SAKIT JIWA (PSIKOPAT)

SAKIT JIWA (PSIKOPAT)

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa, pengidap penyakit ini mudah dikenali dari perilakunya yang antisosial dan tidak nyaman buat orang-orang disekitarnya.

Psikopat tidak sama dengan gila, karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas ucapan dan perbuatannya.

Pengidap penyakit psikopat lebih banyak yang berkeliaran hidup bebas daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa.

Seorang ahli psikopat mengatakan, pengidap psikopat akan menjadikan orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman, karena seorang psikopat adalah manusia anti sosial.

Anti kritik, ucapan buruk, kasar, rendah, senang menghina, mengolok-olok, cengengesan, tidak merasa bersalah, egosentris, menjadi tipikal seorang psikopat. Disamping dangkal otaknya karena memang seorang psikopat tidak pernah melatih dirinya untuk menela’ah suatu masalah.

Seorang psikopat sangat intoleran, diluar yang diyakini dan disukainya apalagi yang di bencinya akan menjadi bulan-bulanan.

Para ahli kejiwa’an juga mengatakan, bahwa seorang psikopat, kecil kemungkinan bisa sembuh.

Menurut penelitian, mereka yang berkepribadian psikopat mempunyai latar belakang yang suram, masa kecil yang tidak tumbuh emosinya secara optimal.

Anak-anak yang tidak dididik dan diasuh dengan baik, menjadikan emosinya berkembang secara liar, sehingga dia akan tumbuh menjadi orang yang tidak bisa berempati. Dengan perkata’an lain, mereka akan menjadi orang dengan kepribadian tidak menyenangkan.

Di media sosial facebook misalnya, seorang psikopat sangat mudah dikenali, dia gemar menjadikan poto dirinya sebagai poto profilnya. Tapi di sisi lain dia tidak menjaga prilakunya sebagai kehormatan diri yang harus dijaganya dengan baik, karena memang seorang psikopat hampir tidak mengenal peradaban bahkan memiliki sikap primitif.

Para pakar ilmu sosial memberikan saran, mereka yang menggunakan media sosial, sebaiknya menghindari pertemanan dengan orang-orang yang memiliki gejala psikopat, karena sebagaimana tujuan awal dari media sosial adalah untuk terbentuknya komunitas pertemanan yang luas, sehingga mampu memotivasi dalam mengembangkan diri, berinteraksi satu sama lain, menambah wawasan dan meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan. Tapi dengan adanya orang psikopat di media sosial, maka tujuan baik itu malah jadi sirna dan berubah jadi media kontra produktif, tidak berguna.

Jadi sikap bijaksana kita, adalah selektif dalam menerima atau menambahkan pertamanan di media sosial.

Wasallam

Agus Santosa Somantri

========================

JANGAN SUKA BERDEBAT DENGAN AHLU BID’AH

JANGAN SUKA BERDEBAT DENGAN AHLU BID’AH

• Fudhail bin Iyyadh berkata :

” لا تمكنوا صاحب بدعة من جدل ، فيُورث قلوبكم فتنه ارتياباً”

”Janganlah senang berdebat dengan ahlul bid’ah, kelak orang itu akan mewariskan fitnah keraguan di hati kamu”.

” صاحب البدعة لا تأمنه على دينك ، ولا تشاوره فيأمرك ، ولا تجلس إليه ومن جلس إلى صاحب بدعة أورثه الله العمى “.

”Ahlul bid’ah tidak akan membuat aman agama kamu, dan akan memusyawarah- kan, ia akan mengeluarkan perintah padamu. Jangan duduk bersamanya, siapa yang duduk dengan ahlul bid’ah, Allah akan mewariskan kebuata’an (mata hati untuk memahami agama)”.

• Nasehat Syaikh Ali Hasan Al-Halabi

Ada nasihat yang indah dari Ulama Jordania yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi hafizhahullah, berikut nukilannya :
“Setiap orang yang mengamalkan bid’ah beranggapan bahwa di dalamnya terkandung maslahat bagi kaum muslimin, maka kepadanya (orang tersebut) tidak ada manfa’atnya menerangkan tentang makna bid’ah atau mentahdzir (memperingatkan) dari bid’ah. Banyak hadits-hadits yang menerangkan cela’an terhadap bid’ah, jadi tidak berguna dan tidak ada manfa’at yang bisa diambil darinya“. [‘Ilmu Ushuul Bida’, hlm.226 Daar Ar-Rayyah, cet. I, th. 1413,H].

Syaikh Ali mengutarakan hal ini di dalam kitabnya dikarenakan sudah diketahui bahwa setiap orang yang selalu berkelit atau selalu mencari pembenaran maka sulit menjumpai kebenaran, mengapa demikian ? Karena ia sudah disibukkan dengan pencarian pembenarannya sehingga tidak ada lagi waktu untuk mencari kebenaran, Dengan demikian jika sudah diketahui kita menjumpai orang-orang yang berpegang teguh kepada pembenarannya maka semestinyalah kita menjauhinya, mengapa ? Karena hanya akan membuang-buang waktu dengannya, di samping itu pun dikhawatirkan ia akan menabur syubhat yang diluar kapasitas kita.

Allahul Musta’aan.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_____________________

MASLAHAH MURSALAH

MASLAHAH MURSALAH

Di dalam ilmu ushul fiqih terdapat beberapa metode ijtihad yang masyhur dan oleh para Ulama dijadikan sebagai metode dalam menetapkan sebuah keputusan hukum.

Dan berikut ini macam-macam metode ijtihad yang diakui oleh para ulama ; Ijma’, Qiyas, Istihsân, MASLAHAH MURSALAH, Sududz, Dzariah, Istishab dan Urf.

Diantara beberapa metode tersebut yang sering digunakan salah satunya adalah MASLAHAH MURSALAH.

Apa itu MASLAHAH MURSALAH ?

MASLAHAH MURSALAH adalah sebuah istilah di dalam Ilmu ushul fiqih yang tersusun dari dua kata : MASLAHAH (مَصْلَحَةٌ) artinya Kemaslahatan dan MURSALAH (مُرْسَلَةٌ) artinya yang diabaikan. Jadi MASLAHAH MURSALAH secara bahasa artinya ; Kemaslahatan yang diabaikan.

Adapun MASLAHAH MURSALAH menurut istilah ushul fiqih yaitu :

المصلحة المرسلة الّتي يشرّع حكمالتحقيقها ولم يدلّ دليل شرعيّ على اعتبارها اوالغائها

“Maslahah mursalah ialah maslahah yang tidak disyari’atkan hukum oleh syari’at untuk mewujudkannya dan tidak ada dalil syara yang menganggapnya atau mengabaikannya”.

MASLAHAH MURSALAH adalah, maslahat-maslahat yang terabaikan, alias tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau menolaknya.

Para ahli ushul fiqih yang menggunakan istilah MASLAHAH MURSALAH sebagai metode dalam berijtihad, tidak sewenang-wenang menetapkan metode maslahah mursalah ini untuk dijadikan dasar keputusan, tetapi mereka berhati-hati untuk menjaga agar tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu. Maka mereka memberikan syarat-syarat tertentu.

Adapun syarat-syaratnya itu adalah :

1. Kemaslahatan yang dicapai harus kemaslahatan yang hakiki, bukan kemaslahatan yang berdasarkan akal dan sangka’an. Dan ijtihad yang di hasilkan mendatangkan kemanfa’atan dan menjauhkan kemudharatan.

2. Kemaslahatan yang dicapai harus kemaslahatan untuk umum, bukan untuk perorangan atau golongan.

3. Tidak bertentangan dengan syara’ atau ijma’.

• CONTOH-CONTOH MASLAHAH MURSALAH

Berikut ini contoh-contoh maslahah mursalah yang kita kenal ; Pembukuan Al-Qur’an dalam satu Mushaf, pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an, membukukan hadits-hadits Nabi, mengguna’an mikrofon untuk adzan, menggunakan pesawat terbang untuk berangkat haji, membangun madrasah dan banyak lagi.

Contoh-contoh MASLAHAH MURSALAH diatas, seringkali dikatakan oleh sebagian orang sebagai BID’AH HASANAH. Benarkah contoh-contoh diatas adalah bid’ah hasanah ?

Untuk mengetahui apakah perkara tersebut MASLAHAH MURSALAH atau BID’AH, maka kita harus mengetahui perbeda’an antara maslahah mursalah dengan bid’ah.

• PERBEDA’AN MASLAHAH MURSALAH DENGAN BID’AH

Berikut ini diantara perbeda’an antara maslahah mursalah dengan bid’ah :

1. MASLAHAH MURSALAH, dilakukan bukan untuk menambah nilai pahala dari ibadah yang dilakukan, tapi di tujukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Adapun BID’AH ditujukan untuk mendapatkan nilai pahala dan keutama’an (mubalaghah) dalam ibadah.

Contohnya ; MASLAHAH MURSALAH Pesawat terbang untuk berangkat pergi haji. Orang yang berangkat pergi haji menggunakan pesawat terbang, tidak lah dimaksudkan supaya mendapatkan tambahan pahala dari ibadah hajinya karena menggunakan pesawat terbang, atau ibadah hajinya ingin jadi lebih afdol. Menggunakan pesawat terbang untuk pergi haji, hanya karena tidak ada sarana yang lebih baik dari pesawat terbang. Berbeda dengan orang yang berbuat bid’ah, mereka melakukannya ingin mendapatkan pahala dan keutama’an dari amalan yang dilakukannya.

2. MASLAHAH MURSALAH ada kendala, yang menghalangi untuk dilakukan. Adapun BID’AH, Tidak terdapat kendala untuk melakukannya, bahkan sangat mungkin untuk dilakukan.

Contohnya ; MASLAHAH MURSALAH membukukan Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf ada kendala yang menghalangi apabila dilakukan sa’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, karena pada sa’at itu wahyu masih terus turun, Allah ta’ala masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila sa’at itu Al Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap sa’at.

Adapun BID’AH, tidak ada kendala apabila sa’at Rasulullah masih hidup dilakukan. Contohnya tahlilan atau maulid Nabi, tidak ada yang menghalangi apabila perkara tersebut sa’at itu dilakukan.

3. MASLAHAH MURSALAH, mendatangkan kemaslahatan buat umat. Adapun BID’AH, memberatkan dan menambah kesulitan pelakunya dalam beribadah.

Contohnya ; MASLAHAH MURSALAH membukuan Al-Qur’an, jelas mendatangkan maslahat, menjadikan Al-Qur’an terjaga keasliannya dan tidak hilang dari muka bumi.

Adapun BID’AH menambah berat dan kesulitan bagi pelakunya. Contohnya selamatan kematian tahlilan, banyak orang yang memaksakan diri, berutang kepada saudara atau tetangga, untuk biaya tahlilan tersebut.

Ciri lainnya tentang MASLAHAH MURSALAH adalah ;

– MASLAHAH MURSALAH Memiliki ciri khusus bahwa dia tidak terjadi di masa kenabian dikarenakan tidak adanya sebab atau alasan untuk melakukannya atau karena ada penghalangnya.

Adapun ciri lainnya tentang BID’AH adalah ;

– BID’AH nyerupai syari’at, ditentukan cara dan waktunya.

– BID’AH, dilakukan bertujuan untuk taqarrub kepada Allah dan bersifat paten. Pelaku bid’ah tidak akan pernah berpaling darinya, dan hampir mustahil pelaku bid’ah meninggalkan bid’ahnya, dikarenakan bid’ah tersebut dalam pandangan pelakunya adalah sebuah ibadah.

• PERSAMA’AN MASLAHAH MURSALAH DENGAN BID’AH

Adapun Persama’an antara MASLAHAH MURSALAH dengan BID’AH adalah, masing-masing tidak memiliki dalil khusus, maka dalil-dalil umum adalah yang biasa digunakan dalam berargumen (istidlâl) untuk keduanya, kalaupun BID’AH memiliki dalil khusus, maka bisa dipastikan dalilnya lemah atau palsu.

Setelah kita mengetahui perbeda’an antara MASLAHAH MURSALAH dengan BID’AH. Maka jelaslah perkara-perkara yang sering dikatakan orang sebagai BID’AH HASANAH adalah keliru, seperti ; Pembukuan Al-Qur’an dalam satu Mushaf, pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an, membukukan hadits-hadits Nabi, menggunakan mikrofon untuk adzan, menggunakan pesawat terbang untuk berangkat haji, membangun madrasah dan banyak lagi.

Wallahu a’lamu bisshowab

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

Sumber tulisan ;

http://al-badar.net/pengertian-syarat-dan-hukum-maslahah-mursalah/

http://abdurrahman.heck.in/makalah-maslahah-mursalah.xhtml

https://m.facebook.com/notes/sekolah-tinggi-agama-islam-stai-al-amin/mashlahah-mursalah-dan-peranannya-dalam-pembinaan-hukum-islam-dewasa-ini/283017158429546/

http://muslim.or.id/manhaj/ini-dalilnya-7-beda-bidah-dan-mashalih-mursalah.html

==============

KATA-KATAMU ADALAH KUALITAS DIRIMU

KATA-KATAMU ADALAH KUALITAS DIRIMU

Apa yang kita ucapkan, kita tulis di status-status, juga komentar-komentar kita di Facebook, semua itu secara tidak langsung mencerminkan kualitas diri kita.

Semua orang tentu ingin menjaga harga diri dan kehormatannya, kita akan marah ketika orang lain merendahkan kehormatan kita.

Tapi sering kita lihat, banyak dari mereka yang aktif di dunia MABOK (Maya & Facebook) justru menelanjangi diri mereka sendiri dengan status-status atau komentar-komentarnya yang rendah, dan jelek yng menunjukan pribadi yng kurang pendidikan atau terlahir dari keluarga berantakan.

Sebelum kita menulis di status atau membuat komentar, mestinya kita pikirkan, apakah bermanfa’at buat orang lain atau minimal untuk kita sendiri. Jangan sampai malah menghinakan, merendahkan dan merugikan diri kita sendiri.

Seorang Muslim yang percaya akan adanya hari akhirat dan hari perhitungan, harusnya kita ingat bahwa, apa yang kita lakukan akan di mintai tanggung jawabnya di yaumul hisab kelak.

Allah Ta’ala berfirman :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf -18].

Allah ta’ala berfirman :

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala urusan yang kecil maupun yang besar adalah tertulis”. ( Al Qamar: 53-54).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”. (Shahih Bukhori, no. 6477).

Ikhwan wal Akhwat fillah . .

Kita tentu tidak ingin buku catatan kita di penuhi catatan buruk akibat menganggap enteng kejelekan yang kita lakukan.

Yakinlah, apapun yang kita tulis, akan ditanya dan kita pun harus mempertanggung jawabkannya.

Ketika aku menulis
Aku yakin bahwa tanganku akan binasa
Sedang tulisanku kekal
Dan aku tahu bahwa Allah pasti akan menanyaiku.
Aduhai, apakah nanti jawabnya.

Semoga bermanfaat.

Al Afwa minkum Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

===================

APAKAH ULAMA DIKATAKAN SESAT KARENA BERBUAT KESALAHAN ?

APAKAH ULAMA DIKATAKAN SESAT KARENA BERBUAT KESALAHAN ?

Apakah seorang Ulama dikatakan sesat atau sudah melakukan kesesatan karena mereka membawakan hadis do’if bahkan palsu, atau melakukan suatu kesalahan ?

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

ولو إنا كلما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأ مغفوراً له، قمنا عليه، وبدَّعناه وهجرناه، لما سَلِمَ معنا

”Seandainya setiap perkata’an imam yang keliru dalam ijtihadnya pada permasalahan-permasalahan yang sebenarnya hal itu masih bisa diampuni, lantas kita kecam ia, kita bid’ahkan ia (sebagai ahlul-bid’ah), dan kita hajr ia, maka tidak akan ada (seorang ulama pun) yang selamat. (Kitab Siyar ‘Alam An Nubala karya Adz-Dzahabi VIII/352).

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya seorang ulama besar, apabila kebenarannya lebih banyak, dan diketahui bahwa dirinya adalah pencari kebenaran, luas ilmunya, tampak kecerdasannya, dikenal kepribadiannya yang shalih, wara’ dan berusaha mengikuti sunnah maka kesalahannya dimaafkan. Kita tidak boleh mencap sesat, tidak boleh meninggalkannya, dan melupakan kebaikannya. Memang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya. (Siyar A’lam An-Nubala V/271).

Asy-Syaikh Thaahir Al-Jazaairi berkata :

عدُّوا رجالكم، واغفروا لهم بعضَ زَلَّاتِهم، وعضّوا عليهم بالنواجذ لتستفيد الأُمة منهم، ولا تُنَفِّرُوهم لئلا يزهدوا في خدمتكم

”Kembalilah kepada ulama kalian dan maafkanlah sebagian kesalahan mereka. Gigit erat mereka dengan gigi gerahammu agar umat bisa mengambil manfa’at dari mereka. Jangan kalian menjauhi mereka agar supaya mereka dapat belaku zuhud dalam berkhidmat kepada kalian”.

Sa’id bin Al-Musayyab berkata : “Banyak para ulama ahli ijtihad yang Salaf maupun khalaf, mereka mengatakan sebuah perkataan atau melakukan perbuatan yang termasuk kebid’ahan sementara mereka tidak mengetahui bahwa perkara tersebut adalah bid’ah. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya karena mereka menetapkan shahih sebuah hadits padahal dha’if, atau dikarenakan pemahaman yang salah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Ada kalanya hal itu juga dikarenakan mereka ijtihad dalam sebuah masalah, padahal dalil-dalil yang menjelaskannya, namun dall-dalil tersebut belum sampai kepada mereka. Apabila tindakan mereka itu masih dalam rangka melakukan ketakwaan kepada Allah semampu mereka, maka mereka termasuk dalam firman Allah Ta’ala.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah” [Al-Baqarah : 286]

Wallahu a’lamu bisshowab

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

======================

MEMBUKUKAN AL-QUR’AN BID’AH ?

MEMBUKUKAN AL-QUR’AN BID’AH ?

Diantara hujjah andalan para pembela bid’ah, adalah pembukuan al-Qur’an yang dilakukan oleh para sahabat setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Quran diturunkan Allah ta’ala secara bertahap kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah segera menyampaikan kepada para Sahabatnya dan memerintahkan untuk menulisnya.

Diantara para sahabat, ada yang langsung menghafal ayat al-Qur’an setiap kali turun, ada pula yang hanya menulisnya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuntun penulisan itu sesuai dengan urutan surat dan ayat.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Al-Qur’an tidak terkumpul dalam satu buku (mushaf), melainkan tersimpan dalam dada para sahabat, terukir diatas lembar-lembar para penulis wahyu. Pada sa’at itu para penghafal al-Qur’an sangat banyak, bahkan ada yang hafal secara keseluruhan.

Ketika Abu Bakar khalifah pertama memerangi kaum murtadin dan pendukung nabi palsu Musailamah, banyak dari penghafal al-Qur’an gugur sebagai Syahid, sehingga Abu Bakar khawatir akan mengakibatkan lenyapnya al-Qur’an dari muka bumi. Umar bin Khattab menyarankan agar segera dilakukan pengumpulan Al-Quran dalam sebuah buku (mushaf). Melalui banyak pertimbangan, akhirnya saran Umar bin Khatab diterima Abu Bakar dan segera memerintahkan Zaid bin Tsabit, seorang pemuda cerdas penulis wahyu, untuk membukukan al-Qur’an.

Dengan pembukuan Al-Qur’an ini, maka sempurnalah apa yang terkandung dalam firman Allah :

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

“Sesunggunya kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami akan melindunginya”.

Penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an sesungguhnya sudah terjadi di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana bisa kita perhatikan dalam riwayat yang di sebutkan oleh sahabat yang mulia Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu, Beliau berkata :

“. . Maka akupun menelusuri al-Qur’an yang paling lengkap dari lembaran-lembaran (baik kertas atau kulit), dari batu-batu tulis, dari pelepah korma, dan dari dada-dada para lelaki (penghapal al-Qur’an) . .”. (HR Al-Bukhari no 4679, At-Thirmidzi no 3103, Ibnu Hibban no 4506).

• KENAPA SA’AT RASULULLAH HIDUP TIDAK MEMBUKUKAN AL-QUR’AN ?

Adapun sa’at Rasulullah masih hidup, dan Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam sebuah mushaf, maka hal ini adalah karena adanya faktor penghalang, yaitu karena memang wahyu juga turun secara berangsur-angsur, di samping adanya perubahan setiap sa’at.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Sesuatu yang menghalangi untuk di kumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan, dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya”. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97).

Hal ini sebagaimana yang dikatakan juga oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani rahimahullah, Beliau berkata :

“Al-Khotthoobi rahimahullah dan yang lainnya berkata, “Dan ada kemungkinan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengumpulkan al-Qur’an dalam sebuah mushaf karena beliau menanti-nanti datangnya nasikh (ayat yang menhapus) yang menaskh-kan (menghapus) sebagian hukum-hukum al-Qur’an atau tilawahnya. Tatkala selesai turunnya Al-Qur’an dengan wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allahpun mengilhamkan kepada khulafaa ar-Rosyidin untuk mengumpulkan al-Qur’an sebagai bentuk penunaian janji yang benar bahwasanya Allah akan menjaga al-Qur’an bagi umat Muhammad, semoga Allah menambah kemuliaan mereka. Dan permulaan penjaga’an al-Qur’an dimulai melalui tangan Abu Bakr As-Shiddiq dengan musyawarah/ masukan Umar radhiallahu ‘anhumaa” (Fathul Baari 9/12).

• MEMBUKUKAN AL-QUR’AN ADALAH IJTIHAD BUKAN BID’AH

Membukukan al-Qur’an menjadi sebuah mushaf, adalah hasil dari sebuah IJTIHAD. Bukan BID’AH sebagaimana yang dikatakan oleh para pembela bid’ah.

Apakah itu IJTIHAD ?

IJTIHAD (اجتهاد) adalah usaha yang sungguh-sungguh, karena adanya kebutuhan untuk kemaslahatan. Dan Ijtihad hanya boleh dilakukan oleh orang tertentu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak terdapat dalam Al Quran maupun hadits. Dan Ijtihad dalam hukum Islam ditempatkan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran dan As-Sunnah, jadi Ijtihad dalam Islam di akui sebagai sebuah legalitas hukum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata ;

وهو أن يرى المجتهد أن هذا الفعل يجلب منفعة راجحة ، وليس في الشرع ما ينفيه

“Dia, seorang mujtahid melihat bahwa perbuatan tersebut mendatangkan manfa’at yang sangat jelas, dan tidak ada dalam Syari’at perkara yang menafikan-nya atau menolaknya”. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ Fatâwâ, XI/342-343).

Dan berikut ini macam-macam bentuk Ijtihad ; Ijma’, Qiyas, Istihsân, Maslahah murshalah, Sududz, Dzariah, Istishab, Urf.

Dan IJTIHAD yang dilakukan Abu Bakar membukukan Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf, termasuk kedalam bentuk Ijtihad MASLAHAH MURSALAH .

• APAKAH BEDA BERIJTIHAD DENGAN BERBUAT BID’AH ?

BERIJTIHAD dan BERBUAT BID’AH tentu saja bebeda, BERIJTIHAD mendapatkan pahala walaupun ijtihadnya salah.

Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”. (H.R Al-Bukhaariy 13/268 dan Muslim no. 1716).

Adapun BERBUAT BID’AH adalah tercela.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“. . . Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i, 1578).

Kenapa membukukan al-Qur’an di katakan sebagai sebuah IJTIHAD, bukan BID’AH sebagaimana dikatakan para pembela bid’ah ?

Pertama ; Tidak mungkin para Sahabat berbuat bid’ah, karena para Sahabat sangat mengetahui bahwa bid’ah dalam urusan agama adalah perkara yang tercela, yang dilarang didalam Islam.

Kedua ; Antara IJTIHAD dan BID’AH memiliki ciri-cirinya, dan dari ciri-cirinya tersebut kita bisa mengetahui apakah perkara tersebut IJTIHAD atau BID’AH.

Berikut ini perbeda’an antara IJTIHAD dan BID’AH :

Sebagaimana yang tadi disebutkan, bahwa IJTIHAD yang dilakukan Abu Bakar membukukan Al-Qur’an itu, termasuk kedalam bentuk Idjtihad MASLAHAH MURSALAH .

Berikut ini Perbeda’an MASLAHAH MURSALAH dengan BID’AH diantaranya ;

1. MASLAHAH MURSALAH dilakukan, bukan diniatkan untuk menambah atau mendapatkan nilai pahala dan keutama’an (mubalaghah). Adapun BID’AH, tujuannya sangat jelas, ingin mendapatkan pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

Membukukan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, bukan ditujukan untuk mendapatkan tambahan nilai pahala atau keutama’an (mubalaghah). Tapi karena semata-mata ada kebutuhan. Yaitu karena sa’at itu banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur sebagai Syahid, sehingga Abu Bakar khawatir akan mengakibatkan lenyapnya al-Qur’an dari muka bumi.

Adapun orang-orang yang berbuat bid’ah tujuannya jelas, ingin mendapatkan nilai pahala dan keutama’an (mubalaghah) dari ibadah yang dilakukan.

Contohnya, orang yang mebuat bid’ah Maulid Nabi. Mereka yang membuat Maulid Nabi, tentu saja ingin mendapatkan pahala, dan keutama’an (mubalaghah) dari amalan yang dibuatnya.

2. MASLAHAH MURSALAH, mendatangkan kemaslahatan buat umat. Adapun BID’AH, memberatkan dan menambah kesulitan pelakunya dalam beribadah.

Pembukuan Al-Qur’an jelas mendatangkan maslahat, menjadikan Al-Qur’an terjaga keasliannya dan tidak hilang dari muka bumi.

Adapun BID’AH menambah berat dan kesulitan bagi pelakunya. Contohnya selamatan kematian Tahlilan, banyak orang yang memaksakan diri, berutang kepada saudara atau tetangga, untuk biaya tahlilan tersebut.

3. MASLAHAH MURSALAH ada kendala, yang menghalangi untuk dilakukan. Adapun bid’ah, Tidak terdapat kendala untuk melakukannya, bahkan sangat mungkin untuk dilakukan.

Membukukan Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf ada kendala yang menghalangi apabila dilakukan sa’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, karena pada sa’at itu wahyu masih terus turun, Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila sa’at itu Al Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap sa’at.

Adapun bid’ah, tidak ada kendala apabila sa’at Rasulullah masih hidup dilakukan. Contohnya tahlilan atau maulid Nabi, tidak ada yang menghalangi apabila perkara tersebut sa’at itu dilakukan.

Setelah kita mengetahui perbeda’an antara IJTIHAD dengan BID’AH.

Maka nampak dengan jelas, bahwa membukukan Al-Qur’an menjadi sebuah mushaf adalah IJTIHAD bukan BID’AH sebagaimana para pembela bid’ah katakan.

Wallahu a’lamu bisshowab

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=============

APA SAJA YANG DIPANDANG KAUM MUSLIMIN BAIK, MAKA DI SISI ALLAH JUGA BAIK

APA SAJA YANG DIPANDANG KAUM MUSLIMIN BAIK, MAKA DI SISI ALLAH JUGA BAIK

Diantara dalil yang digunakan oleh para pendukung bid’ah hasanah adalah sebuah atsar yang diakui sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan kebaikan maka ia di sisi Allah juga merupakan kebaikan. Dan apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan keburukan maka ia di sisi Allah juga merupakan keburukan” (HR Ahmad).

Karenanya jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah baik maka ia juga baik di sisi Allah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

BANTAHAN :

Bantahan terhadap syubhat ini bisa ditinjau dari beberapa sisi :

PERTAMA : Nukilan ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Hazm rahimahullah (wafat 456 H) berkata :

“Mereka berdalil untuk (pembenaran) istihsaan dengan perkataan yang mengalir di lisan-lisan mereka, yaitu : Apa yang dipandang kaum muslimin baik, maka di sisi Allah juga baik”. Perkataan ini sama sekali kami tidak mengetahuinya bersanad sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tidak diragukan lagi bahwasanya perkata’an ini tidak terdapat sama sekali di dalam hadits musnad yang shahih, yang kami ketahui perkata’an ini adalah dari Ibnu Mas’uud” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, karya Ibnu Hazm, tahqiq Ahmad Muhammad Syaakir, : 6/18)

Az-Zaila’i Al-Hanafi rahimahullah (wafat 762 H), berkata ;

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku berkata : Aneh diriwayatkan secara marfu’, dan aku tidak mendapatkan atsar ini kecuali mauquf dari Ibnu Mas’ud” (Nashbur Rooyah, Az-Zaila’i, Muassasah Ar-Royyaan, cetakan pertama, 4/133)

Al-Haafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Hadits ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku tidak menemukannya diriwayatkan secara marfu’ (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad secara mauquf dari perkata’an Ibnu Mas’ud dengan sanad yang hasan. Demikian pula dikeluarkan oleh Al-Bazzaar, At-Thoyaalisi, At-Thobrooni, dan Abu Nu’aim pada biografi Ibnu Mas’ud, serta Al-Baihaqi dalam kitab al-I’tiqood. Ia juga telah mengeluarkan atsar ini dari jalan yang lain dari Ibnu Mas’ud” (Ad-Dirooyah fi takhriij Ahaadiits Al-Hidaayah, Ibnu Hajar al-Asqolaaniy, tahqiq : Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamaani, Daarul Ma’rifah, 2/187).

KEDUA : Kalaupun atsar ini shahih akan tetapi sama sekali tidak bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat” ditinjau dari beberapa sisi :

Pertama : Yang dimaksud dengan “pandangan / kesepakatan kaum muslimin” dalam atsar Ibnu Mas’ud ini adalah pandangan / ijmak / kesepakatan para sahabat, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh konteks atsar tersebut.

Marilah kita perhatikan konteks atsar ini secara lengkap.

Ibnu Mas’ud berkata ;

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

“Sesungguhnya Allah melihat kepada hati-hati para hamba maka Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang terbaik, maka Allahpun memilih beliau untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Lalu Allah melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad maka Allah mendapati hati-hati para sahabatnya adalah hati-hati para hamba yang terbaik, maka Allah menjadikan mereka sebagai para penolong nabiNya, mereka berperang di atas agamaNya. Maka apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah, dan apa yang mereka lihat sebagai keburukan maka ia di sisi Allah juga buruk” (Atsar Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya 3600)

Kedua : Dalam riwayat Al-Hakim di Al-Mustadrok terdapat tambahan pada akhirnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،

Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik, dan apa yang dipandang kaum muslimin buruk maka ia di sisi Allah juga buruk. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah”

Lalu Imam Al-Haakim berkata, هَذَا حَدِيْث صَحِيْحُ الإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاه “Ini adalah hadits yang sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim” (Al-Mustadrok ‘ala as-Shahihain, no 4465, dan penshahihan Al-Haakim disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Sangatlah jelas, bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan bahwa ijmak para sahabat adalah benar di sisi Allah. Dan Ibnu Mas’ud lebih paham dengan apa yang beliau ucapkan / riwayatkan.

Karenanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ bukanlah alif lam untuk istighrooq (yang memberikan faedah keumuman, sehingga mencakup seluruh kaum mulsimin), akan tetapi di sini adalah ال untuk al-‘ahd, yaitu yang dimaksud dengan kaum muslimin di sini adalah para sahabat secara khusus, sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks lengkap atsar tersebut dan sebagaimana yang dipahami oleh Ibnu Mas’ud sendiri.

KETIGA : Sebagian orang menganggap ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq sehingga mencakup seluruh kaum muslimin, jadi bukan hanya khusus untuk para sahabat. Sehingga dengan demikian jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah itu baik / hasanah maka bid’ah tersebut di sisi Allah juga baik.

Bantahannya ;

Kalaupun kita menerima bahwasanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq, maka tentu sudah jelas bahwasanya bukan sekumpulan kaum muslimin secara sembarangan, menimbang dua perkara berikut :

Pertama : Kalau seandainya ada sekelompok orang jahil dalam agama (misalnya mereka berjumlah 100 orang) lalu memandang sesuatu perkara ibadah baru sebagai kebaikan, tentunya tidak akan diterima pandangan mereka. Sebagai contoh sekelompok sekte di tanah air kita yang memandang bahwasanya menentukan 1 Ramadhan atau 1 Syawwal dengan melihat pasang surut air laut. Tentunya meskipun mereka memandang itu yang terbaik, akan tetapi pandangan mereka tidak akan diterima.

Kedua : Jadi kaum muslimin yang dimaksud dalam atsar tersebut haruslah dari kalangan para ahli ilmu. Lantas kita bertanya lagi, jika ada sekelompok ulama yang memandang baik suatu perkara bid’ah, akan tetapi sekelompok ulama yang lain memandang perkara bid’ah tersebut merupakan perkara yang buruk, maka pandangan kelompok manakah yang menjadi patokan dari kedua kelompok ulama tersebut ?.

Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), berkata :

“Kalaupun ini adalah hadits yang shahih maka ini pun bukan dalil bagi mereka, karena hanya bisa menjadi dalil untuk ijmak kaum muslimin saja. Karena ia tidak berkata “Apa yang dilihat oleh sebagian kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah”, akan tetapi ia berkata, “Apa yang dipandang kaum muslimin”. Inilah ijmak yang tidak boleh diselisihi jika memang pasti. Dan bukanlah apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lebih utama untuk diikuti dari apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lainnya. Kalau seandainya demikian, maka berarti kita telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu dan melakukan lawan sesuatu tersebut, diperintahkan mengerjakan sesuatu dan sekalian meninggalkannya bersamaan. Ini merupakan berkara yang mustahil yang tidak mungkin dilakukan” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam 6/19)

Karenanya mau tidak mau, makna dari “kaum muslimin” dalam atsar tersebut harus dibawakan kepada makna ijmak para ulama, sebagaimana yang telah terjadi di zaman para sahabat, tatkala para sahabat berijmak dan bersepakat untuk mengangkat Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemahaman inilah yang telah dipahami oleh banyak ulama, bisa dilihat pada poin-poin berikut :

Pertama : Sebagian ahli hadits membawakan atsar ini dalam bab yang diberi judul bab “Ijmak”. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Haafizh Al-Haitsami (wafat : 807 H) dalam kitabnya Majma’ Az-Zawaaid (1/427), beliau membawakan atsar ini dalam bab : بَابٌ فِي الْإِجْمَاعِ (bab tentang ijmak). Demikian juga dalam kitabnya Kasyful Astaar ‘An Zawaaid Al-Bazzar (1/81).

Kedua : Banyak ulama yang berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan hujjahnya ijmak.

Diantara para ulama tersebut adalah;

1. Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), sebagaimana telah lalu perkataan beliau bahwasanya yang dimaksud dengan “kaum muslimin” adalah ijmak kaum muslimin.

2. Abu Bakar As-Sarokhsi Al-Hanafi (wafat 490 H), ia berkata ;

وفي قوله ما رآه المسلم حسنا بيان أن إجماع أهل كل عصر حجة

“Dan pada perkata’annya “Apa yang dipandang kaum muslimin baik…” penjelasan bahwa ijmak kaum muslimin pada setiap masa adalah hujjah” (Ushul As-Sarokhsiy, tahqiq : Abu al-Wafaa Al-Afghooniy, Lajnah Ihyaa al-Ma’aarif An-Nu’maaniyah 1/319).

3. Al-‘Izz bin Abdis Salaam As-Syafi’i (wafat 660 H), ia pernah ditanya :

Pertanya’an : Apakah yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka baik pula di sisi Allah” ?

Jawaban : “Jika hadits tersebut shahih maka yang dimaksud dengan kaum muslimin adalah Ahlul Ijmak, Wallahu A’lam” (Al-Fatawaa li Al-Imaam al-‘Izz bin Abdis Salaam, tahqiq : Abdurrahman bin Abdil Fattaah, Daarul Ma’rifah, cetakan pertama, hal 42).

4. Al-Haafiz Ibnu Katsiir As-Syaaf’i (wafat 774 H).

“Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata “Apa yang dilihat oleh kaum mulsimin baik maka di sisi Allah juga baik, dan apa yang dilihat kaum muslimin buruk maka ia juga buruk di sisi Allah. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah” Isnadnya Shahih. Aku (Ibnu Katsiir-pen) berkata : Pada atsar ini ada hikayat Ijmak dari para sahabat dalam mendahulukan Abu Bakr sebagai khalifah” (yaitu atsar Ibnu Mas’ud). (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, tahqiq : Abdullah At-Turki, Daar Hajr, 14/386).

5. Al-Mardaawi al-Hanbali (wafat 885 H), silahkan lihat perkata’annya di kitabnya At-Tahbiir Syarh At-Tahriir fi ushuul a-Fiqh, (tahqiq : Abdurrahman al-Jibrin, Maktabat Ar-Rusyd, 8/3823).

Jika perkaranya demikian maka apakah ada bid’ah hasanah yang disepakati oleh kaum muslimin, disepakati oleh para ulama ?, tidak ada seorangpun yang menyelisihi ??. Jawabannya tentunya tidak ada !!!

Akan tetapi berbeda jika yang dimaksud dengan bid’ah hasanah adalah bid’ah secara bahasa yang mencakup al-maslahah al-mursalah sebagaimana yang dipahami dari perkata’an Imam As-Syafii, sebagaimana telah lalu, beliau berkata (sebagaimana dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot 3/23) :

“Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469).

Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

KEEMPAT : Pendalilan dengan atsar Ibnu Mas’ud ini untuk melegalisasi bid’ah karena penilaian baik sebagian orang ternyata bertentangan dengan perkataan yang masyhuur dari al-Imam As-Syafi’i rahimahullah :

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

“Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

(Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir).

Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

KELIMA : Jika telah jelas bahwasanya atsar ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maka bagaimana mungkin dibawakan maknanya kepada bid’ah hasanah ?? Sementara Ibnu Mas’ud dikenal sangat menentang bid’ah. Sebagaimana telah lalu dimana beliau mengingkari orang-orang yang berhalaqoh untuk berdzikir secara berjama’ah !!!

Dan beliaulah radhiallahu ‘anhu yang telah berkata :

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ سَتُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مُحْدَثَةً؛ فَعَلَيْكُمْ بِالْأَمْرِ الْأَوَّلِ (وفي رواية : بِالْهَدْيِ الْأَوَّلِ)

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan berbuat perkara-perkara baru, dan akan diadakan perkara-perkara baru bagi kalian. Jika kalian melihat perkara muhdats/baru (bid’ah) maka berpegang teguhlah kepada perkara yang pertama (dalam riwayat yang lain : petunjuk yang pertama)” (Atsar riwayat Ad-Darimi dalam Sunnahnya no 174, Al-Laaikai dalam Syarh Ushul I’tiqood Ahlis Sunnah no 85, Ibnu Battoh dalam Al-Ibaanah al-Kubro no 181, Al-Marwazi dalam As-Sunnah no 80, dan dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/253 sebagai atsar yang valid dari Ibnu Mas’ud).

Beliau juga yang telah berkata :

اِتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا؛ فَقَدْ كُفِيْتُمْ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Beriittiba’lah dan janganlah kalian berbuat bid’ah karena sungguh kalian telah dicukupkan, dan seluruh bid’ah adalah sesat” (Atsar diriwayatkan oleh Al-Laalikaai dalam Syarh Usuul I’tiqood Ahlis Sunnah 1/22, Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal 92 no 79, Ibnu Waddooh Al-Qurthubi dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu ‘an Haa, hal 17, dan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no 853 berkata : “Diriwayatkan oleh At-Thobroni di al-Mu’jam al-Kabiir, dan para perawinya adalah perawi as-shahih).

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/302-syubhat-pendukung-bid-ah-hasanah-syubhat-keempat

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

_______

KHUBAIB MEMBUAT BID’AH ?

KHUBAIB MEMBUAT BID’AH ?

Diantara sebagian jurus yang selalu dibawa para pembela bid’ah, yaitu riwayat Khubaib radhiallahu ‘anhu yang sholat dua raka’at sebelum terbunuh. Berikut riwayatnya,

Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu berkata :

فَلَمَّا خَرَجُوا مِنَ الْحَرَمِ لِيَقْتُلُوْهُ فِي الْحِلِّ قَالَ لَهُمْ خُبَيْبٌ : ذَرُوْنِي أَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ، فَتَرَكُوْهُ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ لَوْلاَ أَنْ تَظُنُّوْا أَنَّ مَا بِي جَزَعٌ لَطَوَّلْتُهَا … فَقَتَلَهُ ابْنُ الْحَارِثِ فَكَانَ خُبَيْبٌ هُوَ سَنَّ الرَّكْعَتَيْنِ لِكُلِّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ قُتِلَ صَبْرًا

“Tatakala mereka keluar dari daerah tanah haram untuk membunuh Khubaib di tanah halal maka Khubaib berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku sholat dua raka’at”. Maka merekapun membiarkan beliau, lalau beliau sholat dua raka’at, setelah itu beliau berkata, “Kalau bukan karena kawatir kalian menyangka aku ketakutan maka tentu aku akan memanjangkan sholatku….Maka Khubaibpun dibunuh oleh Ibnu Al-Haarits, maka Khubaib adalah orang yang mempelopori sholat dua raka’at bagi setiap muslim yang akan terbunuh dengan penuh kesabaran” (HR Al-Bukhari no 3045)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANGGAPAN ;

Sholat sunnah dua raka’at yang dikerjakan oleh Khubaib, pada dasarnya bukanlah cara peribadatan yang baru, yang tidak pernah disyari’atkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Merupakan perkara yang sangat wajar jika seseorang tahu ia akan meninggal maka ia ingin beribadah kepada Allah dengan ibadah yang agung. Diantara ibadah yang sangat agung adalah sholat.

Dan sholat dalam kondisi ini termasuk dalam keumuman hadits :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Rasulullah jika mendapati perkara yang menyulitkan beliau maka belipun sholat” (HR Ahmad no 23299, Abu Dawud no 1319, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 3/172).

Allah juga telah berfirman :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu” (QS Al-Baqoroh : 45)

Kalaupun sholat dua raka’at sebelum terbunuh musuh merupakan kreasi Khubaib radhiallahu ‘anhu maka perbuatan beliau tersebut menjadi SUNNAH, karena beliau lakukan semasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih HIDUP.

Al-Qostholaani rahimahullah berkata :

وَإِنَّمَا صَارَ فِعْلُ خُبَيْبٍ سُنَّةً لِأَنَّهُ فُعِلَ فِي حَيَاةِ الشَّارِعِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَاسْتَحْسَنَهُ

“Dan hanyalah perbuatan Khubaib itu menjadi SUNNAH, karena dikerjakan di masa KEHIDUPAN Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dianggap baik oleh Nabi” (Irsyaad As-Saari 5/165).

Perlu difahami, bahwa bid’ah adalah perkara baru dalam agama, yang muncul setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam WAFAT.

Sebagaimana yang diterangkan oleh para Ulama berikut ini.

1- Imam Al-’Iz bin ‘Abdissalam berkata :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

“Bid’ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).

2- Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

3- Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

4- Imam Al-‘Aini berkata :

وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

“. . Dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat”. (Umdatul Qori’ 25/37).

Dari keterangan para Ulama tersebut, dapat kita fahami, bahwa bid’ah adalah ;

“PERKARA BARU (dalam urusan agama), YANG TIDAK ADA DI MASA RASULULLAH MASIH HIDUP”.

Perhatikan sekali lagi berikut ini ! !

“Bid’ah adalah segala perkara yang terjadi (dalam urusan agama) SETELAH NABI TIADA”.

Adapun perbuatan yang dilakukan Khubaib radhiallahu ‘anhu tersebut, adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

Perkara yang di katakan atau dilakukan oleh seorang Sahabat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya tidak mengingkarinya, maka itu adalah yang disebut SUNNAH TAQRIRIYAH.

Perbuatan yang dilakukan seorang Sahabat, dan disukai oleh Rasulullah, maka yang dilakukan oleh seorang Sahabat Rasulullah tersebut menjadi SUNNAH.

Al-Qostholaani rahimahullah berkata :

وَإِنَّمَا صَارَ ذَلِكَ سُنَّةً لِأَنَّهُ فُعِلَ فِي حَيَاتِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَاسْتَحْسَنَهُ وَأَقَرَّهٌ

“Hanyalah hal itu menjadi SUNNAH, karena dikerjakan di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap baik oleh Beliau dan disetujuinya”. (Irsyaad As-Saari 5/261).

• APA ITU SUNNAH TAQRIRIYAH ?

SUNNAH TAQRIRIYAH adalah ; Perkata’an atau Perbuatan Sahabat Rasulullah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya tidak mengingkarinya, tidak melarangnya.

Artinya ; Apa yang dikatakan atau di lakukan oleh Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, disetujui oleh Rasulullah. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kesalahan yang dilakukan Sahabatnya.

Dan SUNNAH TAQRIRIYAH adalah sumber hukum dalam Islam, sebagaimana SUNNAH FI’LIYAH dan SUNNAH QAULIYAH.

Mungkin disini perlu disebutkan sedikit tentang sunnah.

Sunnah adalah ;

Maa udhifa ilaan nabiy min qowlun aw fi’lin aw taqriirin .

Artinya ; “Segala yang disandarkan kepada Nabi baik itu perkata”an atau perbuatan, persetujuan” (ushul fikih).

Sunah ada tiga ;

1- SUNNAH QAULIYAH (perkata’an Nabi)
2- SUNNAH FI’LIYAH (perbuatan Nabi)
3- SUNNAH TAQRIRIYAH (diamnya Nabi)

Diamnya Nabi, artinya Rasulullah membolehkannya, menyukainya. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kalau yang dilakukan para Sahabatnya tersebut tidak benar.

Riwayat Khubaib radhiallahu ‘anhu tersebut, dilakukan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

• TIDAK SEMUA YANG DILAKUKAN PARA SAHABAT DISUKAI RASULULLAH

Perlu diketahui, tidak semua yang dilakukan dan niat baik para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setujui.

Berikut ini, pengingkaran Rasulullah terhadap perbuatan yang dilakukan para Sahabatnya.

1- Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyata’an tiga orang, yang pertama berkata : “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui Al-Baroo’ bin ‘Aazib radhiallahu ‘ahu dalam mengucapkan lafal doa yang diajarkan Nabi kepadanya.

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ

“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada Nabimu yang Engkau utus”

Nabi berkata :

فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ

“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”

Nabi berkata, “Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau utus” (HR Al-Bukhari no 6311).

3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari Utsman bin Madz’uun yang ingin beribadah dan tidak menikah.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :

يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ , وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ

“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah disyariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?, Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasanNya” (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).

Dari riwayat-riwayat tersebut bisa kita ketahui, bahwa tidak semua niat atau perbuatan baik yang dikatakan atau dilakukan para Sahabatnya selalu disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka, apabila sa’at ini ada sebagian orang yang berhujah, boleh berbuat bid’ah (perkara baru dalam urusan agama), karena para Sahabat pun banyak yang melakukan suatu amalan hasil kreasinya sendiri. Maka ini adalah suatu kekeliruan.

Apakah para pelaku bid’ah bisa memastikan, jika amalan-amalan baru dalam urusan ibadah yang di buatnya, di sukai oleh Allah dan Rosulnya ?

Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun ada pengingkaran terhadap yang dilakukan para Sahabatnya ?

KESIMPULANNYA ;

Berhujjah membela bid’ah dengan membawakan riwayat yang menyebutkan ada seorang Sahabat membuat kreasi baru dalam ibadah, adalah sangat keliru. Karena yang dilakukan seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tersebut, dilakukan ketika Rasulullah MASIH HIDUP.

Disamping itu, tidak semua yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam.

Lalu darimana para pembuat bid’ah bisa mengetahui, kalau perkara baru yang dibuatnya pasti disukai Allah ta’ala dan Rasulnya ?

Selain itu, riwayat Khubaib radhiallahu ‘anhu tersebut, merupakan perbuatan seorang Sahabat, yang dilakukan sebelum turunnya ayat tentang sempurnanya agama.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Wallahu A’lam bis showaab.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

====================

BILAL MEMBUAT BID’AH ?

BILAL MEMBUAT BID’AH ?

Diantara sebagian jurus yang selalu dibawa para pembela bid’ah, yaitu riwayat Bilal radhiallahu ‘anhu yang selalu sholat dua raka’at setelah berwudhu, padahal tidak ada dalil khusus yang menunjukkan akan sunnahnya sholat dua raka’at setelah wudhu.

Berikut riwayatnya ;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Bilal :

يَا بِلاََلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُوْرًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّي

“Wahai Bilal, kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang paling memberikan pengharapan padamu yang telah kau kerjakan, karena aku mendengar gerakan kedua sendalmu di hadapanku di surga”. Bilal berkata, “Tidaklah aku mengerjakan suatu amalan yang paling memberikan pengharapan padaku daripada jika aku bersuci kapan saja di malam hari atau siang hari kecuali aku sholat dengan bersuciku tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah” (HR Al-Bukhari no 1149 dan Muslim no 2458).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANGGAPAN ;

Sholat sunnah wudhu bukanlah suatu ibadah yang baru yang tidak pernah disyari’atkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah disebutkan bahwasanya sholat sunnah wudhu adalah kreasi Bilal. Akan tetapi Nabi hanya bertanya kepada Bilal tentang ibadah yang paling memberi pengharapan kepadanya. Tidak termaktub dalam riwayat hadits ini bahwasanya Bilal telah menciptakan sholat sunnah wudhu. Maka bisa jadi sudah ada anjuran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya.

Perlu difahami, bahwa bid’ah adalah perkara baru dalam agama, yang muncul setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam WAFAT.

Sebagaimana yang diterangkan oleh para Ulama berikut ini.

1- Imam Al-’Iz bin ‘Abdissalam berkata :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

“Bid’ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Qowa’idul Ahkam 2/172).

2- Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

“Bid’ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah”. (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22).

3- Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

“Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga, apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan”. (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231).

4- Imam Al-‘Aini berkata :

وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

“. . Dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat”. (Umdatul Qori’ 25/37).

Dari keterangan para Ulama tersebut, dapat kita fahami, bahwa bid’ah adalah ;

“PERKARA BARU (dalam urusan agama), YANG TIDAK ADA DI MASA RASULULLAH MASIH HIDUP”.

Perhatikan sekali lagi berikut ini ! !

“Bid’ah adalah segala perkara yang terjadi (dalam urusan agama) SETELAH NABI TIADA”.

Adapun perbuatan Bilal radhiallahu ‘anhu yang selalu sholat dua raka’at setelah berwudhu tersebut, adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

Perkara yang di katakan atau dilakukan oleh seorang Sahabat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyetujuinya tidak mengingkarinya, maka itu adalah yang disebut SUNNAH TAQRIRIYAH.

Perbuatan yang dilakukan seorang Sahabat, dan disukai oleh Rasulullah, maka yang dilakukan oleh seorang Sahabat Rasulullah tersebut menjadi SUNNAH.

Al-Qostholaani rahimahullah berkata :

وَإِنَّمَا صَارَ ذَلِكَ سُنَّةً لِأَنَّهُ فُعِلَ فِي حَيَاتِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَاسْتَحْسَنَهُ وَأَقَرَّهٌ

“Hanyalah hal itu menjadi SUNNAH, karena dikerjakan di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dianggap baik oleh Beliau dan disetujuinya”. (Irsyaad As-Saari 5/261).

• APA ITU SUNNAH TAQRIRIYAH ?

SUNNAH TAQRIRIYAH adalah ; Perkata’an atau Perbuatan Sahabat Rasulullah, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkannya tidak mengingkarinya, tidak melarangnya.

Artinya ; Apa yang dikatakan atau di lakukan oleh Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, disetujui oleh Rasulullah. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kesalahan yang dilakukan Sahabatnya.

Dan SUNNAH TAQRIRIYAH adalah sumber hukum dalam Islam, sebagaimana SUNNAH FI’LIYAH dan SUNNAH QAULIYAH.

Mungkin disini perlu disebutkan sedikit tentang sunnah.

Sunnah adalah ;

Maa udhifa ilaan nabiy min qowlun aw fi’lin aw taqriirin .

Artinya ; “Segala yang disandarkan kepada Nabi baik itu perkata”an atau perbuatan, persetujuan” (ushul fikih).

Sunah ada tiga ;

1- SUNNAH QAULIYAH (perkata’an Nabi)
2- SUNNAH FI’LIYAH (perbuatan Nabi)
3- SUNNAH TAQRIRIYAH (diamnya Nabi)

Diamnya Nabi, artinya Rasulullah membolehkannya, menyukainya. Tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan kalau yang dilakukan para Sahabatnya tersebut tidak benar.

Riwayat Bilal radhiallahu ‘anhu yang selalu sholat dua raka’at setelah berwudhu tersebut, dilakukan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam MASIH HIDUP.

• TIDAK SEMUA YANG DILAKUKAN PARA SAHABAT DISUKAI RASULULLAH

Perlu diketahui, tidak semua yang dilakukan dan niat baik para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setujui.

Berikut ini, pengingkaran Rasulullah terhadap perbuatan yang dilakukan para Sahabatnya.

1- Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyata’an tiga orang, yang pertama berkata : “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua berkata : ”Saya akan puasa dan tidak akan berbuka”, yang terakhir berkata : “Saya tidak akan menikah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata : “Apa urusan mereka dengan berkata seperti itu ?, Padahal saya puasa dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pun tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku”. (Muttafaqun alaihi).

2- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyetujui Al-Baroo’ bin ‘Aazib radhiallahu ‘ahu dalam mengucapkan lafal doa yang diajarkan Nabi kepadanya.

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana berwudhu untuk sholat, lalu berbaringlah di atas bagian tubuhmu yang kanan, lalu katakanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إْلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتُ

“Yaa Allah aku menyerahkan jiwaku kepadaMu, dan aku pasrahkan urusanku kepadaMu, dan aku sandarkan punggungku kepadaMu, dengan kekhawatiran dan harapan kepadaMu. Tidak ada tempat bersandar dan keselamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan beriman kepada Nabimu yang Engkau utus”

Nabi berkata :

فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ

“Jika engkau meninggal maka engkau meninggal di atas fitroh, dan jadikanlah doa ini adalah kalimat terakhir yang engkau ucapkan (sebelum tidur)”

Al-Baroo’ bin ‘Aazib berkata :

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لاَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Lalu aku mencoba untuk mengingatnya dan aku berkata “Dan aku beriman kepada RasulMu yang Engkau utus”

Nabi berkata, “Tidak, (akan tetapi) : Dan aku beriman kepada NabiMu yang Engkau utus” (HR Al-Bukhari no 6311).

3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingkari Utsman bin Madz’uun yang ingin beribadah dan tidak menikah.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi sallam pun berkata kepadanya :

يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا, أَفَمَا لَكَ فِيَ أُسْوَةٌ ؟ فَوَاللهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ للهِ , وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُوْدِهِ

“Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Rohbaniyah tidaklah disyariatkan kepada kita. Tidakkah aku menjadi teladan bagimu ?, Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan akulah yang paling menjaga batasan-batasanNya” (HR Ibnu Hibban, Ahmad, dan At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir).

Dari riwayat-riwayat tersebut bisa kita ketahui, bahwa tidak semua niat atau perbuatan baik yang dikatakan atau dilakukan para Sahabatnya selalu disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka, apabila sa’at ini ada sebagian orang yang berhujah, boleh berbuat bid’ah (perkara baru dalam urusan agama), karena para Sahabat pun banyak yang melakukan suatu amalan hasil kreasinya sendiri. Maka ini adalah suatu kekeliruan.

Apakah para pelaku bid’ah bisa memastikan, jika amalan-amalan baru dalam urusan ibadah yang di buatnya, di sukai oleh Allah dan Rosulnya ?

Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun ada pengingkaran terhadap yang dilakukan para Sahabatnya ?

KESIMPULANNYA ;

Berhujjah membela bid’ah dengan membawakan riwayat yang menyebutkan ada seorang Sahabat membuat kreasi baru dalam ibadah, adalah sangat keliru. Karena yang dilakukan seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tersebut, dilakukan ketika Rasulullah MASIH HIDUP.

Disamping itu, tidak semua yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam disetujui dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam.

Lalu darimana para pembuat bid’ah bisa mengetahui, kalau perkara baru yang dibuatnya pasti disukai Allah ta’ala dan Rasulnya ?

Selain itu, riwayat Bilal radhiallahu ‘anhu yang selalu sholat dua raka’at setelah berwudhu tersebut, merupakan perbuatan seorang Sahabat sebelum turunnya ayat tentang sempurnanya agama.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Wallahu A’lam bis showaab.

Agus Santosa Somantri

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

====================

BACA’AN I’TIDAL RIFAA’AH BIN ROOFI’

BACA’AN I’TIDAL RIFAA’AH BIN ROOFI’

Diantara hujjah yang dibawakan para pembela bid’ah, yaitu sebuah hadits berikut ini ;

Dari Rifaa’ah bin Roofi’, ia berkata :

كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ الرسول ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ ، قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ : رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ ، قَالَ : مَنِ الْمُتَكَلِّمُ ؟ قَالَ : أَنَا ، قَالَ : رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

“Suatu hari kami sholat dibelakang Rasulullah, maka tatkala beliau mengangkat kepala, beliau berkata, “Sami’allahu liman hamidahu”. Lalu ada seseorang di belakang beliau berkata, رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ. Tatkala beliau selesai sholat maka beliau berkata, “Siapa tadi yang berbicara?”. Orang itu berkata, “Saya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku melihat tiga puluh sekian malaikat berlomba-lomba siapa yang pertama diantara mereka yang mencatatnya” (HR Al-Bukhari no 799)

Adapun perkataan Ibnu Hajar tentang hadits Rifaa’ah bin Roofi radhiallahu ‘anhu

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ إْحَدَاثِ ذِكْرٍ فِي الصَّلاَةِ غَيْرِ مَأْثُوْرٍ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُخَالِفٍ لِلْمَأْثُوْرِ … وَعَلَى أَنَّ الْعَاطِسَ فِي الصَّلاَةِ يَحْمَدُ اللهَ بِغَيْرِ كَرَاهَةٍ وَأَنَّ الْمُتَلَبِّسَ بِالصَّلاَةِ لاَ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ تَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

“Hadits ini dijadikan dalil akan boleh mengada-ngadakan dalam sholat suatu dzikir yang tidak ada ma’tsur (tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) jika tidak menyelisihi dzikir yang ma’tsuur…serta bolehnya orang yang bersin memuji Allah, dan tidak makruh, dan orang yang sedang sholat tidak mesti menjawab orang yang bersin” (Fathul Baari 2/287).

Dalam pernyata’an di atas bukan berarti Al-Hafiz memandang bolehnya berbuat bid’ah hasanah secara bebas. Akan tetapi beliau menyebutkan permasalahannya secara khusus, yaitu bolehnya berkreasi dzikir dalam sholat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentunya Ibnu Hajar tidak membolehkan kreasi dzikir dalam seluruh kondisi sholat, tentunya beliau (Ibnu Hajar), bahkan tidak seorang ulamapun yang membolehkan bebas berkreasi dalam menciptakan dzikir-dzikir tatkala doa iftitah, ruku’, tatkala sujud, tatkala duduk diantara dua sujud, dan tatkala tasyahhud.

Akan tetapi sebagian ulama membolehkan kreasi dzikir atau doa dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti tatkala berdoa dalam sujud, atau tatkala doa setelah tasyahhud dan sebelum salam (silahkan lihat penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmuu’ 3/469, lihat juga Asnaa Al-Mathoolib 1/166).

Demikian juga dzikir tatkala i’tidal (bangkit dari ruku’), sebagian ulama menyatakan bahwa tatkala i’tidal merupakan maqom (kondisi) untuk mengagungkan Allah, karenanya tidak mengapa memuji Allah dengan dzikir kreasi sendiri selama tidak menjadi kebiasaan.

Terlebih lagi, ternyata Ibnu Hajar membawakan kisah Rif’ah tersebut pada kisah bersinnya (lihat Fathul Baari 2/286), sebagaimana sangat jelas dalam riwayat yang lain (HR Abu Dawud no 773 dan At-Thirmidzi no 404), sehingga dzikir yang disebutkan oleh Rifa’ah adalah dzikir bersin yang kebetulan ia ucapkan tatkala i’tidal.

Al-Imam An-Nawawi membolehkan dzikir bersin dengan beberapa bentuk pujian kepada Allah.

Al-Imam An-Nawawi berkata ;

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلْعَاطِسِ أَنْ يَقُوْلَ عَقِبَ عِطَاسِهِ : الْحَمْدُ للهِ ، فَلَوْ قَالَ : الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ كَانَ أَحْسَنَ ، وَلَوْ قَالَ : الْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ كَانَ أَفْضَلَ

“Para ulama telah sepakat bahwasanya disunnahkan bagi orang yang bersin setelah bersin mengucapkan “Alhamdulillah”. Jika dia mengucapkan “Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin” maka lebih baik. Dan jika ia mengucapkan “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” maka lebih afdol” (Al-Adzkaar 270).

Akan tetapi Ibnu Hajar berkata :

وَالَّذِي يَتَحَرَّرُ مِنَ الأَدِلَّةِ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ مُجْزِئٌ لَكِنَ مَا كَانَ أَكْثَرَ ثَنَاءً أَفْضَلُ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ مَأْثُوْرًا

“Dan yang tersimpulkan dari dalil-dalil bahwasanya segala bentuk dzikir (setelah bersin) tersebut cukup, akan tetapi yang lebih banyak pujiannya lebih afdol, dengan syarat dzikir tersebut ma’tsuur (ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen)” (Fathul Baari 10/601).

Dalam nukilan ini jelas, Ibnu Hajar menyatakan, bahwa segala bentuk dzikir setelah bersin boleh dengan syarat harus ma’tsuur.

Maksud dari pemaparan ini, sama saja apakah dzikir yang tersebutkan dalam hadits Rif’ah adalah dzikir i’tidal atau dzikir bersin maka kalaupun bukan merupakan dzikir yang ma’tsur dan boleh berkreasi dalam dzikir ini maka hal ini hanya dalam cakupan yang terbatas.

Maka sungguh aneh jika lalu dijadikan dalil untuk membolehkan bid’ah hasanah…, membolehkan bekreasi membuat dzikir-dzikir baru dalam doa istiftah, dzikir ruku’, sujud, dll ??, bahkan membolehkan untuk berkreasi membuat model ibadah baru ??.

Tentunya pemahaman seperti itu tidak dipahami oleh para Ulama yang mu’tabar.

Wallahu A’lam bis showaab.

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/338-syubhat-syubhat-para-pendukung-bid-ah-hasanah-syubhat-keenam

https://agussantosa39.wordpress.com/category/1-bidah/%e2%80%a2-memahami-bidah/

=========================