BID’AH YANG DI MAKSUD UMAR BIN KHOTOB

Ucapan Umar bin khotob : “Sebaik baik bid’ah adalah ini” Maka yang di maksud adalah bid’ah menurut lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i.

Sebagai mana yng di jelaskan oleh ibnu Rajab. Ibnu Rajab mengatakan : Bahwa shalat tarawih yang dihidupkan kembali oleh Umar tetap sah dan bukan bid’ah. karena itu adalah bagian dari sunnah. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam,2:128).

Kita lihat riwayat shalat taraweh. Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain meriwayatkan hadis dari Aisyah Rodiyalloha Anha. “Bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam sendirian. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau. Ketika Shubuh tiba, orang orang berbincang-bincang mengenai hal tersebut. Pada malam selanjutnya, jumlah jama’ah semakin bertambah dari pada sebelumnya, Demikianlah seterus nya pada malam-malam berikutnya. Hal itu berlanjut hingga tiga malam. Pada malam ke empat, masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jama’ah. Namun Rasulullah Sallallohu ‘Alaihi Wasallam tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga fajar menyingsing, Rasulullah Sollallohu ‘Alaihi Wasallam baru keluar untuk menunaikan shalat Shubuh. Selepas itu beliau berkhutbah, Amma Ba’du. Saya telah mengetahui kejadian semalam, Akan tetapi saya khawatir shalat itu (taraweh) akan diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu melakukannya. Untuk selanjutnya shalat tarawih tidak dikerjakan secara berjama’ah”.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat tarawih bersama para sahabatnya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.

Dari riwayat itu bisa kita ketahui, bahwa shalat taraweh berjama’ah bukanlah BID’AH, karena pernah di lakukan oleh Nabi bersama para Sahabat.

Adapun akhirnya taraweh berjama’ah di tinggalkan, karena Rosululloh khawatir kalau shalat taraweh akan di wajibkan kepada umatnya.

Jadi ucapan Umar : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. adalah bid’ah secara lughowi (bid’ah secara bahasa) Demikan menurut ibnu Rajab. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:128).

Ibnu Katsir Rahimahullah, seorang ulama ahlu sunnah dan juga seorang ahli tafsir paling terkemuka di dunia, mengata- kan bahwa bid’ah ada dua macam. Bid’ah secara syari’at dan bid’ah secara lughowiyah (bahasa).

Beliau berkata : ”Bid’ah ada dua macam, bid’ah syari’at seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkataan umar bin Khatab ketika mengumpulkan manusia untuk sholat tarawih : ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah.” [Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj].

Menurut Ibnu Katsir perkataan Umar bin Khaththab, ”Inilah sebaik-baiknya bid’ah”. adalah bidah secara bahasa. Karena shalat taraweh berjama’ah pernah di lakukan oleh Rosululloh.

Ibnu Hajar Al Asqolani, seorang ulama besar bermadzhab Syafi’iy, beliau rahimahullaah juga menjelaskan : “Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela, berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” [Lihat Fathul Bari,13:253].

Jadi bagaimana mungkin Umar mengatakan shalat taraweh berjama’ah adalah bid’ah (secara syar’i), Bukankah bidah itu artinya : Suatu yng tdk di pernah di lakukan oleh Nabi ?

Sedangkan shalat taraweh berjama’ah, pernah di lakukan Rosululloh bersama-sama para Sahabat.

——————–