BEBAL DAN KERAS KEPALA ADALAH PENYAKIT YANG SULIT DIOBATI

BEBAL DAN KERAS KEPALA ADALAH PENYAKIT YANG SULIT DIOBATI

Imam Asy Syafi’i berkata :

لِكُلِّ داءٍ دَواءٌ يُسْتَطَبُّ بِه — إلا الحماقَةُ أعيَتْ مَن يُداويها

“Setiap penyakit pasti ada obat yang akan menyembuhkannya, kecuali sifat bebal dan keras kepala, ia hanya akan membuat orang yang ingin menyembuhkannya putus asa dan kelelahan”

Ibrahim An Nadzdzam ditanya :

ما حدُّ الحُمق ؟

“Apakah batas sifat bebal itu ?”

Beliau menjawab :

سألتني عمَّا ليس له حدّ

“Engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu yang tidak memiliki batas”

Ibnu Abi Ziyad berkata, Ayahku menasehati aku :

يا بُني الزم أهلَ العقلِ وجالِسهُم واجتنب الحمقى فإنّي ما جالستُ أحمقاً فقمتُ إلا وجدت النقصَ في عقلي

“Wahai anakku beriltizamlah engkau kepada para ahlul Ilmi, duduklah bersama-sama dengan mereka, dan jauhilah orang-orang bebal dan keras kepala karena sesungguhnya tidaklah aku duduk-duduk bersama mereka lalu aku bangun meninggalkan mereka kecuali setiap kali itu pula berkurang akalku”

Imam Syu’bah berkata :

عقولُنا قليلةٌ فإذا جلسنا مَع مَن هُوَ أقلُّ عقلاً مِنّا ذهب ذلك القليل

“Akal (ilmu) kita ini sangat sedikit, dan setiap kali kita duduk-duduk bersama orang yang lebih sedikit akalnya dibanding kita, maka ilmu yang sedikit itu pun akan hilang dari kita”

Imam Abi Hatim bin Hayyan berkata :

“DIANTARA TANDA NYATA SIFAT BEBAL DAN KERAS KEPALA ADALAH TERGESA-GESA MENJAWAB TANPA TATSABUT”

Ciri nyata orang bebal dan keras kepala ialah, Ketika menjawab atau menanggapi suatu perkara, terburu-buru menjawab atau menanggapi dan tidak pernah mau berusaha untuk memperhatikan perkata’an orang lain, karena memang orang bebal tidak mebutuhkan penjelasan pihak lain, bagi orang bebal, orang lain adalah omong kosong. Orang bebal merasa dirinya paling benar, dan ciri nyata orang bebal lainnya, gemar mengolok-olok pihak lain, tidak teratur dalam bertutur, ngeyel tapi tidak jelas kata-katanya, berbelit-belit dan cengengesan tanpa rasa malu. Bagi orang bebal, diam tandanya kalah, jangan heran kalau kita menemukan, orang bebal tidak pernah mau menyimak dalam pembicara’an.

Imam Ibnu Ishaq berkata :

إذا بلغك أن غنيًا افتقر فصدِّق وإذا بلغك أن فقيرًا استغنى فصدق ، وإذا بلغك أن حيًّا مات فصدق ، وإذا بلغك أن أحمق استفاد عقلاً فلا تُصدِّق

“Jika engkau mendengar kabar bahwa ada seorang kaya yang jatuh miskin, percayalah dengan berita itu. Jika ada berita seorang miskin mendadak menjadi kaya, percayalah. Kalau ada kabar bahwa seorang yang dulunya hidup tiba-tiba mati, percayalah. Tetapi kalau ada yang mengatakan bahwa ada orang bebal yang menggunakan otaknya, JANGAN PERCAYA …!!!”

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Alla yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (QS Al Furqan 63)

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“…Dan apabila mereka mendengar perkata’an yang tidak bermanfa’at, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata :

“BAGI KAMI AMAL-AMAL KAMI DAN BAGIMU AMAL-AMALMU, SEMOGA KESELAMATAN ATAS DIRIMU, KAMI TIDAK INGIN BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG JAHIL”.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
(QS Al Qashash 55 – 56).

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak pernah tenang, nafsu yang tidak pernah merasa puas dan dari do’a yang tidak pernah dikabulkan”. (HR Bukhari dan Muslim).

(saifalbattar/arrahmah.com)

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

______________

PELAKU BID’AH LEBIH DISUKAI IBLIS DARIPADA PELAKU MAKSIAT

PELAKU BID’AH LEBIH DISUKAI IBLIS DARIPADA PELAKU MAKSIAT

Di tulis oleh; Ikhwan yng lgi masuk angin

Sunnah yang di ajarkan Rasulullah itu memang berat (goda’annya), semisal shalat malam, puasa senin kamis, dll, apalagi puasa daud. Beueu.

Bahkan yang ringan saja, seperti mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim, atau keluar masuk kamar mandi membaca do’a, banyak orang yang tidak mengamalkannya. Padahal mereka itu katanya mencintai Nabi, makanya muludan, merayakan kelahiran Nabi, supaya bisa meneladani Nabi.

Emmm, . . Terus hasil muludannya mana ?

Prilakunya, kok jauh dari tuntunan Nabi.

Yang jelas kalau maulid Nabi yah makan-makan gratis, mumpung gratisssss.

• Sunnah-sunnah Nabi Kenapa terasa berat diamalkan ?

Ya pastilah berat, mana RELA setan melihat umat Rasulullah mengikuti Nabinya.

Kalau umat Islam sudah mengikuti apa yang Rasulullah ajarkan, itu namanya qiamat buat iblis, setan kolor ijo, jurig jarian, genderewo dan sebangsanya.

Yang dapet amplop dari acara-acara bid’ah, jadi nganggur, los job. Manyuun. Mana mau alih profesi jadi kuli.

Setan tidak akan suka, umat Islam mengikuti apa yang di ajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga setan akan menjadikan manusia malas melakukan sunnah-sunnah yang di syari’atkan. Dan manusia pun banyak yang meninggalkannya.

Tapi kalau acara bid’ah, manusia sangat suka, manusia berbondong-bondong. Tidak ada duit buat bayar kiai, buat ngamplop habib, pasang drum di tengah jalan. Soal laju kendara’an yang lewat jadi harus pelan, masa bodoh, kan g tiap hari katanya (pembenaran diri).

G tau kali, dari sekian banyak orang yang lewat, yang terganggu perjalanannya, ada yang sumpah serapah biarpun dalam hati. Siapa yang bisa memastikan non muslim merasa tidak terganggu. Wallahi, saya pernah liat, orang jatuh dari motor, nabrak yang minta sumbangan di tengah jalan. Salah siapa yah ?

Kita perhatikan acara bid’ah, manusia pasti desek-desekan. Dan kalau mau jujur-jujuran mereka adalah orang-orang yang punya prinsip dalam agamanya itu ;

“Masa kiai salah”

Masa kiai, ustadz salah, mereka kan orang-orang pinter

Mana tau mereka, Imam Syafi’i berkata ;

ولا تقلد دينك فأنه لن يسلم عن يغلط

“Jangan taqlid dalam urusan agama kalian, karena siapapun yang kalian taqlidi, belum tentu selamat dari salah dan keliru”.

Bagi mereka pokonya, ikuti saja kata kiai.

• Kenapa yah kalau acara bid’ah manusia berbondong-bondong ?

Ini dia jawabannya ! !

Sufyan ats Tsauri berkata ;

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

“Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).

Oooh, jadi itu yang membuat umat Islam senang dengan bid’ah, apabila yang dapet amplop lebih senang lagi, perut kenyang, dapet duit dan puja-puji manusia.

• Kenapa pelaku bid’ah sulit bertaubat ?

Karena ahli bid’ah merasa, amalan yang di lakukannya sebagai ibadah.

Berbeda halnya dengan pelaku maksiat, ketika pelaku maksiat melakukan perbuatan maksiat, sebetulnya hatinya menolak dan tidak ingin mengulangi kembali perbuatan maksiatnya.

Bagaimana pelaku bid’ah punya keinginan untuk bertaubat, sementara dia merasa, bahwa apa yang di lakukanya (bid’ah) sebagai ibadah.

Bukankah taubat itu berawal dari kesadaran, bahwa apa yang dilakukannya sebagai perbuatan dosa ?

Bisa kita saksikan, bagaimana ahli bid’ah, berkelit, membela, mencari-cari hujah untuk membenarkan amalannya, tidak peduli hadits lemah, hadits palsu, bahkan cerita dusta sekalipun, bagi ahli bid’ah, perinsipnya, tidak ada rotan akar pun jadi.
Tidak ada hadits dusta pun tidak mas’alah.

Allahul Musta’aan.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

______