Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an berarti bid’ah ?

Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf  Al Qur’an tdk ada di jaman Nabi . berarti bid’ah ?

Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an , bukanlah bid’ah namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah jika dilihat dari tiga sisi .

Pertama: ia merupakan cara/wasilah agar orang tak keliru membaca ayat, tapi bukan tujuan hakiki dan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya cara tersebut bisa ditambah/ diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya.

Kedua: sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis. Ketika banyak orang ‘ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi.  Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca.

Ketiga: tujuannya jelas untuk mempermudah membaca Al Qur’an .

(Abu Hudzaifah)

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI

BALASAN BAGI YANG MENYEPELEKAN DAN MENGOLOK-OLOK SUNNAH NABI
.
Sunnah berasal dari kata,
.
(سن) -> (يسن) -> (سنة)
.
Secara bahasa (etimologi) arti sunnah adalah : ”Cara atau disebut juga jalan (yang ditempuh)”. (An-Nihayah/ Ibnu Atsir, Lisanul ‘Arab/ Ibnu Manzhur).
.
Arti sunnah secara bahasa lainnya adalah : Peraturan atau ketetatapan, tradisi atau kebiasa’an juga bisa berarti keterangan.
.
Menjadi kewajiban bagi setiap kaum muslimin untuk mengagungkan sunnah Nabi, menghidupkan, mendakwahkan dan membelanya dari orang-orang yang membenci dan memusuhinya.
.
Sangat memperihatinkan jika ada sebagian orang yang mengaku sebagai seorang muslim, namun enggan untuk menerapkan sunnah Nabi, terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokkan.
.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam,
.
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
.
“Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari golonganku”. (Muttafaqun ‘alaih).
.
• Beberapa kasus yang menimpa orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi
.
Berikut ini, beberapa riwayat yang menimpa orang-orang yang menyepelekan dan mengolok-olok sunnah Nabi. Mereka mendapatkan balasan dari Allah Ta’ala ketika masih hidup di dunia.
.
Kisah Pertama
.
قَالَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ: أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: «كُلْ بِيَمِينِكَ» ، قَالَ: لَا أَسْتَطِيعُ، قَالَ: «لَا اسْتَطَعْتَ» ، مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ، قَالَ: فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
.
Salamah bin Akwa’ berkata, “Pernah ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah dengan tangan kiri. Beliau lantas berkata : “Makanlah dengan tangan kananmu”. Lelaki itu menjawab, “Aku tidak bisa”. Rasulullah berkata : “Mudah-mudahan engkau benar-benar tidak bisa. Tidak ada yang menghalanginya untuk melakukannya kecuali kesombongan”. Salamah berkata, “Kemudian dia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyantap makanan”. (HR. Muslim no. 2021).
.
Riwayat di atas menyebutkan, seorang yang tidak menuruti perintah Nabi dan menyepelekannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendo’akan keburukan baginya, hal ini harus di jadikan pelajaran bahwa tidak mematuhi perintah Nabi adalah merupakan bentuk kedurhaka’an kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sehingga pelakunya pantas mendapatkan hukuman.
.
Kisah Kedua
.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ»
.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam melarang seorang minum langsung dari lubang kendi. (HR. Bukhari 5628).
.
قَالَ أَيُّوبُ: “فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلًا شَرِبَ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ”
.
Ayyub berkata, “Sampai sebuah berita kepadaku bahwa seorang lelaki langsung minum dari lubang kendi, tiba-tiba seekor ular keluar dari lubangnya”. (HR. Ahmad no. 7153).
.
Tidak ada syari’at dalam Islam, kecuali akan mendatangkan kebaikan dan keselamatan. Dalam riwayat diatas terdapat larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum langsung dari lubang kendi. Dan ternyata terjadi sesuatu yang buruk, ketika seorang minum langsung dari lubang kendi. Dan itu sebagai balasan dari perbuatannya yang tidak mengindahkan larangan Nabi.
.
Kisah Ketiga
.
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَرْمَلَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يُوَدِّعُهُ بِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ فَقَالَ لَهُ: لَا تَبْرَحْ حَتَّى تُصَلِّيَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
.
Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin Musayyib mengucapkan salam perpisahan untuk haji atau umroh. Sa’id berkata kepadanya, “Jangan pergi dulu sampai engkau Sholat. Sesungguhnya Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda :
.
«لَا يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلَّا، مُنَافِقٌ، إِلَّا رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حاجةُ، وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ»
.
“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali seorang munafiq. Kecuali seorang lelaki yang dipaksa keluar oleh suatu keperluan dan berniat untuk kembali ke masjid”.
.
فَقَالَ: إِنَّ أَصْحَابِي بِالْحَرَّةِ قَالَ: فَخَرَجَ، قَالَ: فَلَمْ يَزَلْ سَعِيدٌ يَوْلَعُ بِذِكْرِهِ، حَتَّى أُخْبِرَ أَنَّهُ وَقَعَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَانْكَسَرَتْ فَخِذُهُ
.
Lelaki itu berkata, “Teman-teman saya berada di Hurrah”. Kemudian dia pergi. Sa’id masih saja menyebut lelaki tersebut hingga datang berita bahwa lelaki tersebut terjatuh dari kendara’annya dan pahanya patah”. (Kisah ini terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, hadits no. 460).
.
Kisah Keempat
.
قال القاضي أبا الطيب: كنا في مجلس النظر بجامع المنصور فجاء شاب خراساني فسأل عن مسألة المصراة فطالب بالدليل حتى استدل بحديث أبي هريرة الوارد فيها
.
Al-Qadhi Abu Thoyyib berkata, “Suatu ketika kami berada di sebuah majlis di Jami’ Al-Manshur. Datanglah seorang pemuda dari Khurasan. Kemudian dia bertanya tentang masalah ternak yang tidak diperah beberapa hari hingga kambing susunya penuh, dan dia meminta dalilnya. Kemudian disampaikan kepadanya hadits Abu Hurairah yang menyebutkan hal tersebut.
.
فقال وكان حنفيا أبو هريرة غير مقبول الحديث فما استتم كلامه حتى سقط عليه حية عظيمة من سقف الجامع فوثب الناس من أجلها وهرب الشاب منها وهي تتبعه فقيل له تب تب فقال تبت فغابت الحية فلم ير لها أثر إسنادها أئمة
.
Pemuda itu (kebetulan seorang penganut madzhab Hanafi) lantas berkata, “Abu Hurairah tidak diterima haditsnya”. Belum selesai dia berucap demikian hingga muncullah seekor ular besar dari atap masjid. Orang-orang berhamburan karenanya. Pemuda tersebut lari namun ular tersebut terus mengejarnya. Orang-orang berkata padanya, “Bertobatlah !! Bertobatlah !!”. Dia lantas berkata, “Saya bertobat !”. Lalu ular tersebut hilang tanpa bekas”. (Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi).
.
Kisah Kelima
.
قطب الدين اليونيني قال بلغنا أن رجلا يدعى أبا سلامة من ناحية بصرى كان فيه مجون واستهتار
.
Quthbuddin Al-Yunani berkata, “Telah sampai kepada kami berita seorang lelaki yang dipanggil Abu Salamah dari salah satu daerah Bashrah (Seorang yang suka melawak dan membual).
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه
.
Ada seseorang menyebut tentang siwak dan keutamaannya di dekatnya. Lelaki tersebut berkata, “Demi Allah, aku hanya memakai siwak pada duburku”. Kemudian dia mengambil siwak dan meletakkannya pada duburnya lalu mengeluarkannya lagi.
.
فذكر عنده السواك وما فيه من الفضيلة فقال والله لا استاك إلا في المخرج يعني دبره فأخذ سواكا فوضعه في مخرجه ثم أخرجه فمكث بعده تسعة أشهر وهو يشكو من الم البطن والمخرج فوضع ولدا على صفة الجرذان له أربعة قوائم ورأسه كراس السمكة وله أربعة انياب بارزة وذنب طويل مثل شبر وأربع اصابع وله دبر كدبر الارنب ولما وصعه صاح ذلك الحيوان ثلاث صيحات فقامت ابنة ذلك الرجل فرضخت رأ سه فمات
.
Setelah itu dia mengeluhkan rasa sakit pada perut dan anusnya selama Sembilan bulan. Kemudian dia melahirkan sejenis tikus dengan empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan dan pantatnya seperti pantat kelinci. Setelah keluar, hewan tersebut mengeluarkan suara keras sebanyak tiga kali. Anak perempuan lelaki tersebut bangun dan memukul kepala hewan tersebut hingga mati.
.
وعاش ذلك الرجل بعد وضعه له يومين ومات في الثالث وكان يقول هذا الحيوان قتلني وقطع امعائي
.
Dan lelaki itu tetap hidup setelah melahirkan hewan tersebut selama dua hari, dan pada hari ketiga dia meninggal dunia. Dia pernah berkata, “Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku”.
.
وقد شاهد ذلك جماعة من أهل تلك الناحية وخطباء ذلك المكان ومنهم من رأى ذلك الحيوان حيا ومنهم من رآه بعد موته وممن توفي فيها من الاعيان
.
Hewan tersebut sempat dilihat oleh banyak orang dari penduduk daerah tersebut dan para khatib tempat itu. Ada yang melihatnya ketika hewan itu masih hidup dan ada yang melihatnya setelah hewan itu mati”. (Al-Bidayah Wa Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir).
.
Itulah beberapa kisah yang pernah terjadi menimpa orang-orang yang menyepelekan dan menyelisihi sunnah Nabi dan bahkan menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Hendaknya kita takut apabila menyepelekan sunnah Nabi menyelisihi terlebih lagi menjadikan sunnah Nabi sebagai bahan olok-olokan.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
.
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa ‘adzab yang pedih”. (QS. An-Nuur: 63).
.
Dalam ayat lain, Allah memerintahkan untuk selalu mengikuti sunnah Nabi apabila mencintai Allah Ta’ala.
.
Allah Ta’ala berfirman :
.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
.
“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk) ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Qs. Ali ‘Imran: 31).
.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keada’annya”. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477).
.
Semoga bermanfa’at.
.
.
با رك الله فيكم
.
By : Дδµ$ $@ŋţ๏$ą $๏๓ąŋţяί
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
.
________________

Kewajiban Mengikuti Sunnah

ALLOH berfirman :

Katakanlah Jika kamu benar- benar mencintai Allah, maka ikutilah sunnahku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS Ali ‘Imran:31) . 

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah  (QS al- Ahzaab:21) .

Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah , karena Allah sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah sebagai “ teladan yang baik ”,                yang ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti sunnah Rasulullah berarti dia telah menempuh ash- shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah . Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 481) .

Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir berkata:

“Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau “ Tafsir Ibnu Katsir (3/626) .

faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah merupakan pertanda kesempurnaan imannya.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata:

 “ Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah ) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah “ . Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481).

Karena agung dan mulianya kedudukan sunnah inilah, sehingga Rasulullah memberikan anjuran khusus bagi orang yang selalu berusaha mengamalkan sunnah beliau , terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang. Beliau bersabda : “ Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah- sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun”. Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 481).

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah , terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang. Oleh karena itu, imam Ibnu Majah mencantumkan hadits ini dalam kitab “Sunan Ibn Majah” pada bab: (keutamaan) orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah yang telah ditinggalkan (manusia) . Kitab “Sunan Ibnu Majah” (1/75).

Bahkan para ulama menjelaskan bahwa orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan keutamaan menghidupkannya di tengah- tengah manusia yang telah melupakannya.

Pengikut Sunnah Pengikut Kebenaran

Ibnul Qayyim berkata :

Sesungguhnya jika pada suatu jaman ada seorang yang memahami sunnah Rasulullah mengamalkannya dan menyeru manusia untuk mengikutinya, maka dialah hujjah (argumentasi penegak kebenaran di jamannya), dialah ijma’ (kesepakatan/­ konsensus para ulama Ahlus sunnah), dialah as-sawaadul a’zham (kelompok terbesar/Ahlus sunnah), dan dialah sabilul mu’minin (jalannya orang-orang yang beriman), yang barangsiapa memisahkan diri darinya dan mengikuti selainnya, maka Allah akan membiarkan dia (dalam kesesatan) yang diinginkannya dan Allah akan masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” .                                   

Sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah QS an-Nisaa’:115 .

Semangat Para Ulama Mengikuti Sunnah

Salah seorang ulama Ahlus sunnah, Zakaria bin ‘Adi bin Shalt bin Bistam , ketika beliau ditanya: “Alangkah besarnya semangatmu untuk mempelajari dan mengamalkan sunnah Rasulullah , apa sebabnya ?, maka beliau menjawab : Apakah aku tidak ingin pada hari kiamat nanti masuk ke dalam iring-iringan (rombongan) keluarga Rasulullah ?.

Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab Miftaahu daaris sa’aadah (1/74) .