ORANG SOMBONG YANG SEBENARNYA

ORANG SOMBONG YANG SEBENARNYA
.
Tidak ada seorang manusia pun yang berakal di muka bumi ini yang tidak menginginkan di masukkan ke dalam surga, sekalipun para pelaku kemaksiatan.
.
Namun ternyata tidak semua manusia akan di masukkan ke dalam surga. Dan diantara orang yang tidak akan di masukkan ke dalam surga-Nya Allah Ta’ala adalah orang yang sombong.
.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah. Ada seseorang yang bertanya, Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ? Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 91).
.
Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).
.
Dalam hadits di atas disebutkan, bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hatinya sifat sombong, walaupun kesombongannya sebesar dzarrah. Dan sombong yang dimaksud oleh Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas adalah orang yang menolak kebenaran, karena memandang rendah orang yang menyampaikannya. Sehingga keterangan apapun yang di sampaikan kepada mereka akan dipandang sebelah mata.
.
Ibnu Hajar berkata: “Makna dzarrah, dikatakan adalah sesuatu yang paling kecil ditimbang dan dikatakan pula adalah sinar yang terlihat di cahaya matahari seperti ujung jarum, dikatakan pula maknanya adalah semut kecil.” Lihat: Fathul Bari, karya Ibnu Hajar (1/70).
.
• Kesombongan Para Penentang Dakwah Rasul
.
Orang-orang yang mengingkari dakwah para Rasul di zaman dahulu, ternyata karena sifat sombong yang ada dalam diri mereka. Sebagaimana kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika diseru untuk meninggalkan kemusyrikan mereka.
.
Kesombongan dan perkata’an mereka Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’an,
.
فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ
.
”Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami”. (QS. Hud: 27).
.
Begitulah orang-orang terdahulu yang menentang dakwah para Rasul, kesombongan yang ada dalam diri mereka menjadikan mereka menolak kebenaran, yang pada akhirnya mereka di binasakan.
.
• Sifat Sombong Sifat Warisan Iblis
.
Ketika Iblis laknatullah di perintahkan untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam, ia menolak karena kesombongan pula. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an,
.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ – (البقرة; ٣٤)
.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir”. (Al-Baqarah: 34).
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ – (الاعراف؛ ١٢)
.
“Iblis berkata, Aku lebih baik dari padanya (Adam), Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah”. (QS. Al-Araf, 12).
.
Begitulah iblis laknatullah menentang perintah Allah Ta’ala, karena menganggap dirinya lebih unggul dari Adam ‘alaihissalam. Iblis yang di ciptakan dari api merasa lebih tinggi derajatnya dari Adam ‘alaihissalam yang di ciptakan dari tanah.
.
Kesombongan orang-orang terdahulu yang menolak dakwah para Rasul dan juga kesombongan Iblis, pada akhirnya mereka mendapatkan laknat Allah Ta’ala.
.
Sifat sombong yang memandang orang lain lebih rendah dan sikap meremehkan orang lain, ternyata banyak juga menghinggapi orang-orang masa kini. Banyak dari manusia sa’at ini yang menolak kebenaran yang di sampaikan kepada mereka karena merasa dirinya lebih pintar. Atau merasa dirinya berada di kelompok yang lebih besar dan paing benar. Sehingga keterangan apapun yang di sampaikan kepada mereka akan di tolaknya mentah-mentah. Mereka beranggapan, kebenaran hanyalah yang datang dari kelompoknya atau dari guru-gurunya.
.
Semoga kita di jauhkan dari sifat sombong dengan tidak meremehkan atau memandang rendah orang lain. Karena sifat sombong akan menjadikan manusia di jauhkan dari surga-Nya Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas,
.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar dzarrah”. (HR. Muslim no. 91).
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
.
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
.
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka ? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan sombong“. (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
___________________

HP, KOMPUTER, FACEBOOK, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

HP, KOMPUTER, FACEBOOK, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

Sering kali kita mendengar ucapan atau membaca komentar seperti ini : “Dakwah di facebook berarti bid’ah dong, di jaman Nabi kan tidak ada facebook” ?

Sangatlah keliru apabila berbagai kemajuan teknologi sa’at ini, seperti : mobil, speker, komputer, hp, internet, pesawat, mobil dll dianggap sebagai BID’AH.

Di antara mereka mengatakan : “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi”.

Ucapan seperti itu tidaklah keluar kecuali dari lisan orang-orang yang tidak faham tentang BID’AH.

Perlu di ketahui bahwa mobil, pesawat, internet, hp, tv, radio, speker itu semua adalah urusan DUNIA. Masalah urusan dunia Rosululloh menyerahkan kepada Umatnya selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatikan riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara dunia, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama, maka kembalikanlah ke padaku”. (HR.Ahmad.)

Dari riwayat diatas bisa kita fahami, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk memberi petunjuk kepada umatnya dalam perkara IBADAH. Adapun urusan DUNIAWI kita boleh berkreasi dan melakukan apa saja selama tidak melanggar syari’at.

• BID’AH YANG DILARANG

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkata’an adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867).

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

Bid’ah yang dilarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berbuat bid’ah dalam urusan AGAMA.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa bid’ah yang dilarang Rasulullah adalah bid’ah dalam urusan agama ?

Kita perhatikan hadist hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Man ahdasa fii amrinaa hadzaa maa laesa minhu fahua roddun”.

Artinya :

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari no.20).

Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham:50).

Perhatikan Kalimat íni :

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”.

Apabila kita memperhatikan hadis-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjelasan dari lisan Rasulullah, bahwa yang di maksud jangan berbuat bid’ah itu adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH bukan urusan DUNIA.

Urusan DUNIAWI ataupun urusan IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– QA’IDAH URUSAN DUNIA :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– QA’IDAH URUSAN IBADAH :

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

Artinya :

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

* * * * * * * * * * * *

Tambahan

Perlu kita ketahui bahwa aktifitas dalam hidup kita terbagi menjadi dua bagian,

– Pertama, Urusan IBADAH.

Contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

– Ke dua, Urusan DUNIA.

Contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga, dll.

Walaupun urusan dunia, misalnya mencari nafkah, berolah raga, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata :

حيتنا كلها عباده

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Tapi sebaliknya, urusan ibadah seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan :

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi).

Wallohu ‘alamu bishowab . . Semoga bisa di fahami.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

__________________