Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an berarti bid’ah ?

Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf  Al Qur’an tdk ada di jaman Nabi . berarti bid’ah ?

Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an , bukanlah bid’ah namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah jika dilihat dari tiga sisi .

Pertama: ia merupakan cara/wasilah agar orang tak keliru membaca ayat, tapi bukan tujuan hakiki dan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya cara tersebut bisa ditambah/ diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya.

Kedua: sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis. Ketika banyak orang ‘ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi.  Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca.

Ketiga: tujuannya jelas untuk mempermudah membaca Al Qur’an .

(Abu Hudzaifah)

6 responses to “Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an berarti bid’ah ?

    • قال رسول الله ص م اياكم ومحدثة الامور وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة ‏

      Nabi Muhammad shallallahu
      ‘alaihi wa sallam bersabda : Sejelek-jelek perkara adalah yang di ada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Muslim:no.867)

      Maksud bid’ah yng Nabi peringatkan kepada umatnya adalah bid’ah dalam urusan AGAMA bukan bid’ah dalam urusan DUNIA.

      Darimana kita bisa mengetahui bahwa yang Nabi maksudkan adalah bid’ah dalam urusan AGAMA ?

      Jawabannya :

      Kita harus melihat hadits-hadits Nabi yng lainnya, karena antara satu hadits dengan hadits yng lainnya saling menjelaskan.

      Perhatikan hadist-hadist berikut ini :

      من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

      “Man ahdasa fii amrinaa hadzaa maa laesa minhu fahua roddun”.

      Artinya :

      “Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari,no.20)

      Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka, janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan, hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)” (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham hal 50)

      Perhatikan Kalimat íni :

      فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

      “Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika”

      “Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah, menurut pendapatmu sendiri”

      Apabila kita perhatikan hadist-hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh sallalloohu alaihi wasallam sendiri, bahwa yng di maksud dengan jangan berbuat bid’ah itu, adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan IBADAH.

      Perlu di ketahui, bahwa Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, bukan untuk mengurus perkara-perkara dunia, seperti bagaimana cara bertani, membuat senjata perang, cara menunggang kuda, membuat bangunan dll. Tapi Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam di utus, untuk mengurus perkara-perkara agama (urusan ibadah) seperti, cara shalat, berdo’a, zakat, shalawat, mengurus jenzah dll.

      Urusan dunia Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wasallam menyerahkan kepada Umatnya untuk mengaturnya, selama tidak melanggar syariat.

      Kita perhatikan riwayat berikut ini :

      Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara dunia, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama, maka kembalikanlah ke padaku.” (HR. Ahmad.)

      Perlu kita ketahui bahwa aktifitas kita di dunia, terbagi menjadi dua bagian,

      Pertama :
      Urusan IBADAH, contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

      Ke dua :
      Urusan DUNIA, contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga dll.

      Walaupun urusan dunia, misalnya mencari nafkah, berolah raga, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

      Shahabat Rasulullah Ali bin Abi Tholib berkata :

      حيتنا كلها عباده

      “Hidup kita seluruhnya ibadah”.

      Tapi sebaliknya, urusan ibadah seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

      Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan:

      عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

      Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi)

      Urusan DUNIAWI ataupun urusan AGAMA/ IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

      Berikut qa’idah-qa’idahnya :

      – URUSAN DUNIAWI :

      الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

      Artinya :

      “Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

      – URUSAN IBADAH :

      الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

      Artinya :

      “Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

      Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

    • Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an apakah bid’ah ?

      Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an, bukanlah bid’ah, namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah.

      Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an hanya metode atau cara/ wasilah agar orang dapat membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan benar.

      Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an bukan tujuan utama dari ibadah, bukan ibadah yang berdiri sendiri.

      Karenanya, cara tersebut bisa ditambah/ diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya.

      Berbeda dengan ibadah yng pokok seperti shalat, puasa, syahadat dll, tidak boleh di tambah di kurangi sesuka hati. Karena ibadah sudah di tentukan Allah dan Rasulnya.

      Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an belum ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis.

      Ketika banyak orang ‘ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi. Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca.

  1. Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an apakah bid’ah ?

    Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an, bukanlah bid’ah, namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah.

    Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an hanya metode atau cara/ wasilah agar orang dapat membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan benar.

    Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an bukan tujuan utama dari ibadah, bukan ibadah yang berdiri sendiri.

    Karenanya, cara tersebut bisa ditambah/ diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya.

    Berbeda dengan ibadah yng pokok seperti shalat, puasa, syahadat dll, tidak boleh di tambah di kurangi sesuka hati. Karena ibadah sudah di tentukan Allah dan Rasulnya.

    Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an belum ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis.

    Ketika banyak orang ‘ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi. Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca.

  2. Yah itu semua tujuaannya untuk mempermudah melaksanakan syariat bukan syariat itu sendiri. Walaupun sifatnya hanya sebagai sarana dalam menjalankan syariat akan tetapi bagi yang membuat bisa mendapatkan pahala sebab orang mempermudah jalan untuk melaksanakan ibadah maka merupakan ibadah pula dan berhak mendapatkan ok pahala jika dilakukan secara ikhlas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s