAT amalan baru.

MENGHIDUPKAN dengan MEMBUAT adalah sangat beda.

MENGHIDUPKAN artinya : menghidupkan kembali perkara (sunnah) yang sudah pernah ada. Namun di tinggalkan manusia.

Jadi kalau ada orang yang membela amalan bid’ah, dengan membawa hadits tersebut adalah sangat keliru. Karena hadits itu bukan menyuruh untuk membuat AMALAN BARU. Nampak sekali pendalilan seperti ini adalah cara pendalilan yang di cari-cari.

Tidak ada satupun amalan-amalan bid’ah sa’at ini yang dilakukan manusia, pernah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lebih dari itu, hadits ini masih diperselisihkan keshahihannya. Meski At Tirmidzi menganggapnya hasan, dan beliau memang terkenal gampang menghasankan hadits, namun salah satu perawi hadits ini ialah Katsier bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf Al Muzani.

Berikut ini nukilkan sanad hadits diatas selengkapnya ;

Imam At Tirmidzi rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَرْوَانَ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيِّ عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ … الحديث (جامع الترمذي, كتاب العلم, باب: ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع, حديث رقم 2601).

Abdullah bin Abdirrahman mengabarkan kepada kami, katanya, Muhammad bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Mirwan bin Mu’awiyah Al Fazary, dari Katsir bin ‘Abdillah, yaitu : bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany, dari Ayahnya, dari Kakeknya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ibnul Harits :…. Al hadits”. (H.R. Tirmidzi, no 2601).

Cacat hadits ini ialah pada silsilah rawi yang bercetak tebal di atas. Untuk lebih jelasnya, berikut nukilkan komentar para ahli hadits mengenai riwayat mereka :

1. Al Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني: يروي عن أبيه عن جده، روى عنه مروان بن معاوية وإسماعيل بن أبى أويس، منكر الحديث جدا، يروي عن أبيه عن جده نسخة موضوعة لا يحل ذكرها في الكتب ولا الرواية عنه (كتاب المجروحين 2/221).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany; Ia meriwayatkan dari Ayahnya dari kakeknya. Sedang yang meriwayatkan dari Katsir ialah Marwan bin Mu’awiyah dan Isma’il bin Abi Uwais. (Katsir ini) munkarul hadits jiddan [Keduanya merupakan jarhun syadied (kritikan pedas), yang menjatuhkan hadits orang itu ke tingkat dha’if jiddan (lemah sekali) bahkan maudhu’ (palsu)]. Ia meriwayat-kan dari ayahnya dari kakeknya sekumpulan hadits maudhu’ (palsu) yang tidak halal untuk disebutkan dalam kitab-kitab dan tidak halal untuk diriwayatkan. (Kitabul Majruhien 2/221).

2. Imam An Nasa’i rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف: متروك الحديث (الكامل لابن عدي 6 / 58).

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf, matruukul hadits. (Al Kamil, oleh Ibnu ‘Adiy 6/58).

3. Imam Syafi’i dan Abu Dawud rahimahumallah menyifatinya dengan kata-kata :

ركن من أركان الكذب (ميزان الاعتدال 3 / 407)

“Salah satu tiang daripada tiang-tiang kedusta’an”. (Mizanul I’tidal, 3/407). [
Maksudnya ia salah seorang pembohong besar].

4. Ibnu Hajar Al ‘Asqalany rahimahullah berkata :

كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف المزني المدني ضعيف أفرط من نسبه إلى الكذب (تقريب التهذيب – 2 / 39)

Katsir bin Abdillah bin ‘Amru bin ‘Auf Al Muzany Al Madany, dha’if, namun orang yang menuduhnya sebagai pendusta agak berlebihan (Taqribut Tahdzieb, 2/39).

Kesimpulannya, hadits di atas derajatnya dha’if jiddan atau minimal dha’if. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan dalam berdalil.

http://www.muslim.or.id

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

______________________

BID’AH PALING DIBENCI ALLAH TAPI SANGAT DI CINTAI IBLIS

BID’AH PALING DIBENCI ALLAH TAPI SANGAT DI CINTAI IBLIS

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

إن أبغض الأمور إلى الله البدع

“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci oleh Alloh adalah bid’ah”.

Bid’ah adalah perkara yang sangat dibenci Allah ta’ala namun sangat dicintai iblis laknatullah.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata :

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، المعصية يتاب منها و البدعة لا يتاب منها

“Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis daripada kemaksiatan, sebab kemaksiatan itu (pelakunya) akan (mudah) bertaubat daripadanya sedangkan pelaku bid’ah itu sulit sekali untuk bertaubat dari bid’ahnya”.

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

___________________

MEMAHAMI MUTLAQ DAN MUQOYYAD

MEMAHAMI MUTLAK DAN MUQOYYAD

A. Mutlak

Kata mutlaq secara sederhana berarti tiada terbatas.[1] Dalam bahasa Arab, kataمـطـلـــق berarti yang bebas, tidak terikat.[2] Menurut al-Khudhori Biek,[3]

اَلْمُطْلَقُ مَا دَلَّ عَلىَ فَرْدٍ اَوْأَفْرَادٍشَائِــــعَـةٍ بِدُوْنِ قَـيْــــدٍ مُسْتَقِــلٍّ لَفْــــــظاً

Artinya:

“Mutlaq adalah perkataan yang menunjukkan satu atau beberapa objek yang tersebar tanpa ikatan bebas menurut lafal.”

Dalam rumusan yang berbeda namun saling berdekatan, Amir Syarifuddin,[4] mengutip beberapa definisi para ulama ushul fiqh, sebagaimana berikut:

Al-Amidi memberikan definisi:

هُوَالَّلـفْـظُ الدَّالُّ عَلىَ مَدْلُـوْلِ شَائِــعٍ فِى جِـنْـسِـــهِ.

artinya:

“Mutlaq ialah lafal yang memberi petunjuk kepada madlul (yang diberi petunjuk) yang mencakup dalam jenisnya.”

Abu Zuhrah mengajukan definisi:

اَلَّلفْــظُ اْلمـُــطْلَـقُ هُوَالَّذِى يَـدُلُّ عَلىَ مَوْضُوْعِهِ مِنْ غَيْرِ نَظَـــرٍ اِلىَ اْلوَاحِـدَةِ اَوِ اْلجَمْــعِ اَوِ اْلوَصْفِ بَلْ يَدُلُّ عَلىَ اْلمَـاهِــيَةِ مِنْ حَيْثُ هِيَ.

artinya:

“Lafal mutlaq adalah lafal yang memberi petunjuk terhadap maudu-’nya (sasaran penggunaan lafal) tanpa memandang kepada satu, banyak atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu menurut apa adanya.”

Contoh dari lafal mutlaq adalah dalam firman Allah swt (QS. Al-mujadilah [58]: 3) yang menjelaskan tentang kifarat bagi seseorang yang telah melakukan perbuatan zihar terhadap istrinya:

…فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا…

Terjemah:

“…maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur…”[5]

Kata roqobah (seorang budak) pada ayat tersebut tidak diikuti oleh kata yang menerangkan jenis budak yang disyaratkan untuk dimerdekakan sebagai kifarat zihar, sehingga ayat ini berlaku mutlaq. Oleh karena itu, pengertian ayat ini adalah kewajiban untuk memerdekakan seorang budak dengan jenis apapun juga, baik yang mukmin ataupun yang kafir tanpa adanya ikatan.

B. Muqoyyad

Secara sederhana, muqoyyad berarti terikat,[6] atau yang mengikat, yang membatasi. Secara etimologi, muqoyyad adalah suatu lafal yang menunjukkan suatu hal, barang atau orang yang tidak tertentu (syai’ah) tanpa ada ikatan (batasan) yang tersendiri berupa perkataan. Definisi ini sejalan dengan uraian yang dikemukakan oleh Imam al-Syafi’i seperti dikutip oleh Muhlish Usman,[7] muqoyyad adalah lafal yang menunjukkan satuan-satuan tertentu yang dibatasi oleh batasan yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. Pembatasan tersebut dapat berupa sifat, syarat, dan ghayah.[8] Sebagai contoh adalah firman Allah swt dalam (QS. al-Nisa’ [4]: 92), tentang kifarat bagi seseorang yang membunuh tanpa sengaja, yaitu:

فَتَحْرِيرُ رَقَبَــةٍ مُــؤْمِنـــَةٍ……

artinya:

“…maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin…”

Dalam ayat tersebut, kata roqobah adalah kata yang berlaku muqoyyad karena ia dibatasi dengan kata mu’minah. Hal ini berarti bahwa tidak sembarang budak yang dapat dimerdekakan dalam permasalahan kifarat bagi orang yang membunuh tanpa sengaja ini, tetapi budak itu haruslah budak yang mukmin.

2. Kaedah-kaedah Mutlak Dan Muqoyyad

Imam al-Syafi’i seperti dalam Sapiudin Shidiq,[9] menjelaskan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan mut}laq dan muqoyyad sebagaimana berikut:

1. Hukum mutlaq. Lafal mutlaq dapat digunakan sesuai dengan kemutlakannya. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ يَبْقَى عَلَى إِطْلَاقِهِ مَالـَـمْ يَقُمْ دَلِــْيلٌ عَلَى تَقْـِـييْدِهِ.

Terjemah:

“Mutlaq itu ditetapkan berdasarkan kemutlakannya selama belum ada dalil yang membatasinya.”

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 23).

…وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ…

artinya:

“…dan ibu-ibu dari istri-istrimu…”

Ayat ini mengandung arti mutlaq karena tidak ada kata yang mengikat atau membatasi kata ibu mertua. Oleh karena itu, ibu mertua tidak boleh dinikahi, baik istrinya (anak dari ibu mertuanya) itu sudah dicampurinya atau belum.

2. Hukum muqoyyad. Lafal muqoyyad tetap dinyatakan muqoyyad selama belum ada bukti yang me-mutlaq-kan. Kaidahnya:

اَلْمُـقَــَّيدُ باَقِىٌ عَلَى تَقْيِــيْدِهِ مَالـَـمْ يَقُمْ دَلِــْيلٌ عَلَى إِطْــــلَاقِهِ.

Artinya:

“Muqoyyad itu ditetapkan berdasarkan batasannya selama belum ada dalil yang menyatakan kemutlakannya.”

Contoh: (QS. Al-Mujadalah [58]: 3-4):

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

artinya:

“ (3) Orang-orang yang menz}ihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4) Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kifarat bagi seorang suami yang melakukan zihar terhadap istrinya adalah memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau kalau tidak mampu, maka ia harus memberi makan sebanyak 60 orang miskin. Karena ayat ini telah dibatasi kemut}laqannya, maka harus diamalkan hukum muqoyyadnya.

3. Hukum mut}laq yang sudah dibatasi. Lafal mutlaq jika telah ditentukan batasannya, maka ia menjadi muqoyyad. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ لاَ يَبْقَى عَلَى إِطْلَاقِهِ إِذَا يَقُوْمُ دَلِــْيلٌ عَلَى تَقْـِـييْدِهِ.

Terjemah:

“Lafal mutlaq tidak boleh dinyatakan mut}laq karena telah ada batasan yang membatasinya.”

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 11).

…مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي…

artinya:

“…sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…”

Kata wasiat pada ayat ini masih bersifat mut}laq dan tidak ada batasan berapa jumlah wasiat yang harus dapat dikeluarkan. Kemudian ayat ini dibatasi ketentuannya oleh hadits yang menyatakan bahwa wasiat yang paling banyak adalah sepertiga dari jumlah harta warisan yang ada. Dengan demikian, maka hukum mutlaq pada ayat tersebut dibawa kepada yang muqoyyad. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw.

فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ اَلثُّــلُثُ وَالثُّــلُثُ كَبِــــيْرٌ (رواه البخــارى ومســلم)

Terjemah:

“Wasiat itu adalah sepertiga dan sepertiga itu sudah banyak” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Hukum muqoyyad yang dihapuskan batasannya. Lafal muqoyyad jika dihadapkan pada dalil lain yang menghapus ke-muqoyyadan-nya, maka ia menjadi mutlaq. Kaidahnya:

اَلْمُـقَــَّيدُ لاَ يَبْقَى عَلَى تَقْيِــيْدِهِ إِذَا يَقُوْمُ دَلِــْيلٌ عَلَى إِطْــــلَاقِهِ.

Terjemah:

“Muqoyyad tidak akan tetap dikatakan muqoyyad jika ada dalil lain yang menunjukkan kemutlaqannya.

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 23).

… وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ…

Terjemah:

“…dan anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya…”

Ayat tersebut menjelaskan tentang keharaman menikahi anak tiri. Hal ini disebabkan karena anak tiri itu “dalam pemeliharaan” dan ibunya “sudah dicampuri”. Keharaman ini telah dibatasi oleh dua hal tersebut, namun batasan yang kedua tetap dipandang sebagai batasan yang muqoyyad sedang batasan pertama hanya sekedar pengikut saja, karena lazimnya anak tiri itu mengikuti ibu atau ayah tirinya. Bilamana ayah tiri belum mencampuri ibunya dan telah diceraikan, maka anak tiri tersebut menjadi halal untuk dinikahi, karena batasan muqoyyadnya telah dihapus sehingga menjadi mutlaq kembali.[10]

Pada prinsipnya, para ulama bersepakat bahwa hukum dari lafal mutlaq itu wajib diamalkan kemutlaqannya, selama tidak ada dalil yang membatasi kemutlaqannya. Begitupun dengan lafal-lafal muqoyyad yang berlaku kemuqoyyadannya. Namun, pada kasus-kasus tertentu, terdapat berbagai dalil syara’ dengan lafal yang mutlaq disatu tempat, sedang ditempat lain menunjukkan muqoyyad. Pada permasalahan seperti ini, Hamid Hakim dalam Muhlish Usman,[11] mengatakan bahwa ada empat alternatatif kaidah yang dapat digunakan, yaitu:

1. Hukum dan sebabnya sama, maka yang mutlaq dibawa kepada muqoyyad. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااتَّفَــقَافِى السَّــبَبِ وَاْلحُـــــكْمِ.

Terjemah:

“Mutlaq itu dibawa pada muqoyyad jika sebab dan hukumnya sama.”

Contoh: (QS. Al-Maidah’ [5]: 3).

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ…

Terjemah:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, dan daging babi…”

Pada ayat ini, kata (الـدم) atau darah adalah lafal mutlaq yang tidak diikat oleh sifat atau syarat apapun. Namun pada ayat lain, dalam firman Allah swt, (QS. Al-An’am [6]: 145) disebutkan:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ

Terjemah:

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi.”

Dalam ayat ini, kata الدم, atau darah diberi sifat dengan masfuh (mengalir). Namun, hukum dalam kedua ayat ini adalah sama, yaitu sama-sama “haram”. Demikian pula sebab yang menimbulkan hukumnya juga sama, yaitu “darah”. Oleh karena itu dibawalah yang mutlaq pada yang muqoyyad, dalam artian; hukum yang dalam lafal mutlaq harus dipahami menurut yang berlaku pada lafal muqoyyad. Dengan demikian, kata “darah” pada lafal mutlaq, harus diartikan dengan “darah yang mengalir” sebagaimana yang terdapat pada lafal muqoyyad. Dari kedua ayat tersebut, terlihat jelas bahwa materi dan hukumnya sama, maka selain darah yang mengalir menjadi halal, misalnya hati atau limpa.

2. Berbeda sebabnya namun sama hukumnya. Pada permasalahan ini, jumhur syafi’iyyah menyatakan bahwa yang mut}laq dibawa pada yang muqoyyad. Sedangkan golongan Hanafiyyah dan Malikiyyah mayoritas menetapkan bahwa hukum mut}laq dan muqoyyad masing-masing tetap pada posisinya. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ وَإِنِ اخْتَـــلَفـَـــافِى السَّــبَبِ.

Terjemah:

“Mutlaq itu dibawa ke muqoyyad jika sebabnya berbeda.”

Contoh: (QS. Al-Mujadlah [58]: 3) yang menjelaskan bahwa kifarat zihar adalah “memerdekakan budak” tanpa ada batasan “mukmin” atau tidak. Sementara pada ayat lain, dijelaskan bahwa bagi orang yang membunuh dengan tidak sengaja, kifaratnya adalah memerdekakan budak yang mukmin. Sebagaimana firman Allah: (QS. Al-Nisa’ [4]: 92)

…وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ…

Terjemah:

“…dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman…”

Kedua ayat diatas berisi hukum yang sama, yaitu pembebasan budak, sedangkan sebabnya berlainan, yang pertama karena zihar sementara yang lain karena pembunuhan tidak sengaja. Al-Syafi’iyyah mengatakan bahwa lafal mutlaq pada kifarat zihar itu harus dibawa kepada yang muqoyyad tanpa memerlukan dalil lain dengan argumentasi bahwa Kalamullah itu satu zatnya, tidak berbilang. Karena itu, jika Allah telah menentukan syarat “iman” dalam kifarat pembunuhan tidak disengaja, berarti ketentuan inipun berlaku pula pada kifarat z}ihar, yaitu membebaskan budak yang mukmin. Sementara Hanafiyyah dan Malikiyyah mengatakan bahwa kifarat zihar ialah sembarang budak.[12]

3. Berbeda hukum namun sama sebabnya, maka mutlaq dibawa pada muqoyyad. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ لَا يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااخْتَـــلَفـَـــا فِى اْلحُـــــكْمِ.

Terjemah:

“Mutlaq itu tidak dibawa ke muqoyyad jika yang berbeda hanya hukumnya.”

Contoh: kata “tangan” dalam perintah wudhu dan tayammum. Membasuh tangan dalam perintah wudhu dibatasi sampai dengan siku, sebagaimana firman Allah swt, (QS. Al-Maidah [5]: 6).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ…

Terjemah:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…”

Dalam perintah tayammum, tidak dijelaskan batasan membasuh tangan, tetapi berlaku mutlaq. Firman Allah swt, dalam (QS. Al-Nisa’ [4]: 43).

…فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ…

Terjemah:

“…maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu…”

Kedua ayat diatas mengandung sebab yang sama yaitu membasuh tangan, tetapi hukumnya berbeda yaitu membasuh tangan sampai mata siku dalam wudhu dan hanya menyapu tangan secara mutlaq pada tayammum. Dengan demikian, harus diamalkan secara masing-masing karena tidak saling membatasi.[13]

4. Berbeda sebab dan hukumnya, maka mutlaq tidak dibawa pada muqoyyad. Masing-masing berdiri sendiri. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ لَا يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااخْتَـــلَفـَـــافِى السَّــبَبِ وَاْلحُـــــكْمِ.

Terjemah:

“Mutlaq tidak dibawa ke muqoyyad jika sebab dan hukumnya berbeda.”

Contoh: (QS. Al-Maidah [5]: 6) tentang perintah wudhu. Pada ayat tersebut kata “tangan” disebutkan dengan batasan yaitu sampai siku. Sementara pada ayat lain yang menjelaskan tentang hukuman potong tangan bagi pencuri yang berlaku mutlaq tanpa menyebutkan batasan. Firman Allah swt, dalam (QS. Al-Maidah [5]: 38)

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا…

Terjemah:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya …”

Kedua ayat diatas memiliki sebab dan hukum yang berbeda. Ayat pertama menyebutkan keharusan mencuci tangan secara muqoyyad sampai siku dalam masalah wudhu untuk melakukan shalat. Sementara ayat kedua menyebutkan keharusan memotong tangan secara mutlaq dalam sanksi hukum terhadap pencuri. Dalam hal ini, ulama bersepakat bahwa kedua ayat ini berlaku sendiri-sendiri, lafal yang mutlaq tetap pada kemutlaqannya, sementara yang muqoyyad, tetap pada kemuqoyadannya.[14]

PENUTUP

1. Kata mutlaq secara sederhana berarti tiada terbatas. Dalam bahasa Arab, kataمـطـلـــق berarti yang bebas, tidak terikat. Secara sederhana, muqoyyad berarti terikat, atau yang mengikat, yang membatasi. Secara etimologi, muqoyyad adalah suatu lafal yang menunjukkan suatu hal, barang atau orang yang tidak tertentu (syai’ah) tanpa ada ikatan (batasan) yang tersendiri berupa perkataan.

2. Mujmal Secara bahasa berarti samar-samar dan beragam/majemuk. Secara istilah berarti: lafadz yang maknanya tergantung pada lainnya, baik dalam menentukan salah satu maknanya atau menjelaskan tatacaranya, atau menjelaskan ukurannya. Mubayyan secara bahasa (etimologi) : (المظهر والموضح) yang ditampakkan dan yang dijelaskan.

[1] Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hal. 990.

[2] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 862.

[3] Syekh Muhammad Al-Khudhori Biek, Ushul Fiqih, (Pekalongan: Raja Murah,1982), 239.

[4] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2009), 121-122.

[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahan, 791.

[6] Satria Effendi M. Zein, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2008), 206.

[7] Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyyah, 57.

[8] Sapiuddin Shidiq, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2011), 187

[9] Shidiq, Ushul Fiqh, 186-192

[10] Shidiq, Ushul Fiqh, 189.

[11] Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah, 59-61.

[12] Hanafie, Ushul Fiqh, 77.

[13] Shidiq, Ushul Fiqh, 191.

[14] Syarifuddin, Ushul Fiqh, 128.

[15] http://zulfa4wliya.wordpress.com/2009/05/06/mujmal-dan-mubayyan/

[16] Prof.DR.Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, tahun 1998

http://anakstain.blogspot.com/2013/05/kaedah-ushuliyah-mutlaq-muqayyad-mujmal.html?m=1

_________