HP, KOMPUTER, FACEBOOK, MOBIL, PESAWAT BERARTI BID’AH ?

Sering kali kita mendengar ucapaan atau membaca komentar seperti ini : Dakwah di facebook berarti bid’ah dong, di jaman Nabi kan tidak ada facebook ?

Sangatlah keliru apabila berbagai kemajuan teknologi sa’at ini, seperti : mobil, speker, komputer, hp, internet, pesawat, mobil dll dianggap sebagai BID’AH.

Di antara mereka mengatakan : “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi”.

Ucapan seperti itu tidaklah keluar kecuali dari lisan orang orang yng tidak faham tentang BID’AH.

Perlu di ketahui bahwa mobil, pesawat, internet, hp, tv, radio, speker itu semua adalah urusan DUNIA. Masalah urusan dunia Rosululloh menyerahkan kepada Umatnya selama tidak melanggar syariat.

Kita perhatika riwayat berikut ini :

Ketika para sahabat hendak melakukan penyerbukan silang pada kurma yang merupakan perkara duniawi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila itu adalah perkara dunia, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama, maka kembalikanlah ke padaku”. (HR.Ahmad.)

Adapun BID’AH yang Rosululloh melarang umatnya untuk tidak melakukannya adalah berbuat bid’ah dalam urusan AGAMA.

Darimana kita mengetahui bahwa yang Rosululloh larang adalah urusan agama ?

Kita perhatikan hadist hadist berikut ini :

من احدث في امرنا هد ما ليس منه فهو رد

“Man ahdasa fii amrinaa hadzaa maa laesa minhu fahua roddun”.

Artinya :

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (agama / ibadah) yang tidak ada asalnya (tidak Rosululloh lakukan / perintahkan), maka perkara tersebut tertolak”. (HR.Bukhari no.20).

Dari Thahir As-Shilfi dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah sallalloohu alaihi wasallam bersabda : “Ajarkan orang-orang tentang sunnahku walaupun mereka membencinya, dan bila kamu suka janganlah berhenti walau sekejap matapun di tengah jalan hingga kamu masuk ke dalamnya serta Falaa tahditsu fii diinillah hadatsan bi ro’yika (Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah) menurut pendapatmu sendiri)”. (H.R.Imam Asy-Syatibi dalam I’tisham:50).

Perhatikan Kalimat ini ;

فلا تحدث في دين الله حدثا برأيك

“Janganlah membuat perkara baru dalam diinullah (agama Allah), menurut pendapatmu sendiri”.

Apabila kita memperhatikan hadis hadist tersebut, maka kita akan mendapatkan penjalasan dari lisan Rosululloh, bahwa yng di maksud jangan berbuat bid’ah itu adalah bid’ah dalam urusan AGAMA / fii diinillah (agama Allah) atau urusan ibadah bukan urusan dunia.

Urusan DUNIAWI ataupun urusan AGAMA/ IBADAH, para Ulama membuat kaidahnya yang berbeda.

Berikut qa’idah-qa’idahnya :

– URUSAN DUNIAWI :

الاصل في العاده حلال حتي يقوم الدليل علي النهي

Artinya :

“Asalnya urusan dunia halal (boleh) kecuali ada dalil yng melarangnya”.

– URUSAN IBADAH :

الاصل في العباده بطلان حتي يقوم الدليل علي الامر

Artinya :

“Asalnya urusan Ibadah batal / tidak sah kecuali ada dalil yang memerintahkannya”

Kaidah-kaidah di atas perlu di pahami, sehingga tidak rancu dalam memahami bidah.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Perlu kita ketahui bahwa aktifitas kita di dunia, terbagi menjadi dua bagian,

– Pertama, Urusan IBADAH.
Contohnya : Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdo’a dll.

– Ke dua, Urusan DUNIA.
Contohnya : Makan, minum, naik kendara’an, nonton televisi, menggunakan internet, facebook, komputer, berolahraga dll.

Walaupun urusan dunia, misalnya mencari nafkah, berolah raga, facebookan, tapi kita akan mendapatkan pahala dan bernilai ibadah dimata Allah, apabila yang kita lakukan untuk mencari ridho Allah. Untuk kemaslahatan diri, keluarga dan Umat.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib berkata :

حيتنا كلها عباده

“Hidup kita seluruhnya ibadah”.

Tapi sebaliknya, urusan ibadah seperti shalat, dzikir, puasa dll, tidak akan berpahala, apabila niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan :

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “- متفق عليه –

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya . . .”. (Muttafaq ‘alaihi).

Wallohu ‘alamu bishowab . .

__________________

Syubhat pembagian bid’ah menjadi lima

Sebagian ulama berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi lima sebagai berikut:

  1. Bid’ah Wajibah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil diwajibkannya sesuatu dalam syariat. Contohnya pembukuan Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dikhawatirkan keduanya akan tersia-siakan. Berhubung menyampaikan risalah Islam kepada generasi berikutnya adalah suatu kewajiban menurut ijma’, dan mengabaikan hal ini hukumnya haram menurut ijma’, karenanya hal-hal seperti ini mestinya tidak perlu diperselisihkan lagi bahwa hukumnya wajib.
  2. Bid’ah Muharramah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil diharamkannya sesuatu dalam syariat. Contohnya berbagai bentuk pajak dan upeti, demikian pula setiap bentuk kezhaliman yang bertentangan dengan norma-norma agama, seperti penyerahan jabatan secara turun temurun kepada orang yang bukan ahlinya (nepotisme).
  3. Bid’ah Mandubah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dianjurkannya sesuatu dalam syari’at. Contohnya shalat tarawih berjama’ah.
  4. Bid’ah Makruhah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dimakruhkannya sesuatu dalam syari’at. Contohnya mengkhususkan beberapa hari yang dimuliakan dengan jenis ibadah tertentu, seperti larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa hari Jum’at secara khusus, atau qiyamullail pada malamnya; demikian pula menambah bilangan tertentu dalam wirid dengan sengaja, seperti menjadikan tasbih, tahmid dan takbir selepas shalat menjadi masing-masing 100 kali, dan semisalnya.
  5. Bid’ah Mubahah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dibolehkannya sesuatu dalam syari’at. Seperti menggunakan ayakan (penapis) gandum sebagai usaha memperbaiki taraf hidup, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah atsar bahwa hal pertama yang diada-adakan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah menggunakan ayakan gandum. Hal ini dibolehkan karena ia merupakan sarana untuk memperbaiki taraf hidup yang hukumnya boleh.[1])

Kaidah-kaidah penting dalam hal ini

Sebelum masuk ke pokok permasalahan, ada beberapa kaidah yang harus kita camkan terlebih dahulu dalam menyikapi pendapat para ulama agar kita tidak terjerumus ke dalam taklid buta, yaitu sebagai berikut:

  1. Berdasarkan ijma’ para ulama, tidak ada seorang pun setelah para sahabat yang pendapatnya menjadi hujjah dalam masalah agama[2]). Adapun para sahabat, maka pendapat mereka masih diperselisihkan apakah cukup kuat untuk dijadikan hujjah ataukah tidak. Sedangkan pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini ialah bahwa pendapat sahabat adalah hujjah dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu.[3])
  2. Setiap ulama bisa benar dan bisa salah dalam berpendapat, dan yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah dalil syar’i. Mereka hanyalah berijtihad yang bila benar mendapat dua pahala, namun bila salah mendapat satu pahala sedangkan kesalahannya diampuni. Akan tetapi kesalahan mereka tetap tidak boleh diikuti setelah kita mengetahuinya.
  3. Berdasarkan ijma’ para ulama, siapapun yang telah jelas baginya ajaran/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan hadits tersebut karena mengikuti pendapat orang lain, siapapun orangnya[4]).

Berangkat dari kaidah-kaidah ini, marilah kita nilai sejauh mana kebenaran pembagian bid’ah menjadi lima tadi.

Pertama: jelas sekali bahwa pembagian bid’ah menjadi lima tadi adalah pendapat segelintir ulama yang baru muncul sekian abad setelah generasi sahabat, karenanya ia tidak menjadi hujjah.

Kedua: pendapat tersebut bertentangan dengan hadits-hadits yang mencela setiap bentuk bid’ah. Di samping itu, pembagian bid’ah menjadi lima tersebut saling bertolak belakang, yang menunjukkan akan batilnya pembagian tersebut.

Imam Asy Syathiby mengatakan, “Bagaimana mungkin sesuatu yang sesuai dengan dalil syar’i dinamakan bid’ah, sedangkan di antara hakikat bid’ah itu sendiri ialah: sesuatu yang tidak sesuai dengan dalil syar’i maupun kaidah-kaidahnya? Sebab jika di sana ada kaidah atau dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah mubah, atau mandub (dianjurkan), atau wajib; niscaya tidak akan pernah ada bid’ah dalam agama. Oleh karena itu, pendapat yang di satu sisi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bid’ah, lalu secara bersamaan mengatakan bahwa dalil-dalil syar’i mengarah kepadanya; adalah pendapat yang menggabungkan antara dua hal yang saling bertolak belakang”.[5])

Ketiga: Apakah dibenarkan bagi seorang muslim setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa semua bid’ah (dalam agama) adalah sesat, kemudian ia meninggalkannya karena di sana ada sejumlah ulama yang menganggap adanya bid’ah mubahah, mandubah, atau wajibah??

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mi’raj ke langit… di sana, beliau sempat melihat beberapa Nabi yang terdahulu. Di antara mereka ada yang pengikutnya hanya sekitar tiga sampai sembilan orang; ada pula yang hanya dua orang; ada yang satu; bahkan ada Nabi yang tak punya pengikut sama sekali.

Benar, Nabi tanpa pengikut!! [6]).

Artinya; kebenaran bukan diukur dari banyak-sedikitnya pengikut. Meskipun orang sejagat menolaknya, yang namanya kebenaran tetap kebenaran di sisi Allah Ta’ala.

Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tiga belas ayat [7]). Seandainya tidak khawatir buku ini jadi terlalu tebal, niscaya kami nukilkan satu persatu ayat tersebut. Namun paling tidak, kami akan mencantumkan dua ayat dan mengisyaratkan sisanya dalam catatan kaki. Allah U berfirman:

 “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), supaya kalian mendapat rahmat”

(Aali ‘Imran: 132).

 “…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (157) (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka didapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. Menghalalkan bagi mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al A’raf: 156-157).

Dalam hadits shahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا (رواه البخاري في صحيحه, حديث رقم: 6463)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amal seseorang tidak akan mampu menyelamatkan dirinya…” . “Sampai engkau pun tak bisa selamat wahai Rasulllah ?” tanya mereka. Ya, aku pun demikian… kecuali bila Allah Ta’ala menaungiku dengan rahmat-Nya; karenanya luruskanlah (amal kalian) dan dekatilah kebenaran semampunya. Berusahalah di pagi dan petang, serta sejenak di malam hari, serta bersikaplah yang sedang-sedang saja dalam ibadah, niscaya kalian akan sampai” (H.R. Bukhari no 6463).

Dalam Fathul Baari, Al Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– menjelaskan bahwa perintah Nabi yang berbunyi “luruskanlah” mengisyaratkan supaya kita selalu mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal. Demikian pula dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “dekatilah” yang mengisyaratkan agar seseorang jangan berlebihan dalam ibadah, sehingga cepat merasa bosan [8]).

Pembaca sekalian, marilah kita cermati ayat-ayat dan hadits di atas, kemudian kita korelasikan dengan masalah yang sedang kita bahas…

Kalau kita perhatikan hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa amalan seseorang tidak akan cukup untuk menyelamatkan dirinya, atau untuk menghantarkannya ke Surga [9]); termasuk amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun. Mengapa demikian? Karena betapa pun banyaknya amal seseorang, nilai Surga jauh lebih mahal dari itu… dan tak akan ada orang yang mampu membeli Surga dengan imbalan amalnya, kecuali bila disertai Rahmat Allah. Lalu bagaimanakah cara mendapatkan Rahmat Allah? Kuncinya adalah dengan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah sesuai ayat kedua di atas (Al-A’raaf: 156-157). Karenanya, demi keselamatan diri kita, jangan sampai kita rela menyelisihi perintah dan larangan beliau hanya karena terpukau dengan pendapat seseorang, sealim apa pun orangnya…

Yakinlah bahwa semua yang ma’ruf (baik) telah beliau ajarkan, dan semua yang mungkar telah beliau larang. Setiap yang baik pasti beliau halalkan, dan setiap yang keji pasti beliau haramkan. Bahkan lebih dari itu, beliaulah yang membebaskan kita dari belenggu-belenggu jahiliyyah yang menjerat kita selama ini… karenanya, jangan sampai kita khianati jasa baik beliau tadi karena mengikuti pendapat sebagian ulama yang keliru.

Pembagian bid’ah menjadi lima tersebut belum tentu salah jika yang dimaksud adalah bid’ah lughawi, tetapi sebaliknya jika yang dimaksud adalah bid’ah syar’i maka ia jelas bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentunya kita harus berbaik sangka kepada para ulama dengan mengatakan bahwa bid’ah yang mereka maksudkan di sini ialah bid’ah lughawi. Sehingga dengan begitu kita menyelamatkan para ulama dari tuduhan bahwa mereka sengaja menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi bagi mereka yang bersikeras membenarkan pembagian bid’ah yang tidak tepat tersebut, maka jawabnya ialah: setiap ulama bisa keliru, sepintar apa pun dia. Sedangkan seorang Nabi tak mungkin keliru, apalagi penghulunya para Nabi dan Rasul; yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau anda belum puas dengan jawaban ini, maka berikut ini adalah jawaban Imam Asy Syaukani terhadap pembagian bid’ah menjadi lima tadi. Dalam penjelasan beliau mengenai hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang maknanya: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami yang bukan dari padanya, maka hal itu tertolak” (muttafaq alaih); beliau mengatakan:

وَهَذَا الْحَدِيثُ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّينِ ؛ لِأَنَّهُ يَنْدَرِجُ تَحْتَهُ مِنْ الْأَحْكَامِ مَا لَا يَأْتِي عَلَيْهِ الْحَصْرُ . وَمَا أَصْرَحَهُ وَأَدَلَّهُ عَلَى إبْطَالِ مَا فَعَلَهُ الْفُقَهَاءُ مِنْ تَقْسِيمِ الْبِدَعِ إلَى أَقْسَامٍ وَتَخْصِيصِ الرَّدِّ بِبَعْضِهَا بِلَا مُخَصِّصٍ مِنْ عَقْلٍ وَلَا نَقْلٍ فَعَلَيْك إذَا سَمِعْت مَنْ يَقُولُ هَذِهِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ بِالْقِيَامِ فِي مَقَامِ الْمَنْعِ مُسْنِدًا لَهُ بِهَذِهِ الْكُلِّيَّةِ وَمَا يُشَابِهُهَا مِنْ نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ} طَالِبًا لِدَلِيلِ تَخْصِيصِ تِلْكَ الْبِدْعَةِ الَّتِي وَقَعَ النِّزَاعُ فِي شَأْنِهَا بَعْدَ الِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّهَا بِدْعَةٌ ، فَإِنْ جَاءَك بِهِ قَبِلْته ، وَإِنْ كَاعَ كُنْت قَدْ أَلْقَمْته حَجَرًا وَاسْتَرَحْت مِنْ الْمُجَادَلَةِ . (نيل الأوطار, كتاب الصلاة, باب: الصلاة في ثوب الحرير والمغصوب).

“Hadits ini merupakan salah satu pondasi agama, karena tak terhingga banyaknya hukum yang masuk ke dalamnya. Alangkah jelasnya dalil ini sebagai pembatal bagi apa yang dilakukan sebagian fuqaha’ ketika membagi bid’ah menjadi macam-macam. Atau ketika mereka mengkhususkan jenis bid’ah tertentu yang tertolak, tanpa bersandar pada dalil baik secara logika maupun riwayat. Karenanya, ketika mendengar ada orang mengatakan: “Ini bid’ah hasanah”, wajib bagi anda untuk menolaknya; yaitu dengan bersandar pada keumuman hadits ini dan hadits-hadits senada seperti: “Kullu bid’atin dholalah”. Anda harus menanyakan dalil mana yang mengkhususkan bid’ah-bid’ah lain yang masih diperdebatkan, setelah disepakati bahwa hal itu merupakan bid’ah? Kalau ia bisa mendatangkan dalilnya, kita akan terima. Namun jika tak mampu, maka anda telah membungkamnya seribu bahasa, dan tak perlu melanjutkan perdebatan” (Nailul Authar, 1/66 cet. Daarul Fikr).

-bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id


[1]) Pembagian ini kami ringkas dari kitab Anwarul Buruq fi Anwa’il Furuq, Al Farqu 252; tulisan Al Qarafy (w. 684 H). Beliau mengadopsi pemikiran ini dari gurunya, yaitu ‘Izzuddien bin Abdissalam (w. 660 H); dan orang inilah yang pertama kali mencetuskan pembagian bid’ah menjadi lima. Pendapat ini kemudian diikuti pula oleh sebagian ulama mutaakhkhirin seperti Jalaluddien As Suyuthi (w. 911 H). Novel Alaydrus juga berdalil dengan pembagian ini dengan contoh-contoh yang sedikit berbeda (Mana Dalilnya 1, hal 28-31).

[2])  Lihat Al Ihkam, oleh Al Aamidy 4/152 dan Al Ihkam, oleh Ibnu Hazm 2/233.

[3]) Lebih jelasnya silakan merujuk ke pembahasan mengenai ‘Qoulus Shahaby’ dalam kitab-kitab usul fiqh, seperti Mudzakkirah Usulil Fiqh karya Al ‘Allamah Muhammad Al Amien Asy Syinqithy.

[4])  Sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i:

أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ .( إعلام الموقعين عن رب العالمين 2/ 421)

Semua orang (ulama) sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh baginya meninggalkan sunnah tersebut karena pendapat siapa pun (I’lamul Muwaqqi’ien 2/421).

[5]) Lebih lengkapnya silakan merujuk ke kitab Al I’tisham, karya Imam Asy Syathiby. Di sana beliau membantah syubhat ini secara mendetail, sedang di sini kami hanya menukil bantahan beliau secara umum.

[6])  Lihat Shahih Bukhari, hadits no: 3410, 5705, 5752, 6541; dan Shahih Muslim hadits no: 220.

[7])  Selain yang kami cantumkan, silakan saudara lihat dalam Surat Aali ‘Imran: 32; An Nisa’: 59, 69, 80; Al Ma’idah: 92; Al Anfal: 1; An Nur: 54, 56; Muhammad: 33; Al Hasyr: 7, dan At Taghabun: 12.

[8])  Lihat Fathul Baari, kitab; Ar Riqaaq, bab: Al Qashdu wal Mudawamatu fil Amal.

[9]) Sebagaimana yang tersebut dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang juga dalam Shahih Bukhari no 6464 & 6467.

Dari artikel ‘Ini Dalilnya (6): Benarkah Pembagian Bid’ah Menjadi Lima? — Muslim.Or.Id

Siapakah Pemecah Belah Ummat ?

Sering terdengar ucapan yng di tuduhkan kpd orang orang yng melakukan amar ma’ruf nahi munkar / mengajak kpd sunnah meninggalkan bid’ah sebagai pemecah belah umat .                                    Tidak tahukah mereka bahwa Allah berfirman : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (an Naml: 45) . Sebenarnya biang kerok adanya permusuhan ini, bukanlah pada dakwah yang diserukan Bukan pula pada para penyerunya , Tapi yang sebenarnya jadi masalah disini adalah mereka yang MEMUSUHI dakwah tauhid, dikarenakan mereka merasa telah DIUSIK HAWA NAFSUnya (sehingga merekapun mengobarkan api permusuhan)… Maka mengapa engkau langsung menunjukkan jari jemarimu kepada orang- orang yang meluruskan yang bengkok ? Sedangkan yang membuat dan yang membiarkan kebengkokan lepas dari celaanmu ? Ataukah justru dirimu sendiri yang telah terusik ? sehingga engkau ingin dakwah ini dihentikan agar usikan tersebut berhenti ? Bukankah engkau telah membaca / mendengar FirmanNya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah…” (Aali Imraan: 103) Sangat jelas dalam ayat diatas bahwa penyebab utama terjadinya perpecahan itu adalah TIDAK BERPEGANGNYA MANUSIA diatas agama yang disyari’atkan Allah!!! Oleh karenanya, jika kita berbicara tentang persatuan; maka yang diinginkan darinya adalah bersatu diatas agama Allah. Dan ingat; satu- satunya agama yang diakui, diterima dan diridhai Allah HANYALAH ISLAAM. Sebaliknya, hakekat perpecahan adalah menyelisihi agama Allah. Dikarenakan banyak manusia tidak mengetahui hakekat persatuan dan perpecahan inilah… menjadikan mereka menuduh (tanpa ilmu) bahwa orang-orang yang hendak mengusahakan “persatuan” dikatakan “pemecah-belah”; sementara orang yang membiarkan kemungkaran (tetap ada), bahkan orang menyerukan kepada berbagai kemungkaran malah didiamkan dan lepas dari celaannya… Ataukah maksud celaanmu ini untuk mempersatukan yang haq dengan yang baathil? Maka ini tidak mungkin… Karena didalam ayat dalam surat an Naml diatas pun sudah Allah katakan bahwa pengikut al haq PASTI akan BERMUSUHAN dengan pengikut kebathilan… Maka bagaimana engkau hendak “mempersatukan” orang-orang yang TELAH PASTI permusuhan antara keduanya?! Bahkan sesama AHLUL BATHIL (yang hendak bekerjasama untuk melawan ahlul haq) meski nampak “bersatu”, pada hakekatnya mereka BERPECAH BELAH.. Bahkan dengan perpecahan yang sangat!! Allah berfirman : Permusuhan antara sesama mereka adalah SANGAT HEBAT.. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. (al Hasyr: 14) Maka tinggal ada dua pilihan, – menjadikan ahlul haq memaklumi kebathilan, meninggalkan al haq, dan “bersatu dengan ahlul baathil”… – ataukah menjadikan ahlul bathil tunduk kepada al haq, dan meninggalkan kebathilannya? Adapun usaha- usaha untuk menyatukan yg haq dan yg baathil yg dilakukan kaum munaafiqiin sejak dahulu maka ini adalah termasuk bentuk kerusakan dimuka bumi yang justru mereka mengira “membuat perbaikan” (simak al baqarah: 11-12)… Tidaklah mereka berlaku demikian, melainkan karena disebabkan mereka senantiasa berada diatas KERAGUAN, KEBIMBANGAN, serta KEBODOHAN yang amat sangat tentang agama mereka… Maka semoga Allah mempersatukan kita diatas kebenaran, menjauhkan kita dari kebathilan, serta menjauhkan kita dari kebodohan, keragu- raguan maupun kebimbangan.. Aamiin. –

abuzuhriy.com/siapakah-pemecah- belah-dan-dalang-segala- permusuhan/

Perkataan Para Ulama Tentang Bid’ah

1- Sufyan at-Tsauri rahimahullah berkata: “Bid’ah lebih disenangi oleh Iblis daripada maksiat kerana pelaku maksiat akan bertaubat darinya, sedangkan pelaku bid’ah tidak akan bertaubat darinya”. (Musnad Ibnul Ja’ad, 1885. Majmu’ al-Fatawa, 11/472) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah”.

2- Asy-Syatibi rahimahullah berkata : “Sesusungguhnya golongan yang selamat (dan mereka itu ahlus sunnah), diperintahkan untuk memusuhi ahl bid’ah, mengusir mereka, dan menghukum orang yang berusaha mendekati mereka dengan hukuman mati atau yang kurang dari itu. Sunguh para ulama telah memberi peringatan agr tidak bersahabat serta bermajlis bersama mereka”.(1/158).

3- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang bahaya ahli bid’ah : “Seandainya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan adanya orang-orang yang mencegah bahaya mereka (iaitu ahli bid’ah) ma ini akan rosak dan kerosakannya akan lebih besar dari berkuasanya musuh yang memerangi. Kerana, musuh jika ia berkuasa tidak akan merosakkan hati dan agama melainkan hanya mengikut saja. Ada pun ahli bid’ah, mereka akan merosak hati sejak pertama kalinya”. (Majmu’ al-Fatawa, 28/232).

4- al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Janganlah kamu duduk bersama pelaku bid’ah kerana ia akan menjadikan hati kamu sakit.” (al-I’tisham, 1/172)

5- Asy Syaukaniy berkata : “ Maka jika Alloh telah menyempurnakan agamanya sebelum Nabinya wafat, maka apa artinya pendapat bid’ah yang dibuat-buat oleh kalangan ahli bid’ah tesebut . Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut keyakinan mereka, maka berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pembangkangan terhadap Al Qur’an. Kemudian jika pemikiran mereka tersebut tidak termasuk dalam agama, maka apa manfaatnya mereka menyibukkan diri mereka dengan sesuatu yang bukan dari agama ini. Ini merupakan hujjah yang kokoh dan dalil yang agung yang selamanya tidak mungkin dapat dibantah oleh pemilik pemikiran tersebut. Dengan alasan itulah, hendaknya kita menjadikan ayat yang mulia ini sebagai langkah awal untuk menampar wajah-wajah ahli logika, membungkam mereka serta mematahkan hujjah-hujjah mereka”. [Al Qaulul Mufid Fii Adillatil Ijtihaad Wattaqliid, hal. 38, Merupakan bagian dari Risalah Assalafiyyah, Cet: Daar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah.] .

6- Ibnu Rajab berkata : “Perkataan Nabi sollallohu ‘alaihi wasallam setiap bid’ah itu adalah kesesatan- merupakan jawami’ul kalim (satu kalimat yang ringkas namun mempunyai arti yang sangat luas – pent) yang meliputi segala sesuatu, kalimat itu merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran agama yang agung” [Jami’ul ‘ulum wal hikam, hal. 283

7Ibnu Hajar Berkata : “Perkataan Rosululloh sollallohu ‘alaihi wasallam , setiap bid’ah itu adalah kesesatan , merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda: “Hal ini bid’ah hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk bagian dari agama ini, sebab agama ini seluruhnya merupakan petunjuk. Oleh karena itu maka apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya adalah tertolak”. [Fathul Baariy, (13/254)

8 Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata : “Sesungguhnya perkataan Rosululloh sollallohu ‘alaihi wasallam , setiap bid’ah , merupakan ungkapan yang bersifat umum dan menyeluruh, karena diperkokoh dengan kata yang menunjukkan makna menyeluruh dan umum yang paling kuat, yakni kata(setiap)” [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’, hal. 13] ,  Beliau berkata pula: Maka setiap apa saja yang diklaim sebagai bid’ah hasanah, maka hendaklah dijawab dengan dalil ini. Dan atas dasar inilah, maka tak ada sedikitpun peluang bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka itu sebagai bid’ah hasanah. Karena ditangan kita terhunus pedang pamungkas yang berasal dari Rosululloh sallallohu ‘alaihi wasallam , yakni kalimat : setiap bid’ah itu adalah kesesatan . Sesungguhnya pedang pamungkas ini dibuat dalam “industri kenabian dan kerasulan”, bukan hasil ciptaan berbagai rumah produksi yang penuh kegoncangan, ia merupakan produk kenabian yang diciptakan secara optimal. Karena itulah tidak mungkin orang yang memiliki pedang pamungkas seperti ini akan mampu dihadapi oleh siapapun dengan suatu bid’ah yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rosululloh telah mengatakan : setiap bid’ah itu adalah kesesatan”. . [Al Ibdaa’ Fii Kamaalisy Syari’i Wa Khatarul Ibdaa’]

Pentingnya Membantah Ahli Bid’ah

PENTINGNYA MEMBANTAH AHLI BID’AH

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ? Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.

Memurnikan agama Allah, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu fardu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Seandainya tidak ada yang menolak/ membantah bahaya (bid’ah) nya para pelaku bid’ah, maka akan rusaklah agama ini.

Ibn Abbas r.a berkata : “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”.(al- Aqrimany:315, al-Mawa’idz)

https://agussantosa39.wordpress.com/category/bidah/bidah-mengakibatkan-perpecahan/

————————

Pembagian Bid’ah yang Tepat

Setelah memahami kekeliruan mereka yang membagi bid’ah persis dengan pembagian hukum syar’i (wajib, mandub, mubah, makruh dan haram). Ada baiknya kalau di sini kami jelaskan klasifikasi bid’ah yang benar, yang tidak bertentangan dengan sabda Nabi: “wa kullu bid’atin dholalah”. Yaitu dengan meninjau dari segi hubungannya dengan syari’at, atau dari kadar bahayanya.

Ditinjau dari hubungannya dengan syari’at, bid’ah terbagi menjadi dua:

  1. Bid’ah Haqiqiyyah.
  2. Bid’ah Idhafiyyah.

Dalam kitabnya yang sangat monumental, Imam Asy Syathiby mendefinisikan bid’ah haqiqiyyah sebagai berikut:

اَلْبِدْعَةُ الحَقِيْقِيَّةُ: هِيَ الَّتِي لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهَا دَلِيْلٌ شَرْعِيٌّ لاَ مِنْ كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ وَلاَ إِجْمَاعٍ وَلاَ اسْتِدْلاَلٍ مُعْتَبَرٍ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ فِي الْجُمْلَةِ وَلاَ فِي التَّفْصِيْلِ, وَلذَلِكَ سُمِّيَتْ بِدْعَةً لأَِنَّهَا شَيْءٌ مُخْتَرَعٌ عَلىَ غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ (مختصر الاعتصام, ص 71).

Bid’ah haqiqiyyah ialah bid’ah yang tidak ada dalil syar’inya sama sekali. Baik dari Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, maupun istidlal yang mu’tabar[1]) menurut para ulama. Ia sama sekali tak memiliki dalil baik secara umum maupun terperinci, karenanya ia dinamakan bid’ah berangkat dari hakekatnya yang memang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya.

Contoh bid’ah haqiqiyyah yang akrab dengan masyarakat Indonesia misalnya: puasa mutih, puasa pati geni, padusan (mandi) menjelang datangnya bulan Ramadhan, peringatan bagi orang yang telah meninggal; 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan seterusnya

Sedangkan bid’ah idhafiyyah menurut Imam Asy Syathiby definisinya ialah:

البِدْعَةُ الإِضَافِيَّةُ: هِيَ الَّتِي لَهَا شَائِبَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: لَهَا مِنَ الأَدِلَّةِ مُتَعَلَّقٌ, فَلاَ تَكُونُ مِنْ تِلْكَ الْجِهَةِ بِدْعَةً. وَالأُخْرَى: لَيْسَ لَهَا مُتَعَلَّقٌ إِلاَّ مِثْلَ مَا لِلْبِدْعَةِ الحَقِيْقِيَّةِ. وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى: أَنَّ الدَّلِيْلَ عَلَيْهَا مِنْ جِهَةِ الأَصْلِ قَائِمٌ, وَمِنْ جِهَةِ الْكَيْفِيَّاتِ أَوِ الأَحْوَالِ أَوِ التَّفْصِيْلِ لَمْ يَقُمْ عَلَيْهَا, مَعَ أَنَّهَا مُحْتَاجَةٌ إِلَيْهِ لِأَنَّ الْغَالِبَ وُقُوْعُهَا فِي التَّعَبُّدِيَّاتِ لاَ فِي الْعَادِيَّاتِ الْمَحْضَةِ (مختصر الاعتصام, ص 71)

Bid’ah Idhafiyyah: ialah bid’ah yang mengandung dua unsur. Salah satunya memiliki kaitan dengan dalil syar’i, sehingga dari sisi ini ia tidak termasuk bid’ah. Sedang unsur kedua tidak ada kaitannya, namun persis seperti bid’ah haqiqiyyah. Jadi beda antara kedua bid’ah tadi dari segi maknanya ialah: bahwa (bid’ah idhafiyyah) asal-usulnya merupakan sesuatu yang dianjurkan menurut dalil syar’i; akan tetapi dari segi cara pelaksanaan, keadaan, dan detail-detailnya tidak bersandarkan pada dalil. Padahal hal-hal semacam ini amat membutuhkan dalil, karena sebagian besar berkaitan dengan praktik ibadah dan bukan sekedar adat kebiasaan (Mukhtasar Al I’tisham, hal 71).

Contoh kongkrit dari bid’ah idhafiyyah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Tapi yang paling akrab dengan masyarakat Indonesia seperti yasinan, tahlilan, shalawatan, membaca wirid bersama selepas shalat dengan dikomandoi oleh Imam, membaca shalawat sebelum adzan dan iqamah, mengkhususkan malam nisfu Sya’ban untuk melakukan ibadah tertentu, maulidan dan lain sebagainya. Bahkan sebagian besar bid’ah yang kita jumpai saat ini rata-rata termasuk bid’ah idhafiyyah. Meski demikian, bahaya yang ditimbulkannya tidak lebih kecil dari bid’ah haqiqiyyah; bahkan lebih besar, mengapa? Karena sepintas ia merupakan taqarrub kepada Allah, hingga banyak orang tertipu dengan ‘penampilan luarnya’, padahal sesungguhnya itu merupakan bid’ah yang dibenci syari’at.

Pembagian bid’ah lainnya yang dibenarkan ialah yang didasarkan pada bahaya yang ditimbulkannya. Ditinjau dari kadar bahayanya, bid’ah juga terbagi menjadi dua:

  1. Bid’ah Mukaffirah.
  2. Bid’ah Ghairu Mukaffirah.

Bid’ah mukaffirah ialah setiap bid’ah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir, keluar dari Islam. Bid’ah ini biasanya berkaitan dengan keyakinan; seperti bid’ahnya orang-orang Jahmiyyah[2]), bid’ahnya Syi’ah Imamiyyah Al Itsna ‘Asyariah[3]), bid’ahnya mereka yang mengingkari takdir Allah (Qadariyyah)[4]), dan lain-lain.

Sedangkan bid’ah ghairu mukaffirah, ialah bid’ah yang tidak menyebabkan pelakunya menjadi kafir, akan tetapi terhitung berdosa. Dan tentunya dosa satu bid’ah tidak sama dengan dosa bid’ah lainnya, akan tetapi tergantung dari bentuk bid’ah itu sendiri dan keadaan pelakunya. Namun bagaimanapun juga bid’ahnya tetap tertolak, meski orang tersebut melakukannya dengan ikhlas dan berangkat dari kejahilan.

 -bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id

 


[1] Istidlal yang mu’tabar di sini maksudnya ialah mashalih mursalah. Karena mashalih mursalah memiliki banyak konotasi seperti: Al Maslahah Al Mursalah, Al Istishlaah, Al Istidlaal Al Mursal dan Al Istidlaal. (lihat: Al Bahrul Muhith, (كتاب الأدلة المختلف فيها,باب: المصالح المرسلة) oleh Badruddien Az Zarkasyi).

[2]) Yaitu suatu aliran sesat yang dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan, pendirinya. Mereka mengingkari semua sifat Allah dengan dalih ingin menyucikan dzat Allah dari menyerupai makhluk-Nya. Akhirnya mereka justeru terjerumus dalam kesesatan yang lebih fatal lagi, karena dengan begitu mereka justeru menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada. Karena segala sesuatu yang ada pasti memiliki sifat tertentu, apa pun wujudnya. Sehingga bila sifat-sifat tersebut dinafikan maka sama dengan menafikan keberadaannya.

[3]) Yaitu firqah syi’ah terbesar saat ini, yang meyakini bahwa mereka memiliki dua belas Imam yang ma’shum, yang mengetahui apa yang terdapat pada lauhul mahfuzh, mereka bisa mati sekehendak mereka, dan senantiasa mengatur alam semesta. Mereka mengkafirkan seluruh sahabat Nabi, kecuali empat atau maksimal enam orang, yaitu: Ali bin Abi Thalib, Al Hasan, Al Husein, Salman Al Farisi, Abu Dzar dan Miqdad ibnul Aswad.

[4]) Yang dicetuskan oleh Ma’bad Al Juhani dari Irak pada zaman tabi’in. Ia mengatakan bahwa manusia berbuat sesuai dengan kehendaknya dan terlepas dari takdir Allah. Artinya semua perbuatan manusia terjadi tanpa ketentuan terlebih dahulu dari Allah. Sehingga dengan demikian mereka telah mengingkari salah satu rukun iman yang enam, yaitu iman kepada takdir.

Dari artikel ‘Ini Dalilnya (8): Pembagian Bid’ah yang Tepat — Muslim.Or.Id