Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah ?

ZAKAT FITRAH DENGAN BERAS BERARTI BID’AH ?

Zakat fitrah dengan beras berarti bid’ah, karena tidak di lakukan Rosululloh ?

Tanggapan :

Zakat fitrah dengan beras bukan bidah, walaupun tidak di lakukan oleh Rosululloh,

Dalam hadits disebutkan zakat fitrah dengan kurma, gandum, anggur atau keju, semua itu adalah makanan pokok, di tiap-tiap negri yang berbeda.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Dahulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hari Idul Fithri dengan satu sho’ makanan.” Abu Sa’id berkata, Dahulu yang menjadi makanan kami adalah gandum, anggur, keju dan kurma.” (HR. Bukhari no. 1510).

Empat makanan yang disebutkan di atas bukanlah batasan. Makanan tersebut menjadi makanan orang banyak di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata “makanan” maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri, bisa berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya.

Setiap yang menjadi makanan pokok di tiap-tiap negri, bisa digunakan untuk zakat fitrah, seperti di negeri kita dengan beras.

Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain, beliau mengatakan : “Kami mengeluarkan (zakat fitrah) berupa makanan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ‘Idul Fitri.” Beliau mengatakan lagi, “dan makanan kami pada saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, kurma.” (HR. Bukhari).

Inilah pendapat yang kuat yang dipilih jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim, Ibnu Bazz, dan lainnya.

Zakat fitrah bertujuan untuk memberikan makan bagi fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya, maka tujuan itu menjadi tidak tepat.

Jadi zakat fitrah dengan beras, bukanlah perkara yang di buat-buat dalam agama.

Kita mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, karena beras sebagai makanan pokok di negri kita.

Wassalam

Agus Santosa Somantri

————————

Pesawat berarti bid’ah ?

PESAWAT TERBANG BERARTI BID’AH ?

Kadang-kadang ada orang yang karena tidak fahamnya arti bid’ah, dia mengatakan, pesawat terbang berarti bidah ? Karena tidak ada di zaman Nabi.

Orang yang tidak faham suatu masalah, memang suka asal bicara.

Orang yang pergi haji naik pesawat terbang, apakah ada dalam benaknya jika ibadah hajinya jadi lebih mabrur ?

Atau dia meyakini kalau kendara’an yang dia tumpanginya memberikan nilai tambah terhadap ibadah hajinya ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanya sebagai sarana transfortasi.

Kalau dahulu kaum muslimin berangkat haji dengan mengendarai unta, kemudian terus berkembang hingga kira-kira di awal abad 20 mulai digunakan kendara’an bermotor dan kapal laut, maka sa’at ini mereka menggunakan pesawat terbang. Entah kendara’an apa yang akan di gunakan seabad kemudian ?

Pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, bukanlah tujuan utama dari ibadah haji.

Orang yang menggunakan pesawat terbang untuk pergi ibadah haji, tidak menjadikannya jika pesawat terbang sebagai syarat dalam ibadah haji.

Pesawat terbang bisa di ganti atau bahkan tidak di gunakan apabila ada sarana transfortasi yang lebih baik.

Berbeda dengan syarat-syarat dan rukun-rukun dalam ibadah haji, tidak boleh ada yang di rubah, di tambah atau di kurangi, terlebih lagi di hilangkan.

Jadi jelas, pesawat terbang yang orang gunakan untuk pergi ibadah haji, hanyalah sarana transfortasi belaka. sama halnya dengan orang yang berangkat shalat jum’at naik becak, motor, mobil atau kendara’an lainnya.

Pesawat terbang, adalah termasuk kedalam perkara duniawi, yang kaidahnya :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan duniawi halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

————————