AL-GHUROBA’ (YANG TERASING)

AL-GHUROBA’ (YANG TERASING)
.
Pada masa awal Islam di serukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sa’at itu ajaran Islam di pandang oleh masyarakat jahiliyah sebagai ajaran yang asing bagi mereka. Sehingga banyak dari mereka yang menolak untuk masuk Islam. Bahkan mereka mencemo’oh ajaran Islam dan memusuhi orang-orang yang menerima seruan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.
Ajaran Islam sa’at itu di anggap menyimpang bahkan di tuduh sesat oleh masyarakat jahiliyah yang sudah menganut kepercaya’an dan tradisi warisan dari nenek moyang mereka secara turun temurun.
.
Penolakan, cemo’ohan dan rasa permusuhan masyarakat jahiliyah terhadap Islam disebabkan karena rasa asing mereka terhadap ajaran Islam yang di sampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal ajaran Islam bukanlah ajaran baru. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membawa syari’at baru. Syari’at Islam untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, berdo’a langsung kepada Allah tanpa harus melalui perantara berhala bukanlah ajaran baru, tapi ajaran yang di ajarkan para Nabi semenjak dahulu. Begitupula syari’at lainnya seperti shalat, puasa dan haji adalah syari’at yang sudah di syari’atkan para Nabi terdahulu.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ
.
“Katakanlah, Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. (QS Al-Ahqaf: 9).
.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Dan bukanlah perkara yang ku sampaikan ini merupakan perkara yang asing hingga berhak mendapat bantahan dari kalian”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS Al-Ahqaf: 9).
.
Masyarakat jahiliyah sebenarnya pada masa dahulunya adalah penerus ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Namun kemudian tokoh-tokoh agama mereka merubah-merubah dan menambah-nambah ajaran agama mereka. Sehingga ajaran Nabi Ibrahim yang mereka anut menjadi menyimpang dari kebenaran. Yang pada akhirnya Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengembalikan keyakinan mereka kepada Tauhid (mengesakan Allah Ta’ala).
.
Namun seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kembali kepada ajaran yang benar mendapatkan penolakan dan permusuhan dari mereka. Ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di anggap asing oleh mereka karena sudah jauhnya mereka dari ajaran yang benar.
.
Asingnya ajaran Islam pada masa itu, di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ، فطُوبَى للغرباءِ
.
“Islam muncul dalam keada’an asing, dan akan kembali asing seperti sa’at kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim).
.
Seorang Sahabat bertanya :
.
وَمَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟
.
“Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ?
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
.
النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ
.
“Mereka yang menyempal (berseberangan) dari kaumnya”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi).
.
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
.
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى
.
“Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku, sesudah dirusak oleh manusia”. (HR. At Tirmidzi, dinyatakan Hasan Shahih oleh Imam At Tirmidzi)
.
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
.
أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
.
“Orang-orang shalih yang berada di antara orang-orang buruk yang jumlahnya banyak sekali. Yang menentang mereka lebih banyak dibandingkan yang mengikuti”. (HR. Ahmad, dinyatakan Hasan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).
.
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
.
الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ
.
“Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di sa’at manusia dalam keada’an rusak”. (HR. Tabrani).
.
Itulah orang-orang asing yang di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
فطُوبَى للغرباءِ
.
“MAKA BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ASING”.
.
Pada hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan, bahwa Islam akan kembali asing seperti sa’at kemunculannya.
.
Maka sa’at ini kita bisa melihat dan merasakan, ajaran Islam yang benar, ajaran Islam yang murni dari Allah dan Rasul-Nya kembali di pandang asing oleh sebagian besar umat Islam. Asingnya ajaran Islam yang murni sa’at ini, sama dengan asingnya ketika di masa awal kemunculannya Islam di masa lalu. Permusuhan para pelaku bid’ah dan orang-orang yang menyimpang lainnya sa’at ini kepada umat Islam yang istiqomah di atas Sunnah pun tidak jauh berbeda dengan permusuhan masyarakat jahiliyah dahulu ketika awal datangnya Islam.
.
Menyimpangnya umat Islam sa’at ini dari ajaran Islam yang benar adalah fakta yang bisa kita saksikan. Bermunculan orang-orang yang mengaku nabi, dan begitu pula keyakinan menyimpang serta ajaran-ajaran bid’ah merebak sulit di bendung. Sehingga Islam pun terpecah kepada sekian banyak faham dan golongan. Dan hal ini memang sudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dalam sabdanya :
.
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ
.
“Dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan”.
.
Umat Islam yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sa’at ini, keada’annya sama dengan umat Islam pada masa awal dahulu. Di perlakukan buruk, di cemo’oh serta di musuhi dan di anggap asing oleh orang-orang yang sudah menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Namun demikian tidak perlu bersedih hati. Karena hal ini sudah di sebutkan dalam hadits di atas oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
.
بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَِ
.
“ISLAM MUNCUL DALAM KEADA’AN ASING, DAN AKAN KEMBALI ASING SEPERTI SEMULA”.
.
Dan beruntung bagi mereka yang di pandang asing oleh orang-orang yang sudah menyimpang faham dan ajarannya. Sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
.
فطُوبَى للغرباءِ
.
“MAKA BERUNTUNGLAH ORANG-ORANG YANG ASING”. (HR. Muslim).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
_______________

BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN IBADAH

BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN IBADAH

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ;

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . Hati-hatilah dari perkara yang di ada-adakan, karena sesungguhnya yang di ada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR.Muslim:no.867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

• BID’AH YANG DILARANG ADALAH BID’AH DALAM URUSAN AGAMA

Maksud bid’ah yang Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA bukan bid’ah dalam urusan DUNIA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA ?

Jawabannya :

Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yang lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yng lainnya saling menjelaskan.

Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

Artinya :

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam URUSAN KAMI ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan atau perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari,no.20).

Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam DIINULLAH (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam DIINULLAH (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”

Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri, bahwa yang di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

Perlu di ketahui, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, bukan untuk mengurus perkara-perkara DUNIA, seperti bagaimana cara bertani, membuat senjata perang, cara menunggang kuda, membuat bangunan dll. Tapi Rasulullah hallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, untuk mengurus perkara-perkara AGAMA (urusan ibadah) seperti, cara shalat, berdo’a, zakat, shalawat, mengurus jenzah dll.

Urusan DUNIA Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan kepada Umatnya untuk mengaturnya, selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara DUNIAWI, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara DUNIA, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara AGAMA, maka kembalikanlah kepadaku”. (HR. Ahmad.)

Juga hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أُمُورِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ – سنن ابن ماجه

Dari Aisyah, semoga Allah meridhainya, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Jika sesuatu itu termasuk urusan DUNIAMU, maka itu urusan kamu (kamu yang lebih mengetahuinya), tetapi jika termasuk urusan AGAMAMU maka harus kembalikan kepadaku.” (H.R. Ibn Majah 7:333 No 2462)

• URUSAN DUNIA DAN URUSAN IBADAH

Perlu kita ketahui bahwa aktifitas kita di dunia, terbagi menjadi dua bagian,

Pertama : Urusan IBADAH

Contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

Ke dua : Urusan DUNIA

Contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga dll.

Walaupun urusan DUNIA, misalnya mencari nafkah, berolah raga, bertani, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

Shahabat Rasulullah Ali bin Abi Tholib berkata :

حيتنا كلها عباده

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Tapi sebaliknya, urusan IBADAH seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan ;

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi)

• QA’IDAH-QA’IDAHNYA

Urusan DUNIAWI ataupun urusan AGAMA / IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– Urusan DUNIA :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– Urusan IBADAH :

اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْبُطْلاَنُ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى اْلأَمْرِ.

Artinya :

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

Jadi kalau ada yang mengatakan ; mobil pesawat, motor, hp, Internet, facebook, speker, jam sebagai BID’AH, maka nampak sekali, orang yang mengatakan demikian tidak faham urusan DUNIA dan urusan AGAMA dan kaidahnya masing-masing.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

——————–